
Villa Kenangan yang biasanya sepi karena penghuninya hanya penjaga Villa dan istrinya, kini terlihat ramai. Pasalnya, mereka sedang mengolok Elvano yang masih saja gengsi mengakui perasaannya.
"Udah, Ara! Kalau dalam sebulan ini anak Papa yang bodoh ini tidak mengaku juga. Papa sudah siapkan calon untukmu yang lebih ganteng dari El. Apa kamu kenal Tristan anaknya Om Theo sepupu Papa?" tanya Andrea.
"Kenal Pah! Papa mau menjodohkan Ara sama dia? Ara mau Pah, daripada nunggu yang gak jelas bisa jadi perawan tua nanti." Cebik Arabella.
"Gak bisa! Sekarang bukan jaman Datuk Maringgi masih main jodoh-jodohkan," tolak Elvano tidak setuju dengan usulan papanya.
"Kenapa gak setuju, El? Memang kamu siapanya Ara?" tanya Andrea sengaja ingin mendesak putranya.
"Tentu saja aku sahabatnya. Pokoknya aku tidak setuju acara jodoh-jodohkan!" Elvano masih saja tidak mau mengakui perasaannya membuat hati Arabella menjadi linu mendengar apa yang Elvano katakan.
Kalau aku memang sahabat kamu, kenapa kamu suka sekali menikmati apa yang ada di tubuhku. Apa aku serendah itu di matamu? Sampai kamu jadikan aku sebagai pemuas hasrat kamu, lirih hati Arabella.
Melihat putri sahabatnya yang menjadi bengong dengan tatapan kosong, Andrea segera menyenggol istrinya sebagai kode untuk menghibur Arabella.
"Ara, mending ikut Mama yuk! Kita buat brownies coklat keju. Sekarang 'kan Ara sudah pintar masak sama bikin kue. Pokoknya rugi yang gak bisa lihat kelebihan dan ketulusan hati putri Mama ini." Mitha langsung merangkul Arabella dan membawanya ke dapur dengan mata melirik ke arah Elvano.
Memang benar apa yang Mitha katakan, karena rasa cintanya yang besar pada Elvano sehingga Arabella ingin terlihat sempurna di mata pangeran kecilnya. Sampai dia mulai belajar masak pada Mitha semenjak usianya 10 tahun. Apalagi mamanya tidak pandai memasak sehingga urusan dapur dia yang pegang. Sebenarnya, Mitha merasa kasihan pada Arabella yang selalu mendapat penolakan dari Elvano. Padahal putranya itu selalu dia nasehati untuk tidak mempermainkan hati perempuan.
Ara hanya tersenyum tipis mendengar apa yang Mitha katakan. Meskipun dia tidak mendapatkan cinta Elvano tapi cinta keluarga Wiratama selalu tercurah padanya.
"Gak apa Mah, Ara sudah tidak berharap lagi sama El. Ara yakin, nanti akan ada pangeran berkuda putih yang tulus mencintai Ara. Meskipun itu bukan El." Ara tersenyum untuk menyembunyikan luka hatinya. Meskipun mulutnya berkata sudah berpaling tapi hatinya tidak bisa dia pungkiri.
__ADS_1
"Ara, nanti Mama sama papa mau pergi ke pesta yang diadakan di kapal pesiar. Nanti kamu tolong rancang baju yang pas buat Mama ya! Harus tertutup gak boleh terlihat bahu dan kaki." Mitha langsung mengalihkan pembicaraan agar Arabella tidak larut dengan pikirannya.
"Siap, Mah!" Wajah Arabella yang tadinya sendu kini sudah berubah kembali ceria. Karena memang menggambar dan merancang desain sebuah baju dapat mengalihkan Arabella dari luka hatinya.
Di saat Arabella dan Mitha sedang bergelut dengan oven dan mixed, Allana sedang menikmati langit senja bersama dengan Dika di taman belakang villa kenangan. Sebuah taman yang dibuat untuk menikmati pemandangan hamparan perkebunan teh yang terhalang oleh lembah.
Pasangan pengantin baru itu seperti anak baru gede yang sedang merasakan jatuh cinta. Di setiap kesempatan mereka selalu ingin bersama. Terkadang tidak peduli dengan pendapat orang lain tentang kemesraannya.
Seperti saat ini, Dika sedang asyik mengecek grafik harga saham perusahaan yang ada di London sambil tiduran di paha mulus Allana. Sementara Allana sedang asyik membalas pesan dari beberapa pasien yang ditanganinya.
