
Seperti orang yang kesetanan, Elvano membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak peduli orang-orang yang mencaci makinya. Dia terus menambah kecepatan di saat Arabella memintanya untuk berhenti. Hingga akhirnya, Arabella hanya pasrah diam tak bergeming di tempatnya dengan memejamkan matanya.
Merasa gadis yang disampingnya diam tidak lagi memberontak, Elvano pun mulai menurunkan kecepatan mobilnya. Sampai akhirnya, setelah menempuh perjalanan seperti orang gila, Mobil sport keluaran terbaru itu memasuki gerbang villa kenangan.
"Ayo turun!" ajak Elvano setelah dia melepaskan seat belt-nya.
Merasa tidak ada jawaban dari Arabella, Elvano pun menengok memastikan keadaan gadis disampingnya.
"Pantas saja dari tadi diam, ternyata dia tertidur pulas," gumam Elvano.
Tak ingin mengganggu tidur teman kecilnya, laki-laki yang memiliki raut wajah mirip papanya itu langsung turun dari mobilnya dan menggendong Arabella hingga ke kamar tamu.
Bi Tini yang sekarang menjadi penjaga villa bersama suaminya, merasa heran dengan kedatangan tuan mudanya. Apalagi pemuda tampan itu sampai mau menggendong Arabella. Yang setahunya, Elvano tidak menyukai gadis cantik itu. Bi Tini pun diam-diam menghubungi tuannya dan memberitahukan kedatangan tuan mudanya bersama seorang gadis. Andrea hanya berpesan pada pekerjanya itu untuk terus mengawasi pasangan muda-mudi itu dan mencegah sesuatu yang tidak diharapkan keluarga.
Setelah membaringkan Arabella di tempat tidur, Elvano pun langsung bergegas ke kamarnya yang ada di lantai atas. Dia menanggalkan semua pakaiannya dan langsung mengguyur kepalanya dengan air shower yang dingin. Lama dia berada di bawah air shower sampai tangannnya keriput dan bibirnya sedikit membiru, barulah dia menyudahi mandinya.
Kenapa aku sangat marah saat melihat Gala merangkulnya? Ada hubungan apa sebenarnya diantara mereka? batin Elvano.
Lelah memikirkan sesuatu yang tidak dia temukan jawabannya, Elvano pun terlelap dalam tidurnya. Dalam mimpinya dia merasa, teman kecilnya itu datang ikut berbaring di sebelahnya dan memeluk erat tubuhnya
"Maafkan aku, El! Aku harus pergi jauh agar kita tidak saling menyakiti. Aku memang sangat mencintaimu, tapi hatiku terlalu rapuh jika harus menerima semua perlakuan kamu seperti itu. Semoga kita bisa bahagia dengan kehidupan kita masing-masing." Arabella mencium bibir Elvano sekilas kemudian dia berlalu pergi.
Elvano langsung terbangun dari tidurnya kemudian dia langsung turun ke lantai bawah untuk memastikan keadaan gadis yang sudah membuatnya gelisah.
Brakkk!
Pintu kamar tamu dia buka dengan kasar, dilihatnya tempat tidur yang sudah kosong. Elvano langsung panik mencari keberadaan Arabella. Dibukanya kamar mandi yang ternyata juga kosong. Elvano berteriak memanggil nama Arabella seperti orang gila.
__ADS_1
"Ara ...!" Dia terus mencari keberadaan penguntit cantiknya. Ke dapur, taman belakang bahkan sampai ke pemakaman keluarganya yang berada di belakang villa kenangan. Namun tetap tidak ditemukannya. Saat dia akan kembali masuk ke dalam villa, Elvano mendengar suara mobilnya akan keluar gerbang villa. Secepatnya dia menekan tombol yang ada di jam tangannya. Seketika suara mobil itu pun berhenti. Elvano langsung berlari memburu mobilnya, karena dia yakin itu pasti Arabella yang berusaha kabur.
Sementara Arabella terus berusaha men-starter mobil Elvano. Namun usahanya ternyata sia-sia saat pangeran impian yang ingin ditinggalkannya dengan mudah bisa membuka pintu mobil yang sudah dia kunci.
"El!" lirih Arabella dengan muka sudah pucat pasi. Dia yakin pasti Elvano akan menghukumnya seperti dulu saat dia mengerjainya.
