
Saat mendengar suara khas berat yang sangat dikenalnya itu. Ia menyebut satu nama.
"Tara," lirihnya lalu cepat-cepat melepas dekapan pria itu dan mundur satu langkah ke belakang.
Bukannya pergi, Tara semakin mendekatinya lalu tersenyum penuh arti.
"Ayo, ikut aku sebentar." Tara langsung menggandeng paksa lengan El.
"Lepasin nggak ... kamu apa-apaan sih Tara?!!!" kesal El merasa getir dan sedikit meronta. "
"Nggak ..."
"Kamu ingin membawaku ke mana?" tanya El lagi dengan suara bergetar merasakan takut. "Apa kamu sudah gila huh!!! Kamu nggak malu apa, sedang membawa paksa istrinya orang? Apalagi sedang berbadan dua."
"I don't care," ucap Tara sambil mengetatkan rahangnya dan terus memaksanya mengikuti langkahnya.
"Lepasin Tara!!!" El berusaha melepas pegangan tangan Tara di lengannya dan mulai menangis merasakan takut. "Lepasin!! Mike sedang menunggu ku," ucapnya dengan suara bergetar apalagi saat Tara semakin menggiringnya ke arah mobilnya.
Di saat El mulai menangis dan merasa ketakutan, suara Kai menyapa gendang telinganya dan Tara.
Ingin rasanya ia langsung berlari memeluk suaminya saat itu juga namun di tahannya.
"Tara, El? Sedang apa kalian?" tanya Kai berbasa basi padahal ingin rasanya ia melayangkan bogem mentah ke wajah Tara.
Mendengar suara Kai menyapanya dan El, Tara melepas pegangan tangannya lalu menoleh ke arah Kai.
"Kai, kamu sendiri lagi ngapain di sini?" El berpura-pura balik bertanya.
"Bukan urusanmu, jika aku dan El sedang ngapain di sini," jawab Tara dengan ketus.
"Masalahnya Mike sedang menunggunya di mobil. Apa kamu nggak punya malu ingin membawa paksa istrinya orang? Apa yang ingin kamu lakukan padanya," tanya Kai dengan santai padahal darahnya sudah mendidih.
Tara tersenyum sinis lalu menatap El dan Kai bergantian. "Aku jadi curiga jika kalian ini selingkuh di belakangnya Mike," tuduh Tara tanpa tahu yang sebenarnya.
"Apa aku dan El terlihat seperti pasangan selingkuh?" Kai balik bertanya dengan senyum mengejek.
__ADS_1
"Kai, sudah biarkan saja. Sebagai orang yang waras sebaiknya kita mengalah. Terserah Tara ingin mengatakan apapun biarkan saja. Percuma meladeni orang sepertinya. Hatinya sudah dibutakan dengan dendam dan amarah," sindir El lalu berbalik dan mulai melangkahkan kakinya.
"Ya!! Aku dibutakan dengan dendam dan amarahku!! Semuanya berawal darimu!!" sentak Tara dengan suara satu oktaf lebih tinggi sekaligus menghentikan langkah kaki El. "Semuanya karena kamu yang memulainya!!! Dasar wanita munafik!!! Wanita murahan nggak tahu diri!! Setelah diriku, Kai, Mike then who next?!"
Lagi-lagi kristal bening jatuh dari kelopak mata El. Lagi dan lagi ucapan tak beretika itu lolos dari mulut Tara. Sebelum berbalik, El menarik nafasnya dalam-dalam demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.
Tatapan menghunus tajam menabrak manik hitam Tara dan perlahan El menghampirinya.
Sementara Kai, ia terpaksa menahan amarahnya yang sudah sampai di ubun-ubun kepalanya, mendengar ucapan kata penghinaan yang di tuduhkan pada istrinya.
"Can you repeat those two sentences?" pinta El tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan menghunus tajamnya pada Tara.
Melihat tatapan tak biasa dari El, seketika nyalinya menciut, ia merasa kembali melihat sisi lain dari El.
"Why? Why you silent? Are you scared? Do you have proof? Show me the proof if you have it?" desak El dengan suara datar namun menuntut.
