
Kondisi Pak Yusuf kini semakin membaik hingga Al dan Farish memutuskan untuk kembali ke ibu kota setelah dua hari berada di kota S.
Sebenarnya Al meminta untuk memindahkan Pak Yusuf ke rumah sakit yang ada di ibu kota. Selain peralatan yang lebih lengkap, Al dan Farish pun bisa dengan mudah mengatur waktu antara pekerjaannya dengan merawat Pak Yusuf. Tapi Pak Yusuf menolaknya, dia tidak ingin jauh dari tanah kelahirannya.
Sementara Icha memutuskan untuk merawat papanya hingga kondisinya benar-benar membaik. Seperti pagi ini saat Icha akan berangkat ke rumah sakit, terlebih dahulu dia menitipkan Dika pada Bi Sari yang tinggal di rumah Al. Namun saat dia keluar dari gerbang rumahnya, tak sengaja berpapasan dengan Bu Romlah yang habis membeli sayur dari abang-abang yang biasa mangkal di depan mesjid.
"Wah Neng Icha mau kemana? Ini ya Neng anaknya? Sudah besar aja, padahal belum lama loh lulus sekolahnya," sindir Bu Romlah.
"Iya Bu ini anak saya,ganteng kan Bu mirip sekali papanya." Sombong Icha.
"Neng Icha bangga banget punya anak hasil jual diri juga, kalau saya sih malu," sarkas Bu Romlah.
"Icha sih malu Bu, kalau kerjaannya hanya bergosip ngomongin orang sama nyebarin aib orang lain, bukannya sesama muslim itu saudara ya, kalau Bu Romlah senengnya nyebarin aib orang lain, sama saja seperti makan bangkai saudara Bu Romlah sendiri," Icha tak kalah sinis dengan tetangganya yang katanya orang terhormat tapi kerjaannya suka ghibahin orang.
"Lama tidak pulang ke rumah, Neng Icha jadi pinter ngomong sinis ya! Beda banget dengan Kinan yang anggun, kalem, dan tutur katanya lembut," sindir Bu Romlah
"Oh, Ibu teman gosipnya Kinan ya! Hati-hati loh Bu! Icha saja yang sahabatan dari jaman masih sama-sama ingusan, dia khianati. Apalagi Ibu yang belum lama kenal, bisa-bisa Pak Sugeng dia gaet. Meski Pak Sugeng sudah berumur, tapi masih terlihat hot loh Bu, mana sekarang Kinan Janda lagi," Icha mendadak jadi kompor meleduk membuat Bu Romlah terus memikirkan apa yang Icha katakan.
Bukan tanpa bukti Icha bicara seperti itu, tapi dia sudah beberapa kali melihat Kinan bersama Pak Sugeng begitu mesra saat Icha pulang pergi ke rumah sakit.
Tanpa menunggu Bu Romlah bicara lagi, Icha pun langsung membawa motor kesayangannya menuju rumah Al. Dika yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi dua orang dewasa, akhirnya dia angkat bicara karena penasaran.
"Mama, kenapa tadi mama bicaranya ketus sama ibu tadi. Bukannya kita harus selalu baik sama orang tua ya Mah?" tanya Dika.
"Mama hanya memberi sedikit pelajaran pada Ibu tadi, karena dia suka sekali membicarakan keburukan orang lain," jelas Icha. "Nanti Dika sama Bi Sari dulu ya, Mama gak lama kho di rumah sakitnya," lanjutnya.
***
Setelah enam hari mendapat perawatan dari dokter, hari ini Pak Yusuf sudah diperbolehkan pulang dengan syarat harus kontrol setelah tiga hari. Icha mengurus surat administrasi papanya, sedangkan mamanya membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang. Namun sayup-sayup terdengar suara orang yang begitu dikenalnya sedang mendaftar ke poli kandungan.
Icha diam saja pura-pura tidak mendengar ataupun melihat Kinan, orang yang sedang mendaftar di poli kandungan. Malas rasanya jika harus berhubungan lagi dengan seorang mantan sahabat, yang telah tega menghancurkan hidupnya secara tidak langsung. Apalagi setelah kejadian papa nya masuk rumah sakit karena rumor yang tersebar, membuat Icha tidak ingin mengenal lagi sosok Kinan.
Namun ternyata Kinan menyadari bahwa orang yang ada di sampingnya itu Icha.
__ADS_1
"Wah ternyata bertemu dengan nyonya Culun ya!" ujar Kinan, "katanya istri bos, tapi kho penampilannya masih kampungan," ledeknya.
"Biarin saja dibilang kampungan, daripada dapat duit dari hasil malakin suami orang," sarkas Icha.
