
Emily mematung di tempatnya, dia tidak menyangka akan mendapatkan senyuman hangat dari sahabatnya semasa kuliah dulu. Seorang sahabat yang baik tapi teramat pelit untuk tersenyum. Selama lima tahun dia mengenal dika, mungkin baru hari ini dia melihat senyuman dari seorang Aldrich Marchdika. Sungguh sebuah keberuntungan buat Emily bisa bertemu lagi dan sahabatnya. Seseorang yang dia sukai diam-diam meski dia tahu usia Dika tiga tahun di bawahnya.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Kevin kaget.
"Kebetulan Emily temanku waktu di Jerman. Kita kuliah satu kampus hanya berbeda jurusan. Kebetulan juga Emily ini aktif di Kedubes, jadi aku sering bertemu saat ada acara di kedutaan." Dika menyimpan berkas yang ada di tangannya kemudian menghampiri Emily.
"Selamat bergabung di Putra Group, semoga kamu kerasan bekerja di sini." Dika menjulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman pada Emily sebagai penyambutan karyawan baru.
"Terima kasih, Pak!" Emily pun segera menyambut tangan Dika untuk bersalaman. Ada desiran aneh saat tangannya bersentuhan dengan tangan Dika. Namun, secepatnya dia menetralkan perasaannya agar bisa bekerja secara profesional.
"Ya sudah, Dik! Om ke ruangan dulu, kalau ada yang kurang nanti bilang saja," pesan Kevin sebelum dia keluar dari ruangan Dika.
"Baik, Om! Terima kasih," ucap Dika. "Silakan Mily ke mejamu! Bu Diana, tolong diajari dulu!" lanjutnya.
"Baik, Mas Dika! Saya permisi," Diana langsung berpamitan pada Dika sebelum ke luar ruangan begitupun dengan Emily.
Setelah semua tamu keluar dari ruangannya, Dika pun mulai mempelajari berkas yang tadi teronggok di meja.
Waktu pun terus berputar, Kini waktunya memasuki jam istirahat. Dika yang memang larut dalam pekerjaannya sampai lupa kalau sudah memasuki jam istirahat makan sampai terdengaar suara ketukan pintu, barulah dia mengehntikan pekerjaannya.
"Masuk!" suruh Dika.
Terlihat Emily masuk ke dalam ruangan Dika dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Permisi, Pak! Sudah waktunya makan siang, mau saya orderkan atau mau makan di luar." Sebisa mungkin Emily bersikap formal di depan Dika.
"Sepertinya, makan di luar saja. Istriku pasti sudah menungggu." Dika langsung membereskan pekerjaannya kemudian berlalu pergi meninggalkan Emily yang masih bengong di tempatnya.
Istri? Kapan Dika menikah? Bukankah dia masih kecil? Batin Emily.
***
Di tempat yang berbeda, Allana yang sedang menunggu Dika merasa bosan karena sudah lewat sepuluh menit tapi Dika belum juga datang untung menjemputnya makan siang. Untuk menghilaankan kebosanannya, Allana pun pergi ke taman rumah sakit seraya dia melihat kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Sampai ada sebuah tangan yang menutup kedua matanya, barulah Allana mengalihkan fokusnya.
__ADS_1
"Dika!" panggil Allana, 'tapi kenapa wangi parfumnya beda terus tangannya juga terasa beda?' pikir Allana.
Di saat yang bersamaan, Dika datang dan melihat ada seorang lelaki yang menutup mata istrinya. Sementara lelaki itu hanya diam saja, dia sedang menikmati sentuhan tangan Allana yang meraba-raba tangannnya.
"Jangan sentuh istriku!" sentak Dika langsung melepaskan tangan lelaki yang menutupi mata istrinya.
Richard, laki-laki yang menutup mata Allana langsung tersentak kaget. Setelah kejadian malam itu, dia tidak pernah bertemu lagi dengan Allana. Hingga saat tadi dia tidak sengaja melihat Allana, dia langsung menghampirinya. Namun dia kaget saat tadi Allana menyebutkan nama lelaki lain, ditambah lagi dengan ada seorang lelaki yang mengakui Allana sebagai istrinya.
"Richard, Dika!"Allana pun tak kalah kaget dari Richard. "Sayang, aku tidak tahu kalau itu bukan kamu." Allana langsung menghampiri Dika. Dia merasa sanagt takut Dika akan salah paham padanya.
"Lana, benar dia suamimu?" tanya Richard.
"Iya Rich! Kenalin ini Aldrich suamiku," ucap Allana seraya bergelayut manja di tangan kekar suaminya. Dia teringat, kalau papanya sedang kesal, pasti mamanya akan merayu dengan bermanja-manjaan dan papanya pasti luluh.
Dika melihat tangannya sekilas lalu dia kembali menatap tajam Richard. "Jangan ulangi lagi menyentuh Lana, karena dia milikku.
