Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 97 Vitamin C


__ADS_3

Lorong rumah sakit ini terasa sangat panjang saat hati sudah tidak sabar ingin bertemu dengan seseorang yang berarti dalam hidup kita. Seperti itulah yang kini sedang dirasakan oleh Pak Bagas.


Dia datang tergopoh-gopoh setelah tadi pagi terpaksa pulang ke rumahnya telebih dahulu, karena ibunya yang datang dari kampung terus menelpon dan mengatakan sedang berada di rumahnya.


Flashback on


Ada rasa kaget, senang dan juga lega yang dirasakan oleh Pak Bagas. Saat Bu Rofiah menceritakan kejadian saat kemarin dia memergoki Serena dan Dedi sedang bercinta di rumahnya. Terasa ada yang hilang beban di hatinya, karena tanpa harus membuktikan apa-apa, akhirnya terbukti kalau bayi yang dikandung Serena bukan anaknya.


Tanpa berpikir dua kali, Pak Bagas langsung ke rumah Dedi dan mentalak tiga Serena di hadapan ibu dan kekasih mantan istrinya.


Flashback off


Dengan tidak sabaran Pak Bagas membuka pintu ruang perawatan, terlihat di sana ada Icha, Al dan Dika. Anak yang selalu dirindukannya.


"Dika!" panggil Pak Bagas segera menghampiri Dika dan memeluknya


"Papa..." Kini Dika sudah tidak merasa asing dengan Pak Bagas setelah diberi pengertian oleh Icha dan Al.


"Papa senang lihat Dika baik-baik saja, mau lihat adik bayi tidak sama Papa," tawar Pak Bagas.


"Boleh Pah, kata Mama adik bayinya laki-laki sama seperti Dika," Dika begitu antusias menyambut kehadiran seorang adik, karena menurutnya akan lebih seru kalau di rumahnya ramai seperti di rumah temannya Elvano dan Arkana.


Selepas kepergian Dika, Pak Bagas dan Al melihat adik bayi yang masih dalam inkubator, Icha pun kembali mengajak Bu Mira mengobrol.


"Tan, apa Om sudah tahu tentang putranya?" tanya Icha hati-hati


"Tante belum bicara apa-apa sama dia, karena saat tadi pagi setelah tante dipindah ke ruang perawatan, dia ijin pulang." Tanpa ada yang ditutupi, Bu Mira pun bicara apa adanya pada Icha.


"Icha harap, Tante dan Om Bagas bisa bersama lagi demi si kecil. Kalau Icha lihat, sepertinya Om Bagas sangat senang dengan kelahiran si kecil," cerocos Icha


"Memang itu yang diinginkannya, Cha. Dia tidak mencintai apa adanya Tante." Setetes bening memaksa keluar dari sudut matanya.


Sedikit tergores luka lamanya, saat teringat bagaimana dulu dia berpisah dengan mantan suaminya. Hanya karena sepuluh tahun menikah tapi belum diberi keturunan, akhirnya Bagas menikah lagi dengan dalih ingin mendapatkan keturunan.


***


Di saat bersamaan namun di tempat yang berbeda, terlihat seorang pria dewasa sedang panik. Pasalnya, ibu dari calon anaknya terjatuh dari eskalator saat mereka sedang berjalan-jalan mencari perlengkapan bayi.


Flashback on


Setelah Bagas menjatuhkan talak tiga pada Serena, Dedi pun mengajak Serena untuk jalan-jalan, karena sekarang usaha Dedi pun sudah berkembang lagi.

__ADS_1


Namun sepertinya keberuntungan tidak berpihak padanya. Saat mereka akan ke lantai atas dengan eskalator, tiba-tiba ada seorang pencopet yang lari berlawanan arah dengan eskalator yang Serena dan Dedi naiki. Sehingga pencopet itu menyenggol dengan keras bahu Serena dan membuat Serena hilang keseimbangan, lalu terjerembab jatuh ke belakang.


Dedi yang saat itu sedang mengirim pesan pada temannya, langsung panik saat menyadari Serena sudah jatuh ke bawah.


Flashback off


Dedi terlihat begitu terpukul dengan kejadian yang menimpa Serena, tak henti dia terus berdoa untuk keselamatan Serena dan bayinya. Namun harapan tinggalah harapan karena manusia memiliki takdirnya masing-masing. Begitupun dengan Serena dan bayinya.


"Maaf Tuan, dengan sangat menyesal kami harus mengatakannya, Ibu Serena dan bayinya tidak dapat diselamatkan," Seorang Dokter yang menangani Serena merasa menyesal karena tidak bisa menyelamatkan ibu dan bayinya. "Kami turut bela sungkawa atas kepergian Ibu Serena dan bayinya." lanjutnya.


