All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
32. Weekend berdua ...


__ADS_3

Begitu pintu lift terbuka, Tara menautkan jari jemarinya dengan El.


"Cih ... apaan sih, Tara," decih El sekaligus protes.


Ia menolak, namun Tara semakin mengeratkan tautan jemarinya dan tidak memperdulikan wajah kesal El.


"Emang salah, jika aku seperti ini? Kamu ini ... gadis aneh," celetuknya lalu tertawa.


El hanya memutar bola matanya malas lalu menggembungkan pipinya.


"Mobil kamu mana sih?!Jauh banget parkirnya. Gimana kalau kita naik motor saja? Pasti lebih seru," ujar El lalu terkekeh.


"Nggak bisa, El," protesnya lalu berhenti di samping mobilnya.


"Ayo masuk," ajaknya lalu membukakan El pintu mobil.


"Baik lah and thanks, Tara." Tara hanya mengangguk.


.


.


.


Di sepanjang perjalanan, El tidak banyak bicara, ia hanya memainkan ponselnya dan sesekali tersenyum.


"Ada apa sih, El? Dari tadi kamu senyum-senyum terus?" tanya Tara sedikit penasaran.


"Mau tahu saja. Yang sudah punya pacar, dilarang kepo tahu. Ini urusan jomblo," jawabnya santai.


Karena merasa gemes, Tara langsung mengacak rambut panjangnya.


"Oh ya, Tara ... kenalin dong, pacar kamu ke aku, biar aku nggak di cap PELAKOR or selingkuhan kamu," cetusnya lalu tertawa lepas.


"Lain kali saja, El."


"Ok, Dude," pungkas El lalu mengangkat kedua jempolnya.


Setelah beberapa menit mengendara, mereka pun sampai di salah satu Dufan terbesar di kota itu.


"Waahh .... aku sangat menyukai tempat ini," desisnya. "Tara ... tempat ini pilihan yang tepat untuk menumpahkan semua uneg-uneg kita," jelasnya kegirangan. "Yuk ... kita bermain ke beberapa wahana ekstrim sekaligus menguji adrenalin," ajaknya. Ia sudah tidak sabar ingin mengeksplor wahana ekstrim di tempat itu.


Tara hanya tersenyum menatap wajah berbinar bahagia gadis itu.


"Ayo Dear, kita bermain sepuasnya di sini sampai kamu bosan," ajak Tara lalu merangkul gadis itu.


"Beneran, Tara? Apa kamu serius?" tanyanya dengan girang.


"Yes .... pokoknya hari ini hari kita berdua. Makanya ponselku sengaja aku matikan supaya tidak ada yang menggangu," akunya.


"Kalau begitu aku juga deh," cetusnya lalu meletakkan ponselnya ke dalam mobil.


Sesaat setelah berada di dalam wahana, El memegang tangan kekar Tara lalu mengajaknya ke wahana pertama.


Tara membelalakkan matanya ketika El mengajaknya mencoba wahana histeria.


"El, yang benar saja kamu. Apa kamu yakin?"


"Hmm ...." jawab El lalu duduk di kursi yang kosong.


Mau tidak mau Tara terpaksa menuruti keinginan Gadis itu.


Setelah alat pengaman terpasang dengan baik, semua pengunjung yang sedang duduk di kursi histeria itu sedang harap-harap cemas termasuk Tara, karena wahana itu akan segera meluncur ke atas.


"Nggak usah cemas begitu, Tara. Mukanya biasa saja, Bro," ledek El. "ini bakalan seru tahu," lanjutnya lalu terkekeh menatap ekspresinya yang terlihat cemas.


Tidak lama kemudian, wahana itu pun meluncur. Seperti namanya histeria, semua pengunjung yang duduk di wahana itu langsung berteriak histeris termasuk El dan Tara. Namun El tampak menikmati wahana itu dan terus tertawa puas menatap Tara yang terlihat shock. Setelah beberapa kali wahana itu naik turun, akhirnya wahana itu pun berhenti.


El terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Tara yang sedikit memerah menahan muntah.


"Ck ... ck ... ck .... percuma saja bertubuh atletis dan tampak macho, ternyata nggak menjamin," ledek El lalu kembali terbahak. "Baru mencoba satu wahana saja sudah mabok," ledeknya lagi.

__ADS_1


Tara hanya diam dan sedikit kesal mendengar ucapan El.


Eeeeellll ..... awas saja kamu nanti.


Tara memegang perutnya yang terasa seperti di kocok. Ia hanya mengikuti langkah El ke wahana ekstrim kedua iaitu kicir-kicir. Lagi-lagi ia hanya mengikuti keinginan gadis itu bahkan terus menahan rasa mual yang ia rasakan akibat ikut bermain. Tak sampai di situ saja, El kembali mengajaknya ke wahana tornado dan yang terakhir di halilintar.


Setelah puas bermain, El tak henti-hentinya terbahak melihat Tara yang sudah mulai lemas dan pusing. Bahkan hanya untuk berdiri saja ia serasa tidak sanggup.


Emang enak dikerjain? Giliran di wahana ini saja sudah lemas, coba kalau di ranjang , aku jamin cowok player sepertimu pasti nggak bakal loyo dan lemes seperti ini.


"Tara ... apa kamu baik-baik saja? Apa masih kuat untuk berdiri?" tanya El lalu mengusap matanya yang berair karena tak berhenti tertawa.


"Eeeeeel .... kamu pengen aku mati mendadak ya, kamu benar-benar sudah nggak waras," lirihnya . "Sebentar ... aku masih mual," lirihnya lagi lalu menyandarkan kepalanya di pundak El.


"Ok .... as you want," kata El lalu meneguk air mineralnya.


"Sini airnya, aku juga mau," pintanya lalu mengambil botol yang dipegang El kemudian meneguknya hingga tandas.


"Waaah .... haus ya? Kek seharian nggak minum saja kamu?" ledek El.


"Eeeeel .... hentikan!" ia merasa geram karena El terus saja meledeknya.


Setelah merasa dirinya dalam keadaan stabil. Ia pun mengajak El makan di salah satu restoran yang ada di wahana itu.


.


.


.


Di tempat yang berbeda....


Bel pintu apartemen Daniel, terus saja berbunyi sehingga sang empunya, merasa terusik dengan suara bel itu.


Dengan perasaan jengkel, ia bangkit dari tempat tidurnya sambil mengumpat.


"What the fu*ck!!!" umpatnya. "Siapa sih?!! Nggak tahu apa ini hari minggu!" geramnya.


"Tara nggak ada di sini, Clara," kata Daniel to the poin. "Mungkin dia ada di apartemennya," jelasnya lalu meninggalkan gadis itu.


"Aku sudah dari unitnya, tapi dia nggak ada, bahkan ponselnya pun nggak aktif."


Daniel menautkan kedua alisnya lalu mengangkat bahunya.


Jangan bilang dia ke apartemennya El.


"Aku juga nggak tahu, Ra. Sebaiknya kamu tanya Kai saja. Siapa tahu dia nginap di mansionnya," ketusnya.


Clara hanya diam lalu meninggalkan Daniel.


"Tara ke mana sih?! Sejak kemarin main hilang-hilang saja!!" geramnya lalu menghubungi Kai.


Clara semakin mendongkol karena Kai juga tidak menjawab panggilannya.


"What the fu*ck!!!!" umpatnya. "Nggak Tara ... nggak Kai ... ke mana mereka sebenarnya?!"


Sementara Kai, sejak pagi ia sudah berada di Resort miliknya. Ia hanya membiarkan ponselnya terus berdering dan enggan menjawabnya. Bahkan ia tampak santai menikmati weekendnya sendiri.


.


.


.


"Tara ... aku pengen ke Resort xxx. Sudah lama aku nggak menikmati sunset di sana."


