All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
101. Jangan sembunyikan apapun dariku ...


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, sesekali Kai melirik El yang sedang tertidur. Tangannya terulur menyentuh jemarinya lalu mengecup singkat.


"Ssstttt ...." Suara ringisan Kai lolos begitu saja hingga memaksanya menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan.


Sejenak ia menyandarkan punggungnya sembari mengusap perutnya yang terasa perih. Ekor matanya melirik El yang masih memejamkan mata.


"Jika El tahu, dia pasti akan sangat khawatir," ucapnya lirih seraya membelai wajah teduh gadis itu. "Apa karena tadi aku terlalu banyak mengonsumsi seafood, ya?" gumamnya lalu meraih botol air mineral yang ada di sampingnya.


Tak lama berselang El perlahan mengerjab membuka matanya. Kerutan tipis dikening langsung terbentuk.


"Sayang, kamu kenapa?" Perasaan khawatir seketika menyelubungi dirinya.


"Kamu sudah bangun?" Kai balik bertanya sesaat setelah meneguk air mineralnya. "Nggak apa-apa, Sayang, aku baik-baik saja."


"Tapi aku seperti mendengarmu meringis. Apa kamu sakit? Di bagian mana? Tunjukkan padaku," tanya El lalu meraba tubuh besar Kai.


Seketika otak mesum Kai memunculkan ide. Seringai tipis penuh arti terbit di sudut bibir pria blasteran itu. Ia memegang tangan El yang masih menempel di dadanya lalu membawanya turun ke arah senjata andalannya.


El langsung melotot kesal. Menghadiahkannya satu cubitan di perut dengan gemas.


"Awww, ssstttt ... Sayang!" keluhnya lalu mengusap bekas cubitan di perut kemudian terkekeh.


"Dasar Om mesum!" El memutar bola matanya dengan malas.


Mendengar ucapannya, Kai semakin menggodanya. "Sayang, bagaimana jika kita melakukannya di dalam mobil saja. Aku dengar dengar, jika melakukannya di dalam mobil, maka akan mempercepat kehamilan pada wanita."


"Cih! Itu hanya akal akalan mu saja. Mana ada orang melakukan hubungan intim di dalam mobil bisa mempercepat kehamilan. Itu karena efek rudalmu sudah karatan. Soalnya sudah nggak pernah di kasih oli."


Selesai melontarkan kalimat itu ia langsung terbahak sembari memegang perutnya.


Kai berdecak mendengar ucapan El barusan. Ditambah lagi ia sedang tertawa puas karena meledeknya.


Setelah puas menertawai Kai, El mengatur nafas lalu menggenggam jemarinya.


"Sayang, jika kamu sakit jangan sembunyikan apapun dariku."


Kai hanya bergeming menatap raut wajah El yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Aku nggak mungkin mengatakan yang sebenarnya padamu, sayang. Aku nggak mau kuliahmu terganggu."


"Aku baik-baik saja. Percayalah dan jangan khawatir begitu," ucapnya pelan.


Setelah itu, Kai kembali melajukan mobilnya ke tempat tujuan.


.


.


.


.

__ADS_1


Sesaat setelah berada di penthouse ...


Kai mengistirahatkan sejenak tubuhnya di sofa santai sambil selonjoran. Sedangkan El, ia langsung ke kamar mandi lalu membersihkan dirinya.


Beberapa menit kemudian. El menghampirinya yang terlihat masih memejamkan mata di sofa santai lalu duduk di sisinya.


Ia terus menatap wajah Kai yang terlihat lelah, lesu dan pucat. Tangannya pun terangkat lalu membelai wajahnya.


"Sayang, apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dariku?" ucapnya lirih.


Seketika cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku merasa kamu nggak baik-baik saja."


El membenamkan kepalanya di dada, memeluk erat tubuhnya, bersamaan buliran bening yang ikut mengalir dan jatuh tepat di dada Kai.


Merasa dadanya seperti ada yang menindih, Kai perlahan membuka matanya lalu sedikit menunduk.


Ia mengelus punggung El lalu bertanya, "Sayang, kenapa kamu menangis? Bersiaplah, sebentar lagi Alex akan menjemputmu. Aku sudah memesan tiket paket honeymoon selama seminggu untuk Dian dan Tara."


El hanya mengangguk lalu menyeka air matanya. Entah mengapa ia seolah tidak ingin beranjak dari dekapan Kai.


"Sudah, jangan menangis," bujuk Kai.


"Sayang, aku tahu apa yang sedang kamu khawatirkan. Lord, jujur saja aku nggak kuat menatap matanya saat menangis seperti ini. Hatiku ikut menangis."


