Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Licik


__ADS_3

Sepulang dari rumah Al, Philip langsung menuju ke tempat yang sudah dijanjikan untuk bertemu dengan presiden direktur Ji Sung Internasional. Yang dia tahu perusahaan yang berasal dari negeri ginseng itu cabangnya ada di berbagai negara maju dan berkembang.


Sesampainya di sana, Philip langsung di sambut oleh asisten pribadi Presdir. "Silakan Tuan!" ucap Mark seraya membungkukkan badannya.


Philip langsung duduk di tempat yang sudah disediakan. Tak lama kemudian pelayan membawa beberapa hidangan untuk menemani Philip selama menunggu rekan bisnisnya datang.


Mark langsung menghubungi tuannya yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri, karena dia mengawal tuannya semenjak dari tuannya masih remaja dan dia belum menikah.


Terdengar suara derap langkah memasuki sebuah ruangan khusus yang berada di hotel bintang lima milik JS Internasional. Mark membungkukkan badannya sedikit menyambut kedatangan Andrea yang memasuki ruangan. Ya, Andrea yang akhirnya menerima semua warisan perusahaan besar dari kakek dan papanya. Meskipun awalnya dia menolak, tapi semenjak dia kehilangan mamanya, Andrea mulai berambisi untuk meruntuhkan perusahaan keluarga mama tirinya. Satu tahun setelah kematian mamanya, keinginannya barulah tercapai.


"Selamat Sore, Tuan Philip!" sapa Andrea seraya mengulurkan tangannya untuk mengajak berjabat tangan pada Philip.


"Selamat Sore, Tuan!" Philip pun menerima uluran tangan Andrea.


Aku tidak menyangka seorang Presiden direktur yang selalu jadi bahan perbincangan para pengusaha sukses ternyata masih muda, mungkin dia seumuran dengan Aldrich. Tapi bagaimana bisa dia memiliki Ji Sung Internasional, batin Philip.


"Tuan Philip, senang bertemu dengan Anda! Saya tidak suka basa-basi. Saya menawarkan kerjasama dengan Philips company dengan beberapa syarat. Silakan Anda pelajari kontrak kerjasamanya." Andrea memberikan kode pada Mark untuk memberikan kontrak baru kerjasama pada Philip.


Setelah membaca kontrak kerjasama yang ditawarkan Andrea, wajah yang awalnya senang karena begitu banyak keuntungan yang ditawarkan, langsung berubah drastis saat membaca syarat yang harus dipenuhi. Raut wajah Philip terlihat mengeras dengan gigi yang gemeletuk.


Bruk!


Philip langsung melemparkan berkas kerjasama yang ada di tangannya ke atas meja. Bagaimana tidak, di sana tertera Dia tidak boleh menggangu kehidupan Al dan Dika serta harus membatalkan perjodohan putrinya dengan Dika kalau sampai melanggarnya, perusahaan miliknya akan beralih tangan menjadi milik Ji Sung.


"Anda sebenarnya mau berkerjasama atau memeras saya, Tuan?" sarkas Philip.


"Tentu saja bekerjasama dengan Anda, Tuan Philip! Anda pikir perusahaan milik Anda masih berdiri dengan kokoh sehingga Jisung mau bekerjasama dengan perusahaan Anda? Kepercayaan diri Anda sungguh luar biasa Tuan Philip. Tanpa ada maksud lain, mana mungkin Ji Sung mau membantu perusahaan yang sedang pailit." Andrea tersenyum remeh penuh kemenangan.


"Ternyata benar kata orang, presiden direktur Ji Sung sungguh licik. Bahkan, Anda lebih licik dari Tuan Lee." Philip merasa menyesal saat dia menerima tawaran kerjasama dari Ji Sung. Dia berpikir, meskipun tidak jadi menggabungkan dengan Alfa Corporation, kucuran dana yang ditawarkan Ji Sung lebih dari cukup untuk mengembalikan keuangan perusahaan.


"Anda terlalu naif Tuan Philip, dunia bisnis itu kotor. hanya yang kuat dan banyak akal yang akan bertahan." Lagi-lagi Andrea hanya tersenyum remeh. Tidak akan aku biarkan seorang pun menghancurkan kebahagiaan putriku, batin Andrea.


"Aku menyesal sudah menerima tawaran dari Ji Sung. Permisi, saya tidak bisa melanjutkan kerja sama ini lagi." Philip langsung berdiri dari duduknya hendak pergi, sampai dia mendengar hal yang membuatnya tidak punya pilihan untuk tidak mengikuti apa yang Andrea katakan.


"Om Mark, tolong bilang pada Blue Ink untuk menarik semua investasinya dari Philips Company." Andrea terlihat acuh tak acuh dan langsung menyesap capuccino kesukaannya. "Satu lagi, apa penawarnya sudah Om kasih pada Tuan Philip?"

__ADS_1


Degh!


Philip langsung tersentak kaget saat tahu investor terbesar perusahaannya di bawah kendali Ji Sung. Ditambah lagi, soal penawar yang dibicarakan oleh Andrea.


"Maksud Anda apa, Tuan? Apa yang Anda campurkan pada minuman saya?" Philip menatap nyalang pada Andrea.


"Saya tidak tahu apa yang mereka campurkan, karena saya tidak melihatnya." Andrea dengan santai menaikkan satu kakinya ke kaki yang satunya lagi. "Om Mark, apa yang mereka campurkan?"


"Hanya perangsang, akan bereaksi setelah satu jam meminumnya. Apabila dalam waktu 30 menit tidak tersalurkan, maka nyawa anda yang menjadi taruhannya," jelas Mark.


