
Malam yang gelap kini telah berganti pagi, Dika perlahan membuka mata, dilihatnya gadis yang sangat dia cintai sedang memeluk manja tubuh kekarnya dengan kepala menelusup masuk diantara tangan dan badannya. Dikecupnya kepala Allana pelan, senyum mengembang terbit di kedua sudut bibir. Dia merasa bahagia akhirnya bisa bersama dengan orang yang dicintainya.
Dika mengelus pelan pipi Allana, sebagai ungkapan rasa yang membuncah di dadanya. Rasa yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
"Sayang, sudah waktunya sholat subuh," bisik Dika.
Mendengar ada sebuah suara di telinganya, Allana malah semakin mempererat pelukannya dengan kepala terus menelusup mencari kenyamanan di dada Dika.
"Sayang, kita sholat dulu! Nanti kita tidur lagi." Dika bicara dengan lembut.
"Lana masih ngantuk, Mah. Lagian Lana lagi gak sholat," kata Allana dengan mata yang masih terpejam.
Aku lupa kalau Allana sedang halangan. Kenapa dia tidurnya pulas sekali? Semalam saja, dia tidak merasa terganggu dengan apa yang kulakukan, batin Dika.
Perlahan Dika melepaskan pelukan istrinya, tapi Allana lagi-lagi semakin mempererat pelukannya. Seolah dia tidak ingin melepaskan guling kesayangannya. Dilihatnya jam yang menggantung di dinding, jarum panjangnya masih di angka sembilan sedangkan jarum pendeknya sudah mendekati angka lima.
Dirasa, Allana kembali terlelap, Dika pun mencoba melepaskan diri secara perlahan. "Akhirnya," gumam Dika.
Secepatnya Dika menuju ke kamar mandi, setelah selesai membersihkan diri, Dia pun segera menunaikan kewajibannya yang dua raka'at.
Terlihat Allana menggeliatkan badan, mencari guling hidup yang kini sudah tidak ada di sampingnya. Tangan Allana terus mencari guling untuk dipeluknya dengan mata yang terpejam. Karena tidak mendapatkan apa yang dicarinya, Allana pun perlahan membuka matanya.
"Pagi Sayang!" sapa Dika yang sudah selesai membereskan bekas sholatnya.
"Dika!" Allana sempat terkaget dengan keberadaan Dika di kamarnya. Namun memorinya langsung memutar ulang kejadian kemarin sehingga dia tidak menjerit seperti cerita novel yang pernah dibacanya.
"Joging yuk! Kayaknya udara pagi di sini masih segar tidak seperti di rumah," ajak Dika dengan tersenyum manis.
Ya ampun! Bangun tidur dikasih senyum yang manis melebihi manis gulali, batin Allana.
Melihat istrinya yang malah bengong, Dika langsung mencium bibir Allana sekilas. "Cepetan mandi! Aku tunggu di balkon ya, mau lihat matahari terbit."
__ADS_1
Merasa malu karena ketahuan bengong, Allana langsung bangun dan setengah berlari menuju kamar mandi. Sementara Dika hanya menggelengkan kepala kemudian berlalu menuju ke balkon.
Namun tak berselang lama, Allana langsung keluar kamar mandi dengan memakai bathrobe seraya berteriak memanggil mamanya.
"Mama ... tolongin Lana!" teriak Allana seraya berlari keluar mencari mamanya.
Dika yang sedang memejamkan mata seraya merentangkan tangannya menghadap ke arah timur langsung kaget dan mengejar Allana yang berlari ke luar.
Terlihat Allana yang sedang menangis di pelukan mertuanya membuat Dika menghentikan langkahnya.
"Mama, cepat panggil dokter! Leher dan dada Lana merah-merah." Adu Allana pada mamanya.
"Sayang, kamu kan dokter. Masa tidak tahu kenapa leher dan dada kamu merah-merah," ucap Mitha lembut dengan melirik ke arah Dika.
Allana langsung mengurai pelukannya dan mengingat-ingat kembali dengan apa yang di lihatnya. Seketika wajahnya langsung cemberut dan mendelik ke arah Dika.
"Sudah ingat?" tanya Mitha, "Gak usah marah! Wajar seorang istri mendapatkan tanda cinta dari suaminya." Ingin rasanya Mitha tertawa dengan kelakuan putrinya, tapi dia menahannya karena tidak ingin Allana merasa malu.
