
Matahari terlihat semakin terik. Kai menggeliat sambil meraba-raba tempat tidur. Pikirnya El masih tertidur di sampingnya.
"Ssstt .... badanku lumayan pegal juga. El? Ke mana dia? Gadis itu ternyata cukup tangguh dan susah dilumpuhkan. Bahkan batang hidungku serasa mau patah, bibirku bengkak akibat gigitannya," desisnya sembari memegang hidung dan bibirnya.
Saat menyibak selimut, seketika perasaan bersalah langsung menyelubungi dirinya saat menatap noda darah di sprei kasurnya.
Lama ia memandangi seraya mengelus noda darah itu yang sudah tampak mengering sebelum akhirnya ia beranjak lalu masuk ke kamar mandi.
Di bawah shower, ia mengguyur tubuhnya sambil memejamkan matanya. Ia kembali terbayang wajah memelasnya dan suara lirihnya yang masih terngiang-ngiang di telinganya. Memohon berteriak dan mengumpatnya. Namun tak sedikitpun ia hiraukan.
Ia kembali mengingat ucapan penuh amarah gadis itu. Ia hanya bisa menerka-nerka, apa itu benar atau hanya akal-akalannya semata supaya ia bisa terlepas darinya semalam.
Cukup lama ia mengguyur tubuhnya di bawah shower. Bahkan wajah gadis dan tatto black rose yang terukir indah di punggungnya masih terbayang-bayang di matanya.
"Black rose? Sarat akan arti yang menggambarkan dan melambangkan kegagalan, kesetiaan sekaligus cinta mati."
Beberapa menit berlalu ...
Ia mencari keberadaan gadis itu di seluruh penjuru ruangan namun orang yang dicarinya sama sekali tidak ada di sana.
Akhirnya ia kembali ke kamarnya dan hendak mendaratkan bokongnya di sofa namun ekor matanya tak sengaja melihat selembar kertas di atas meja.
Keningnya langsung mengeru kemudian meraih surat itu lalu membacanya.
Dear Kai Intezar Abraham......
*Thanks, karena semua keinginan*mu sudah kamu wujudkan dan berhasil membuat diriku menjadi manusia yang nggak berharga. Aku merasa duniaku runtuh seketika.
Kamu telah merenggut segalanya dariku termasuk kesucianku yang kamu renggut paksa tanpa belas kasihan.
Kamu seolah menulikan telingamu nggak peduli dengan tangisanku, teriakkanku bahkan permohonanku pun nggak kamu indahkan.
Sekarang keinginanmu untuk membuatku menderita akan segera terwujud. Terima kasih, karena telah menorehkan luka dihatiku. Sakit namun nggak berdarah.
Tertawalah sepuas yang kamu ingin. Jika perlu silakan berpesta untuk merayakan keberhasilanmu menanam benihmu di dalam rahimku.
Please ... Lepaskan aku, bebaskan aku dan biarkan aku menjalani hidupku seperti saat aku belum mengenalmu danTara.
Honestly i'm woman who love freedom. Anggaplah semalam itu adalah pertemuan pertama sekaligus terakhir bagi kita berdua.
Jika suatu hari kita bertemu, anggaplah kita seperti orang asing yang nggak pernah mengenal.
Dan yang terakhir ... jangan pernah ada El yang lain selain diriku, cukup hanya aku.
__ADS_1
*Ellin Davina..Sad Girl*...
Kai membeku di tempat setelah membaca surat itu lalu tertunduk lesu merasakan penyesalan mendalam.
"El," lirihnya dengan suara bergetar.
.
.
.
Sedangkan di lain tempat, sedari tadi Tara terus menghubungi El, namun ponselnya tidak aktif. Ia pun kembali memantau alat pelacak lewat ponselnya.
"Motornya tetap diparkiran. Tapi kenapa ponselnya nggak aktif? El, jangan membuatku cemas begini," desisnya merasa cemas.
"Kenapa perasaanku mendadak nggak enak begini ya? Apa dia baik-baik saja? Ck ... sebaiknya aku ke apartementnya saja," cetusnya.
Tanpa pikir panjang ia segera menuju ke garasi mobil.
Begitu pintu gerbang rumahnya dibuka oleh Satpam, ia mulai melajukan kendaraannya itu menuju apartement.
Tak butuh waktu yang lama, ia pun tiba. Ia langsung mengambil langkah seribu menghampiri lift untuk membawanya naik ke unit gadis itu.
