All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
31. Siapa kamu sebenarnya ...?


__ADS_3

Setelah menggeser pintu kaca yang menghubungkan kamar dan balkon. El menghampiri ranjang dan ingin merebahkan tubuhnya namun ia urungkan.


El tampak kesal menatap Tara yang terlihat dengan santainya berbaring dan tidur di ranjang.


El hanya menghela nafasnya lalu memindahkan laptop dan ponselnya ke meja sofa. Setelah itu ia menyelimuti tubuh Tara.


"Terima kasih atas segala kebaikanmu kepadaku. Aku berharap semoga Tuhan mempertemukanmu dengan wanita baik-baik sebaik dan seperhatian dirimu," bisik El lalu mengelus rahang tegas Tara.


Setelah itu, El memilih ke kamar bawah lalu mengunci pintu kamar. Walaupun dia tahu Tara pria yang baik, namun tetap saja El merasa was-was dan menjaga dirinya.


"Ternyata kamar ini bagus juga. Cukup nyaman dan nggak kalah empuk seperti ranjang di kamar atas."


Ia pun merebahkan tubuhnya dan memeluk bantal guling. Tak lama berselang, rasa kantuk mulai menyerangnya. Beberapa menit kemudian ia pun masuk ke alam mimpi.


Sementara itu, Tara yang ada di kamar utama, kembali membuka matanya.


"El ... apa salahnya jika kamu tidur di sampingku, aku hanya ingin memelukmu saja. Aku nggak mungkin berbuat lebih," gumamnya.


Tara bangkit dari tempat tidur itu, lalu menghampiri meja sofa kemudian membuka laptop dan memilih membuat galeri foto gadis itu.


"Ternyata, kamu memang menyukai kebebasan. Pergaulanmu cukup luas. Terlihat sekali dengan bergabungnya dirimu di beberapa komunitas ini," gumamnya lalu tersenyum.


Tara kembali meraih ponsel El dan mencoba menghubungi nomornya.


"Ternyata dia sudah mengganti kartunya. Padahal aku sudah meminta Daniel membelikannya ponsel dan kartu baru."


Puas mengutak atik laptop dan ponsel El. Tara menyusul ke kamar bawah. Ia terlihat kecewa mendapati pintu kamar El terkunci.


Ia pun mengambil kunci serep yang ada di mangkok aksesoris lalu membuka pintu kamar.


"Jangan takut, El, aku hanya ingin memelukmu saja," bisiknya lalu menyingkirkan bantal guling yang dipeluknya menggantikan dirinya.


Ia membawa El masuk ke dalam pelukannya lalu mengecup puncak kepalanya sambil terus mengelus rambut panjangnya sebelum akhirnya ia ikut tertidur.


.


.


.


Pagi harinya ....


El menggeliat kemudian perlahan ia bangkit dari tempat tidurnya lalu merenggangkan otot-otot badannya.


"Eeugghh .... ternyata sudah pagi," lirihnya lalu melanjutkan langkahnya ke arah kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, ketika akan naik ke kamar utama, langkahnya terhenti saat melihat Tara sudah tampak segar bahkan rambutnya masih basah sedang meracik dua gelas kopi.

__ADS_1


Seulas senyum terbit di wajah cantiknya. El pun menghampiri Tara.


"El ... kamu udah bangun?" tanya Tara lalu membalas senyumnya.


El hanya mengangguk lalu duduk di kursi meja makan.


"Coffee, El? tawarnya lalu memberikan kopi buatanya pada El.


"Thanks Tara. Kamu nggak ngantor hari ini?"


"Ini hari Minggu, El," sahutnya lalu menyeruput kopinya yang masih hangat.


El hanya tertawa. Saking lamanya ia berada di dalam penjara bahkan hari pun ia lupa.


"Aku bahkan lupa hari," tuturnya sambil memegang gelas kopinya.


Hening sejenak...


"El."


"Hmm."


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Tara sambil menatapnya yang sedang duduk di depannya.


El hanya mengangkat bahunya lalu meneguk kopinya.


"Wah, kopi buatanmu enak juga. Sepertinya, kamu sudah bisa menjadi partner kerjaku," katanya lalu mengedipkan matanya.


