Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Ingin melupakan!


__ADS_3

Dentuman suara musik disk jockey membakar gairah muda untuk menggoyangkan badannya. Terlihat Elvano datang bersama dengan sahabatnya, Nathan memasuki ruangan VIP yang ada di dalam club malam itu. Kedatangan mereka di sambut oleh asisten Elvano yang bernama Yohan dengan seorang model cantik yang memiliki kisah hidup tak secantik wajahnya, Katherine Austin yang biasa dipanggil Kattie.


Sesaat Elvano terpana dengan kecantikan Kattie. Namun, dia langsung teringat dengan pesan papanya untuk tidak memakai perasaan pada targetnya. Tak berbeda dengan Elvano, Kattie pun terpesona dengan ketampanan pewaris AP Technology yang selalu menjadi buah bibir di kalangan para model karena selain tampan, pewaris AP Technology juga terkenal royal.


"Maaf, aku datang terlambat!" ucap Elvano saat mendudukkan bokongnya di sofa.


"Tidak apa, Tuan! Kita belum lama ada di sini," bohong Kattie. Padahal dia tiba di club sudah lebih dari satu jam. Kattie sedang bingung mencari keberadaan papanya. Saat dia ditelpon utuk menjadi brand ambassador AP Technology.


"Nathan, mana berkasnya?" tanya Elvano.


Nathan langsung memberikan apa yg diminta oleh Elvano. Dengan tersenyum manis yang melebihi manisnya gula aren, Elvano memberikan kontrak kerjasama pada Kattie yang akan dijadikan brand ambasador produk terbaru yang diluncurkan AP Technology.


Setelah membaca pasal-pasal dalam kontrak kerjasama, tanpa rasa curiga Kattie langsung menandatanganinya.


Elvano tersenyum senang karena dengan mudah bisa menjauhkan Kattie dari negaranya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Elvano pun bergegas pulang bersama dengan Nathan. Sementara Yohan akan mengurus keberangkatan Kattie ke negeri Paman Sam, sesuai rencana semula, syuting iklan akan dilaksanakan di negara Adi daya itu.


Saat Elvano melewati kerumunan orang yang sedang berlenggak-lenggok mengikuti irama musik, tanpa sengaja matanya melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Elvano mendekat untuk memastikan penglihatannya. Ternyata apa yang dilihatnya memang benar, gadis yang sedang dikerumuni oleh para pria hidung belang itu adalah sahabat kecilnya yang selalu menempelnya ke mana pun dia pergi. Tapi itu dulu, sebelum gadis itu menyerah dengan perasaannya.


Melihat semua itu, rahang Elvano mengeras. Rasanya dia tidak rela melihat banyak lelaki menikmati kemolekan dan kecantikan gadis itu sehingga dia langsung menyeret Arabella untuk mengikutinya pulang. Tak tinggal diam, para pengawal bayangan segera mengamankan para lelaki yang akan mengikuti Elvano karena telah mengganggu kesenangannya.


Arabella kaget saat ada tangan yang menyeretnya dengan kasar. Dia ingin berteriak tapi rasanya percuma karena suaranya akan tenggelam oleh suara musik yang menggema memenuhi ruangan. Gadis itu terus berusaha melepaskan tangannya dari laki-laki yang menyeretnya. Sampai Elvano menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah Arabella.


"El!" lirih Arabella. Dia kaget karena ternyata Elvano yang telah menyeretnya.


"Kenapa kamu kaget, bertemu denganku di sini?" tanya Elvano dengan menatap lekat wajah Arabella yang terlihat semakin cantik dengan tubuh langsing. "Aku yang seharusnya kaget! Setelah sekian lama tidak bertemu, ternyata kamu menjadi kupu-kupu malam yang membiarkan para lelaki hidung belang itu menikmati tubuhmu secara bebas."


Plak!

__ADS_1


Arabella langsung melayangkan tangan kanannya dan menampar pipi kiri Elvano. Membuat Nathan dan beberapa pengawal merasa kaget dengan keberanian gadis itu.


"Aku pikir, semakin dewasa mulutmu lebih bisa menjaga ucapannya agar tidak terus-terusan menyakiti hati orang. Ternyata aku salah! Anak sultan tidak mungkin bisa menghargai perasaan orang lain." Tanpa terasa air matanya menetes tanpa bisa dibendung lagi. Arabella segera berlalu dari hadapan Elvano. Namun, baru beberapa langkah Arabella berjalan, Elvano langsung mengejar Arabella.


Srek!


Elvano langsung membalikkan tubuh Arabella dan memanggulnya seperti beras. Meski Arabella terus memukuli punggung Elvano, tapi lelaki tampan itu sedikitpun tidak menggubrisnya. Saat sampai di depan mobil, Nathan membantu sahabat sekaligus bosnya itu membuka pintu mobil.


"Turunkan aku Elvano! Brengsekk turunkan aku!" Arabella terus-menerus meminta untuk diturunkan pada teman masa kecilnya itu, hingga tiba di mobil barulah dia diam. Namun, otaknya terus berputar bagaimana cara melarikan diri dari Elvano.


