
Setelah acara ijab kabul selesai, keluarga bergantian mengucapkan selamat pada pengantin baru. Begitu pula dengan Elvano yang menjadi orang pertama memberikan selamat pada adik kembarnya.
"Selamat ya, Dek! Jadi istri yang baik, nurut sama suami. Kamu juga Dik, awas aja kalau sampai nyakitin adik aku." Elvano memeluk adiknya, ada rasa bahagia menyelinap di hatinya. Meski sebenarnya dia sedang was-was karena ternyata Philip mengadukan pada pemerintah setempat sehingga kemungkinan perusahaan Ji Sung yang ada di negara itu akan mengalami masalah. Elvano yang sebelumnya diberi tugas untuk menyelidiki tentang keluarga Philip, sepertinya melewatkan sesuatu yang penting dalam penyelidikannya. Bahwa keluarganya Philip merupakan salah satu keluarga bangsawan di negeri itu.
"Bang, ada masalah?" tanya Allana saat merasakan detak jantung Elvano yang berbeda.
"Tidak Dek! Kalian nikmati saja bulan madunya nanti." Elvano langsung pergi. Tidak ingin kalau nanti Allana mengetahui semuanya.
Saat dia sedang berjalan menuju ke ruang atas, tanpa sengaja matanya menangkap Arabella yang sedang asyik menikmati salad buah seraya tersenyum melihat ke arah benda pipih di tangannya. Elvano ingin menghampirinya, tapi sepertinya waktu yang tidak mendukung sehingga dia langsung melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kerja papanya.
Di sana, Andrea sudah menunggunya untuk menyerang situs perusahaan Philip. "El, Joen kapan tiba di sini?" tanya Andrea.
"Seharusnya, satu jam lagi dia sudah sampai, Pah!" Elvano terus mengotak Atik laptop di depannya.
"El, bisa lanjutkan sendiri? Kepala papa pusing," keluh Andrea.
"Ya sudah, Papa istirahat saja. Biar ini El yang bereskan." Elvano menengok ke arah Andrea sekilas, wajah papanya memang terlihat sedikit pucat.
Papa begitu ketakutan akan ada orang yang menyakiti Allana. Sampai dia tidak tidur terus mengawasi CCTV untuk melihat kinerja para pengawal, dalam mengamankan mansion ini menjelang hari pernikahan putrinya. Kamu harus berterima kasih pada papa, Lana. Karena dia, kamu secepatnya bersatu dengan Dika meskipun harus mengerjai orang, batin Elvano.
Sementara di tempat pesta pernikahan, suasana riuh saat pengantin menyumbangkan sebuah lagu untuk memeriahkan pesta. Senyum mengembang dari pasangan pengantin baru seperti penyakit menular, yang mampu membuat semua yang hadir dalam acara pesta pernikahan dadakan itu ikut tersenyum.
Terdengar Dika menyanyikan lagu 'My Love' dari Westlife.
So, I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again, my love
Overseas, from coast to coast
To find a place I love the most
__ADS_1
Where the fields are green
To see you once again
My love
Semua yang menyaksikan ikut serta menyanyikan lagu yang fenomenal di jamannya itu. Namun, ada seorang gadis yang sedari tadi hanya diam di tempatnya. Gadis yang sedari terus berpikir tentang keputusan yang dibuatnya. Ya, Arabella sudah memutuskan untuk pergi jauh dari kehidupan Elvano. Dia tidak ingin sakit hati lagi. Apa yang dikatakan oleh Elvano tidak bisa membuatnya percaya begitu saja.
"Tidak mungkin El berubah secepat itu, bisa saja dia hanya ingin mempermainkan aku. El kan licik sama dengan Om Andrea," gumam Arabella
Setelah Dika dan Allana turun dari panggung, Arabella pun segera menghampiri sahabatnya. "Lana, Selamat ya! Akhirnya kamu bisa bersama dengan orang yang tulus mencintaimu. Jangan sia-siakan orang yang mencintai kamu kalau kamu tidak ingin menyesal di kemudian hari," pesan Arabella pada sahabatnya kemudian mereka pun saling berpelukan.
