
Keesokkan harinya pukul 19.20 ...
"Mamy triplets, are you ready?" bisik Kai sambil memeluknya dari belakang dan menatap pantulan dirinya dan El di depan kaca.
"Ya," sahutnya lalu tersenyum seraya memegang kedua tangan suaminya yang sedang menangkup perutnya yang sudah terlihat membuncit.
El berbalik menghadapnya lalu menatap mata suaminya. "Jangan terlalu jauh dariku nanti," pintanya lalu mengecup bibirnya.
Kai terkekeh. "Kamu menodai bibirku sayang," desis Kai lalu mengusap bekas lipstik yang menempel di bibirnya.
"Sini aku bersihkan," tawarnya. "Tapi dengan bibir lagi," goda El.
"Sayang, jangan mulai," gemasnya.
El terkekeh. "Baiklah. Ya sudah, ayo aku kita tunggu Mike di bawah. Maaf, kita harus berjalan terpisah," ucapanya.
"Nggak apa-apa, Sayang," balasnya lalu mengecup keningnya.
Tin ... tin ... tin ...
Suara klakson mobil terdengar dari halaman parkir mansion. Kai semakin merangkul pinggang istrinya menuruni anak tangga hingga ke lantai satu.
Begitu sampai di bawah, bi Aira terlihat membuka pintu rumah. Tak lama berselang Mike menghampiri Kai dan El.
"Kai, El. You guys look so perfect," pujinya.
"Mike, aku titip El padamu sebentar. Kalian duluan saja. Aku akan menyusul kalian sebentar lagi," usulnya.
"Ok."
"Sayang, aku berangkat dulu ya," izin El lalu memeluk suaminya sejenak sebelum akhirnya ia menyusul Mike ke mobilnya.
"Iya, kalian hati-hati."
Sepeninggal El dan Mike, Kai kembali mengelus perutnya.
"Sssssssttttt ..." ia meringis panjang.
"Tuan ..." tegur bi Aira. "Apa Anda baik-baik saja?" tanyanya.
"Ah ... Bi," lirihnya lalu mengangguk.
Setelah itu ia segera menuju kamar dan mengambil obatnya di dalam laci meja nakas.
Setelah menelan obat pil dan meneguk air, Kai melepas jasnya dan berbaring sejenak. Menatap langit-langit kamar.
"Sayang ... bagaimana jika aku nggak berumur panjang?" desisnya sembari mengusap perutnya yang tiba-tiba saja begitu sakit dan perih. "Tapi demi kalian, aku akan bertahan dan berjuang untuk sembuh."
Kai memejamkan matanya dan membayangkan wajah istrinya dan ketiga bayi kembarnya dalam halusinasinya.
Tak terasa air matanya ikut jatuh, bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. "Daddy menyayangi kalian," lirihnya dan kembali membuka matanya.
.
__ADS_1
.
.
Ballroom Hotel ...
Suasana ballroom hotel sudah tampak banyak dihadiri oleh tamu undangan. El dan Mike tak henti-hentinya tertawa lucu ketika berada di dalam lift bahkan saat akan memasuki ballroom mewah itu.
"El, aku merasa seperti pebinor saja," bisik Mike lalu merangkul pinggangnya. "Triplets ... maafkan uncle ya, karena sudah lancang begini," ucapanya pelan.
"I'ts Ok, uncle Mike, demi mamy dan daddy," jawab El menirukan suara anak-anak.
Keduanya kembali tertawa lucu dan terus melangkah ke arah pelaminan.
"Dear, congratulation," ucap El lalu memeluk Vira dengan erat. "Aku ingin segera mendengar kabar bahagia darimu dan Daniel," lanjutnya.
"Thanks ya, El. Maaf, gara-gara aku kamu sampai rela menunda kepulanganmu ke kota X," sesalnya.
"Demi kamu, aku nggak masalah," bisik El lalu mengulas senyum. "Dear, ini untukmu semoga kamu suka ya."
"Apa ini El?" tanyanya sedikit penasaran.
"Hanya kalung biasa sebagai kenang-kenangan dariku untukmu. Unboxing di rumah saja nanti," kata El lalu terkekeh.
Setelah itu, ia mendekati Daniel lalu memeluknya.
"Congrats Dan, berbahagialah. Akhirnya kalian benar-benar berjodoh," ucap El lalu melepas pelukannya.
"El, ayo," ajak Mike lalu merangkul pinggangnya.
Keduanya ke salah satu meja dan ikut bergabung dengan para undangan lainnya. Tak lama berselang, Lois menepuk pundaknya.
"El, sudah lama?"tegurnya
El menoleh lalu tersenyum penuh arti menatapnya yang kini menggandeng Candra.
Bukannya langsung menjawab El membentuk jarinya seperti bingkai seolah akan memotret keduanya.
"Ck," decaknya lalu memisahkan kedua tangan temannya itu.
El langsung terkekeh pun dengan Mike. "Naahh, jika sudah begini, kalian bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius lagi," celetuk El.
Candra mengulas senyum mendengar ucapan El.
"Lois ... tunggu apalagi," timpal Mike menggodanya.
Lois terlihat malu-malu mendengar ucapan teman kerjanya itu.
Dari arah meja yang tak terlalu jauh dari mereka, Tara terus memperhatikan El yang terus tersenyum bersama teman-temannya.
Baru saja ia akan beranjak dan ingin bergabung, Kai terlihat sudah lebih dulu menyapa mereka dan terlihat mengedipkan matanya ke arah El.
Akhirnya ia terpaksa mengurungkan niatnya. Namun tetap saja membuatnya geram ketika melihat El dan Kai begitu dekat bahkan Mike merasa tidak terusik.
__ADS_1
Kembali ke meja El dan teman-temannya.
"Candra ... jika boleh aku sarankan, tinggallah beberapa hari lagi di kota ini. Setidaknya kamu dan Lois bisa saling mengenal lebih jauh," saran Kai.
Candra hanya manggut-manggut mendengar saran Kai.
Satu jam kemudian ...
Mereka masih betah mengobrol sebelum akhirnya El mengajak Lois menghampiri Dian yang terlihat sedang duduk bersama suaminya.
"Dian ..." sapa El lalu tersenyum menatap baby Bara.
"El, sejak tadi aku mencarimu," sahutnya dengan sembringah. "Lois, apa kalian barengan?" tanyanya.
"Nggak, aku sama Candra," akunya lalu duduk di kursi yang kosong.
"Sayang, kemarilah. Mamy triplets ingin menggendongmu sebentar," desisnya lalu meraih baby Bara dari gendongan sang mama.
Saking gemasnya El terus mencium bayi mungil itu.
"Tara, Dian, sebaiknya kalian pulangnya jangan terlalu larut. Kasian baby Bara, apalagi usianya masih satu bulan lebih," saran El.
"Baiklah, Bu dokter," kata Dian lalu terkekeh. "Oh ya El, kapan kamu kembali ke kota X? Apa Mike akan mengantarmu nanti?" tanyanya.
"Besok, penerbangan pagi," jawab El. "Mike hanya mengantarku sampai ke bandara saja. Lagian aku mengerti karena dia sibuk," jelasnya.
Dian hanya mengangguk sedangkan Tara hanya menjadi pendengar bahkan matanya tak bisa lepas dari El. Sementara Kai, sesekali ia melirik ke arah istrinya.
Sebelum berpamitan pada teman-temannya, Kai terlebih dulu mengirim pesan pada El.
✉️: Sayang aku ke private room dulu ya.
Setelah itu, ia beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ballroom dan menuju kamar khusus dirinya di hotel itu.
Setelah puas menggendong baby Bara, El kembali menyerahkan bayi tampan itu pada Dian.
"Sayang, kamu sama mama dulu ya," bisiknya.
"El, Dian, aku gabung dengan mereka saja ya," kata Lois.
Dian dan Lois hanya mengangguk. Selang beberapa menit kemudian, El juga berpamitan dengan dalih ingin ke toilet padahal kepalanya sudah mulai pusing berada di ballroom itu.
Setelah berpamitan, ia melangkah pelan dan menuju rooftop hotel. Sesampainya di rooftop, ia langsung merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara.
Angin yang bertiup pelan seketika menerpa sejujur tubuhnya.
"Oh God, dua tahun lagi, jika aku nggak berhalangan, aku akan selesai kuliah," lirihnya sambil memandang keindahan kota dari atas rooftop hotel itu.
Cukup lama El berada di tempat itu dan merasa betah bahkan seolah tidak ingin beranjak dari tempatnya.
Sehingga seseorang memakaikan jas-nya ke tubuhnya.
...----------------...
__ADS_1