"Nathan, Antarkan aku ke apartemen! Setelahnya, kamu antarkan berkas itu pada papa. Jangan katakan pada papaku kalau aku bersama penguntit ini."


Bola mata Arabella langsung membesar seolah-olah ingin keluar dari tempatnya, saat mendengar apa yang Elvano katakan. Arabella mencoba keluar keluar dari mobil, tapi pintu mobilnya sudah otomatis terkunci saat Nathan masuk ke kursi pengemudi.


Gadis yang biasanya suka membeo itu hanya pasrah dengan apa yang akan Elvano lakukan, karena dia yakin, papanya dan papa Elvano tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya.


"Mau aku gendong, apa jalan sendiri?" bisik Elvano yang sukses membuat Arabella melepaskan pegangannya. Dengan terpaksa gadis cantik itu mengikuti ke mana Elvano membawanya


Sesampainya di apartemen, Elvano langsung memojokkan Arabella ke pintu dengan tangan kiri dan kanannya mengungkung Arabella. Tercium aroma mint dari hembusan napas keduanya.


"Kamu bilang aku brengsekk. Kamu bilang aku menyakiti hati orang. Aku akan menunjukkannya padamu, seperti apa aku yang sebenarnya." Elvano langsung meraup candunya dengan rakus. Sedikit pun dia tidak memberikannya Arabella untuk melepaskan pagutannya. Rasa yang dulu pernah dia nikmati. Elvano menggigit bibir Arabella pelan hingga dia dapat menerobos masuk ke dalam rongga yang dulu selalu mengatakan hal-hal yang manis padanya.


Tak puas hanya menikmati rongga itu, tangan nakal Elvano mulai menjelajah mengelus mesra punggung Arabella. Berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya membuat Arabella melenguh menikmati sensasi yang luar biasa. Apalagi, Elvano mulai memainkan bukit kembar itu, Arabella semakin terbuai dengan permainan yang Elvano lakukan.


Sampai ketika suara ketukan pintu itu terdengar, barulah Elvano melepaskan pagutannya. Elvano menatap dalam Arabella yang sedang membereskan pakaian. Entah kenapa hatinya merasa tidak ikhlas jika harus berpisah lagi. Elvano ingin lagi dan lagi melakukan pergulatan lidah bersama Arabella. Hanya bersama dengan gadis penguntit itu, hasratnya terus bergelora.


Ting tong

__ADS_1


Terus saja suara bel itu berbunyi, membuat Elvano mau tidak mau membukakan pintu. Terlihat seorang gadis cantik dengan tubuh semampai berdiri di depan Apartemen Elvano.


"Hallo sayang!" gadis cantik yang bernama Akira itu langsung menghambur memeluk Elvano.


Arabella hanya diam tak bergeming di balik pintu. Hatinya terasa teriris, seseorang yang tadi mencumbunya kini sudah bermesraan dengan wanita lain di depannya. Tak ingin berlama-lama melihat sesuatu yang menyakitkan hatinya, Arabella langsung berlalu pergi meninggalkan pasangan yang sedang berpelukan.


Menyadari Arabella pergi dari apartemennya, Elvano berniat untuk mengejarnya. Namun, dia tertahan oleh Akira yang langsung memegang tangannya.


"Ara!" panggil Elvano yang sedikit pun tidak dihiraukan oleh Arabella. Pemuda tampan itu hanya menatap nanar kepergian si penguntit. Namun, entah kenapa hatinya merasa sakit saat melihat Arabella pergi dengan berlari seraya menutup mulutnya.


Maafkan aku Ara! Semenjak hari itu, aku selalu khilaf jika dekat denganmu, batin Elvano.


Arabella terus berlari menuju ke lift, hatinya hancur, harga dirinya terasa diinjak-injak oleh orang yang dicintainya. Memang benar dia mencintai Elvano. Tapi, apa harus dia menerima semua itu?


Tuhan, hilangkan semua perasaanku padanya. Apa pun tentangnya, aku ingin melupakannya! batin Arabella.


Rasanya percuma dia pergi kuliah jauh dari negerinya, jika saat kembali dia harus terjebak cinta dengan orang yang sama.


Saat sampai lobby, ternyata di luar sedang hujan lebat, Arabella langsung menerobos hujan tidak peduli dia akan sakit atau kedinginan. Dia hanya ingin secepatnya pergi dari sana. Seperti orang linglung, Arabella berjalan menyusuri trotoar sendiri hingga dia sampai pada sebuah halte bis, barulah gadis cantik itu mengistirahatkan tubuhnya yang sudah gemetaran menahan rasa dingin. Giginya gemeletuk dengan wajah yang sudah pucat pasi. Pandangannya sudah mulai kabur dan di sisa kesadarannya, Arabella melihat seorang pemuda tampan menolongnya.


"Ya ampun malah pingsan, merepotkan sekali! Sudah tahu hujan, kenapa malah hujan-hujanan! Apa masa kecilnya kurang bahagia?"


...~Bersambung~...


Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like, comment, vote rate gift, dan favorite.


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2