
Icha segera berlari secepat yang dia bisa, memburu tubuh kecil yang sudah berlumuran darah. Diraihnya tubuh kecil Dika dan membawanya ke dalam dekapan Icha dengan air mata yang terus mengalir di kedua matanya.
"Sayang, bertahanlah demi Mama. Maafkan Mama!" rintih Icha disela Isak tangisnya.
Semua orang yang melihat kejadian tadi pun segera berkerumun untuk memberikan pertolongan. Tak terkecuali orang yang menabraknya, Komar supir pribadi pemilik mobil mewah itu sangat ketakutan karena dia tanpa sengaja telah menabrak anak kecil yang tiba-tiba datang ke depan mobilnya. Begitupun dengan si pemilik mobil mewah itu yang merasa syok dengan apa yang terjadi.
Melihat supirnya dengan peluh yang bercucuran dan badan yang gemetar, Tuan Ardi pun segera keluar mobil untuk mempertanggungjawabkan apa yang terjadi.
"Tolong bawa anak itu ke mobil saya! Kita bawa ke rumah sakit." Suara yang begitu di kenal Icha pun memberikan perintah.
Icha langsung mendongak melihat ke arah suara.
"Tu tuan Ardi..." lirih Icha
Warga langsung membantu Icha untuk membawa Dika masuk ke dalam mobil Tuan Ardi. Dengan sisa keberaniannya, Komar membawa Dika ke rumah sakit terdekat.
Tuan Ardi yang duduk di samping Komar, sesekali melihat ke belakang memastikan keadaan Dika.
"Apa itu putramu?" tanya Tuan Ardi
Icha terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Tuan Ardi. "Iya, ini putra saya," jawabnya
"Maafkan supir saya, dia tidak sengaja menabrak putramu," mohon Tuan Ardi
"Iya Nona, tolong maafkan saya! Tadi putra anda tiba-tiba datang di depan mobil, sehingga saya tidak sempat mengeremnya," jelas Komar
"Iya Pak, semua ini musibah. Tolong do'akan untuk kesembuhan putra saya" ucap Icha sendu.
Tak lama kemudian mobil pun sudah sampai di rumah sakit Bhayangkara yang letaknya tidak jauh dari tempat kejadian.
Dika langsung mendapat penanganan medis sedangkan Icha dan Tuan Ardi menunggu di depan IGD.
Setelah menunggu lumayan lama, Dokter yang menangani Dika pun keluar meminta keluarga untuk mencari golongan darah yang cocok untuk Dika, karena pihak rumah sakit tidak memiliki stok darah RH-null. Yang mana hanya beberapa orang saja di dunia yang memiliki golongan darah yang langka itu.
Tanpa berpikir panjang, Icha pun langsung menghubungi Al untuk meminta tolong. Icha berpikir mungkin saja Al memiliki darah yang sama dengan Dika karena dia ayah kandungnya.
Sementara Tuan Ardi termangu di tempatnya, karena ternyata selain almarhum istri dan putranya yang merupakan ayah Al, masih ada orang lain yang memiliki darah yang langka itu. Tuan Ardi jadi teringat saat dulu putranya kecelakaan dan membutuhkan donor darah, meski dia sudah berusaha keras tapi dia tidak bisa menemukan orang yang memiliki golongan darah yang sama dengan putranya, hingga akhirnya dia harus kehilangan karena nyawanya tidak tertolong.
__ADS_1
π± "Hallo Al"
π² "Iya Cha ada apa?"
π±"Al, Dika kecelakaan. Dia butuh pertolonganmu"
π² "Apa? Kecelakaan? Share lock Cha, aku segera kesana"
Tanpa menunggu Icha bicara lagi, Al langsung memutuskan panggilan telepon. Al yang sedang bersiap untuk bertemu dengan klien penting pun tanpa berpikir panjang dia langsung meminta Aisha untuk mengosongkan jadwalnya dan mengalihkan tugasnya pada Kevin.
Setelah mendapatkan lokasi rumah sakit tempat Dika di rawat, Al seperti orang kesetanan menjalankan mobilnya membuat pengendara lain banyak yang memakinya.
Sesampainya di sana, Al langsung berlari menuju ke ruang IGD dimana Dika mendapatkan penanganan medis.
"Cha!" panggil Al
Mendengar suara Al memanggilnya, Icha langsung menghambur ke pelukan Al membuat Tuan Ardi melongo melihatnya.
"Dika, Al....Dia...Dia... Dia butuh kamu." Tangis Icha pecah di pelukan Al.
Sedari tadi dia hanya diam saat dokter memberi tahu tentang kondisi Dika yang harus segera di operasi karena pendarahan di kepalanya.
