
Makanan yang seharusnya nikmat di lidah, kini terasa tercekat di tenggerokan. Meskipun bibir mungil itu masih menampakkan senyumnya tapi hati Icha menangis mendengar apa yang tetangganya katakan. Dia takut, sangat takut jika Dika mendapatkan sanksi sosial karena kesalahannya.
Saat matanya sudah tidak dapat lagi menahan gejolak hatinya, Icha pun pamit untuk ke toilet. "Al, aku ke toilet dulu ya! Titip Dika sebentar," pamitnya
Setelah sampai di toilet, Icha langsung membasuh mukanya berkali-kali. Dia ingin menetralkan kesedihannya agar tidak ada seorang pun yang menyadarinya.
"Hahhh! Memang benar kata orang, serapi-rapinya kita menyembunyikan bangkai, baunya akan tercium juga. Meski sudah bertahun-tahun rahasiaku aman, tapi ternyata terbongkar juga. Ya Tuhan! Kuatkan hatiku dalam menghadapi semua cobaan ini" batin Icha.
Baru beberapa langkah kaki Icha keluar dari toilet, ternyata keberuntungan belum berpihak padanya. Dia bertemu kembali dengan Bu Liana di persimpangan lorong menuju toilet.
"Aku tidak menyangka, akan bertemu lagi dengan wanita simpanan. Pasti laki-laki yang menjadikanmu simpanannya itu seorang aki-aki tembem berperut buncit" cibir Bu Liana
Icha menghela nafas dalam, sebelum akhirnya dia membalas ucapan Bu Liana
"Ibu salah besar sudah bicara seperti itu, Ibu lihat kan laki-laki yang tadi bersama saya? Itu suami saya Bu, dan Dika putra kami. Kita menikah setelah lulus sekolah. Hanya saja, karena suami saya orang yang kaya raya jadinya mereka kurang setuju dengan saya. Makanya saat suami saya harus sekolah ke luat negeri, saya ikut Tante Mira" cerocos Icha panjang lebar.
Biarlah apa yang dikatakannya adalah kebohongan, yang terpenting Dika tidak mendapat cemoohan dari teman-temannya.
"Saya tidak percaya dengan apa yang kamu katakan. Mana ada orang kaya yang mau menikah dengan kamu. Cantikan juga putri saya," hina Bu Liana
"Saya yang mau menikah dengan Icha, mungkin Ibu tidak kenal saya. Baiklah, silakan Ibu datang ke perusahaan Putra Group dan berikan kartu nama ini pada resepsionis." Tanpa diduga Al tiba-tiba datang di belakang Icha bersama dengan Dika.
Sebenarnya Al mau menyusul Icha ke toilet karena dirasanya terlalu lama Icha pergi. Namun saat di jalan, malah disuguhkan oleh pemandangan yang tidak mengenakkan hati.
Al sangat geram saat tahu Ibu itu lagi yang mengganggu Icha dengan ucapannya sepedas bon cabe level sepuluh.
"Ayo sayang kita pulang!" ajak Al seraya merangkul pinggang Icha.
Tanpa menunggu Bu Liana bicara, Al sudah membawa Icha pergi dari sana.
Sesaat setelah kepergian Icha, Bu Liana pun melihat kartu nama yang tadi di berikan Al padanya.
"Apa benar dia seorang CEO? Rasanya tidak mungkin, semuda itu bisa jadi CEO di perusahaan sebesar itu. Lagipula, kata Wisnu CEO Putra Group sudah kakek-kakek. Pasti laki-laki yang bersama Icha sedang membohongiku," batin Bu Liana
***
Sepanjang perjalanan tak ada seorang pun yang berbicara, ketiganya bungkam. Icha dan Al yang larut dengan pikirannya sedangkan Dika yang mengantuk karena kelelahan.
"Cha, biar aku yang gendong Dika," pinta Al sesaat setelah mobil terparkir di basement apartement.
__ADS_1
"Iya!" jawab Icha singkat
Tanpa bicara lagi, Al pun langsung menggendong Dika dan membawanya ke apartement Icha. Saat sampai di kamar, perlahan Al membaringkan Dika di tempat tidur.
