
"Mbak Siska? Kenal sama Om Bagas juga?" tanya Icha
"Siska ini adiknya Tante Serena, Cha" jelas Pak Bagas
"Oooh! Pagi Tante" sapa Icha seraya menjulurkan tangan hendak mengajak bersalaman pada Serena. Namun Serena diam saja hanya menatap tidak suka pada Dika karena ada di pangkuan Pak Bagas.
"Serena!" tegur Pak Bagas
"Akh Iya, Icha ini bukannya dulu pelayan di cafe Mizy ya Mas?" tanya Serena
"Iya Tan! Waktu kuliah memang kerja part time di cafe Mizy" jelas Icha
"Iwww, ternyata hanya seorang pelayan" desis Siska pelan
"Oh iya Mas, aku udah beli donat. Ayo kita makan di dalam" ajak Serena
"Ayo Cha!" ajak Pak Bagas
"Maaf Om! Kayaknya Icha pulang dulu, soalnya ditungguin sama teman di depan" bohong Icha
"Hati-hati ya Cha!" pesan Pak Bagas, "Dika yang nurut ya sama Mama dan Kakak" lanjutnya
"Iya Pah" jawab Dika seraya memeluk erat Pak Bagas
Perlahan Dika melepaskan pelukannya karena dia melihat Serena sedang melotot ke arah Dika.
"Papa, Dika pulang dulu" pamit Dika
Pak Bagas langsung mencium pipi Dika kiri kanan. Terasa sesak dadanya berpisah dengan anak yang telah dia besarkan selama ini. Meskipun Dika bukan darah dagingnya, tapi Pak Bagas sangat menyayangi Dika seperti anaknya sendiri.
Pak Bagas menatap nanar kepergian Dika dan Icha. Kebahagian yang dia rasakan selama ini harus sirna karena keegoisannya.
Sementara Icha dan Dika sama-sama bungkam setelah keluar dari rumah yang telah memberinya kehangatan selama ini. Dika sesekali melihat ke belakang, melihat seseorang yang selalu dianggapnya Papa.
"Udah Dek, nanti kapan-kapan kita main ke sini lagi" ucap Icha
"Iya Kak" jawab Dika sendu
"Dek, kita nunggu ojolnya di gerbang perum aja ya! Biar bisa neduh di pos satpam" ajak Icha. Dika hanya mengikuti saja Icha akan membawanya kemana.
Tin tin tin
Mobil sport berwarna merah pun berhenti di depan Icha dan Dika. Perlahan kaca jendela mobil itu terbuka, Al pun sedikit melongokan kepalanya ke luar jendela.
"Ayo naik!" seru Al
"Loh Al, kamu mau kemana?" tanya Icha kaget
"Jemput kalian. Cepetan naik, Cha" suruh Al
Dika yang tadinya murung mendadak sumringah saat melihat Al. Dengan segera dia naik ke dalam mobil membuat Icha mau tidak mau mengikutinya.
__ADS_1
Setelah duduk di samping kursi Al, Icha pun bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Kho kamu tahu kalau aku kesini Al?" tanya Icha heran
"Tadi ke apart kamu, mau ngajak Dika jalan-jalan. Tapi kata Tante Mira, sedang main ke rumah Om Bagas" terang Al
"Om, Papa mau punya adik bayi lho! Tapi Mama barunya gak suka sama Dika" adu Dika.
"Dek!!!" Icha kasih kode pada Dika agar tidak mengadu pada orang lain
Dika yang mendapat teguran dari Icha langsung diam duduk di kursi belakang.
"Cha, kamu jangan keras-keras sama adikmu. Kasihan dia masih kecil" tegur Al
"Maaf Al! Urusan rumah tangga Tanteku rasanya bukan untuk konsumsi publik" sahut Icha.
"Oh okay! Aku masih dianggap orang lain" pungkas Al
"Bukan begitu maksudku!"
"Tenang aja Cha! Aku gak marah kho!"
Hening
Tidak ada percakapan lagi selama perjalanan. Hingga mobil Al melewati apartementnya, barulah Icha angkat bicara.
"Lho Al, kita mau kemana? Apartnya udah kelewat" panik Icha
"Jalan-jalan kemana?"
"Pantai"
"Tapi kan aku gak bawa baju"
"Udah ada"
"Kenapa sih nih orang, mode kulkasnya lagi on" gerutu Icha dengan cemberut
Sesampainya di tempat tujuan, Al langsung turun dan mengeluarkan isi bagasinya. Icha yang melihat peralatan pribadinya ikut serta dalam bagasi Al, mendadak menjadi kikuk.
"Al, siapa yang nyiapin semua ini?" tanya Icha kaget.
"Tante Mira"
"Untung saja Tante yang nyiapin, bagaimana kalau dia" batin Icha
Begitu banyak barang yang Al bawa, mulai dari tikar, mainan Dika untuk membuat istana pasir, baju ganti, makanan dan minuman, tak lupa juga Al sudah menyiapkan sunblock untuk melindungi kulit dari sinar matahari.
Terlihat dua lelaki tampan itu begitu antusias membuat istana pasir. Mereka bahkan tidak memperdulikan tatapan kekaguman dari kaum hawa yang diam-diam selalu memperhatikan mereka.
Sedangkan Icha hanya rebahan sambil memainkan handphonenya dengan sesekali memotret kebersamaan ayah dan anak yang bekerja sama membuat istana pasir
__ADS_1
"Kakakkk sini" teriak Dika memanggil Icha
"Kakak di sini aja, panas!" Icha pun ikut berteriak karena jarak yang tidak begitu dekat.
Tak lama Al mendekat ke arah Icha. Tanpa bicara lagi, Al langsung membopong Icha seperti karung beras.
"Al turunin! Kamu apa-apaan sih" seru Icha dengan memukuli punggung Al yang keras
Al tidak peduli dengan apa yang Icha lakukan, lagipula pukulan Icha tidak membuatnya sakit.
"Aldrich turuniiinnn" teriak Icha dengan suara cemprengnya sepeti emak-emak saat memarahi anaknya.
Byuuurrrr
Al langsung menurunkan Icha dengan sedikit dilempar ke dalam laut, membuat Icha gelagapan karena memang Icha tidak bisa berenang
Al langsung berjongkok membantu Icha untuk berdiri.
Glek
Al langsung menelan ludahnya kasar saat tidak sengaja melihat kacamata kembar tercetak jelas di baju Icha
"Akh sial! kenapa tadi aku bikin basah kuyup kalau akhirnya aku yang tersiksa" rutuk Al dalam hati
Dika yang melihat Icha dan Al sedang mandi air laut, dia pun langsung ikut basah-basahan.
Seperti keluarga kecil yang bahagia, mereka pun sangat menikmati kebersamaannya dengan saling mencipratkan air ke badan.
Tanpa seorang pun yang menyadari, seorang gadis kecil sedang berlarian hingga ke arah tengah laut. Dika yang menyadari akan datang ombak yang lumayan besar, berlari ke arah gadis itu dan mengajaknya berlari ke tepian sebelum ombak datang menerjang tubuh kecilnya. Namun apalah daya langkah kaki kecil itu tak secepat ombak yang datang hingga keduanya pun terseret ombak.
Al yang tak sengaja melihat Dika sedang berlari dari kejaran ombak, langsung menghentikan aksinya dan segera menyusul Dika. Namun naas, Dika dan gadis itu sudah terseret ombak ke tengah.
Al segera menyusul ke tengah laut bersama dengan seorang lelaki.
Byuuurrr byuurrr
Al segera menyelam mencari dimana keberadaan Dika. Begitupun dengan pria itu yang mencari keberadaan gadis kecilnya.
"Dikaaaaa" teriak Icha histeris
"Allanaaaa" tak kalah kencangnya seorang wanita muda berteriak histeris memanggil nama anaknya.
Setelah keduanya terselamatkan, kini Al merasa kaget dengan kehadiran rekan bisnisnya.
"Loh, Pak Andrea ada disini" sapa Al pada rekan bisnisnya.
"Eh Pak Aldrich, anda juga ada di sini" heran Andrea yang tidak sengaja bertemu dengan rekan bisnisnya.
"Iya Pak, saya sedang liburan bersama calon istri dan adiknya" akunya Al.
...*****...
__ADS_1
👉Next Part