Dika langsung mengajak Allana pergi tanpa berpamitan dulu pada Richard. Dia masih kesal dengan apa yang dilihatnya.
***
Seperti hari ini, Allana sengaja datang ke kantor Dika untuk mengajaknya mkan siang bersama, karena suaminya itu ada meeting penting sehingga tidak bisa menemui Allana di jam makan siang.
Sudah menjadi kebiasaan Allana, saat dia datang ke kantor Dika pasti langsung menuju ke ruangan suaminya dan tiduran di kamar pribadi Dika. Namun, saat dia masuk ke dalam ruangan Dika, Allana kaget karena melihat Emily ada di ruangan Dika sementara suaminya itu tidak ada di sana.
"Kamu, sedang apa Emily?" tanya Allana.
"E-eh Allana, aku hanya menyimpan berkas," jawab Emily.
"Oh! Dika masih lama meetingnya?" tanya Allana yang tidak menaruh curiga apapun karena Dika sudah bercerita semuanya tentang Emily. Apalagi, selama dia mengenal sahabat suaminya itu, dia selalu bersikap baik dan tidak neko-neko.
"Mungkin sebentar lagi, aku mau melanjutkan pekerjaanku dulu," pamit Emily.
Untung saja dia tidak curiga, aku sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini. Tapi, setiap kali melihat kemesraan kalian, hatiku sakit. Makanya aku terpaksa menerima tawaran dari laki-laki itu dengan bayaran yang lumayan besar. Maafkan aku, Dika! Kamu memang laki-laki yang baik, tapi sayang aku tidak bisa memilikimu sehingga orang lain pun tidak boleh memilikimu, batin Emily.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Dika datang dengan wajah lesu. Meeting yang diperkirakan hanya memakan waktu satu jam ternyata molor, sehingga lewat jam makan siang baru selesai.
Melihat suaminya yang lesu, Allana segera menghampiri Dika dan mencium sekilas bibir suaminya.
"Sayang lemes banget, kita makan yuk! Biar aku yang suapin," ajak Allana lalu membawa Dika untuk duduk di sofa.
Allana mulai menyendokkan makanannya sesuap demi sesuap. Dika hanya menurut apa yang istrinya lakukan padanya. Dia hanya ingin melihat istri tercintanya bahagia dan tidak sedih melihatnya murung.
"Aku sudah kenyang, Sayang. Kenapa kamu tidak makan, malah menyuapiku terus?" tanya Dika lalu beranjak mengambil gelas yang ada di meja kerjanya. Setelah meminumnya, Dika kembali duduk di samping Allana dan mulai menyuapi istrinya makan.
"Sayang, terkadang aku takut tidak punya kesempatan yang lama untuk terus bersamamu. tapi bagaimanapun kita tidak akan bisa menentang takdir. Aku selalu berdo'a, semoga dalam takdirku, aku selalu bersamamu hingga ajal menjemputku," ucap Dika sendu.
Allana langsung menghentikan kunyahannya saat mendengar apa yang suaminya katakan. Dia pun merasakan hal yang sama dengan apa yang Dika rasakan, hanya saja dia menyimpan rapat di hatinya.
"Sayang, jangan bicara begitu! Kalau lelah, lebih baik kita pulang saja. Istitahat di rumah atau kita main gendong-gendongan," Allana mencoba mengalihkan pembicaraan yang membuat hatinya terasa sesak.
"Kita pulang saja, aku merasa ingin cepat-cepat pulang ke rumah." Dika langsung menyetujui ajakan istrinya untuk segera pulang.
Setelah menyelesaikan makannya, pasangan suami istri itu bergegas untuk pulang. Sementara Emily hanya tersenyum senang melihat kepergian Dika dan Allana setelah dia memastikan minuman yang diberinya serbuk obat itu habis.
Syukurlah mereka pulang, jadi aku aman di sini. Kata bule itu, reaksi obatnya tiga puluh menit setelah diminum, batin Emily.
Di lain tempat, Dika mulai merasakan kepalanya pusing, pandangany mulai mengabur. Namun dia tetap berusaha fokus mengemudi hingga saat dia akan berbelok ke arah kanan, fokusnya mulai hilang. Dika tidak melihat jika ada mobil box yang sedang melaju ke arahnya. Saat Allana menyadari akan terjadi tabrakan dengan mobil box, dia segera mengambil kemudi. Namun usahanya terlambat sehingga kecelakan itu tidak dapat dielakkan lagi.
Brakkk ...!
Mobil yang Allana banting justru menabrak pembatas jalan sehingga pas di bagian kemudi rusak parah. Di sisa kesadarannya, Dika memeluk tubuh istrinya karena Allana sudah tidak sadarkan diri.
"Lana, maafkan aku! Aku mencintaimu,"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima Kasih!...