"Maksud kamu apa ngomong gitu?" sewot Kinan yang merasa tersindir dengan apa yang Icha katakan.
"Gak maksud apa-apa kho! Aku malas saja bicara dengan penghianat," ucap Icha jengah lalu bergegas pergi karena telah selesai mengurus administrasi papanya.
Kinan mengepalkan tangannya merasa tidak ditanggapi karena Icha malah berlalu pergi.
"Aku benci banget sama kamu, Cha! Karena kamu aku harus keguguran dan akhirnya diceraikan oleh Marco," geram Kinan dalam hati.
Flashback on
Setelah pertemuan yang tidak sengaja dengan Icha di Plaza, Marco langsung pergi meninggalkan Kinan begitu saja. Padahal mereka janjian bertemu di baby shop untuk membeli keperluan calon bayinya.
Kinan langsung mengejar langkah lebar Marco. namun kondisi perutnya yang sudah besar membuatnya kesulitan untuk mengejar suaminya.
Marco terus berjalan dengan langkah lebarnya tanpa memperdulikan teriakan Kinan yang terus memanggil namanya.
"Merepotkan sekali punya istri seperti dia, tiap hari yang dipikirannya shopping shopping terus. Dia pikir cari duit itu gampang," gerutu Marco tanpa memperdulikan Kinan yang kesusahan mengejarnya.
Hingga saat Kinan turun dari tangga eskalator, dia terpeleset karena buru-buru dan membuatnya jatuh terduduk, sampai Kinan harus kehilangan bayinya.
Semenjak itu, Kinan selalu menyalahkan Icha atas kejadian yang menimpanya. Ditambah lagi, marco menceraikannya setelah dua bulan dia keguguran bayinya. Hal itu membuat Kinan semakin membenci Icha, karena menurutnya gara-gara Marco bertemu dengan Icha, membuat Marco tidak peduli padanya.
Flashback off
Icha terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan papanya. Namun saat sampai di ruang VVIP tempat papanya di rawat, betapa kagetnya Icha saat mendapati ruang perawatan itu penuh dengan teman-temannya yang sengaja menjenguk Pak Yusuf.
"Loh, kalian kapan datang?" seru Icha heboh saat mendapati Vio, Kia, Aisha, Abizar, Kevin, Oryza, Violet, Farish kakaknya dan tentu saja suami tercintanya Al.
"Kita baru saja sampai dan langsung ke sini," jawab Vio.
__ADS_1
"Terima kasih loh udah mau pada datang ke sini," ucap Icha.
"Terima kasihnya ke yayang bebeb, Cha. Karena dia yang menyediakan fasilitas untuk kita semua agar bisa sampai sini," goda Kevin.
Icha langsung mendekat ke arah Al yang sedang duduk di sofa tunggu. Dengan cengengesan Icha bicara pada Al, "Makasih ya Al," ucapnya
"Jangan di terima Al! Ucapan terima kasihnya, kalau gak ada ciumannya," Abizar mendadak jadi kompor meleduk untuk menggoda sahabatnya.
Sementara Icha langsung mendelik tidak suka ke arah Abizar. Bukannya marah ataupun takut mendapat tatapan permusuhan dari Icha, Abizar malah tertawa gemas melihat tingkah sahabat kecilnya. Begitupun dengan yang lain ikut menertawakan Icha.
Melihat Icha kesal, Al langsung menarik tangan Icha agar duduk di sampingnya.
" Tidak perlu berterima kasih padaku, asalkan kamu tetap di sampingku, itu sudah cukup untukku," bisik Al.
Icha langsung memeluk Al, ada perasaan haru yang menyeruak di hatinya. Sungguh Icha merasa sangat beruntung bisa dicintai oleh orang seperti Al, meski hubungan mereka berawal dari sebuah permainan.
"Makasih sayang!" lirih Icha.
Senyum Al langsung mengembang saat mendengar Icha memanggilnya 'sayang', karena tak bisa dipungkiri kalau Al merasa sangat bahagia saat orang yang dicintainya memanggil dengan kata itu.
"Hanya Icha yang bisa membuat singa kutub tersenyum. Kamu tahu gak Cha? Dia tuh habis marah-marah terus karena aku telat lima menit saat tadi mau berangkat ke sini," seru Oryza.
"Lima menit dari hongkong kamu, Za. Kita nunggu kamu tuh tiga puluh menit gak nongol-nongol," bela Kevin.
"Memang seharusnya aku membiarkan seseorang yang ingin pergi dari kehidupanku, karena akan ada orang lain yang dengan ikhlas terus bersamaku. Terima kasih kalian hadir dalam hidupku!" batin Icha.
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...
...👉Next part...
__ADS_1