Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Jodoh di Tangan Tuhan


__ADS_3

"Dika, boleh Om nanya sesuatu?" tanya Andrea saat Dika sudah duduk di sofa bersamanya.


"Boleh, Om!" Dika membenarkan duduknya dan menatap inten pada Andrea.


"Apa kamu memiliki perasaan khusus pada Kattie dan Emily?" tanya Andrea dengan menelisik raut muka Dika.


Sesaat Dika merasa kaget dengan pertanyaan Andrea bisa tau tentang Kattie dan Emily. Padahal kedua gadis itu tidak tinggal di tanah airnya.


"Aku menganggap Kattie tidak lebih dari sahabat karena kami tumbuh besar dan tinggal di lingkungan yang sama. Sedangkan Emily, aku hanya kagum padanya karena dia gadis yang pantang menyerah dalam mengejar impiannya. Meskipun dia bukan berasal dari keluarga kaya." Dika menjelaskan dengan gamblang pada Andrea.


"Kamu yakin, kalau menikah dengan Allana kedua gadis itu tidak akan mengganggu pernikahan kalian?" tanya Andrea lagi. Walau bagaimanapun, Andrea tidak ingin putrinya jatuh pada pemuda yang memiliki wanita lain di hatinya.


"Dika yakin, Om!" sahut Dika.


"Om pegang ucapan kamu! Kalau nanti Allana sampai terluka karena kamu, Om akan mengambilnya kembali." Tak bisa dibantah, Andrea membuat aturannya sendiri.


"Iya Om! Sekuat tenaga, aku akan berusaha untuk membuat Allana selalu bahagia." Dika bicara dengan lantang, membuat Allana yang baru keluar dari kamar mandi tidak sengaja mendengarnya.


Apa yang mereka sedang bicarakan, kenapa sepertinya serius sekali, batin Allana.


Allana langsung mendekat ke arah dua lelaki yang sedang berbincang lalu berkata, "Papa, aku gak punya baju ganti!"


Andrea mengacungkan paperbag yang teronggok di atas sofa, karena tadi dia sempat menjatuhkannya waktu melihat Dika dan Alana sedang berpagutan.


"Makasih, Pah!" ucap Allana dengan tersenyum tulus. Andrea dan Dika hanya tersenyum saat melihat Allana seperti malu-malu menghampirinya.


Selepas kepergian Allana yang akan memakai baju, Andrea pun menyuruh Dika untuk segera membersihkan dirinya. Setelah semuanya rapi dengan baju ganti yang dibawa oleh Andrea, kini ketiganya sudah bergabung bersama dengan Al dan Icha yang sudah berada di restoran hotel untuk sarapan dan membahas mengenai pernikahan.


"Bang, sebelumnya aku meminta maaf dengan semua yang terjadi. Tadinya aku akan langsung ke rumah Abang, ternyata ketemu di sini," ucap Al.


"Aku diberitahu oleh pengawal Lana, jadinya langsung ke sini," jelas Andreas yang tidak sepenuhnya bohong.


"Bang, untuk acara pernikahannya, Bagaimana kalau satu bulan lagi?" Usul Al.


"Papa, kelamaan! Bagaimana kalau besok saja?" Dika langsung menginterupsi keputusan papanya.


Al dan Icha melotot tidak percaya dengan keinginan putranya sedangkan Andrea gelang-gelang kepala dengan tersenyum. Sementara Allana langsung menundukkan kepalanya. Malu, sudah jelas! Kenapa bisa Dika seantusias itu untuk menikahinya


"Baiklah! Lusa di mansion aku. Kita adakan pesta yang sederhana saja. Hanya keluarga dekat yang diundang," ucap Andrea mutlak.

__ADS_1


Setelah menghabiskan sarapannya, Allana dan Dika langsung menuju ke butik. Di sana, mereka di sambut oleh Arabella dan mamanya karena Bu Winda sudah pensiun untuk mengurus butik sehingga dia serahkan pada menantunya yang memang seorang desainer seperti dirinya.


