Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 38 Hanya ingin bersamamu


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya, Al membawa Dika bermain di alun-alun menjajal wahana demi wahana yang ada di sana. Al sangat menikmati perannya sebagai seorang ayah yang sedang menjaga anaknya bermain. Namun tidak bagi Icha, karena sedari tadi pikirannya terus teringat pada Papanya.


Al yang menyadari Icha tidak begitu menikmati suasana alun-alun yang cerah ceria, berencana untuk membeli permen kapas dan gulali. Sedangkan Dika disuruh menunggu bersama dengan Icha.


"Kakak, kenapa diam saja? Kakak marah sama Dika ya, karena main sama Om Al," tanya Dika.


"Nggak kho sayang, kakak gak marah sama Dika," jawab Icha.


"Kalau Kakak tidak suka main di sini, ayo kita pulang Kak!" ajak Dika.


Icha memaksakan tersenyum pada Dika dengan hati yang penuh haru dengan sikap Dika. Tanpa terasa setetes air mata jatuh di pipinya. Dengan cepat Dika menghapus air mata Icha.


"Kakak kho nangis, Dika bikin salah ya kak?"


Icha langsung memeluk erat Dika, "Kakak sayang sama Dika," lirihnya.


Al masih mematung di tempatnya, melihat interaksi Dika dan Icha. Hatinya terasa dicubit melihat pancaran luka di wajah Icha.


Maafkan aku, Cha! Aku janji akan mengganti setiap luka hatimu dengan kebahagiaan, batin Al.


Al pun segera menetralkan perasaannya dan menghampiri dua orang yang dicintainya.


"Om gak diajakin nih peluk-pelukannya," canda Al.


Icha langsung melepaskan pelukannya pada Dika lalu mencoba tersenyum pada Al yang menyodorkan permen kapas dan gulali.


"Makasih!" ucap Icha.


***


Seperti yang sudah janjian, Al dan Abizar datang bersamaan memasuki cottage yang Aisha dan Icha tempati.


Terlihat Abizar langsung keluar dan membuka bagasi mobilnya. Icha dibuat melongo dengan apa yang Abizar bawa. Ada tiga kantong besar makanan, peralatan untuk memanggang yang serba baru.


"Kamu mau jualan sosis bakar disini Bi? banyak banget beli sosisnya?" tanya Icha.


"Bukan aku yang mau jualan, Cha! Tuh cowok kamu mau jadi kang sosis bakar," sungut Abizar.


Bagaimana tidak, Abizar yang sedang bermesraan dengan Aisha di rumahnya, tiba-tiba disuruh menyiapkan segala sesuatunya untuk acara barbeque dadakan nanti malam dan menyuruh Abizar menginap di cottage bersamanya.


Dengan kesal Abizar pun mengantar Aisha belanja untuk acara dadakan Al. Sehingga dengan sengaja mereka memborong aneka cemilan, fresh food dan buah-buahan. Tak ketinggalan pula minuman kaleng. Lagian uang segitu buat Al gak ada apa-apanya, pikir Abizar dan Aisha.


Icha hanya nyengir mendengar apa yang Abizar katakan, sedangkan Al tersenyum kecut dibilang kang sosis.

__ADS_1


"Kamu tidak ikhlas Abizar menyiapkan semua ini?" tanya Al datar membuat Aisha langsung menghentikan tawa kecilnya.


"Ikhlas kho Al!" serobot Aisha.


"Aku bertanya pada pacarmu Aisha." Al menekankan ucapannya.


Abizar menghembuskan nafasnya dalam, mode singa Al sedang keluar jadi dia harus mengalah.


"Ini sudah tugas dan kewajiban saya sebagai bawahan untuk memenuhi tugas dan perintah dari bos," ucap Abizar.


"Anak pintar!" ucap Al dengan menepuk bahu Abizar kemudian berlalu pergi.


Sadar sebenarnya Al hanya mengerjainya, Abizar pun langsung berteriak kesal


"ALDRICH MARCHDIKA!" seru Abizar.


Dika yang sudah berada di dalam cottage kembali berlari keluar mendengar suara Abizar.


"Ada apa Om panggil nama Dika?" tanya bocah kecil itu yang sebentar lagi genap 6 tahun.


"Emang nama Dika siapa?" tanya Abizar heran.


"Aldrich Marchdika Om," jawab Dika.


Setelah agak jauh dari cottage Abizar pun langsung menasehati Dika.


