
Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma. Begitupun dengan dengan Abizar dan Aisha. Di saat kamarnya dikuasai oleh para sahabatnya, pasangan pengantin baru itu menyelinap ke luar rumah menuju ke apartemen.
Saat sampai di apartemen, keduanya tertawa senang karena bisa kabur dari keisengan sahabatnya. Setelah lelah tertawa, keduanya saling berpandangan dengan rasa yang membuncah di dada.
"Bee, makasih udah kabulkan keinginan papaku." Mata Aisha terus menatap lekat pada suaminya, lelaki yang mampu meluluh lantakkan hatinya.
"Bukan kamu yang harus berterima kasih, tapi aku! Makasih udah menerimaku apa adanya." Abizar trus menatap lekat ke dalam iris mata hazel milik Aisha, hingga keduanya pun saling mendekat satu sama lain. Entah siapa yang memulai, kini indra pengecap keduanya sudah saling membelit, merasai gairah yang terus menuntut untuk menikmati rasa yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan. Abizar terus menyesap, mengecap bibir tipis Aisha dengan tangan yang terus bergerilya menyentuh tiap bagian yang mampu membangkitkan rasa yang tak biasa Aisha rasakan, hingga malam panjang pun mereka lalui dengan berbagi kenikmatan.
Keesokan paginya, Abizar terbangun lebih dulu saat dia mendengar suara adzan dari ponselnya, yang memang sengaja dia pasang fitur yang selalu mengingatkan saat waktu sholat telah tiba.
Setelah mandi besar, Abizar pun segera membangunkan Aisha agar ikut sholat subuh berjamaah. Dengan sabar, abizar menunggu Aisha membersihkan dirinya seraya membaca Al Qur'an di ponselnya.
Setelah Aisha selesai mandi besar, Abizar pun memimpin solat subuh berjamaah bersama istrinya. Namun, kekhusyukan solat mereka sedikit terganggu dengan suara ponsel Aisha yang terus berdering, sehingga saat sesudah salam, Aisha pun segera mengangkat ponselnya.
📱"Hallo, Assalamu'alaikum!
📲"Wa'alaikumsalam. Aisha, kamu ada di mana?"
📱"Aku ada di apartemen, Tan!"
📲"Cepat ke Mahardika Hospital, papa kamu kritis"
📱"Apa? Tante jangan bercanda!"
📲"Tante tidak bercanda! Sekarang, Tante di rumah sakit bersama mama kamu. Cepetan ke sini! Tante tutup telponnya ya, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam," lirih Aisha.
Abizar yang baru selesai menutup do'anya, langsung menghampiri Aisha yang terdiam dengan tatapan kosong.
"Kenapa, Sha?" tanya Abizar.
"Papa kritis, Bee! Tadi tante Dewi, menyuruhku untuk menyusul ke rumah sakit." Aisha sudah tidak bisa membendung lagi air matanya untuk tidak keluar sehingga Abizar langsung membawa Aisha dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tenang sayang! Kita sama-sama berdo'a untuk kesembuhan papa kamu." Abizar terus mengelus punggung Aisha lembut. "Ayo bersiap, kita kan ke sana!" lanjutnya.
Tidak butuh waktu lama untuk Aisha bersiap, dengan segera mereka pun menuju rumah sakit, tempat papanya dirawat.
Saat sampai di sana, terlihat keluarga dekat sudah berkumpul di ruang perawatan Pak Tyo. Tanpa memperdulikan tatapan menyelidik dari keluarganya, Aisha langsung mendekat ke arah papanya. Tanpa bicara apapun, Aisha langsung memeluk tubuh Pak Tyo yang sudah terkulai lemas. Dia menangis sesegukan hingga akhirnya Pak Tyo membuka matanya melihat putri kesayangannya yang sedang menangis seraya memeluk dirinya.
"Kamu tidak pernah berubah, Nak! Selalu menangis sambil mengadu pada Papa saat ada orang yang menyakitimu. Namun, hari ini Papa yang sudah menyakiti hatimu. Maafkan Papa, Nak! Ikhlaskan Papa jika waktunya Papa harus pergi. Jangan menangis lagi! Hati Papa sakit melihat air matamu keluar karena menangisi Papa," lirih Pak Tyo.
"Maafkan Isa, Pah! Isa-Isa-Isa akan ikhlas jika memang Papa harus pergi," Aisha semakin terisak, dadanya terasa sangat sakit. Meskipun mulutnya berkata ikhlas, tapi hatinya tetap terasa sangat sakit saat mengatakan kata ikhlas.
