
Terdengar suara alunan musik syahdu memenuhi ruangan karaoke yang di sewa. Terlihat Kia sedang memegang mic menyanyikan lagu Sheila on 7 'Berhenti berharap'
Aku tak percaya lagi dengan apa yang kau beri
Aku terdampar disini tersudut menunggu mati
Aku tak percaya lagi akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi sudut gelap hati ini
Aku berhenti berharap dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita bila bahagia tercipta?
Kenapa ada sang hitam bila putih menyenangkan?
Aku pulang tanpa dendam
Kuterima kekalahanku
Aku pulang tanpa dendam
Kusalutkan kemenanganmu, woo
Kau ajarkan aku bahagia
Kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia
Kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia
Kau berikan aku derita
Tes
Tak terasa setetes air mata membasahi pipinya. Kia menyerah, benar-benar menyerah setelah melihat tatapan memuja Oryza pada Yura, setelah melihat kehangatan Oryza pada Yura. Meski baru beberapa jam dia melihatnya, tapi hatinya menyimpulkan sudah tidak ada harapan lagi untuknya mendapatkan hati Oryza.
Prok prok prok
Suara riuh tepuk tangan menyambut selesainya lagu yang dibawakan oleh Kia dengan penghayatan yang luar biasa. Banyak dari rekan kerjanya yang terkagum-kagum dengan suara Kia yang terdengar merdu. Begitupun dengan Vio dan Icha yang langsung memeluk sahabatnya itu untuk menyalurkan kekuatan agar Kia tidak merasa sendiri.
Al langsung menarik Icha agar kembali duduk disampingnya.
__ADS_1
"Sayang sini duduk, jangan peluk Kia terus," ajak Al, dan Icha hanya mengikuti apa yang di suruh Al padanya
"Aku juga mau nyumbang lagi, khusus buat CEO kita," ucap Yura yang secara tiba-tiba.
Yura pun mulai menyanyikan lagu 'Cinta dalam hati' milik ungu. Semua orang bertanya dalam hatinya, kenapa sekertaris baru itu berani sekali mengungkapkan perasaannya pada CEO mereka yang dingin dan tegas itu, tapi tidak bagi Al. Karena dia sudah tahu dengan perasaan Yura padanya, bahkan Al pernah menolaknya saat Yura sengaja berlibur ke negeri Ratu Elizabeth. Tempat Al mengenyam pendidikan selama lima tahun di sana.
Al masa bodoh dengan lagu yang Yura bawakan, dia malah asyik memainkan rambut Icha yang digerai dengan jari tangannya. Tanpa peduli dengan tatapan karyawannya, Al terus menciumi rambut Icha yang wanginya segar menyeruak masuk hidungnya.
"Sayang, kita pulang yuk!" bisik Al pada Icha
Entah kenapa terasa ada gejolak yang ingin dituntaskan saat Al mencium wangi rambut Icha.
"Sebentar lagi, setelah lagu Yura selesai." Bujuk Icha
"Sayang aku ingin...." ucap Al melas saat Al kecil sudah tidak dapat di kondisikan lagi
Saking frustasinya Al menahan hasratnya yang semakin bergejolak, dia pun menyuruh Kevin untuk buka kamar.
"Vin, booking kamar buat aku!" suruh Al
"Bos, di atas kan ada tempat istirahat khusus untukmu. Kenapa gak pakai itu aja," saran Kevin
"Kenapa aku lupa, kalau aku yang rancang tempat ini." Al langsung menepuk jidatnya sendiri.
Tanpa bicara lagi, dia pun langsung membawa Icha ke atas. Tempat yang biasa dia pakai saat mabuk berat karena pikirannya dipenuhi oleh bayang masa lalunya bersama Icha. Namun semenjak Al kembali lagi bersama Icha, dia tidak pernah lagi singgah ke tempat itu.
"Aku juga gak tahu, mungkin mereka terlibat cinta segitiga kali," tebak Kia pelan
"Bisa jadi, terus kamu mau gimana kalau benar Yura sukanya sama Pak Al bukan Oryza." Lagi-lagi Vio berbisik pada Kia, membuat Kevin jadi jengah dengan kelakuan istri barunya.