"Are sure?" Tara bertanya.


"Hmm ... ."


"Baik lah ... ."

__ADS_1


El gimana sih, nggak takut apa ketemu Kai disana?


"Tara ... ayo. Kok malah bengong?" kata El.


"Hmm."


Sesaat setelah memastikan El memasang seat belt, Tara pun mulai mengendari mobilnya menuju Resort xxx.


Baru separuh perjalanan, gadis itu malah tertidur.


"Pasti dia kelelahan," desis Tara. "Aku nggak nyangka, gadis sepertimu bisa segila itu mencoba wahana ekstrim." Tara menggelengkan kepalanya.


Kurang lebih satu jam mengendarai, akhirnya mereka tiba juga di Resort xxx.


"El, bangun. Kita sudah sampai,'' bisik Tara seraya mengelus pipi gadis itu.


Perlahan-lahan El membuka matanya. "Sudah sampai ya? Maaf ... aku sudah merepotkanmu."


"Nggak apa-apa, El. Honestly ... aku jarang weekend seperti ini," akunya. "Justru aku happy karena kamu mengajakku weekend sekaligus refreshing," tuturnya. "Yuk ... kita ke meja resepsionis dulu," pintanya. "Kita ambil private room saja biar nyaman. Kita sekamar saja, ya? Lagian, kita nggak nginap kok," pungkasnya.


El hanya mengangguk sambil fokus membalas pesan dari Lois.


Setelah menerima akses card. Tara mengajaknya ke private room. Saat akan melangkah, keduanya malah berpapasan dengan Kai.


Kai tertegun menatap El yang tampil beda dengan dress yang dikenakannya. Namun saat menatap Tara ia tersenyum sinis.


Karena tidak ingin berurusan lagi dengan Kai, El langsung mendapat ide.


"Sayaaang ... aku duluan ya," ucapnya manja. " Sini akses cardnya dan jangan lama-lama. Aku menunggumu di kamar kita," ucapnya sesensual mungkin. Tak sampai di situ saja, El bahkan mencium bibirnya bahkan me*lu*ma*t hingga turun ke leher Tara.


Ssssttt .... damn!!! El what are you doing?


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Tara membalas pelukan dan ciuman El lalu melepasnya.


πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Kai hanya bisa menyaksikan live streaming Tara dan El. Darahnya seolah mendidih dan hatinya terasa panas.


Cemburu ...


Jengkel ...


Kesal ...


Semuanya menjadi satu. Ia langsung mengepalkan kedua tangannya.


"Iya, sayang. Aku nggak akan lama. Kamu duluan saja," usulnya seraya mengelus rambut panjang El.


"Sh*it!!! kenapa harus Tara."


El langsung meninggalkan Tara dan Kai yang masih saling tatap.


"Kai ... ada apa?" tanya Tara dengan seulas senyum.


Ia merasa puas setelah El bisa membungkamnya dengan perlakuan lembutnya padanya. Bahkan ia tidak menyangka jika El seberani itu di hadapan Kai.


"Tara ... kamu gimana sih?! Dari tadi, Clara terus menghubungiku menanyakan keberadaan mu," kesalnya. " Sedangkan kamu malah enak-enakkan dengan El," pungkasnya.


Tara hanya mengangkat bahunya dan terlihat santai.


"Lalu?"


"Apa kamu nggak takut ketahuan?" sindirnya dengan sinis.


"Dia nggak bakalan tahu kecuali kamu sendiri yang memberitahunya," sahutnya tak kalah sinis.


"Sudahkah Kai, El sedang menungguku. Apa kamu nggak mendengarnya tadi? JANGAN LAMA-LAMA. Itu artinya dia sangat merindukan ku," bisiknya lalu meninggalkan Kai yang tampak menahan emosi.


"Damn!!!" umpat Kai. "Urusan kita belum selesai El!" ucapnya frustasi membayangkan perlakuan lembut El pada Tara barusan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2