"Lana mau lanjut mandi, Mah!" Allana langsung pergi dengan menarik tangan Dika meninggalkan Mitha yang sedang tertawa kecil.
Sesampainya di kamar, Allana langsung menatap Dika tajam. Dia kesal karena Dika melakukan hal itu tanpa sepengetahuanya. Sementara Dika langsung menyusun kata-kata untuk membuat alasan yang masuk akal sehingga Allana tidak memarahinya.
"Sayang, aku minta maaf! Semalam aku khilaf, aku aku tidak sengaja melihat belahan dada kamu. Aku aku ...." Dika tidak melanjutkan ucapannya karena Allana langsung memotongnya.
"Aku marah sama kamu! Kamu diam-diam memperkosaku," Allana melipat kedua tangannya di dada.
"Jangan marah dong! Kita kan baru menikah kemarin, masa sekarang sudah marah-marahan. Maaf ya Teteh! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Dika mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
"Aku tidak mau memaafkan kamu!" ketus Allana.
"Please Sayang, maafkan aku!"
__ADS_1
"Boleh, tapi dengan syarat."
"Apapun itu, asalkan kamu mau memaafkanku."
"Baiklah! Kamu harus mengulanginya dari awal, karena aku juga ingin tahu rasanya seperti apa, kalau mendapatkan tanda seperti ini."
"Seriusan ingin diulangi? Aku mau aku mau." Bola mata Dika langsung berbinar mendengar syarat yang diajukan istrinya. Bagaimana tidak? Dia diberi syarat yang justru sangat menguntungkannya.
Tanpa bicara lagi, Dika langsung menyerang Allana. Seperti seekor singa yang diberi daging mentah, Dika tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Pergulatan lidah yang penuh kenikmatan itu dilanjutkan dengan menghisap leher dan buah yang kenyal itu membuat Allana melenguh keenakan. Namun, saat keduanya sudah dipenuhi oleh kabut gairah, Dika harus melanjutkan petualangannya sendiri karena Allana sedang berhalangan.
***
Di lain tempat, Arkana datang dengan tergesa menuju ke kantor Elvano. Rasa kesalnya membuncah saat tadi pagi dia tidak sengaja melihat Elvano bersama dengan Akira yang sedang bergelayut manja di tangan kekar Elvano.
Arkana tahu kalau kakaknya tergila-gila pada sahabatnya itu, tapi dia tidak terima jika Elvano hanya ingin mempermainkan kakaknya. Meski sudah berulang kali dia mengingatkan Arabella, tapi gadis yang lahir dua tahun lebih dulu darinya itu tidak pernah mau mendengarkan. Arabella selalu yakin kalau Elvano jodoh yang dikirim Tuhan untuknya sehingga Arkana hanya membiarkan saja kakaknya terus mengejar Elvano.
"Han, Bang El ada?" tanya Arkana saat sudah sampai di depan ruangan Elvano.
"Ada di dalam, masuk aja!" ucap Yohan yang baru keluar dari ruangan Elvano.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, Arkana pun langsung masuk ke ruangan Elvano.
"Arka, tumben ke sini, ada apa?" tanya Elvano kaget melihat teman mainnya datang ke kantor karena seingatnya tidak ada meeting dengan Wijaya kontruksi.
"Aku hanya sebentar Bang! Aku hanya minta, Bang El jauhin Ara kalau memang Abang tidak menyukainya. Bukankah sekarang sedang pacaran dengan Akira? Aku tahu kalau Ara tergila-gila sama Abang, tapi aku minta tidak usah diberi harapan palsu kalau Abang tidak bisa memberi kepastian padanya." Sebisa mungkin Arkana menahan letupan emosi di dadanya. Tidak masalah kalau memang Elvano tidak bisa mencintai kakaknya tapi Arkana tidak terima saat Elvano memanfaatkan tubuh kakaknya untuk memenuhi hasratnya.
"Maksud kamu apa Arka? Siapa yang memberi harapan palsu?" tanya Elvano.
"Apa yang Bang El lakukan di mobil tadi malam pada Ara? Apa yang Bang El lakukan di apartemen dan paviliun Abang pada Ara? Cukup Bang! Abang mempermainkan perasaan Ara. Aku tidak akan biarkan Abang mengacak-acak tubuh Ara demi kepuasan Abang," sentak Arkana.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like, comment, vote, rate, gift, dan, favorite....
...Terima kasih!...