Tak lama berselang, bel pintu berbunyi.


"Sayang, itu pasti Alex," bisik Kai.


Ia perlahan beranjak dari sisi kai kemudian menghampiri pintu lalu membukanya. "Alex, masuklah dulu. Aku ingin ke kamar sebentar."


Alex hanya mengangguk lalu menghampiri Kai yang sedang memberi isyarat padanya.


"Alex, jika El bertanya menyangkut tentang kesehatanku, please jangan katakan apapun padanya. Tetap rahasiakan ini padanya," pesan Kai sesaat setelah Alex duduk di sampingnya.


"Tapi Tuan ..."


"Jangan ... aku nggak mau dia mengkhawatirkan aku. Aku nggak mau kuliahnya terganggu," tegas Kai.


"Baik, Tuan."


Dari ambang pintu, El tampak mengerutkan kening memandangi keduanya yang


terlihat seperti berbisik bisik.


"Ada apa? Kok bisik bisik?" tanyanya sesaat setelah berada di belakang keduanya.


"Nggak ada apa-apa, Sayang," jawab Kai santai.


"Nona El, tiket paket honeymoon pesanan Tuan Kai, ada di dalam box kecil ini," timpal Alex seraya menunjuk box kecil yang ada di atas meja. "Apa Nona El ingin berangkat sekarang?"


"Iya, kamu duluan saja nanti aku menyusul," sahut El.

__ADS_1


"Baik, Nona El," balas Alex lalu meninggalkan ruangan itu.


Sepeninggal Alex, El memilih duduk duduk di pangkuan Kai. "Sayang, aku tinggal sebentar, ya. Sebaiknya sekarang kamu mandi. Tapi mandinya pake air hangat," pesannya lalu mendaratkan ciuman di pipi dan bibir Kai.


"Hmm, baiklah, bu dokter," ujarnya lalu menghirup dalam dalam aroma parfum wanitanya. Setelah merasa puas, barulah Kai melepasnya.


"Sayang, jika kamu ingin belanja sesuatu pakai kartuku saja," tawar Kai lalu menyodorkan black card-nya.


"Baiklah." El meraih black card itu lalu memasukkan ke dalam tasnya. Setelah itu ia pun meninggalkan Kai.


Sesaat setelah berada di dalam lift, El menatap box kecil yang dipegangnya lalu tersenyum.


"Tara, semoga pernikahan kalian akan langgeng. Semoga kamu mencintai Dian seperti kamu mencintaiku waktu itu."


Tak lama berselang pintu lift terbuka. Ia langsung melangkah cepat menghampiri Alex yang sejak tadi sudah menunggunya.


"Maaf ya, Lex, aku sedikit terlambat."


"Nggak apa-apa, Nona El."


Setelah memastikan El memasang seat belt, barulah Alex mulai mengendarai mobilnya.


Sepertinya dugaan Kai. Saat dalam perjalanan, El kemudian bertanya kepada Alex tentang apakah Kai memiliki riwayat penyakit atau tidak. Alex menjawab apa adanya walau ia terpaksa berbohong.


Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Alex dan El sampai juga di restoran tujuannya.


"Alex, nggak apa-apa kan, kamu menunggu sebentar?" tanya El.


"Iya, nggak apa-apa, Nona El."


El kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu restoran. Dari arah yang tak terlalu jauh, Dian tampak melambaikan tangan ke arahnya.


"Maaf, sudah membuatmu menunggu," sesalnya sesaat setelah mendaratkan bokongnya di kursi yang kosong.


"Nggak apa-apa, El," kata Dian. Apa kamu ingin memesan sesuatu?"


"Nggak, aku hanya ingin memberikanmu kado ini," balas El. Ia menyodorkan sebuah kotak kecil berisi tiket paket honeymoon untuknya dan Tara.


"Apa ini El," tanya Dian.


Setelah membuka kotak kecil itu, ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Menatap El seolah tak percaya.


"Ini beneran, El?" tanyanya seraya memegang dua tiket paket honeymoon ke Maldives.


"Menurutmu? Ya beneranlah. Nikmatilah honeymoon kalian berdua di sana. Jangan lupa kabari aku jika kalian sudah mendapat kabar bahagia," ujar El sembari membentuk lengkungan di perutnya lalu tersenyum.


Dian langsung memeluknya dengan perasaan terharu sekaligus bahagia. "Makasih ya El."


"Sama-sama Dian."


Keduanya tidak menyadari jika sejak tadi mereka terus diperhatikan oleh Tara yang berada tidak terlalu jauh dari mereka berdua.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2