Pak Tyo memaksakan tesenyum pada putri kesayangannya untuk yang terakhir kali. Menyadari mertuanya seperti akan melepaskan kehidupan dunia fana, Abizar pun segera membimbing Pak Tyo untuk membaca syahadat. Dengan wajah berseri, Pak Tyo pergi untuk selama-lamanya.
Aisha langsung menangis histeris melihat papanya menutupkan mata untuk selama-lamanya. Dengan sigap, Abizar langsung menjauhkan Aisha agar Air mata Aisha tidak jatuh mengenai jasad Pak Tyo karena air mata itu, akan memberatkan pada almarhum. Sedangkan Oryza langsung mengurus administrasi sehingga tidak butuh waktu lama, jasad Pak Tyo sudah bisa dibawa ke rumah duka.
Para pelayat datang bergantian memenuhi rumah duka, hingga hari menjelang sore dengan semburat sinar jingga yang menghias angkasa, Pak Tyo dikebumikan di TPU yang tidak jauh dari rumahnya.
Abizar terus menemani istrinya, sedikit pun dia tidak meninggalkan Aisha yang sedang terpuruk sementara mamanya Aisha bersama dengan Bu Dewi.
***
Kini Aisha tinggal di rumah Abizar sementara mamanya bersama dengan kedua adiknya.
Pagi ini, tidak seperti biasanya Aisha begitu malas untuk menyiapkan sarapan. Dia masih bergelung dengan selimut tebalnya. Apalagi badannya terasa begitu remuk setelah semalaman digempur oleh Abizar berkali-kali.
"Sayang, bangun sholat subuh dulu?" ucap Abizar.
"Jam berapa, aku masih ngantuk?" tanya Aisha dengan mata yang masih terpejam.
"Sudah jam lima," jawab Abizar.
Perlahan Aisha membuka matanya, meski malas tapi dia harus menunaikan kewajibannya sehingga Aisha memaksakan diri untuk bangun. Namun saat di kamar mandi dia terus-menerus muntah membuat Abizar menjadi khawatir.
"Sha, kenapa?" tanya Abizar di ambang pintu.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Bee!" sahut Aisha di kamar mandi.
Setelah mandi dan sholat subuh, Aisha pun kembali lagi bergelung dengan selimutnya membuat Abizar merasa heran karena tidak seperti biasanya dia seperti itu.
"Kamu sakit, sayang?" tanya Abizar khawatir.
"Nggak, aku hanya lemas. Bilang ke Al kalau aku gak masuk kerja dulu ya!" ujar Aisha.
"Ya udah istirahat saja! Nanti aku bawakan sarapan ke sini,' ucap Abizar.
Seperti apa yang dikatakannya, Abizar pun langsung menyiapkan sarapan untuk istrinya membuat Bu Ijah heran.
"Den, tumben Neng Aisha tidak sarapan di sini?" tanya Bi Ijah heran.
"Sepertinya dia lagi gak enak badan, tadi subuh dia muntah-muntah terus," terang Abizar.
"Wah tanda-tanda itu, Den. Nanti sekalian ke pasar, Bibi mampir ke apotek buat beli obatnya," ucap Bu Ijah.
Abizar pun memberikan uang tambahan untuk membeli obat pada Bu Ijah. Tanpa bicara lagi, Abizar langsung naik ke lantai atas menuju ke kamarnya. Terlihat Aisha yang sedang tertidur, tanpa ingin mengganggu istirahat istrinya, Abizar pun mencium kening Aisha sebelum dia berangkat kerja.
"Sayang, aku kerja dulu. Istirahat yang cukup!" baiknya.
Aisha yang memang belum terlelap, langsung membuka matanya, melihat suaminya yang sudah rapih. Tanpa aba-aba, Aisha langsung melingkarkan tangannya di leher Abizar dan menarik kembali Abizar hingga bibir mereka menempel satu sama lain. Perlahan dia mulai menyesap bibir suaminya yang sedikit tebal hingga pergulatan lidah pun tidak dapat mereka hindari. Setelah merasa puas menikmati vitamin c nya, Aisha pun melepaskan Abizar dan memasang senyuman yang sangat manis.
"Sayang, kenapa kamu mengujiku?" tanya Abizar yang kini hasratnya sudah terpancing dan ingin dituntaskan.
"Mualku sedikit berkurang setelah mendapatkan vitamin darimu, Bee!" Aisha cengengesan dengan wajah tanpa dosanya.
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima Kasih!...
__ADS_1
Mampir juga yuk ke kisah cintanya anak Kalisa dan Dave dalam karya terbaru author 'Simpanan Brondong Tajir' ceritanya gak kalah seru.