"Lana, kenapa mendahului aku? Kamu mau nikah, sedang aku masih saja jomblo." Arabella terlihat sedih. Sekuat apapun dia mencoba menghapus rasa cintanya pada Elvano, sekuat itu pula perasaan bertahan. Meski sudah berulang kali dia mencoba menjalin hubungan dengan laki-laki lain, tapi rasa cintanya pada Elvano tidak bisa hilang.


"Maaf, Ara! Aku juga tidak menyangka akan menikah secepat ini. Semuanya di luar kuasaku," jelas Allana.


"Aku senang mendengar kabar tentang pernikahan kalian. Akhirnya cinta kalian bersatu juga," ucap Arabella.


"Ara bisa dipercepat tidak fitting bajunya? Aku disuruh pulang secepatnya oleh papa," jelas Dika.


"Ada apa?" tanya Allana heran.


Dika hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari calon istrinya. "Tidak apa-apa, nanti aku cerita!"


Arabella pun segera mengukur lingkar badan Allana. Merepotkan memang, menyuruh membuat baju pengantin hanya di beri waktu satu hari satu malam.


Setelah mengukur badan kedua calon pengantin, Allana dan Dika pun undur diri. Dika langsung menancap gas saat dia sudah mengendarai mobil sport miliknya


Allana hanya diam saja tidak ingin mendebat apa yang dilakukan oleh Dika. Begitupun dengan Dika yang pikirannya sedang berkecamuk sehingga dia memilih untuk tidak bersuara.


Sesampainya di rumah Dika, terdengar suara kegaduhan dari dalam. Rupanya sedang terjadi pertengkaran hebat antara Al dengan sepupunya Philip.


"Dengar Aldrich! Kamu yang memutuskan persaudaraan kita. Jangan pernah minta tolong lagi pada Keluarga Austin saat kamu membutuhkan darah," teriak Philip.


"Uncle, bukankah jodoh di tangan Tuhan, kenapa Uncle tidak terima kalau aku memang tidak berjodoh dengan Kattie." Dika langsung bersuara saat melihat papanya termenung.


"Dika!" panggil Al yang baru menyadari kehadiran putra sulungnya.


"Maafkan aku, Uncle! Dari pertama aku hanya menganggap Kattie sebagai sahabat tidak lebih. Apa Uncle ingin Kattie tidak bahagia karena pernikahannya tanpa cinta?" Dika menggenggam tangan Allana erat untuk meyakinkan kalau hanya Allana gadis yang dicintainya.


"Itu keputusan kalian? Baik, aku tidak akan memaksa lagi!" seru Philip kemudian dia beranjak pergi meninggalkan rumah Al.


Melihat papanya pergi, Kattie pun beranjak dari duduknya menghampiri Dika dan Allana yang masih berdiri di tempatnya. Tanpa di duga, gadis cantik itu langsung melayangkan tangannnya hendak menampar Allana. Namun, Dika dengan cepat menangkap tangan Kattie.


"Jangan kita ajar! Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Allana." Dika langsung menghempaskan tangan Kattie dengan keras.


"Dika, apa kurangnya aku? Aku bahkan lebih cantik dan seksih dari dia. Kenapa kamu tidak bisa melihat ke arahku dan hanya terfokus padanya?" Mata Kattie langsung berkaca-kaca, hatinya terasa sakit dengan penolakan Dika padanya.


"Maafkan aku Kattie! Aku hanya bisa mencintai Allana dari dulu dan hingga sekarang. Bagiku, kamu hanya saudara dan sahabat saja. Mengertilah cinta tidak bisa dipaksakan." Dika menatap lekat pada Allana yang menunduk.

__ADS_1


Tidak ingin mendengar penolakan demi penolakan dari Dika, Kattie langsung menuju ke kamarnya untuk membereskan semua barang-barangnya. Dia berniat untuk menyusul papanya dan tinggal di sana.


