Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 128 Sayang bangun!


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Al saat berada di ambang pintu yang memang sengaja tidak ditutup oleh Bu Mira.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Mira dan Pak Bagas serempak.


Al pun langsung mencium punggung tangan Pak Bagas yang sedang menggendong baby Barra dan menjembil pipi Barra gemas.


"Apa kabar, Om? Lama gak main ke sini?" tanya Al


"Iya, Om dipindah tugas ke Bandung, jadinya jarang nengokin Barra." Pak Bagas terus menciumi pipi putranya yang chubby. Dia jadi teringat saat dulu Dika masih bayi yang bertubuh gempal karena tercukupinya asupan ASI. Meskipun dulu Icha hampir saja terkena baby blues tapi dia tidak lupa untuk memberikan sumber kehidupan pada bayinya.


"Apa? Pindah tugas? Lalu rumah siapa yang ngurus?" tanya Bu Mira bertubi-tubi.


"Rumah aku sewakan, karena semenjak Serena meninggal, Siska ikut dengan Dedi." Tanpa melihat ke arah Bu Mira, Pak Bagas pun menjawab pertanyaannya.


"Om, Tante, silakan dilanjut ngobrolnya. Aku mau ke atas dulu," pamit Al


Setelah berpamitan dengan Pak Bagas dan Bu Mira, Al pun langsung menuju kamarnya. Namun, saat sampai di tangga atas, dia melihat Icha yang seperti jalan sempoyongan dengan tangan berpegangan pada tembok. Al langsung berlari memburu tubuh istrinya yang limbung. Dengan satu gerakan, Al pun langsung menggendong Icha dan segera menuju lift yang tidak jauh dari tangga. Semenjak Icha hamil, Al langsung memasang lift di rumahnya. Dia tidak ingin mengambil resiko, saat Icha hamil besar, terjadi sesuatu karena naik turun tangga.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Al panik


"Perutku sakit Al, udah dari tadi pagi terasa mules. Tapi sekarang mulesnya semakin sering." Adu Icha dengan keringat dingin yang keluar di dahinya


"Sepertinya anak kita sudah tidak sabar ingin bertemu dengan papanya, kamu yang kuat sayang. Aku pasti akan menemanimu.


Saat sampai lantai bawah, Al langsung menyuruh Bi Sari untuk menyiapkan segala sesuatunya dan segera menyusulnya ke rumah sakit.


Dengan panik Al langsung membawa Icha ke rumah sakit dengan ditemani Pak Bagas yang kebetulan masih berada di sana. Sementara Tante Mira tidak bisa ikut karena harus mengurus kedua bayi yang dalam pengawasannya.


Pak Bagas yang membawa mobil karena Pak Komar nanti menyusul bersama Bu Sari. Sementara Al di belakang bersama Icha. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Al terus mengelus perut Icha dengan penuh kasih sayang seraya dia terus mengajak bayinya bicara.


"Sayangnya Papa sabar dulu ya, Nak! Sebentar lagi kita sampai. Jangan nakal di perut mama! Kasihan mama kesakitan," ucap Al seraya mengusap keringat yang ada di dahi Icha.


"Sayang, apa sakit banget?" ringis Al saat melihat Icha memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit.

__ADS_1


Icha tidak menjawab pertanyaan Al, dia hanya menggelengkan kepalanya lemah. Jangankan ingin bicara, untuk mengatur napas saja rasanya susah.


Sesampainya di rumah sakit, terlihat Dokter Arumi dan Dokter Rio sudah menunggunya di lobby, sehingga Icha langsung dibawa ke ruang bersalin.


Setelah diperiksa oleh Dokter Arumi, ternyata Icha sudah pembukaan lima. Yang mana tinggal menunggu empat pembukaan lagi yang harus dilewatinya.


Terlihat Al yang sedang menundukkan kepalanya di depan ruang bersalin dengan hatinya yang tak henti berdo'a untuk keselamatan anak dan istrinya yang sedang berjuang untuk memberikan kehidupan pada buah hatinya.


Ya Tuhan, ku mohon selamatkan anak dan istriku. Berilah aku kesempatan untuk membahagiakan mereka, batin Al.


Saat Al sedang khusyuk dengan do'anya, Bi Sari dan Pak Komar datang dengan tergopoh-gopoh membawa tas yang sudah disiapkan sebelumnya untuk keperluan lahiran Icha.


"Den Al, bagaimana keadaan Neng Icha?" tanya Bi Sari saat sudah berada di depan Al.


Mendengar ada orang yang menyapanya, Al pun langsung mendongak melihat ke arah suara. Dilihatnya wajah Bi Sari yang cemas dengan tentengan tas di tangan kanan dan kirinya.


