Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 71 Bertemu Mantan


__ADS_3

Setelah Kevin dan Aisha selesai meeting, Al pun mengajak semuanya untuk makan siang di restoran Alam Asri, karena mendapat undangan dari pemilik restorannya langsung yang merupakan teman kuliahnya dulu di Oxford University.


Sesampainya di sana, terlihat suasana restoran yang ramai pengunjung. Sebuah restoran dengan konsep pedesaan milenial, dimana ada sebuah danau buatan dan di atasnya dibangun beberapa gazebo untuk pengunjung yang ingin menikmati makan seraya melihat ikan yang berenang. Sementara di pinggir danau ditanami pohon rindang dan dibuatkan taman, sedangkan untuk ruang utamanya sedikit menjorok ke danau sehingga bisa menikmati langsung dari balkon restoran.


"Al!" panggil seorang gadis cantik yang merupakan pemilik restoran Alam Asri.


Merasa namanya dipanggil, Al pun menengok ke arah sumber suara.


"Laura apa kabar?" sapa Al pada pemilik restoran Alam Asri


"Aku baik, kamu apa kabar Al?" tanya Laura dengan suara yang lembut


"Baik juga, kenalin ini istriku, Icha!" ucap Al seraya merangkul pinggang Icha yang sedari tadi diam memperhatikannya dengan Laura.


Icha dan Laura pun berjabat tangan seraya menyebutkan nama masing-masing.


"Icha."


"Laura."


"Sialan ternyata Aldrich sudah menikah, tapi aku tidak peduli karena aku lebih cantik dan lebih anggun dari istrinya itu," batin Laura


Setelah memperkenalkan Icha, Al pun memperkenalkan yang lainnya satu persatu.


"Papa, Dika mau makan di sana," tunjuk Dika pada sebuah gazebo yang ada ditengah danau.


"Boleh! Kalau begitu aku ke sana dulu. Selamat dan sukses atas grand opening-nya ya!" ucap Al sebelum beranjak pergi.


Icha dan yang lainnya mengikuti arah langkah Al dari belakang. Namun saat akan berbelok ke arah jembatan penghubung restoran utama dengan gazebo, tidak sengaja mereka berpapasan dengan Pak Bagas dan Serena.


"Icha!" panggil Pak Bagas


"Om apa kabar?" sapa Icha seraya mencium tangan Pak Bagas, sedangkan Serena langsung memalingkan muka


"Alhamdulillah baik, Mira sekarang kamu dimana?" tanya Pak Bagas dengan mata yang tidak beralih dari Bu Mira.


"Aku bersama suamiku," jawab Bu Mira


"Bahkan Mira sudah menikah lagi, bagaimana bisa aku mengajaknya rujuk," batin Pak Bagas.


"Mana mungkin aku mengatakan, kalau aku hamil. Sementara Bagas masih bersama Serena." batin Bu Mira.


Melihat Bu Mira yang diam mematung, Icha pun segera pamit pada Pak Bagas.

__ADS_1


"Om, Icha kesana dulu ya, Al dan Dika sudah menunggu," pamit Icha


"Apa Om boleh bertemu dengan Dika?" tanya Pak Bagas dengan mata yang mengembun.


Sesak rasanya saat bertemu dengan orang yang dicintainya, tetapi seperti orang asing


"Tentu saja boleh, Om. Dika ada disana!" tunjuk Icha pada sebuah gazebo yang mana sudah ada Al, Dika, Kevin dan Aisha di dalamnya.


"Serena, kamu mau ikut atau tunggu di meja saja," tanya Pak Bagas


"Untuk apa aku ikut ke sana? Gak guna!" seru Serena lalu beranjak pergi menuju meja yang ditempati rekan kerja Pak Bagas.


Melihat serena pergi, Pak Bagas kemudian berusah untuk mengajak ngobrol pada Bu Mira seraya mereka berjalan menuju gazebo tempat dimana Dika berada.


"Mira, sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Pak Bagas.


"Aku di Pejaten, Mas." Bu Mira menjawab dengan kepala menunduk


"Kenapa tidak bilang padaku, kalau kamu pindah?" tanya Pak Bagas


"Untuk apa aku harus bilang? Yang ada nanti bikin salah paham buat Serena dan suamiku," ujar Bu Mira


Pak Bagas langsung terdiam saat diingatkan tentang statusnya yang kini sudah jadi mantan.