Yang ada di pikirannya adalah, ingin mengganggu tidur gadis itu dan ingin menjahilinya. Lagi-lagi ia tersenyum membayangkan wajah kesal El.
Ting ....
Pintu lift terbuka. Senyum pria tampan itu terus mengembang karena ingin segera menjahili wanitanya itu.
Setelah menekan akses code lalu membuka pintu ia langsung menaiki anak tangga satu persatu.
Sesaat setelah membuka pintu kamar, senyumnya langsung sirna karena gadis itu tidak terlihat di atas ranjang. Bahkan tempat itu tetap terlihat rapi dan bersih.
"El, my Dear?'' panggilnya sambil berjalan ke walk in closet.
"Ke mana dia?''
Hingga langkahnya terhenti di depan meja rias gadis itu dan mendapati selembar surat. Ia pun meraih surat itu lalu membacanya.
Dear Tara ...
Tara, jika kamu sedang membaca surat ini, itu artinya aku sudah tidak berada di kota ini. Aku hanya bisa mengucapkan kata MAAF.
__ADS_1
Sampaikan permintaan maafku pada kedua orang tuamu karena aku merasa nggak pantas menjadi bagian dari keluarga kalian. Aku merasa diriku kotor. Aku sudah berusaha kuat, tapi tetap saja aku nggak bisa.
Tara, kamu pria yang baik, tulus mencintaiku, menyayangiku apa adanya. sedikitpun kamu nggak pernah mengambil kesempatan atas diriku.
Enough ... selama ini aku sudah banyak menyusahkan dan merepotkanmu. Maaf ... aku meninggalkanmu tanpa pamit. Aku nggak sanggup menatap wajahmu. Aku merasa malu, jijik pada diriku sendiri dan merasa nggak pantas untukmu.
kesucianku direnggut paksa oleh Kai. Pria brengsek itu. Maaf ... aku memilih menjauh dan menghilang dari kota ini, meninggalkan semua kepahitan hidup yang aku alami di sini.Tara, aku hanya bisa mendoakanmu. Semoga kamu mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku.
Aku nggak tahu kapan lagi aku akan menginjakkan kakiku lagi di Kota ini. Jika suatu saat kita bertemu dan kamu telah memiliki pasangan hidup, aku hanya ingin memelukmu sejenak dan mengucapkan selamat.
Tara, terima kasih atas segala kebaikanmu, bantuanmu, perhatianmu, kasih sayangmu terlebih cinta yang tulus darimu. Jaga kesehatanmu, aku pamit.
*Ellin Davina, your naughty girl*.
Air matanya langsung lolos begitu saja. Seketika emosinya langsung meledak.
Tanpa pikir panjang ia langsung meninju kaca besar yang ada di hadapannya. Sejenak ia memejamkan matanya membayangkan senyum tulus gadis itu.
"My Dear," lirihnya.
"Kai ... bajingan kamu!!" makinya. "Ini semua salahku. El, andaikan saja aku nggak ke bar semalam, semua ini nggak akan terjadi pada dirimu. Maafkan aku."
"Kamu ke mana?!! Ke mana aku harus mencarimu? Kenapa kamu pergi begitu saja? Akh ... seandainya aku cepat ke sini tadi, aku nggak akan membiarkan dirimu pergi, tapi akan membawamu ke tempat yang kamu inginkan."
Ia menangis menyesali yang terjadi saat ini. Ia mengeluarkan ponselnya lalu segera menghubungi Daniel.
Hanya di deringan pertama, Daniel langsung menjawab panggilan darinya.
"Ya Tara, ada apa?"
"Daniel, segera lacak nomor siapa saja yang El hubungi hari ini dan buka kembali akses data dan semua informasi tentang El. Jika sudah selesai segera hubungi aku."
"Baiklah."
"Satu lagi, sebarkan informasi dan data perusahaan Kai. Aku ingin lihat seperti apa wajahnya besok. Hubungi semua wartawan dan awak media. Besok aku sudah siap mempublish diriku sebagai anak dari Pak Mulia dan Bu Arini sekaligus CEO Perusahaan B.A.M."
Tak pelak penuturan itu membuat Daniel langsung terhenyak dan tak percaya mendengarnya.
"A-apa kamu serius, Tara?"
" Ya. Lakukan saja seperti perintahku."
Setelah itu, Tara langsung menutup panggilan telfon. Tujuan selanjutnya adalah ke ruang control monitor CCTV apartemen itu.
__ADS_1
...----------------...