All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
100. Apa kamu nggak ingin berdamai denganku ....


__ADS_3

Keduanya kini menjauh sejenak dari kedua pria itu yang tampak bersitegang. Seakan memberi ruang kepada keduanya untuk saling berbicara.


Entah pembicaraan apa yang akan mereka bahas. Jika diperhatikan tatapan Tara begitu menghunus menabrak sepasang netra hazel Kai.


"Dian, rencananya kalian akan honeymoon di mana nanti? tanya El to the poin.


"Nggak tahu juga Lun. Sepertinya aku belum memikirkannya," jelas Dian. "Lun.'"


"Hmm." El melirik sekilas lalu kembali mengarahkan wajah ke arah laut.


"Tuan Kai."


"Kai saja, nggak usah pakai embel-embel Tuan," protes El.


"Apa kamu nggak takut ..." ucapan Dian langsung terpotong.


"Takut? Maksudmu ketangkap sama orang yang sedang mencariku, gitu?"


Dian menatap heran pada gadis itu yang terlihat tersenyum tipis. "Hmm ... kok senyum sih, Lun."


"Nggak apa-apa, Dian. Orangnya ada bersama suamimu sekarang," ucapnya santai.


"Termasuk suamimu, Dian."


"Beneran?!" Dian seolah tak percaya. ?


"Ya beneran lah, lalu yang kamu lihat sekarang ini apa? Oh ya, Dian, sekarang kamu bisa memanggilku El sekarang. Soalnya aku bukan lagi buronan CINTA."


Selesai mengucapkan kalimat itu, keduanya langsung tertawa lepas.


"Kamu bisa saja, El," kata Dian.


El langsung memeluk temannya itu. Teman yang sudah banyak membantunya sejak pertama kali tinggal di kota X hingga saat ini.


"Thanks ya, Dian. Selama ini kamu sudah banyak membantuku. Bagaimana jika aku dan Kai menghadiahkan kalian tiket honeymoon?" cetusnya. "Aku punya tiga recomendasi tempat untuk honeymoon. Maldives, Italia or Turki?"


"Apa kamu sedang bercanda, El?" tanya Dian dengan wajah tak percaya.


"No, Dian, aku serius. Anggap saja itu hadiah dariku dan Kai sebagai ucapan tanda terima kasih kami kepadamu."


Diam bergeming dan tampak berpikir. "Kalau begitu, aku memilih Maldives. Sudah lama aku ingin ke pulau itu."


Senyum Dian langsung mengembang sempurna. Memberikan pelukan pada El sekaligus berterima kasih padanya.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh dari kedua gadis itu, Kai terus memandangi keduanya. Merasa terharu karena jalinan pertemanan keduanya layaknya adik kakak.

__ADS_1


"See ... istrimu dan El sepertinya cukup dekat. Mereka bahkan terlihat seperti saudara," celetuk Kai. "Aku nggak tahu apa yang El katakan padanya sehingga istrimu itu terlihat begitu bahagia."


Tara hanya bergeming mendengar ucapan Kai. Arah pandangannya kini mengarah kepada kedua gadis itu.


"Apa kamu nggak ingin berdamai denganku Tara?" tanya Kai dengan tulus. "Aku bahkan ingin menjodohkan anak-anak kita nantinya."


Alih-alih senang mendengar niat tulus pria blasteran itu, Tara malah terlihat semakin emosi, kesal juga jengkel mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Kai. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Ia merubah posisinya kini dengan saling berhadapan. Menghujam tajam manik hazel Kai dengan tatapan benci.


"Aku bahkan nggak sudi menjodohkan anakku dengan anakmu, brengsek!" ucapnya sinis dengan perasaan dongkol.


"Bahkan jika anakku perempuan?" timpal Kai.


Tara bergeming enggan menjawab. Sedetik kemudian ia membuang muka dengan perasaan geram.


Menanggapi diamnya Tara, Kai hanya bisa menghela nafas sembari tersenyum kecut.


Sedangkan dari arah berlawanan, El dan Dian kembali menghampiri kedua pria itu.


"Ada apa? Kelihatannya kamu senang banget," tanya Kai sesaat setelah El berdiri di sampingnya.