Tara bergeming dan seketika itu juga ia tertunduk karena tidak kuat menatap tatapan mata El yang terlihat berbeda.
"Good job, sayang," gumam Kai dalam hatinya lalu menyunggingkan senyum tipis.
"Listen to me well, Mr. Bima Argantara Mulia. Do you want to know? Honestly ... sejak awal kamu memperkenalkan aku kepada orang tuamu, aku ragu masuk dan menjadi bagian dari keluarga mu. Aku takut momy mu juga akan menghinaku seperti yang kamu lakukan padaku, apalagi jika dia tahu aku sudah ternoda oleh pria lain. Bahkan aku takut kamu bakal mengungkit semua bantuanmu padaku termasuk jika aku menjadi istrimu. Bukankah itu sangat menyakitkan?" tegas El dengan suara dingin.
Tara tak bergeming sedikitpun mendengar semua kata-kata menohok yang terlontar dari mulut El barusan. Ingin membalas pun, ia tidak memiliki kata-kata balasan.
"Apa kamu mendengar semua ucapannya?" sindir Kai seraya menepuk bahu Tara. "Renungkan dan pikirkan," lanjut Kai dan ikut berlalu meninggalkan Tara yang masih terpaku di tempat.
Sepeninggal El dan Kai, Tara hanya bisa menelaah semua ungkapan isi hati El yang baru ia dengar.
Meninggalkan Tara yang masih merenung, Kai merasa begitu khawatir mencari keberadaan istrinya.
Karena belum menemukan sosok yang dicarinya, Kai memutuskan untuk menghubunginya. Hanya di deringan pertama El langsung menjawab panggilan dari suaminya sambil terisak.
"Sayang ... kamu ada di mana?" desis Kai dengan wajah khawatir sambil sesekali menoleh kiri kanan mencarinya.
El tak menjawab melainkan hanya menangis dan semakin membuat Kai khawatir.
__ADS_1
"Apa kamu sedang di parkiran?" tanya Kai.
"Hmmm ..." hanya itu jawaban dari El.
Tanpa pikir panjang ia berlari kecil menghampiri kendaraannya. Hatinya menatap iba ketika melihat El duduk berjongkok di antara mobil sambil menangis memeluk lututnya.
"Sayang ... jangan seperti ini, kasian triplets," bisiknya lalu memintanya berdiri kemudian membuka pintu mobil.
Setelah keduanya sama-sama berada di dalam mobil, Kai langsung memeluknya sambil mengelus kepalanya.
"Kenapa kamu nggak menghindar darinya tadi sayang. Rasanya aku ingin menghajarnya detik itu juga," geram Kai lalu membenamkan dagunya di puncak kepala El.
"Aku nggak sempat," lirihnya dengan sesenggukan.
"I'ts Ok. Tenanglah," bisik Kai sambil mengelus punggungnya dengan sayang.
Setelah tangisan El mereda, Kai mengurai dekapannya lalu mengelus perutnya. "Sebaiknya kita pulang sekarang," kata Kai lalu menghidupkan mesin mobil kemudian mulai meninggalkan parkiran.
Di sepanjang perjalan Kai terus menggenggam jemarinya dan sesekali melirik El. Tatapan matanya terlihat kosong sambil bersandar.
"Sayang ... sudah. Jangan dipikirkan lagi ucapan Tara tadi. Maaf ... ini semua salahku," lirih Kai.
El langsung menoleh sambil menggelengkan kepalanya. "Semuanya sudah berlalu, apa yang telah terjadi nggak mungkin akan kembali seperti sediakala. Yang harus kita lakukan adalah saling berbenah. Tapi tidak bagi Tara. Dendamnya sudah membutakan hatinya," lirih El.
"Aku sudah berusaha menjalin hubungan baik dengannya, tapi sedikit pun ia tidak mau menerima etikad baikku," jelas Kai.
El hanya bergeming dan merasa bersalah pada suaminya.
"Sayang ... maafkan aku ... semua yang terjadi tidak sepenuhnya salahmu melainkan aku juga terlibat dalam masalah ini. Tapi biarkanlah berjalan apa adanya. Yang jelas aku sangat mencintaimu."
El membatin dan semakin mengeratkan genggaman tangannya dengan Kai.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπