
Sesaat setelah berada di dalam ruangan mewah itu. Kai langsung mengalihkan ponselnya dan El ke mode pesawat lalu meletakkannya begitu saja di atas meja.
"Come on Baby, we enjoy our time today," bisik Kai lalu menggendong El seperti anak koala menuju kamar kamar mereka.
"Apa kamu masih kuat menggendongku sampai ke atas," bisik El lalu mengecup bibir sensual suaminya kemudian terkekeh.
"Seberat apa sih tubuhmu ini, bagiku seperti menggendong anak kucing saja," balasnya dengan gemas.
"Aaakhh," pekik El saat Kai menghempas tubuh mereka di atas ranjang empuk itu.
Tawa keduanya langsung pecah. "Sayang ... i am so happy because you are really mine," ucap Kai lalu mengecup kening dan bibir istrinya.
"Me too," balas El lalu naik ke tubuh Kai, membenamkan kepalanya di dada bidang berotot itu, lalu memejamkan matanya sambil mengelus rahang tegasnya, hingga ia benar-benar merasakan kantuk.
Sama halnya dengan El, Kai juga terus mengelus punggung istrinya hingga keduanya benar-benar kembali ke alam mimpi meski saat ini masih pagi.
Beberapa hari kemarin, waktu mereka habis di perjalanan udara, tubuh dan pikiran mereka juga butuh istirahat. Seperti itu lah yang Kai dan El rasakan.
******
Jika El dan Kai kini hanyut dan terbawa ke alam mimpi, Dian, Tara dan sang mommy sedang menyusuri rumah baru mereka.
Saat langkah kaki Tara terhenti di taman belakang rumah, ia menatap lekat taman bunga itu dilengkapi dengan pot-pot bunga yang berjejer rapi beserta bunganya.
Sejenak ia memejamkan matanya menghirup udara sebanyak mungkin demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.
Ingatannya kembali berputar dua tahun yang lalu saat El masih mendekam di penjara. Gadis itu suka bercerita ia sudah bisa mendapatkan uang hasil dari menanam bunga.
Bahkan dengan bangga menunjukkan pot-pot bunga yang berisi bibit bunga unggulan yang ditanamnya bersama teman-teman napi lainnya.
Tak ingin berlama-lama berada di taman itu, ia kembali menghampiri Mommy dan istrinya.
"Mom, Dian, aku sekalian berangkat ke kantor," pamitnya lalu mengecup kening istrinya.
"Baik lah kamu hati-hati ya," kata Dian.
Tara hanya mengangguk lalu menuju ke arah mobilnya di parkir. Ketika duduk di kursi kemudi ia bersandar sejenak lalu mengeluarkan ponselnya dari saku jas-nya.
Ia menatap nomor kontak ponsel El lalu mencoba menghubungi nomornya. Namun lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan karena ponselnya tidak aktif.
"Tidak aktif? Apa dia mengganti nomor lagi? Sebenarnya di kota X, tinggalnya di mana?" tanyanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah itu, ia pun mulai melajukan kendaraannya ke arah kantornya
Di sepanjang perjalanan menuju kantor, benaknya terus dipenuhi dengan wanita yang pernah mengisi hatinya itu.
Akhirnya ia memutar arah dan memilih ke apartemen El. Matanya kembali berkaca-kaca mengingat gadis itu.
Perkenalan mereka begitu singkat, awalnya berteman dan menjalin hubungan tanpa status, dan berawal dari hubungan itu dunianya benar-benar terasa indah sebelum akhirnya Kai menghancurkan semuanya.
"Why El? Why?" lirihya, dadanya seperti di hantam batu.
Beberapa menit kemudian ia pun sampai di gedung itu lalu memarkir mobilnya dan segera menuju lift.
Sesaat setelah pintu lift terbuka ia pun menuju unit El lalu menekan password kemudian masuk ke ruangan itu dan langsung menuju kamar utama.
Ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang itu lalu menatap langit-langit kamar. Kamar yang dulunya selalu terdengar suara canda tawa gadis itu seolah-olah masih terngiang-ngiang di telinganya.
"Aku berharap, suatu hari nanti kamu akan mendatangi apartemen ini El. Aku tidak akan pernah mengganti passwordnya, masih sama yaitu tanggal lahir kamu," lirihnya bersamaan dengan setetes air matanya yang ikut jatuh.
Sementara Daniel yang sejak tadi menghubungi Tara, kembali dibuat kesal karena sang CEO tidak menjawab panggilannya.
"Tara ke mana sih?! Apa dia lupa hari ini dia ada meeting penting!" gerutu Daniel merasa jengkel. " Jika dia seperti ini, pasti lagi memikirkan El. Aku jadi curiga, pasti dia ke apartemen itu," tebak Daniel.
.
.
Kai dan El masih saja tampak tertidur dengan pulasnya di ranjang empuk mereka. Tanpa menyadari kamar itu sudah gelap.
Ketika Kai membuka matanya ia kembali memeluk El lalu berbisik, "Baby, come on wake up."
Perlahan El membuka matanya. "Sayang ... apa kita ada di dunia lain?" kelakarnya.
Kai berdecak merasa lucu mendengar kalimat istrinya. "Bukan dunia lain tapi dunia kita berdua," bisiknya dengan tangan yang mulai nakal menjalar ke mana-mana.
"Sayang, jangan mulai deh," bisik El lalu menahan tangan Kai di pahanya.
"Lalu kapan?" godanya lagi.
"Setelah kita benar-benar fit," kata El lalu mendudukkan dirinya.
"Hmm, baik lah Bu dokter."
__ADS_1
El hanya geleng-geleng kepala lalu beranjak dari tempat tidur menuju ke arah saklar lampu. Setelah lampu menyala ia menuruni tangga lalu menyalakan semua lampu di ruangan itu.
Tak lama berselang, Kai menyusulnya yang kini sedang berada di pantry sedang meneguk air.
"Sayang ... sebentar lagi ke mansion ya," cetus Kai lalu mendudukkan El di atas meja.
"Besok saja," pinta El lalu mengalungkan kedua tangannya ke punggung leher Kai. "Aku masih betah betah di sini," aku El.
"Baik lah jika itu ingin mu," bisik Kai lalu mengecup bibirnya.
"Sayang, please turunkan aku," pintanya.
"Baik lah," bisik Kai lalu kembali menurunkan istrinya.
"Tunggu sebentar, aku buatkan kamu teh dulu ya," tawar El dan Kai menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, ia pun meninggalkan El lalu menuju kamar dan langsung ke arah balkon kamar. Ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu kembali menghembusnya pelan.
Kai mengulas senyum sambil membayangkan jika ia sudah memiliki anak. Setiap pulang kantor ia akan disambut dengan anak dan istrinya.
"Sayang, rasanya aku sudah tidak sabar menanti hari itu, disambut dengan tawa khas balita dan senyum mu setiap aku pulang dari kantor," gumamnya.
"Aku ingin memiliki anak yang banyak. Jika bisa, setiap kamu hamil anak kita kembar," inginnya lalu tersenyum lucu.
El yang baru saja masuk ke kamar dengan membawa teh hangat, di buat heran dengan gelagat suaminya yang sedang senyum-senyum sendiri.
Ia pun menghampirinya lalu memeluknya dengan gemas.
"Mikirin apa sih? Kok senyum-senyum sendiri," tanya El.
"Mikirin kita memiliki anak yang banyak," aku-nya.
El langsung tertawa mendengar pengakuan suaminya.
"Aku akan berusaha, Sayang jika itu ingin mu," ucap El dengan tulus.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa berikan like, komen, vote and gift jika berkenan ya π€βΊοΈ Satu like, vote, coment sudah cukup membuat author semangat apalagi jika diberikan gift. Terima kasih βΊοΈπ₯°πππ