"Hmm ... Sayang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," kata El seraya memeluk lengan prianya. Sedikit menjauh dari Tara dan Dian.


"Apa?" tanya Kai setelah keduanya agak menjauh.


"Lalu ... apa kata Dian?" tanya Kai.


"Dian memilih Maldives sebagai destinasi tempat honeymoon mereka," jelas El. Anggaplah itu kado dari kita berdua untuk mereka berdua."


"Sayang, aku sih nggak masalah," kata Kai. "Masalahnya ada pada Tara. Apakah dia setuju atau nggak? Kamu tahu sendiri kan, dia sangat membenciku."


El menggenggam kedua tangannya dengan perasaan bersalah. "Maaf, hanya karena diriku, hubungan persahabatan kalian jadi berantakan begini."


Kai menggelengkan kepalanya. Tangannya terangkat membelai wajah El lalu mengulas senyum.


"Nggak apa-apa, Sayang. Jangan bersedih dan jangan menyalahkan dirimu," bisiknya "Percayalah akan ada waktu di mana hubungan kami akan kembali terjalin seperti dulu lagi."


Mendengar ucapan penuh harap dari Kai, El merasa terenyuh. Perlahan ia memeluknya dengan perasaan sedih dan iba.


"Sayang, sudah abaikan saja. Semuanya pasti akan baik-baik saja," bisik Kai lagi. "Tiket honeymoonnya nanti kamu berikan pada Dian saja," saran Kai.


"Baiklah," balasnya.


Sementara dari jarak yang tak terlalu jauh dari kai dan El, Dian terus memandangi keduanya.

__ADS_1


"Tara, kelihatanya Kai sangat menyayangi El ya?" ucapnya spontan. "Bahkan mereka terlihat serasi banget."


Sakit ...


Kecewa ...


Kehilangan ...


Ketiga kata itu kini cukup mewakili dirinya. Tara perlahan mengarahkan maniknya ke arah Kai dan El.


Seketika tangannya terkepal. Ingin rasanya ia menghajar Kai detik itu juga namun ia tidak mungkin melakukannya.


"Tara ..." Dian memegang tangannya. "Ayo kita pulang sekalian pamit pada mereka."


Meski pun enggan, Tara tetap mengangguk terpaksa karena ia tidak ingin Dian curiga.


"El, Kai ... kami duluan ya," kata Dian sesaat setelah ia mendekati Kai dan El.


"Baiklah. Oh ya, Dian, sebentar malam sekitar jam setengah sembilan temui aku di restoran cepat saji, tempat kita bertemu saat itu," pesan El.


"Ok." Dian langsung mengangguk kedua jempolnya.


"Tara ..." panggil El seraya mendekatinya. "Jangan pernah sakiti Dian. Sayangi dia, cintai dia dan bahagiakan dia karena Dian gadis yang baik dan juga lembut."


Tara hanya bergeming menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ingin rasanya ia memeluk gadis itu, namun apalah daya ia tak bisa melakukannya.


Sepeninggal Tara dan Dian ....


"Sayang," tegur Kai kemudian membawanya masuk ke dalam pelukannya lalu berbisik, "Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu. Aku terlalu egois dan saat ini aku sangat menyesalinya."


El hanya mengangguk pelan dalam dekapannya. Semakin erat memeluknya dengan mata terpejam merasakan hangatnya pelukan prianya.


"Sudah, sebaiknya kita juga pulang soalnya aku sudah berjanji pada Dian akan menemuinya malam ini," jelas El.


"Baiklah," balas Kai alu melerai dekapannya.


"Yuk," ajak El sembari menautkan jemarinya lalu mengayunkan langkah bersama.


Lagi ... dari kejauhan Tara hanya bisa memandangi keduanya. Membuat hatinya semakin bertambah sakit.


"What the hell!!! Aku nggak akan membiarkan kalian bahagia."


"Tara, ayo." Suara teguran dari sang istri seketika membuatnya terkejut.


"Hmm." Ia hanya berdehem.

__ADS_1


Dengan langkah gontai diselimuti perasaan kesal, mau tak mau ia hanya menurut sembari mengikuti langkah istrinya.


...----------------...


__ADS_2