"Dika selamat ya! Akhirnya kamu bersama dengan orang yang kamu cintai. Tolong jaga sahabatku! Besok aku akan pergi, sekalian aku pamit pada kalian." Arabella menjabat tangan Dika.
"Kamu mau pergi ke mana lagi Ara? Apa kamu ingin Bang El kayak orang gila nyariin kamu?" tanya Allana.
"El nyariin karena dia merasa kehilangan mainannya. Setelah dia mendapatkan mainan baru, pasti dia akan lupa dengan mainan lama." Arabella bicara dengan suara bergetar. "Aku pergi!"
Allana hanya menatap kepergian Arabella. Dia tidak bisa membujuk Arabella karena dia juga tidak yakin kalau Elvano sudah mencintai sahabatnya itu.
Aku memang terlanjur mencintaimu
Dan tak pernah kusesali itu
Seluruh jiwa telah kuserahkan
Menggenggam janji setiaku
Kumohon jangan jadikan semua ini
Alasan kau menyakitiku
Meskipun cintamu tak hanya untukku
Tapi cobalah sejenak mengerti
__ADS_1
Bila rasaku ini rasamu
Mendengar nyanyian yang sendu dan menusuk hati, Elvano menghentikan sejenak pekerjaan. Dia mempertajam pendengarannya hingga dia meyakini kalau suara itu milik seseorang yang selalu mengusik hari-harinya. "Ara," lirih Elvano.
Elvano ke luar dari ruang kerja, di saat Arabella sudah berhenti menyanyikan sebuah lagu. Dilihatnya gadis itu yang lagi-lagi sedang menutup mulutnya menahan tangisan. Elvano ingin mengejarnya tapi langkahnya tertahan oleh suara seseorang yang di kenalnya.
"Sayang, ke mana saja? Aku mencari kamu." Akira langsung bergelayut manja di lengan kekar Elvano.
"Kapan datang? Tahu dari siapa tentang pernikahan Lana? Bukankah keluargaku tidak menyebar undangan?" Elvano merasa heran dengan kedatangan Akira, karena seingatnya dia tidak mengundang gadis itu untuk datang ke acara pernikahan Allana.
"Apa kamu lupa kalau aku wedding organizer yang dipakai punya Tante aku?" tanya Arabella.
Teringat Arabella yang pergi ke luar, Elvano pun segera menghentikan obrolannya dengan Akira.
"Kalian, nikmati saja pestanya. Aku sedang ada urusan. Nathan, temani Akira dulu ya!" Elvano pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Akira.
Elvano yakin, kalau tadi Arabella pergi menuju pintu belakang mansion. Dia langsung berlari ingin segera menyusul gadis cantik itu. Namun saat sampai di belakang mansion, tidak ada seorang pun yang ditemuinya.
"Ke mana penguntit itu? Bukankah tadi menuju ke sini? Kenapa dia jadi cengeng, bukankah dia dia tidak pernah menangis meski sering aku tolak?" gumam Elvano yang masih bisa di dengar oleh seorang gadis yang sedang duduk di sebuah bangku taman di balik bunga yang rimbun.
Memang benar aku tidak pernah menangis di depanmu, El. Itu karena aku tidak ingin, kamu menganggap aku sebagai gadis yang lemah, batin Arabella.
Terlarut dalam lamunan, Arabella tidak menyadari ada seekor ulat yang sudah merayap ke gaunnya hingga tanpa sengaja ujung matanya melihat penampakan hewan merayap yang berbulu.
"Ulat ulat ulat!" teriak Arabella seraya meloncat-loncat ketakutan.
Mendengar suara teriakan Arabella, Elvano hanya mengulum senyum lalu mendekatinya dan membuang ulat yang ada di gaun gadis penguntit itu.
"Ke mana pun kamu pergi, aku pasti bisa menemukanmu Arabella Wijaya. Kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku," bisik Elvano.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1