Bu Mira terdiam mendengar apa yang Pak Bagas katakan, meski jauh di lubuk hatinya dia masih mencintai mantan suaminya, tapi rasa sakit atas penghianatan itu masih membekas di hatinya.


"Mama Lihat! Ikannya gede-gede," teriak Dika di atas gazebo saat melihat kedatangan Icha, Bu Mira dan Pak Bagas.


Icha segera mempercepat langkahnya untuk melihat ikan yang dimaksud Dika, sedangkan Pak Bagas dan Bu Mira mengikuti dari belakang.


"Wah! Iya ikannya gede-gede, udah dikasih makan belum?" tanya Icha


"Udah Mah! Tadi Om Kevin bawanin makanan ikan," terang Dika


"Udah bilang makasih belum sama Om Kevinnya?" tanya Icha lagi


"Hehehe....Dika lupa," ucap Dika dengan cengeng esan. "Makasih Om Kevin!" lanjutnya


"Harusnya kan bilang makasihnya sama Papa, Dek!" seru Al


"Al ikh gitu aja cemburu," gerutu Icha pelan seraya mencubit pinggang Al


"Makasih Papa, sayang Papa!" seru Dika dengan sumringah

__ADS_1


Pak Bagas hanya tersenyum kecut melihat kedekatan Dika dan ayah kandungnya, ada rasa kangen saat dulu dia bebas bercengkrama dengan Dika. Namun semua itu, masanya sudah lewat karena kesalahannya.


"Sayang, ada Papa Bagas ingin bertemu Dika," ujar Icha. "Om, Tante sini!" ajaknya


Pak Bagas dan Bu Mira pun langsung mendekati Icha dan Dika.


"Ayo sayang Salim dulu sama Papanya!" suruh Icha


Meski awalnya ragu, tak urung juga Pak Bagas memeluk Dika hingga tak terasa ada setetes air mata lolos keluar dari celah matanya. Air mata kerinduan dan penyesalan bercampur jadi satu.


***


Sementara itu beberapa saat setelah kepergian Al dan yang lainnya dari kantor, terlihat ada tiga orang yang tergesa-gesa menuju parkiran mobil.


"Kia cepetan! Kenapa malah diam?" tanya Oryza


"Aku gak ikut," ucap lalu berbalik lagi menuju ke kantin


Oryza langsung berbalik dan mengejar langkah Kia hingga dia menahan tangan Kia agar berhenti berjalan.


"Kamu jangan ngadi-ngadi! Icha dan yang lain sudah menunggu di sana!" seru Oryza


"Ya sudah, Bapak saja sama Vio yang berangkat," suruh Kia seraya menghempaskan tangan Oryza yang memegang tangannya.


Kia langsung melanjutkan langkahnya tanpa perduli lagi pada Oryza, sedangkan Vio hanya melihat dengan menyenderkan badannya di body mobil.


"Ada kalanya kita harus berjuang, tapi ada kalanya juga kita harus menyerah saat sesuatu yang ingin kita miliki terasa sangat sulit untuk digapai. Seperti dulu aku berjuang untuk memiliki Kevin, tapi pada akhirnya aku menyerah juga, karena hati memang tidak bisa dipaksakan," batin Vio


Srettt


Oryza langsung menarik tangan Kia hingga dia menubruk dada bidangnya. Tercium aroma maskulin yang kental membuat Kia seakan terhanyut menikmati aroma tubuh Oryza. Sementara Oryza juga diam mematung saat benda kenyal itu menabrak dadanya. Pikirannya menjadi travelling teringat pada hal yang selalu membuat terbang melayang. Hingga beberapa saat keduanya saling menikmati sensasi berbeda.


"Woyy.... Malah pelukan, mau berangkat gak?" teriak Vio menyadarkan keduanya.


Oryza dan Kia saling melepaskan diri, keduanya merasa kikuk dengan barusan yang terjadi. Namun Oryza segera sadar sehingga dia langsung menarik tangan Kia menuju mobilnya


"Gak usah nolak, pokoknya kamu harus ikut!"


"Tuhan, apa yang harus aku lakukan? setiap hari perasaan ini semakin tumbuh subur dengan sendirinya,tapi aku harus segera memangkasnya karena aku tidak ingin semakin sakit hati saat kenyataannya tidak sesuai keinginanku," batin Kia


...*****...


...Berusaha dan berdoa...

__ADS_1


...Tetap semangat diawal tahun yang baru....


__ADS_2