"Tara, aku tinggal sebentar ya. Aku mandi dulu," pamitnya lalu beranjak dari tempat duduknya.


Tara hanya mengangguk lalu tersenyum.


Sesampainya di kamar, ia langsung ke walk in closet dan memeriksa semua pakaian yang ada di ruangan itu.


"Sudah kuduga.Tapi kenapa pakaian Tara ada di sini? Bahkan pakaiannya ini, semuanya branded dan mahal. Setahuku dia hanya asisten pria bastard itu," desisnya sambil memundurkan langkahnya.


Bukkkk ...


Punggungnya menubruk seseorang. El langsung berbalik.


"Tara," sebutnya lalu menangkup rahangnya.


"Tara, siapa kamu sebenarnya? Kenapa aku merasa jika kamu menyembunyikan sesuatu? Bisakah kamu jelaskan padaku?" El terus menatapnya


Tampak ada kekhawatiran dan rasa was-was dalam diri El.


Tara hanya diam dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari El. Dia takut mengatakan yang sebenarnya pada El.

__ADS_1


Tara membalas tatapan mata El lalu memegang kedua tangannya lalu mengecup telapak tangannya.


"El sebaiknya kamu segera mandi. Biar otakmu nggak berpikir yang macam-macam. Ini efek kamu terlalu lama mendekam di penjara hingga cepat curigaan," kata Tara lalu terkekeh sekaligus mengalihkan pembicaraan.


El memukul dadanya lalu keluar dari ruangan itu menuju kamar mandi.


Sesaat setelah berada di bawah shower lalu menyalakan benda itu, tubuhnya langsung diguyur air dingin.


"Tara ada benanya, mungkin karena aku terlalu lama mendekam di penjara, makanya aku gampang curigaan," pikirnya lalu mengenakan kimono kemudian keluar dari kamar mandi.


El kembali ke walk in closet. Setelah memilih pakaian akhirnya ia memilih memakai dress model Korea selutut.


Tiba-tiba saja terbersit di benaknya untuk mengajak Tara jalan-jalan. El kembali ke tempat pakaian milik Tara lalu memilih pakaian casual untuknya.


Saat akan keluar dari walk in closet, El langsung tersenyum lalu memberikan pakaian yang sudah dipilihnya kepada Tara.


"Tara ... ini kan hari minggu. Apa kamu nggak ingin mengajak gadis secantik diriku weekend?" cetusnya sedikit narsis lalu terkekeh.


Melihat El mengenakan dress dan tampak sedikit berbeda, Tara tertegun menatapnya karena terlihat sangat anggun dengan dress model Korea selutut yang dikenakannya.


"Pria mana yang bisa menolak pesona gadis seperti dirimu El. Tentu saja aku mau, Dear," sahutnya dengan seulas senyum.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Tara menghampiri El yang sedang memainkan ponselnya.


"El ... aku sudah siap, Dear, ayo," ajaknya.


Senyum El langsung mengembang begitu saja ketika menatap Tara dengan pakaian casualnya. Ia terlihat berbeda dari biasanya ketika mengenakan pakaian formal.


"Hmm ... kamu tampak sangat berbeda dengan pakaian casual ini," puji El.


Tara langsung tersenyum menatapnya.


"Sebelumnya kita foto dulu yuk," cetus El. "Kamu yang ambil fotonya," pinta El lalu memberikan ponselnya pada Tara.


El memeluk Tara sambil tersenyum manis menatap kamera ponsel. Setelah memotret beberapa kali. Tara mengembalikan ponsenya.


"Sudah ... ayo. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ajak Tara lalu mengecup pipi El.


Ketika keduanya berada di dalam lift, El bertanya,


"Tara ... apa kamu punya pacar? Jika iya, aku seperti gadis yang nggak tahu diri saja bahkan terkesan seperti selingkuhanmu," celetuknya lalu


terkekeh.


"Punya El, tapi nggak usah khawatir. Dia nggak bakalan tahu," kata Tara.


"Ih ... kamu jahat banget sih, Tara! Nggak baik lho nyakitin perasaanya," peringat El.

__ADS_1


Tara hanya terkekeh mendengar ucapan El.


...----------------...


__ADS_2