"Dika butuh darah RH-null, apa kamu memilikinya?" tanya Icha disela Isak tangisnya
"Iya, aku akan memberikan berapapun yang putra kita butuhkan," ucap Al tanpa sadar mengklaim Dika sebagai putranya bersama Icha.
Tuan Ardi hanya melihat tanpa ingin menyela dengan apa yang terjadi. Namun hatinya seperti dihantam batu besar saat mendengar Al mengakui anak kecil yang ditabraknya itu adalah putranya, putra cucunya sendiri yang berarti itu cicitnya.
Setelah melepaskan pelukannya, Al segera menghubungi dokter untuk test kecocokan darahnya dengan darah Dika.
Setelah mendapatkan tiga kantong darah, Dika pun segera dioperasi.
Al terus memeluk Icha seraya dalam hatinya berdo'a untuk kesembuhan Dika, begitupun dengan Icha yang tidak berhenti mendo'akan Dika. Sampai suara itu memecah keheningan.
"Cha, bagaimana keadaan Dika?" tanya Bu Mira yang datang dengan tergopoh-gopoh setelah Icha memberitahunya.
"Dia masih di dalam, Tan." Icha menjawab dengan sendu.
__ADS_1
"Maafkan Tante, Cha!" ucap Bu Mira
"Tante tidak salah apa-apa, jangan meminta maaf pada Icha." Icha pun kembali menangis di pelukan Bu Mira
Bu Mira merasa sangat bersalah karena dia malah pergi selama seminggu ini bersama suami barunya. Namun dia tidak berani jujur pada Icha, mengingat proses perceraiannya dengan Bagas belum selesai.
Bu Mira yang bertemu lagi dengan mantan pacarnya, akhirnya menerima ajakan mantan pacarnya itu nikah siri, untuk membalaskan sakit hatinya karena dikhianati oleh Bagas.
Setelah satu jam menunggu, akhirnya operasi pun berjalan dengan lancar. Namun Dika langsung masuk ke ruang ICU karena memerlukan pengawasan yang ketat dari dokter pasca operasi.
Icha secara bergantian dengan Al dan Bu Mira menengok Dika dengan memakai baju khusus. Setiap kali menemani Dika di dalam, tak henti Icha menangis. Takut yang Icha rasakan, anak yang dia perjuangankan hingga harus meninggalkan kedua orangtuanya akan meninggalkannya.
"Sayang bangun! Mama kangen sama Dika. Mulai sekarang Mama tidak akan menyembunyikanmu lagi. Mama tidak peduli orang akan mencemooh karena masa lalu Mama yang tidak baik. Mama akan tetap mengakui Dika sebagai anak kesayangan Mama," lirih Icha di sela isak tangisnya.
Tidak beda jauh dengan Icha, Al pun sangat terpukul dengan keadaan Dika yang tak kunjung sadarkan diri pasca operasi. Selama tiga hari ini Al selalu menemani Icha menjaga Dika.
Dokter yang menangani Dika menyimpulkan, kemungkinan besar Dika mengalami amnesia disosiatif pasca kecelakaan apalagi saat seorang guru kelas Dika yang menengok menceritakan kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi.
Laras yang merupakan guru Dika sekaligus tetangga rumahnya, menceritakan pada Bu Mira apa yang terjadi pada Dika saat berada di rumah Pak Bagas waktu Icha menitipkan Dika pada Pak Bagas.
"Bu Mira, sebelumnya saya minta maaf, bukan bermaksud untuk menjelekkan siapapun atau membuat Bu Mira dan Pak Bagas bertengkar, tapi saya harap Ibu atau Icha tidak menitipkan Dika di rumah Pak Bagas lagi," tutur Laras
"Memangnya kenapa? Apa mereka kasar pada Dika?" tanya Bu Mira
"Saya sudah beberapa kali melihat istrinya Pak Bagas bersikap kasar pada Dika. Dia membentak mencaci maki dan juga suka mencubit Dika. Saya pernah sekali melihat Bu Serena mencubit tangan atas Dika, besoknya saya lihat ada bekas kebiruan di tangannya," jelas Laras
Al yang tidak sengaja mendengar percakapan Laras dan Bu Mira langsung mengepalkan tangannya geram, begitupun dengan Bu Mira yang langsung mendidih kepalanya saat mendengar apa yang Laras katakan.
"Laras, setelah dari sini mau langsung pulang kan?" tanya Bu Mira
"Iya Bu, memangnya kenapa?" Laras pun balik bertanya karena heran
"Saya ikut pulang sama kamu ya!" ucap Bu Mira
"Awas saja kamu sundel bolong, akan aku kasih pelajaran karena telah menyakiti putraku," geram Bu Mira dalam hati
Selembut-lembutnya seorang Ibu, dia akan berubah jadi singa saat anaknya di sakiti.
__ADS_1
...*****...
πNext part