
"I heard everything," bisik Kai seraya menangkup wajah sendu istrinya lalu mengusap air matanya yang masih menetes membasahi pipinya.
Mendaratkan satu kecupan lama dikeningnya lalu turun ke bibir. Kembali mendekap erat tubuh yang masih bergetar lalu membenamkan dagunya di puncak kepala wanita yang begitu ia cintai itu.
Bahkan air matanya ikut menetes. "Menangislah, Sayang," lirihnya sembari mengelus punggungnya dengan sayang.
"Sayang ... terkadang kita butuh waktu untuk tertawa, maka tertawalah, kita juga butuh waktu untuk menangis maka menangislah, itu manusiawi. Tapi setelah merasa puas, kembalilah dan fokus lagi pada tujuan," bisik Kai.
Sedikitpun El tidak membalas, hanya air mata dan suara sesegukkannya yang terdengar. Eratnya pelukan sang suami membuat tangisnya perlahan mereda.
"Aku ingin tidur sejenak," lirihnya. "Perutku sedikit kram, kepalaku juga sakit."
Kai melonggarkan dekapannya lalu kembali mengelus pipinya dan menyatukan keningnya. Menatap dalam mata yang terlihat sembab dan masih saja berair.
"Aku mencintaimu Sayang. Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku dan mau menerimaku apa adanya walau awalnya menyakitkan," bisik Kai.
Sedetik kemudian ia tersenyum. "Aku rasa suamimu ini bukan hanya cukup kaya, tapi lebih dari itu, bahkan tujuh turunan hartaku nggak akan habis. Dan akan menurun pada anak dan cucu kita nantinya. Jika hutangmu harus aku bayar, aku rela mengorbankan satu perusahaan cabang sebagai pelunas hutangmu kepada Tara," ucap Kai dengan tulus.
"Sayang ..." lirih El lalu kembali memeluknya dengan erat.
❤️🌹Sungguh Cinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya, orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun tidak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika.❤️🌹
"Ayo masuk, di sini semakin dingin," ajaknya. "Akhhh ..."
Langkahnya terhenti dan wajahnya mulai memerah, karena sejak tadi ia menahan sakit dan perih di perutnya.
Mendengar rintihan suaminya, seketika El menjadi khawatir dan sedikit panik.
"Sayang ... kamu kenapa?" tanyanya.
"A--aku ..." Kai memejamkan matanya dan mengusap perutnya lalu melangkah pelan merangkul istrinya menghampiri ranjang.
"Sssssttttt ... Sayang ...." ringis Kai lagi. Menatap lekat wajah El lalu mengelusnya. Keringat mulai bermunculan sebesar biji jagung membasahi wajahnya.
"Sayang! Sepertinya kamu nggak baik-baik saja. Please ... jangan seperti ini. Come on talk something!" pekik El menjadi panik seketika ketika Kai mulai memejamkan matanya dan tangan yang menempel di pipinya juga ikut jatuh.
"Sayang!!! Open your eyes do not like this, please!!!" pekiknya lagi sambil menangis.
Tak ingin terjadi sesuatu pada suaminya, ia langsung menghubungi Mike. Kebetulan Mike belum pulang dan masih berada di ballroom bersama Lois, Candra, Vira dan Daniel.
Merasa ponselnya bergetar ia segera merogoh kantong celananya.
"El?!" lirihnya lalu sedikit menjauh lalu menjawab panggilan darinya.
"Dear ..."
"Mike please ... cepat kemari tepatnya private room khusus Kai," pintanya dengan suara bergetar.
__ADS_1
"What happened?"
"Kai, pingsan ... cepat kemari dan minta bantuan," ucapnya dengan panik.
"Ok ... ok El ... tenanglah Dear," sahut Mike dan ikut khawatir.
"Please ... cepetan Mike ... i'm scared," ucapnya sambil menangis.
Mendengar suara tangisan El, ia langsung memutuskan panggilan.
"Kai ... aku sudah menduga ini akan terjadi. Bagaimana aku menjelaskan ini pada El nanti," gumamnya lalu segera menghampiri Lois dan Candra supaya ikut dengannya.
"Mike ... ada apa? Kenapa wajahmu terlihat khawatir?" tanya Lois ketika Mike sudah berada di hadapannya dan Candra.
"Aku nggak bisa jelaskan sekarang. Ayo, kalian ikut denganku," perintahnya lalu segera berjalan keluar.
Lois dan Candra saling berpandangan merasa heran. Sedetik kemudian keduanya ikut menyusul.
