
El kembali ke halte lalu menyandarkan punggungnya. Ia mengeluarkan rokoknya lalu menawari Kai yang terus menatapnya heran.
Tatap saja terus ... ingin rasanya aku mendaratkan bogem mentah ke wajahnya itu.
Setelah membakar rokoknya ia lalu menyesapnya dalam-dalam kemudian kembali menghembusnya dengan kasar. Ia menoleh ke arah Kai sembari mengangkat bahu dan kedua alisnya.
"Rokok, Bro?" El memberikan rokoknya.
Kai mengulas senyum sembari menggeleng.
"Thanks, tapi rokok kita beda merek," akunya.
"I'ts ok." El terlihat cuek sembari lanjut menyesap rokoknya. Ia merasa perutnya sudah benar-benar lapar. El akhirnya beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf, aku mau cari makan dulu di sekitar sini. Aku lapar banget, Mr. Bule," ucap El dengan nada ketus.
Kai hanya tersenyum mendengar gadis itu menyebutnya Mr. Bule.
"Ayo kita ke restoran saja. Aku yang akan mentraktir mu," tawar Kai. Namun dijawab dengan gelengan kepala oleh El.
"Sebaiknya, aku kerjain saja si bule bastard ini." El bergumam dalam hatinya lalu menyeringai.
"Aku mau makan di pinggir jalan saja. Lagian, gadis cupu sepertiku nggak cocok makan di restoran apalagi di temani dengan pria bule sepertimu. Apa kata dunia, Bro." El langsung meninggalkan Kai yang masih menatapnya.
Lagi-lagi Kai mengulas senyum dengan sikap tengil gadis itu. Ia pun ikut beranjak dari tempat duduknya kemudian mengikuti langkahnya yang sedang mencari warung pinggir jalan.
Langkah El terhenti di salah satu warung langganannya. Kai yang masih berada di luar warung merasa ragu. Antara ingin masuk dan tidak.
Bukan tanpa alasan, seumur hidup ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kakinya ke tempat seperti itu. Ada perasaan jijik saat melihat warung yang jauh dari kata layak itu apalagi terlihat kumuh menurutnya tentunya.
Ia menutup mulutnya lalu memegang perutnya karena langsung merasakan mual. Sedangkan El, ia hanya menyeringai menatapnys yang sudah terlihat ketar ketir.
"Woi ... Mr. Bule. Kemarilah, hari ini aku yang akan mentraktir mu. Maaf, aku hanya bisa mentraktir makan di tempat seperti ini. Anggaplah sebagai awal pertemanan kita," ucap El dengan seringai tipis penuh arti lalu menarik Kai masuk ke dalam warung.
Mau tidak mau, Kai terpaksa mengikuti El yang sudah menariknya masuk ke dalam warung sejuta umat itu.
Sontak saja kehadiran Kai di warung itu menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, parasnya yang tampan, bertubuh tinggi atletis serta pakaiannya yang serba branded tak luput dari perhatian pengunjung warung. Seringai tipis kembali terbit di bibir El.
Permainan akan segera dimulai, bule bastard.
Tidak lama kemudian, Mang pemilik warung mengantar dua mangkok mie ayam super pedas pesanan El.
__ADS_1
Setelah menyajikan mie ayam di depan keduanya, Mang pemilik warung pun mempersilahkan El dan Kai menyantapnya. Dengan susah payah, Kai menelan salivanya. Lagi-lagi ia langsung mual menatap makanan yang ada di hadapannya.
Sedangkan El, dengan santainya ia menyantap mie ayam super pedas itu. Kai menatapnya yang terlihat lahap menyantap makanannya.
"Ada apa? Ayo ... dimakan dong makanannya. Masa cuman dilihat doang?" kata El sembari menatap wajah Kai yang terlihat ragu dan jijik.
Emang enak, dikerjain.
Dengan keterpaksaan, akhirnya Kai ikut menyantap mie ayam yang ada di hadapannya. Matanya langsung membulat sempurna karena merasakan sensasi pedas luar biasa di saat. Lidah dan bibirnya seolah-olah terbakar.
"Arrgh ... It's so spicy!!!" protesnya. Kai langsung meraih tissue lalu mengusap bibirnya.
"Itu hanya perasaanmu saja kali. Buktinya aku biasa saja tuh!" ucap El dengan santai. Ia mengatupkan bibirnya menahan tawa. "Habisin dong. Kan sayang makanannya kalau nggak dihabiskan," sambung El.
Kai tampak berpikir. "But i'ts really spicy," gumamnya dalam hati. Ia kembali merasakan mual dan ingin memuntahkan makanan itu kembali karena merasa jijik sekaligus pedas luar biasa.
