
Lain di pulau Cinta lain pula di Ibu kota, kemeriahan acara pembukaan resort pada pagi harinya dan resepsi pernikahan pengantin baru pada malam harinya, membuat Raka merasa punya kesempatan untuk mengambil cucunya yang ada di rumah Tuan Ardi.
Setelah dia tahu kalau bayinya Kalisa tidak ikut serta ke pulau Cinta, dia pun bergegas pulang setelah menghadiri acara gunting pita resort barunya Al.
Saat sampai di kediaman keluarga Putra, Raka langsung menerobos masuk ke rumah Al tanpa permisi. Dia terus menyusuri ruangan demi ruangan mencari keberadaan cucunya, hingga akhirnya dia bertemu dengan Bi Sumi yang sudah lama mengenalnya.
"Maaf Tuan, Anda sedang apa di sini?" tanya Bu Sumi saat melihat Raka celingukan.
"Aku mencari cucuku, cepat beritahu aku dia ada di mana!" sahut Raka dengan mata yang terus mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
"Maaf Tuan, di sini tidak ada cucu Anda. Ada juga putranya Bu Mira yang dulu mengasuh Dika," jelas Bi Sumi.
"Jangan bohong kamu! Aku tahu bayinya Kalisa di titip di sini oleh tua bangka itu. Cepat berikan padaku, aku yang lebih berhak atas cucuku!" seru Raka
Merasa percuma berbicara dengan Bi Sumi, Raka pun kembali menyusuri ruangan yang belum dia lihat, hingga pada sebuah ruang bermain dia mendengar ada suara tangis bayi. Dengan tergesa dia membuka pintu kaca itu, terlihat di sana ada dua bayi yang sedang dijaga oleh pengasuh, karena Bu Mira sedang keluar membeli susu dan popok untuk bayi Dave.
Raka terus meneliti kedua bayi itu, karena dia tidak tahu bagaimana rupa anaknya Kalisa. Dia hanya tahu kalau Kalisa meninggal saat melahirkan putranya dan kemudian dititipkan pada Tuan Ardi oleh ayahnya, Tuan Satya. Dia tidak mengerti kenapa ayahnya begitu tidak suka dia merawat cucunya sendiri dan malah menitipkannya pada orang lain.
Merasa tidak menemukan jawaban, Raka pun bertanya pada dua pengasuh bayi itu. "Yang mana bayi yang baru datang dari London?"
Kedua pengasuh itu hanya berpandangan tanpa berniat menjawab pertanyaan orang asing yang ada di depannya.
"Kenapa diam? Cepat katakan bayi mana yang baru datang dari London!" bentak Raka yang sukses membuat kedua pengasuh itu kicep.
"I-i-itu Tuan...." Belum selesai salah satu pengasuh itu bicara, Bi Sumi dan Bu Mira sudah berada di ambang pintu dan memotong ucapan pengasuh itu.
__ADS_1
"Kedua bayi itu bayi saya, Tuan. Anda salah telah mencari cicit Tuan Satya ke sini," ucap Bu MIra langsung menghampiri kedua pengasuh yang terlihat ketakutan.
"Siapa Kamu? Aku baru melihatmu ada di rumah Om Ardi?" selidik Raka dengan memicingkan matanya.
"Boleh juga cewek ini, meski sudah berumur tapi badannya terlihat padat berisi," batin Raka
"Saya tantenya Icha, istrinya Al." Bu Mira pun tak urung memperkenalkan dirinya sebagai tantenya Icha, meski memang benar Icha sudah menganggapnya sebagai tantenya tapi secara biologis hanyalah tante ketemu gede.
Raka mendekat ke arah Bu Mira menyelidik penampilan Bu Mira dari atas sampai bawah. Dengan tidak tahu malunya, dia mencoba untuk merayu Bu Mira. "Kamu terlihat seksihh dengan baju longgar itu, aku yakin di dalamnya 38B."
"Anda jangan kurang ajar, Tuan!" seru Bu Mira. Meski dalam hatinya dia ketar ketir menghadapi pria hidung belang yang ada di depannya, tapi kata Bi Sumi, harus bisa mengulur waktu sampai Tuan Satya dan Tuan Ardi datang karena tadi Bi Sumi langsung menghubungi Tuan Ardi dan memberitahukan tentang kedatangan Raka yang mencari cucunya.