Sementara di kamar, El hanya bisa menangis menatap wajah suaminya yang terlihat pucat dan terus memanggilnya.
"Sayang ... bangun jangan seperti ini. Sebenarnya kamu ini kenapa? Please open your eyes," pintanya dengan sesenggukan seraya mengusap keringat di wajahnya.
Tok ... tok ... tok ...
Mendengar suara ketukan pintu, El langsung beranjak dan menghampiri pintu lalu membukanya.
Walaupun benaknya masih banyak yang ingin ia tanyakan, namun melihat situasi saat ini dalam keadaan darurat, terpaksa ia urungkan niatnya bertanya dan memilih membantu Mike menggotong tubuh teman kecilnya itu.
Sedangkan Lois ia merangkul El dan menenangkan temannya itu sembari mengikuti langkah Mike dan Candra menuju lift.
.
.
.
Rumah sakit kota A.
Sejak dalam perjalanan menuju rumah sakit, El tak hentinya menangis memangku kepala suaminya sambil terus mengelus kepalanya.
Sehingga tiba di rumah sakit, ia semakin merasa khawatir karena suaminya langsung dibawa ke ruang ICU dan terpaksa menggunakan alat bantu pernafasan.
Tiga jam berlalu ...
Ia masih setia duduk di samping bed pasien sambil menggenggam tangan suaminya dan terus menatap wajahnya.
Sedangkan Lois, Mike dan Candra kini berada di ruang praktek Mike.
__ADS_1
Setelah menjelaskan semuanya pada Candra, akhirnya ia mengerti. Namun tetap saja membuatnya sedikit terkejut.
"Lois, Candra aku ke ICU dulu. Saolnya aku harus memastikan keadaan Kai dulu," tuturnya dan hanya di jawab dengan anggukan kepala keduanya.
Sesaat setelah masuk ke ruang ICU, Mike langsung melepas jas-nya lalu memakaikannya ke tubuh El.
Ia langsung mendongak. "Mike," lirihnya lalu beranjak dari duduknya dan memeluk pria itu sambil menangis.
"Dear ... please calm down. Pikirkan juga janin yang ada di dalam kandungamu. Jangan berlarut-larut sedih seperti ini," nasehatnya sambil mengelus punggungnya.
El menggeleng dalam dekapannya. "Justru mereka yang paling sedih jika terjadi sesuatu pada daddynya," bisiknya dengan tersengal-sengal.
Mike bungkam mendengar ungkapan El. Ia merasakan getir juga khawatir. Matanya terarah pada Kai yang saat ini masih belum sadarkan diri.
"El, kita harus bicara," lirih Mike lalu mengurai dekapannya kemudian menyeka air matanya. "Berjanjilah supaya kamu tetap tenang setelah aku menjelaskan semuanya padamu," pinta Mike.
El hanya mengangguk lalu melirik sekilas ke arah Kai.
Tak lama berselang, Lois dan Candra masuk ke ruangan itu.
"Dear ..." Lois langsung memeluknya dan merasa bersalah pada temannya itu karena ikut andil menyembunyikan penyakit suaminya.
"El ..." tenanglah semuanya pasti akan baik-baik saja," kata Candra seraya mengelus kepalanya.
Lagi-lagi El hanya mampu mengangguk.
"Terima kasih," ucapnya dengan suara tercekat.
"El ... ayo," ajak Mike.
El menatap Lois dan Candra. "Aku titip Kai sebentar," pesannya lalu ikut menyusul Mike.
Sesaat setelah berada di dalam ruang kerja Mike, sang dokter spesialis penyakit dalam sekaligus spesialis bedah itu, memintanya duduk di sofa lalu memberinya sebotol air mineral.
"Minumlah dulu," pintanya lalu ikut duduk di sampingnya. Setelah memastikan El dalam keadaan stabil, barulah ia menyerahkan sebuah amplop coklat berisi informasi seputar riwayat penyakit suaminya yang sejak awal ia tangani.
Perasaan El langsung tidak enak. Sebelumnya ia memang sudah curiga jika suaminya itu tidak baik-baik saja.
Ia melirik Mike sekilas lalu meraih amplop itu dengan mata berkaca-kaca bahkan tangannya bergetar.
Ia seolah tidak ingin membukanya karena tebakannya pasti benar. El memilih membuka suara.
"Sejak kapan?"
Dua kata itu sudah cukup mewakili rasa ingin tahunya karena ia sudah bisa menebak jika suaminya itu pasti menderita liver akut atau sirosis.
...----------------...
__ADS_1