"Icha di dalam Bi, katanya baru pembukaan lima. Kata Dokter Arumi nanti aku dipanggil saat sudah pembukaan sembilan." Al Kembali menundukkan kepalanya, rasa khawatirnya begitu besar sehingga dia seperti kehilangan akal.


Tak berselang lama, terlihat Dokter Arumi keluar dari ruang bersalin dan menghampiri Al yang masih menundukkan kepalanya.


Al langsung terperanjat mendapat tepukan dari Dokter Arumi. "Aku boleh masuk, Dok?" tanyanya.


"Masuklah! Istrimu butuh dukungan dan perhatianmu," suruh Dokter Arumi.


Tanpa menjawab apa yang dikatakan oleh Dokter Arumi, Al langsung masuk ke ruang bersalin untuk menemani Icha.


Sesampainya di sana, terlihat Icha yang sedang meringis menahan sakitnya yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Al langsung mempercepat langkahnya menuju ke bed tempat Icha berbaring.


"Sayang, mana yang sakit?" Terlihat raut wajah cemas saat melihat istrinya kesakitan.


"Al, bisa elus punggungku?" Icha meringis seraya membelakangi Al agar mengelus punggungnya yang terasa panas.


Al pun langsung mengikuti apa yang diminta oleh Icha. Dia terus mengelus punggung Icha agar mengurangi rasa tidak nyaman yang Icha rasakan.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian, Icha merasa ingin ada sesuatu yang ingin dikeluarkan.


"Al, bisa antar aku ke kamar mandi? Aku ingin BAB," pinta Icha yang kebetulan Dokter Arumi datang untuk memeriksa keadaan Icha.


"Kalian mau ke mana?" tanya Dokter Arumi saat melihat Al membantu Icha untuk bangun.


"Perutku mulas sekali, Dok. Rasanya ingin Bab," jelas Icha.


"Jangan ke kamar mandi, itu kamu mau lahiran. Ayo Al bantu do'a agar lahirannya lancar!" Dokter Arumi langsung mempersiapkan dirinya di untuk membantu Icha melahirkan putrinya.


"Lihat perutnya, pegang kedua lututnya, tarik napas lalu hembuskan." Instruksi Dokter Arumi, "ayo sekarang tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan bayinya sekuat tenaga."


Tanpa diminta dua kali, Icha pun langsung mengikuti apa yang Dokter Arumi katakan. Icha terus mengejan dengan Al terus mengelus rambut Icha dengan buliran air mata yang tidak bisa dibendungnya lagi. Dia merasa sakit saat melihat kekasih hatinya begitu kesakitan sementara dia tidak bisa melakukan apapun selain berdo'a dan memberi dukungan pada istrinya.


Saat Icha mencoba untuk yang ketiga kalinya, akhirnya baby girl lahir ke dunia dengan selamat. sementara Icha terkulai lemas dengan darah yang keluar begitu banyak, membuat dokter segera memberi tindakan pada pasiennya.


"Cha, sayang bangun! Lihat putri kita sangat cantik!" Al terus menepuk-nepuk pipi Icha agar terbangun karena setelah bayinya lahir, Icha langsung pingsan.


"Cha bangun! Jangan nakutin aku! Sayang ayo bangun!" Al terus memanggil Icha menyuruhnya untuk bangun tapi sedikit pun Icha tidak memberikan reaksi, sampai akhirnya Dokter Arumi angkat bicara.


"Al, tolong tunggu di luar, istrimu membutuhkan tindakan medis. Kalau tidak, kamu ikuti perawat yang membawa bayimu. Setelah nanti dibersihkan segera diadzani," suruh Dokter Arumi.


Al hanya diam dengan tangan terus menggenggam tangan Icha. "Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian, disaat dia sedang berjuang untuk hidupnya," ucap Al dengan suara yang bergetar.


"Al, kalau kamu seperti ini, akan menghambat kami para tenaga medis untuk memberikan pertolongan pada istrimu." Dokter Arumi terpaksa bicara dengan nada tinggi.


Dengan terpaksa Al pun beranjak dari tempatnya. Namun baru saja dia melangkahkan kakinya, Al langsung menyelidik satu per satu dokter yang akan menolong Icha dengan tatapan tajamnya.


"Aku tidak menerima kegagalan. Kalian harus mengeluarkan semua kemampuan kalian untuk menolong istriku. Kalau sampai kalian lalai dan melakukan kesalahan, bersiaplah untuk menanggung resikonya."


...*****...


Sambil nunggu up melipir dulu kak ke sebelah

__ADS_1



__ADS_2