"Nanti Dika jangan bilang nama lengkap Dika ke orang-orang ya! Cukup guru aja yang tau," pesan Abizar.


"Memang kenapa Om dengan nama Dika, jelek ya?" tanya Dika heran.


"Nama Dika bagus, tapi kalau nanti banyak yang ngikutin kan pasaran jadi bagusnya berkurang," ucap Abizar.


Sedangkan Al hanya melihatnya lewat jendela, karena tadi saat Abizar menyebut nama lengkapnya, sebenarnya Al sudah mau keluar tapi melihat Abizar menarik tangan Dika, Al pun mengurungkan niatnya dan memilih melihat lewat jendela.


Ternyata Abizar juga sudah tahu kalau Dika putraku makanya dia terlihat panik. Tanpa DNA pun aku yakin kalau Dika putraku, bahkan Icha memberikan nama yang persis denganku. Monolog hati Al


***


Hari pun sudah berganti malam, udara pegunungan yang semakin dingin menusuk ke kulit. Acara yang rencananya diadakan di luar pun kini telah berubah menjadi di dalam cottage mengingat ada Dika di antara orang dewasa itu.


Al dengan semangat membakar sosis, baso dan daging untuk Icha dan Dika. Begitupun dengan Abizar yang tidak mau ketinggalan ikut membakarnya untuk Aisha.


"Kakak, aku kenyang!" keluh Dika sambil mengelus-elus perutnya dengan mata sayu.

__ADS_1


"Kenapa? Dika ngantuk?" tanya Al yang langsung mendapat jawaban dari Dika dengan menganggukkan kepalanya.


"Mau bobo sama Om?" tawar Al.


"Dika mau sama Kakak," rengek Dika.


Icha langsung menghentikan makannya dan mengajak Dika untuk mencuci tangan dan kaki sebelum tidur.


Hanya butuh waktu 10 menit untuk Icha menidurkan Dika. Setelah Dika tertidur, Icha pun kembali bergabung dengan yang lain.


"Ayo Cha!" ajak Al.


"Mau kemana? Nanti Dika gimana?" tanya Icha heran.


"Ke suatu tempat yang indah, Dika ada Aisha yang menjaganya," ucap Al.


Icha pun hanya mengikuti Al kemana membawanya. "Al, ini motor siapa? bukannya Abizar juga tadi bawa mobil ya?" tanya Icha.


"Ini punya penjaga cottage, tadi Abizar yang meminjamnya," jawab Al. "Pegangan, Cha! Biar gak kedinginan," lanjutnya seraya mengambil kedua tangan Icha untuk melingkarkan tangannya ke perut Al.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke bukit bintang, karena cottage yang mereka tempati ada di bawahnya. Sesampainya di sana, Al pun mengajak Icha ke tempat dia dulu terakhir bertemu dengan Icha.


"Cha, kamu ingat kapan terakhir kita ke sini?" tanya Al.


"Aku tidak mau mengingatnya," ucap Icha dengan memalingkan muka.


"Aku masih ingat dengan apa yang aku katakan waktu itu. Aku Aldrich Marchdika Putra menarik semua ucapku pada Farisha Yumna Danendara. Aku tidak mengijinkannya untuk mencari lelaki manapun selain aku,"ucap Al lantang.


Icha hanya tertawa hambar mendengar apa yang Al katakan. Rasanya sangat telat jika Al baru menyadarinya sekarang. Padahal dulu dia sangat membutuhkan Al untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sehingga meninggalkan benih di rahimnya. Namun apa yang didapatkannya? Ucapan Al sangat melukai harga dirinya sebagai seorang perempuan.


"Sudahlah Al! Aku sudah melupakannya, dan aku gak mau mengingat sedikitpun tentang bukit ini. Tentang semua yang kamu katakan waktu itu, aku sudah melupakannya," ucap Icha seraya hendak berlalu pergi.


Grepp!


Al langsung memeluk Icha dari belakang saat dia tahu Icha akan pergi.


"Maafkan aku, Cha! Aku tahu kalau aku terlambat, tapi ku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku hanya ingin bersamamu, memiliki anak-anak yang lucu darimu," ucap Al dengan suara serak.


"Bagaimana bisa Al? Sebentar lagi kamu akan bertunangan dan aku tidak mungkin menghancurkan kebahagian wanita lain demi kabahagianku sendiri."


...*****...


👉Next part

__ADS_1


__ADS_2