"Bagaimana bisa Dok? Apa kalian tidak berusaha dengan keras?" sentak Dedi


"Maaf Tuan, kami sudah berusaha semampu kami. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain," ucap Dokter IGD


"Serenaaa...." jerit Dedi histeris


Dedi tidak menyangka, kehidupan yang dia pikir akan bahagia setelah Serena kembali bersamanya. Namun ternyata berujung nestapa. Dedi lupa sekuat apapun manusia berusaha untuk terus bersama orang yang dicintainya. Namun saat garis kehidupan menakdirkan tidak berjodoh, maka selamanya tidak ada kesempatan untuk bersama.


***


Hari pun telah berganti, Serena sudah dimakamkan dan Bu Mira kesehatannya semakin membaik. Kini dia tinggal bersama dengan Icha, atas bujukan Al dan Icha yang merasa khawatir jika Bu Mira harus kembali ke rumahnya apalagi ada bayi yang membutuhkan perawatan ekstra.


Seperti hari-hari biasa, meskipun sekarang Icha sudah hamil empat bulan, tapi dia masih pergi ke kantor bersama Al.


Icha menghentikan gerakannya, lalu mendongak melihat ke arah Al. Dengan satu tarikan, Al membungkuk mengikuti arah tarikan dasinya.


Kini jarak wajah mereka hanya sebatas lima jari, hingga hembusan napas keduanya terasa hangat menerpa kulit.


"Mau bilang aku gendut kan?" tuduh Icha dengan menatap lekat suaminya. Dia sangat tidak suka ada orang yang bilang kalau badannya melar, pipinya makin mekar. Meski pada kenyataannya memang seperti itu.


"Enggak sayang, aku hanya ingin bilang kalau aku suka...." Tanpa melanjutkan ucapannya, Al langsung meraup bibir ranum yang ada tepat di depannya.


Al menahan tengkuk Icha dan semakin memperdalam ciumannya, mengeksplor tiap sudut rongga mulut itu yang selalu membuat nya merasa candu. Napas Icha tersengal-sengal sehingga dia segera menghentikan pagutannya.


"Sayang, kenapa tidak ambil napas?" protes Al yang masih ingin menikmati vitamin c nya.


"Sudah siang, nanti Dika kesiangan." Icha masih mengatur napasnya meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Saat Al mulai menempelkan lagi bibirnya, terdengar suara pintu diketuk dari luar.


"Mama....Papa.... Ayo berangkat, Dika ada piket," teriak Dika dari balik pintu.

__ADS_1


"Sebentar sayang, Papa mau minum vitamin C dulu." Al menjadi ikutan anak dan istrinya yang suka berteriak meski dalam rumah.


Mendengar ucapan Al, Icha langsung mencubit pinggang Al gemas. "Bisa-bisanya bohongin anak minum vitamin C," gerutu Icha


"Aku tidak bohong, memang benar aku ingin minum vitamin C ciuman," jawab Al dengan langsung mencium kembali bibir ranum istrinya.


Satu menit


Dua menit


Tiga menit


Hingga saat sudah lebih dari lima menit, barulah Al melepaskan pagutannya karena sesuatu di bawah sana sudah menegang meminta jatahnya.


"Ayo sayang kita berangkat, sebelum aku khilaf," ajak Al


"Bukannya sebelum, tapi memang sudah khilaf," gerutu Icha


Al hanya tersenyum menanggapi gerutuan istrinya. Entahlah apapun yang Icha lakukan, mau cemberut, mau marah, mau merajuk, apalagi tersenyum dan tertawa bahagia, menurut Al hal itu sangat menggemaskan.


Hanya satu hal yang sangat Al tidak sukai, saat Icha mendiamkannya dan tidak peduli padanya.


Saat sampai di meja makan, terlihat Dika sudah siap dengan ditemani oleh Bu Mira dan baby Albara yang terlihat badannya semakin berisi.


"Hai Bara sayang," sapa Icha dengan mencium pipinya yang mulai gembul


Baby Bara hanya tersenyum dalam gendongan Bu Mira.


"Mama Dikanya gak disapa?" Dika terlihat cemburu karena dinomorduakan oleh Icha.


"Hai pangeran gantengnya Mama," Icha langsung mencium kedua pipi Dika bergantian begitupun dengan Al.


Dika tersenyum bahagia mendapatkan peluk cium dari kedua orang tuanya. Hal itu tak lepas dari pandangan Bu Mira yang menatapnya dengan tatapan tatapan sendu.


"Dika begitu bahagia berada diantara kedua orangtuanya, bagaimana dengan putraku nanti, saat tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Meskipun ayah kandungnya masih ada tapi kami hidup terpisah."


...*****...


...Dukung terus Author ya kawan, dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


👉Next part


__ADS_2