Raka Pradipta, semenjak Tuan Satya menyembunyikan Kalisa darinya, semenjak itu pula dia berubah menjadi laki-laki pecinta daun muda. Entah setan dari mana yang membuatnya menjadi sugar daddy gadis belia. Yang jelas, hasrat pada istrinya seperti hilang karena mereka setiap hari bertengkar saat menyinggung soal Kalisa. Namun saat dia melihat Bu Mira, entah kenapa jiwa liar lelakinya langsung bangkit.
"Aku tidak kurang ajar, aku hanya sedang memujimu. Kalau kamu tidak keberatan, aku bersedia menjadikanmu sebagai simpananku." Raka seperti sudah hilang kewarasannya, membuat Bi Sumi dan kedua pengasuh bergidik ngeri.
"Udahlah Bi Sumi! Gak usah bohong, aku tahu kamu sedang berusaha membodohiku. Kalian semua yang ada di sini sedang berusaha membodohiku kan? Tapi gak papa, aku semakin yakin kalau cucuku salah satu dari bayi itu." Raka pun segera memutuskan untuk secepatnya mengambil cucunya.
Namun langkahnya langsung terhenti saat mendengar suara berat yang begitu dikenalnya, "Berhenti Raka! Aku tidak mengijinkanmu menyentuh cicitku," sentak Tuan Satya yang baru saja tiba di kediaman keluarga Putra.
Untung saja salah satu tamu undangan Al membawa heli ke sana, jadi di saat keadaan darurat seperti sekarang, dia bisa meminjamnya.
Raka langsung berbalik badan menghadap ke arah ayahnya yang berdiri di ambang pintu. "Kenapa Ayah melarangku untuk merawat cucuku sendiri? Aku yang lebih berhak merawatnya dibanding Ayah." Terlihat gurat kemarahan di wajah Raka. Dia menginginkan putra Kalisa untuk dijadikan penerusnya.
"Kamu tentu tahu jawabanku, aku tidak ingin ada Kalisa yang lain di bawah didikanmu," jelas Tuan Satya, "Jangan kamu pikir aku tidak tahu kelakuanmu. Meskipun aku jauh, tapi aku selalu mengawasimu," lanjutnya.
__ADS_1
Raka hanya mengepalkan tangannya, dia sudah tidak bisa membela diri lagi. Dengan gemuruh kemarahan di dadanya, dia pun pergi dari rumah Tuan Ardi.
"Terima kasih Tuan, Anda datang tepat waktu." Sesaat setelah kepergian Raka, Bi Sumi pun membuka suaranya.
"Aku yang seharusnya berterima kasih pada kalian, karena kalian bisa mengulur waktu sampai aku datang," ucap Tuan Satya.
"Aku juga heran, kenapa Raka bisa berubah Satya." Tuan Ardi pun yang sedari tadi diam ikut bersuara.
"Aku juga tidak mengerti, kenapa Raka bisa seperti itu. Padahal dulu, dia anak yang penurut." Tuan Satya pun mengenang saat-saat dulu Raka masih dalam pengawasannya. "Makanya aku titipkan Dave Sky Pradipta di sini bersama kalian. Tolong didik cicitku dengan baik saat aku sudah tidak bisa lagi menemaninya."
Tak terasa mata Bi Sumi sudah mengembun mendengar penuturan dari sahabat Tuannya. Dia tahu bagaimana dulu dua keluaga itu terlihat begitu harmonis, karena dia mulai bekerja dengan Tuan Ardi sedari dia masih gadis hingga bertemu dengan Pak Komar dan akhirnya memutuskan untuk menikah.
"Tuan jangan khawatir! Saya pasti akan menjaga Aden kecil dengan baik," ucap Bi Sumi
"Sudah Satya, sebaiknya kamu istirahat. Akhir-akhir ini kesehatanmu mulai menurun." Tuan Ardi pun mengingatkan sahabatnya.
Tanpa bicara lagi, Tuan Satya dan Tuan Ardi berlalu pergi menuju ke kamarnya.
Selepas kepergian tuannya, Bu Mira dan kedua pengasuh itu menghembuskan nafasnya dalam secara bersamaan. Mereka merasa lega terbebas dari ketegangan akibat ulah Raka.
"Ya Allah Bi Sum, aku tadi takut banget dengan Tuan Raka. Ganteng sih meski sudah berumur, tapi aku gak nyangka kalau dia penjahat kelamin." Salah satu pengasuh yang bernama Noni pun akhirnya bersuara.
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih🙏🏻...
👉Next part