Merasa pergerakan sahamnya berjalan normal, Dika pun langsung menyimpan ponselnya di saku celana. Ditatapnya wajah cantik Allana yang mampu membuat hidupnya terasa lebih berwarna. Tak henti Dika mengagumi kecantikan yang terpancar dari wajah tanpa polesan itu. Dika tersenyum lalu mengulurkan tangannya menarik tengkuk Allana hingga mau tidak mau wanita yang baru beberapa hari dinikahinya itu menundukkan kepalanya.
Dika langsung mencium bibir ranum Allana yang selalu membuatnya tergoda. Perlahan dihisapnya dengan penuh perasaan hingga semilir angin sore memberikan sensasi yang berbeda pergulatan lidah mereka. Sampai terasa pasokan udara keduanya menipis, kedua insan yang sedang di mabuk cinta pun melepaskan pagutannya.
Mendengar pertanyaan dari suaminya, pipi Allana langsung memerah. Dia pun hanya di mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Dika.
Senyum mengembang terbit di kedua sudut bibir Dika, dia senang karena akhirnya akan merasakan apa yang biasa dirasakan oleh pasangan suami istri. Dika langsung memeluk istrinya kemudian dia pun bertanya kembali, "Mau melepaskan di villa aku atau di sini saja?"
"Dika ikh, sampai nanya gitu segala?" Allana merengut mendengar pertanyaan dari suaminya.
"Kita ke villa aku saja yuk! Biar tidak mengganggu yang lain," ajak Dika dengan menatap lekat istrinya.
Lagi-lagi Allana hanya menyetujui keinginan Dika. Sejujurnya, Dia juga merasa penasaran dengan sensasi yang akan dirasakannya saat mereka melakukan penyatuan. Karena selama ini, dia hanya mendengar dari curhatan sahabatnya saat di bangku kuliah.
__ADS_1
Setelah keduanya sepakat, akhirnya saat selesai makan malam Dika dan Allana berpamitan untuk mengunjungi villa milik keluarga Dika. Andrea dan Mitha yang mengerti keinginan dua insan yang kembali menemukan cintanya itu, mereka hanya mengiyakan dan tidak banyak bertanya.
Sesampainya di villa Keluarga Putra yang memang jaraknya tidak begitu jauh dari villa Kenangan, Dika langsung membawa Allana menuju ke kamarnya yang terlihat sudah bersih karena memang Dika sudah memberi tahu penjaga villa tentang kedatangannya.
Allana mengedarkan pandangannya melihat seisi kamar. Sampai matanya terpaku melihat sebuah foto saat dia masih kecil bersama dengan Dika sedang berbagi permen.
Dika langsung mendekati Allana yang masih mematung di ambang pintu. Dia menarik tangan Allana untuk mengikutinya dan dengan tidak sabaran Dika langsung membawa istrinya naik ke tempat tidur lalu mengungkungnya.
Ditatapnya lekat kekasih hatinya itu, perlahan Dika mencium kening Allana lama, turun ke mata dan pipinya dan terbenam lama di bibir ranum Allana. Keduanya saling menghisap saling mematut menyalurkan rasa yang membuncah di dada. Setelah puas bertukar saliva, Dika langsung memberikan beberapa tanda cinta di leher dan dada. Sampai saat dia melihat buah lemon yang menantangnya, Dika pun tidak melewatkan untuk tidak mencicipinya dengan tangan nakalnya menelusup masuk mencari kandang pejantannya yang selalu tertutup rapat.
Allana melenguh menikmati rasa yang luar biasa itu. Rasa yang untuk pertama kalinya dia rasakan membuatnya merasa terbang ke nirwana. Begitu pula dengan Dika yang terus menjelajah ke setiap inci tubuh Allana sampai saat pejantannya sudah terus meronta, Dika pun berusaha memasukkan ke kandang yang rimbun itu. Meski awalnya sulit, tapi saat usaha yang ke lima kalinya, akhirnya pejantannya masuk dengan sempurna menyisakan jeritan histeris Allana.
"Dika sakit," rengek Allana dengan sudut mata yang sudah berair.
"Tahan sayang, nanti juga pasti tidak akan sakit!" bujuk Dika dengan terus melanjutkan aksinya.
Malam panjang penuh kenikmatan pun mereka habiskan berdua. Hingga rasa lelah mendera Allana, barulah Dika menghentikan permainannya. Entah berapa kali pelepasan yang mereka lakukan, yang jelas rasa puas mereka rasakan berdua.
"Terima kasih sayang, kamu sudah menjaganya untukku!" Dika mengecup kening Allana sebelum akhirnya di ikut menyusul ke alam mimpi.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...