Sementara Dika langsung bergabung dengan Papa dan mamanya yang masih duduk di sofa ruang tengah. Sebenarnya tadi menyuruh Dika untuk secepatnya pulang karena ingin membicarakan tentang pembatalan perjodohan pada Philip. Namun karena lama menunggu dan Philip ada pertemuan dengan rekan bisnisnya, jadi Al mendahului bicara dan Philip tidak terima dengan keputusan sahabatnnya itu.


"Papa, maafkan aku!" Dika menunduk di depan papanya. Sejujurnya Dika merasa bersalah karena tidak bisa mengikuti apa yang diinginkan oleh papanya tapi dia juga tidak bisa menghianati hatinya sendiri. Hanya Allana gadis yang dicintainya.


Al langsung berdiri dan memeluk putra sulungnya. "Tidak ada yang salah padamu, Nak! Tetaplah sehat dan bahagia. Papa sangat menyayangimu!" Al langsung memeluk Dika. Meski bagaimana pun kebahagiaan Dika yang terpenting baginya.


Icha hanya menitikkan air matanya, dia terharu karena suaminya selalu mementingkan kebahagiaan keluarganya. Sampai ada suara yang mengejutkan mereka diambang pintu.


"Wah wah wah ... Rupanya Teletubbies sedang berpelukan. Icha kenapa tidak ikut sekalian," seloroh Kevin yang datang untuk meminta tanda tangan big bosnya.


Al langsung mengurai pelukannya pada Dika, dengan satu gerakan dia mengambil bantal sofa dan melemparkannya pada Kevin. Tanpa bisa menghindar, batal sofa sukses mendarat di wajah tampan pria dewasa itu.


"Aldrich!" teriak Kevin kesal karena disambut dengan bantal sofa.


"Itu hadiah untuk kang lemes seperti kamu," ketus Al seraya duduk di samping Icha. "Ada apa ke sini?" lanjutnya.


Kevin langsung menghampiri sahabatnya itu dan menyodorkan map berisi berkas di tangannya. "Aku butuh tanda tangan kamu, untuk pencairan gaji karyawan. Kenapa kamu tidak masuk? Kamu ingin didemo karyawan karena mereka telat gajian?" cerocos Kevin kesal.


"Aku ada hal penting yang tidak bisa aku tinggalkan. Lagi pula urusan kantor ada kamu yang bisa handle. Seperti sekarang, aku tidak masuk kerja, ada kamu yang membawakan pekerjaan ke rumah." Seperti tanpa beban Al berbicara pada Kevin.


"Iya deh yang jadi big bos, apalah aku yang hanya jongos!" keluh Kevin pura-pura sedih.


"Om, ekspresi wajahnya kurang sedih. Coba lebih sedih lagi biar nanti bisa ikut casting film," celetuk Dika merasa geli dengan tingkah sahabat papanya.


"Kamu juga Dika, kapan kamu datang? Kenapa tidak bilang sama Om kalau sudah pulang?" Kevin langsung mendudukan bokongnya di sofa.


"Baru kemarin datangnya," ucap Dika seraya mencium punggung tangan Kevin.


"Kapan mulai masuk kantor? Pasti klien kita bertambah banyak setelah kamu bergabung," ucap Kevin yang merasa bangga pada putra sahabatnya karena dia sering melihat Dika ada di majalah luar negeri.


"Aku akan menikah, jadi aku tidak akan buru-buru masuk kantor." Dika tersenyum senang mengingat lusa dia akan jadi pengantin dengan gadis yang disukainya sesak kecil.


"Apa? Menikah?" Kevin langsung kaget mendengar apa yang Dika katakan.


"Iya, Vin! Lusa Dika menikah, jadi kamu handle dulu semua urusan kantor saat aku tidak bisa masuk kerja."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Dengan Klik like comment vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih!...


__ADS_2