Elvano langsung menarik Arabella dari kemudi, dengan satu kali tarikan, kini Arabella dalam pelukannya.
"Jangan pergi Ara! Ku mohon jangan tinggalkan aku lagi!" lirih Elvano dengan memeluk erat tubuh gadis penguntitnya.
Mendengar apa yang Elvano katakan, Arabella menjadi bengong. Dia tidak menyangka seseorang yang selalu berbuat sesuka hati padanya akan memohon seperti itu.
"El, kamu nangis?" tanya Arabella saat dia merasakan ada setetes air yang jatuh di bahunya.
"Tidak! Mana mungkin aku nangis," elak Elvano dengan buru-buru menghapus sisa air mata.
"Iya, kamu nangis El! Gak usah malu kalau memang kamu nangis, berarti kamu memang takut kehilangan aku. Apa kamu sudah mencintaiku?" tebak Arabella dengan terus menyelidiki raut wajah Elvano yang sedari tadi memalingkan muka.
"Jangan kepedean deh, Ara! Mana mungkin aku menangisi kamu." Lagi-lagi Elvano mengelak. Dia tidak mau mengakui perasaannya sendiri. "Ayo masuk! Aku lapar."
Elvano terus menarik tangan Arabella untuk mengikutinya menuju meja makan. Terlihat di sana hidangan kesukaan Elvano dan Arabella. pemuda tampan itu langsung menarik kursi di depannya dan menyuruh Arabella untuk duduk, sedangkan dia menarik kembali kursi di sampingnya.
"Ara, tadi kamu sembunyi di mana saat aku mencarimu?" tanya Elvano di sela-sela makannya.
"Itu aku ... Rahasia El! Kamu tdak perlu tahu," kilah Arabella.
"Apa kamu tadi masuk ke kamarku?" todong Elvano dengan menatap lekat gadis penguntitnya.
__ADS_1
"Mana ada, El! Aku aku tidak masuk ke kamar kamu," sanggah Arabella.
"Setelah tadi menciumku, kamu sembunyi di mana?" Elvano sengaja memberikan pertanyaan yang menjebak karena dia ingin tahu apa yang tadi dialaminya saat tidur, apakah mimpi atau kenyataan.
"Aku masuk ke bawah tempat tidurmu, upss!" Arabella langsung menutup mulutnya.
"Ternyata kamu cerdik juga, Ara. Memangnya kamu akan pergi ke mana?" Elvano terus bertanya setelah dia berhenti mengunyah makanan.
"Ke mana saja, yang penting tidak bertemu denganmu," jawab Arabella dengan menundukkan kepalanya.
"Aku tidak mengijinkan kamu pergi meninggalkanku." Elvano menatap tajam Arabella yang dengan cueknya mengunyah makanan tanpa memperdulikan apa yang Elvano katakan.
"Sudahlah El! Lebih baik kamu makan, jangan bicara terus," Arabella begitu menikmati ayam bakar yang ada di piringnya.
Setelah menghabiskan makannya, Arabella langsung membereskan piring kotor bekas makannya dan Elvano.
Saat sedang mencuci piring bekas makannya dan Elvano duduk menunggu di kursi meja makan yang ada di dapur, terdengar suara orang yang mengetuk pintu dari luar. Elvano kemudian beranjak pergi untuk membukakan pintu. Betapa kagetnya dia, saat dilihatnya tamu yang datang ternyata adalah papa dan juga mamanya, tak ketinggalan pula Joen, Alana dan Dika yang baru turun dari mobil
"Mama dan Papa, kho bisa datang ke sini?" Elvano masih dalam mode terkejut melihat kedatangan keluarganya. Padahal dia tidak memberitahu akan ke Villa pada keluarganya.
"Kenapa memangnya? Kamu pikir, hanya kamu saja yang boleh berlibur ke sini?" Sinis Andrea.
Saat dia mendapatkan telepon dari Bi Tini, tak berapa lama kemudian dia mengecek CCTV villa dan betapa kagetnya Andrea, saat melihat Arabella menyelinap masuk ke dalam kamar Elvano. Entah apa yang dikatakan gadis itu. Hanya saja dia melihat Arabella memeluk dan mencium sekilas bibir Elvano yang sedang tidur. Dari situ, Andrea langsung pulang dan mengajak keluarganya untuk berlibur ke villa kenangan.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...