"Formula baru ya, Om? Anda sungguh baik sekali Om Mark, menghukum orang dengan memberikan kenikmatan." Andrea terkekeh dengan apa yang dikatakannya. "Jangan sampai terlambat untuk meminum penawarnya Tuan Philip."


Philip mengepalkan tangannya kuat-kuat, sungguh dia ingin sekali memukul muka tampan presiden direktur Ji Sung yang licik itu, tapi dia menahannya karena melihat begitu banyak pengawal dengan senjata api di balik jasnya.


"Bagaimana Tuan Philip? Apa Anda bersedia bekerjasama dengan Ji Sung?" Andrea kembali bertanya pada Philip yang terlihat jelas aura kemarahannya.


"Anda pikir saya bodoh bekerjasama dengan syarat seperti itu? Saya tidak akan membiarkan tambang emas itu diambil orang," geram Philip.


"Pikiran Anda sangat cerdas, Tuan! Namun sayang, pilihan Anda akan membawa Anda pada kematian. Sungguh disayangkan, selain tambang emas, nyawa pun diambil orang." Andrea geleng-geleng kepala seraya berdecak.


Bukannya menjawab, Andrea malah bertanya asistennya. "Berapa menit lagi?"


"Masih kurang lima menit lagi, Tuan!" jawab Mark


"Baiklah, Tuan Philip! Kita tunggu lima menit lagi!" Andrea melihat ke arah jam tangan Rolex yang melingkar di tangannya kirinya.


Philip merasa ketar-ketir dengan apa yang dikatakan oleh Andrea hingga saat waktu sudah lewat lima menit, badannya merasakan hawa panas. Pejantannya seolah ingin segera dilepaskan, kesadarannya mulai tidak seimbang antara kenyataan dan halusinasi. Dia membuka dasi yang melingkar di lehernya, satu persatu kancing bajunya dilepaskan. semakin lama, hawa panas itu semakin tidak tertahankan.


Melihat reaksi yang mulai bekerja pada tubuh Philip, Andrea pun kembali bertanya. "Bagaimana Tuan Philip, apa mau bekerja sama?"


Merasa tidak ada pilihan, Philip pun akhirnya menandatangani kontrak kerja sama tanpa di baca lagi. Setelah Andrea mendapatkan kontak kerjasama, dia langsung menyuruh asistennya untuk mengantar Philip pulang.


"Om Mark, beri dia obat penawarnya! Lalu antarkan dia ke negeranya dan ingat, tutup akses dia untuk masuk ke negara ini lagi. Aku pulang dulu!" Andrea lalu beranjak pergi dari sana dengan membawa kontrak kerjasama dengan Philips Company.


Sesampainya di rumah, Mitha merasa heran dengan tingkah suaminya. Wajahnya terlihat sumringah, dia datang langsung memeluk Mitha seperti seorang anak yang ingin memberi tahu ibunya kalau dia memang lotre. Hatinya senang karena menang tapi juga was-waa takut kena marah karena belajar judi.

__ADS_1


"Sayang, abis menang tender ya! Senang banget, tebak Mitha


"Ini lebih dari tender sayang, tapi kepuasan batin." Andrea terus senyum-senyum sendiri membuat Mitha menjadi semakin penasaran.


"Maksud kamu apa? Aku gak suka ya, kalau pakai acara tebak-tebakan." Mitha cemberut karena tidak langsung diberitahu.


"Nanti aku beritahu kalau semuanya sudah beres. Sekarang tolong panggilkan El, suruh menemui aku di ruang kerja." Andrea mencium bibir istrinya sekilas sebelum menuju ruang kerjanya.


Mitha hanya menatap punggung tegap itu hingga menghilang di balik pintu ruang kerjanya. Dia selalu khawatir saat suaminya bersikap seperti itu. Entah kenapa dia selalu merasa Andrea seperti sudah melakukan kesalahan tanpa sepengetahuannya.


Semoga saja, dia tidak melakukan hal yang merugikan orang lain, batin Mitha.


Mitha langsung menuju ke ruang fitnes, karena tadi Elvano sempat berpamitan padanya untuk fitnes di lantai tiga rumahnya. Sesampainya di sana, terlihat Elvano sedang mengangkat beban. Mitha pun mendekatinya dengan perlahan.


"El, dipanggil papa! Katanya, di tunggu di ruang kerja." Mitha melihat wajah Elvano yang bercucuran keringat. Dia jadi teringat saat dulu sering menemani Andrea untuk fitnes. Saat dia merasa bosan, pasti akan tidur di kamar pribadi Andrea yang ada di atas ruang fitnes.


"Iya, Mah! Mama kenapa bengong? Wajah aku memang mirip dengan Papa, tapi aku lebih ganteng dari papa." Elvano terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


"El, kalau papa bikin salah tolong kasih tahu Mama ya!" pinta Mitha.


"Iya Mah! El pasti kasih tahu Mama." Elvano langsung bangun dan mengelap keringat di tubuh dan wajahnya.


Kalau mendepak orang yang akan ganggu kebahagiaan Lana, salah gak ya? 'Kan hanya nakut-nakutin mereka. Kalau mereka melawan baru beneran hukum mereka, batin Elvano.


"El, ayo! Malah bengong, papa udah nungguin!" Mitha langsung pergi ke kembali ke lantai bawah untuk melanjutkan pekerjaannya yang sedang memotong tangkai mawar hidup agar bisa dirangkai dalam pot.


Elvano langsung menyusul mamanya agar berangkat bareng turun ke bawah. Sesampainya di ruang kerja papanya, Elvano langsung duduk di kursi yang ada di depan meja kerja papanya.


"Bagaimana pekerjaan kamu? Apa berhasil membuat gadis itu tanda tangan dan pergi dari negara ini?"


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2