Setelah memberikan kecupan di kening Dika, Al pun berniat untuk keluar dari kamar itu. Namun matanya bersitatap dengan mata Icha yang akan masuk ke dalam kamar.
Perlahan Al mendekat ke arah Icha yang diam mematung.
"Cha, kita harus bicara!" ucap Al
"Aku lelah, bisakah bicaranya besok saja?" kilah Icha
"Baiklah! Istirahat yang cukup, aku pulang dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Icha, Al langsung keluar kamar.
Setelah Al pulang ke apartementnya, Icha langsung membersihkan diri sebelum ikut membaringkan tubuhnya di samping Dika.
Terdengar suara handphone Icha bergetar, pertanda ada panggilan masuk
π±"Hallo Assalamu'alaikum"
π²"Wa'alaikumsalam! Cha, Tante pulang kampung, mungkin semingguan di sininya"
π±"Iya Tan, tapi Tante baik-baik aja kan?"
π±"Wa'alaikumsalam"
Panggilan pun berakhir karena Bu Mira memutuskan sambungannya.
"Kho aneh ya, katanya sakit tapi kenapa pulang kampung? Udahlah! Mungkin memang mendesak jadinya maksa pulang," gumam Icha
Icha terus larut dengan lamunannya hingga tanpa terasa kantuk menderanya.
Sementara itu, setelah pulang mengantar Icha dan Dika, Al langsung menuju ke tempat yang sudah dijanjikannya bersama dengan Oryza dan Kevin.
Sesampainya disana, terlihat Oryza dan Kevin sudah menunggunya dengan ditemani secangkir capucino
"Ck! Lama banget Al, darimana dulu?" tanya Oryza saat Al sudah mendudukkan bokongnya.
"Biasa anter nyonya pulang," jawab Al
__ADS_1
"Maksud kamu Kalisa?" tanya Kevin
Plak
Satu geplakan mendarat sukses di tangan kekar Kevin yang terlihat otot-ototnya.
"Bukan dia," sangkal Al. "Gimana? Sudah dapat yang kuminta?" lanjutnya
"Beres boss, semuanya ada di sini," ucap Kevin seraya memberikan flashdisk. "Tinggal bonusnya saja," lanjutnya
"Gampang, bisa diatur," ujar Al
***
Hari pun telah berganti, Al dan Icha sudah sibuk dengan pekerjaannya begitupun dengan Dika yang setiap hari pergi ke sekolah.
Semenjak Bu Mira pulang kampung, terpaksa Icha meminta tolong kepada Pak Bagas untuk menjemput Dika sepulang sekolah. Pulangnya Icha menjemput Dika di rumah Pak Bagas.
Namun ada yang berbeda dengan Dika, kini Dika tidak seceria dulu lagi. Dia lebih banyak diam dan bermain sendiri di dalam kamar atau mencoret-coret kertas gambarnya.
Awalnya Icha tidak menyadari dengan perubahan yang terjadi pada Dika. Namun disaat hari ketiga, barulah Icha sadar kalau Dika selalu terlihat murung.
"Dek, kenapa kho sering melamun?" tanya Icha
"Kak, boleh tidak kalau Dika tidak usah dijemput Papa? Biar Dika langsung pulang ke sini aja," pinta Dika
"Memangnya kenapa Dek?" tanya Icha
"Dika tidak suka di rumah Papa, Mama barunya tidak suka ada Dika di rumahnya," adu Dika.
"Ya sudah, besok Kak Icha yang jemput Dika, tapi Dika tidak boleh kemana-mana sebelum Kak Icha datang," pesan Icha. "Nanti ikut Kak Icha ke kantor ya! Soalnya kalau di sini sendiri, Kak Icha khawatir," lanjutnya.
"Iya Kak! Nanti ketemu Papa Al kan, Kak." Mata Dika kembali bersinar saat tahu dia akan bertemu dengan Al.
Memang sudah beberapa hari ini Dika tidak bertemu lagi dengan Al semenjak hari itu, karena Al sibuk dengan proyek baru yang mulai berjalan.
"Iya, tapi nanti Dika gak boleh ganggu Papa Al kerja ya!" Icha pun tanpa sadar ikut-ikutan memangil Papa Al.
"Iya Kak, Dika janji akan jadi anak baik," ucap Dika
__ADS_1
...*****...
πNext part