"Aku akan tetap nyerah Vio, aku gak mau cape sendiri mencintai dalam diam," ungkap Kia.
Sementara Yura menatap dalam kepergian Al yang terus menarik tangan Icha agar mengikutinya.
"Tak apa aku tidak bisa mendapatkan Al, masih ada Oryza yang selalu setia mendukungku," gumam Yura pelan hingga tak dapat di dengar oleh orang lain.
***
Di sebuah kamar khusus, terlihat baju yang berserakan di bawah ranjang, Al benar-benar menuntaskan hasratnya yang sudah memuncak itu, di kamar atas sebuah club malam yang dirancangnya sendiri. Saat dulu Kevin mengajaknya join modal membangun club tanpa sepengetahuan orang lain. Sehingga semua orang akan mengira kalau club itu pemiliknya Jimmy.
Waktu sudah menunjukkan angka sepuluh, Icha yang mulai terlelap terganggu oleh suara handphone miliknya yang terus berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Merasakan ada pergerakan, Al pun ikut bangun dan mencari dimana handphone Icha berada.
Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Icha pun langsung menerima panggilan yang ternyata dari Farish, kakaknya.
π±"Hallo Kak, ada apa"?
π²"Assalamualaikum, Dek!"
__ADS_1
Icha nyengir saat lupa mengucapkan salam pada kakaknya.
π±"Wa'alaikumsalam, Kak!"
π²"Cha, lagi di mana? Kakak di rumahmu, cepetan pulang! Kakak tunggu!"
π±"Ada apa Kak? Sepertinya penting."
π²"Kakak tidak bisa ngomong di telpon, kamu cepetan pulang, Kakak tunggu!"
Klik
Farish langsung memutuskan sambungan teleponnya, membuat Icha menjadi penasaran sebenarnya apa yang terjadi.
"Al ayo kita pulang! Kak Farish nunggu di rumah," ujar Icha seraya memunguti pakaiannya yang berserakan.
"Ya udah kita mandi dulu sambil nunggu baju kamu datang," ucap Al
"Kamu sih suka buru-buru gitu, jadinya sobek kan bajuku," dengus Icha.
Setelah membersihkan diri dan mendapatkan baju gantinya, Al dan Icha pun bergegas untuk pulang karena Farish terus menerus menelponnya untuk segera pulang.
Saat sampai di rumah, terlihat Farish dan Violet yang duduk gelisah di ruang tamu ditemani oleh Bi Sari.
Setelah mengucapkan salam, Icha pun langsung memberondong Farish dengan banyak pertanyaan.
"Kakak ada apa? Apa ada yang penting? Apa Dika baik-baik saja? Terus Dikanya mana? Kenapa Kakak gak langsung bilang saja sama Icha?"
Seperti rel kereta api, Icha bertanya pada Farish tanpa jeda.
"Untung saja Mama telponnya ma aku, coba kalau sama nih bocah,udah pasti panik duluan," gumam Farish pelan.
"Kamu tenang dulu, Dek! Bi Sari sudah siapkan bajumu. Sekarang kamu ikut sama Kakak pulang," ucap Farish
"Memangnya kenapa Kak? Apa Mama sakit?" tanya Icha yang mulai curiga pada Farish
"Bukan mama, tapi papa. Sekarang papa sudah tidak sadarkan diri dan mama minta agar kita pulang bersama," ucap Farish sendu.
Dia teringat saat tadi mama menelponnya sambil menangis menceritakan semuanya. Namun Farish tidak bisa menceritakan sekarang pada Icha sebelum mereka sampai di kota kelahirannya.
Icha langsung menangis terisak saat tahu papanya sakit. Perasaan bersalah terus menyeruak di hatinya saat teringat kesalahan terbesarnya yang telah mengecewakan papanya.
Melihat Icha yang menangis, Al pun berinisiatif untuk ikut pulang ke kampung halaman Icha.
"Aku bersiap dulu, Bi tolong siapkan baju Dika. Kita berangkat bareng ke kota S," ucap Al
...*****...
__ADS_1
πNext part