El tidak memperdulikan ekspresi Kai yang terlihat tidak nyaman. Ia terus menyantap mie ayamnya hingga tuntas. "Loh ... kenapa? Habisin dong," desak El.
Karena El terus mendesaknya, mau tidak mau Kai terpaksa menghabiskan mie ayam super pedas itu. El tersenyum puas setelah Kai menghabiskan mie ayamnya.
Wajah Kai terlihat memerah dan keringat memenuhi wajahnya sembari memegang perutnya yang terasa panas seperti terbakar. Entah sudah berapa gelas air yang diminumnya, namun sensasi panas dan terbakar di lidah dan perutnya tidak kunjung reda. Ia terus mengerang serta merintih.
Kai sudah tidak memperdulikan air yang diminumnya bersih atau tidak, yang jelas ia benar-benar merasakan perut dan lidahnya seperti terbakar.
El mengerutkan alisnya lalu menepuk punggungnya. "Ada apa, Mr. Bule?" tanya El.
"Perutku sakit dan terasa panas banget," akunya dengan lirih sembari terus mengelus perutnya.
Itu belum seberapa bastard. Jika perlu, aku ingin menaruh racun di makananmu itu.
Kai terus saja merintih dan sesekali mengerang kesakitan. El tidak tahu jika Kai tidak dibolehkan memakan makanan pedas. Karena merasa Kai tidak baik-baik saja. El meminta ponselnya.
"Kemarikan ponselmu," pintanya.
"Ada di kantong jas ku," ucapnya lirih. El merogoh kantong jasnya lalu mengambil ponselnya.
"Sebutkan, siapa yang sering kamu hubungi," tanyanya.
"Alex, asisten ku." Tanpa pikir panjang, El langsung menghubungi Alex.
Alex yang baru saja tiba di apartemennya, merogoh kantong celananya. Saat menatap layar ponselnya, ia langsung menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Ya, Tuan, ada apa?" tanyanya
"Segera jemput boss mu di jln xxxx, soalnya dia tidak baik-baik saja."
Setelah selesai bicara, El langsung memutuskan panggilan telfon.
Alex langsung mengerutkan keningnya sembari menghela nafas. Dengan terpaksa ia kembali menuju lift.
"Mr. Bule, ayo kita kembali ke halte," ajak El lalu kembali memasukkan ponsel Kai ke dalam saku jasnya.
Huh, nyusahin orang saja! Nyebelin banget!!!
Sambil memegang perutnya, Kai mengikuti langkah cepat El. "Culun!! Tungguin dong!"
Namun El tidak menggubris. Ia terus melangkah hingga Keduanya sampai di halte.
El kembali membakar rokoknya lalu menyesapnya. Ia menoleh ke arah Kai yang terus-menerus merintih.
Sepertinya dia tidak baik-baik saja. Apa dia punya penyakit? Dan apa peduliku dengan pria bastard ini?
Sambil menunggu, sesekali El melirik pria blasteran itu yang sedang tertunduk sambil terus mengusap perutnya. Nalurinya sebagai calon dokter seketika terpanggil untuk menenangkannya.
Ia mendekati Kai lalu sedikit menekan perutnya dan sesekali mengusap dengan lembut. Terus seperti itu sehingga suara rintihan Kai mereda.
"Apa sekarang sakitnya berkurang?" tanya El.
Kai hanya mengangguk. "Terima kasih."
"Sama-sama, minum air hangat lalu kompres perut dan ulu hatimu dengan air hangat juga nanti. Itu akan membantu meredakan sensasi panas di perut dan ulu hatimu," pesan El sambil menekan-nekan perutnya.
Kai hanya bergeming mendengar saran dari gadis itu. Alisnya mengerut lalu menahan tangan El yang masih berada di perutnya. El terkejut dan sontak menatap manik hazelnya.
Jika bukan karena rasa kemanusiaan, mana mau aku menyentuh tubuhnya yang sudah menjamahku malam itu.
Tin ... tin ... tin ...
Suara klakson mobil membuyarkan tatapan keduanya. "Sepertinya itu asisten mu." El lalu menarik tangannya dari perut Kai.
"Ikutlah, biar Alex mengantarmu sampai ke hotel," tawar Kai. "Anggaplah sebagai ungkapan rasa terima kasihku padamu."
El menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, aku pesan taksi saja. Kamu duluan saja."
__ADS_1
Lagi-lagi Kai merasa kecewa karena El menolak. Dengan berat hati ia meninggalkan gadis itu yang masih betah duduk di halte.
...----------------...