
Samar-samar silau cahaya matahari pagi menerpa wajah El dari balik kaca besar kamar mewah itu. Ia pun perlahan membuka mata lalu menggeliat.
"Selamat pagi kota A ..." Ia merenggangkan otot-otot badannya yang terasa pegal. Setelah itu ia ke kamar mandi lalu mencuci muka sekaligus berkumur-kumur.
El menatap dirinya di depan kaca besar kamar mandi lalu mengulas senyum. "El, mulai hari ini dan seterusnya hidupmu kembali normal tanpa harus menjadi orang lain."
Setelah itu ia ke kamar Kai lalu menghampirinya yang masih terlelap. El mengerutkan kening saat menatap wajah Kai yang terlihat sedikit pucat.
"Selamat pagi Sayang," bisik El di telinga Kai lalu mengecup pipinya. "Sayang." El mengelus rambut dan rahangnya. "Come on wake up."
"Hmm ..." Perlahan Kai membuka matanya.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya El dan Kai hanya mengangguk.
"Apa kamu sudah nggak merasa gelisah?"
"Nggak Sayang apalagi sudah ada kamu yang menemani," jawabnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Syukurlah," kata El dengan seulas senyum. "Bangunlah dan segera mandi. Aku akan membuatkanmu sarapan. "Ini kan hari Senin, kamu pasti akan sangat sibuk."
"Ya ... thanks ya, Sayang," ucap Kai lalu memeluknya sejenak.
Beberapa menit kemudian ...
Dari ambang pintu kamar Kai terus memperhatikan El yang begitu cekatan membuat sarapan.
Senyumnya terus terukir di wajah saat matanya tertuju ke arah cangkir yang sudah tersedia di atas meja.
Ia pun melangkah pelan menghampiri El lalu memeluknya dari belakang. Sontak saja ulahnya itu membuat El terlonjak kaget.
El langsung berbalik dan dengan gerakan cepat pula, Kai mengangkatnya kemudian mendudukkannya di meja pantry.
"Sayang, kamu apa-apaan sih?" bisik El seraya mengalungkan kedua tangannya ke punggung leher Kai.
"Nggak ada ... aku hanya merasa bahagia. Teruslah memanggilku dengan sebutan Sayang. Aku menyukainya," bisik Kai lalu mendaratkan kecupan di bibir El.
El menangkup wajah Kai yang terlihat pucat lalu menatapnya lekat. "Tentu saja aku akan terus memanggilmu Sayang. Soalnya sekarang kita nggak perlu sembunyi sembunyi lagi."
Hening sejenak ...
"Apa kamu sedang sakit? Wajahmu terlihat pucat," tanya El.
"Nggak, aku baik-baik saja," jawab Kai lalu kembali mengecup bibir El. "Jika pun aku sakit, ada kamu sang calon dokter yang akan menyembuhkan dan merawatku," pungkasnya.
"Sayang, aku nggak mungkin mengatakan jika aku sedang sakit. Aku nggak mau kamu khawatir."
"Sayang, jangan sembunyikan apapun dariku. Jika kamu sakit katakan yang sejujurnya. Sudah beberapa kali aku memergokimu meringis sambil mengusap perutmu."
"Sebagai calon dokter dan pernah menangani pasien secara langsung, aku tahu benar seorang peminum aktif pasti akan menderita sirosis atau liver akut."
__ADS_1
El mendekap Kai lalu menangis. Entah mengapa ia merasa takut. Dalam beberapa kasus sirosis atau liver akut ia tahu benar penyakit itu bisa menyebabkan kematian.
"Sayang, percayalah aku baik-baik saja. Sudah, jangan menangis," bisik Kai lalu melonggarkan dekapannya.
Ia menghapus air mata El lalu mengecupnya. Setelah itu Kai kembali menurunkannya dari meja pantry.
"Sarapanlah, aku akan menyiapkan baju kantormu dulu," pintanya lalu meninggalkan Kai.
.
.
.
.
Sementara itu, Dian yang sudah tampak segar dan rapi hanya menggelengkan kepalanya menatap punggung suaminya. Bau minuman masih menyeruak dari tubuhnya.
"Apa semalam dia minum ya?" gumam Dian. Ia pun menghampiri Tara lalu menepuk punggungnya beberapa kali. "Tara?!"
"Bentar, lima menit lagi El," ucapnya tanpa sadar masih dengan mata terpejam.
Dian menautkan alisnya. "El?" Hatinya langsung mencelos. Ia kembali menepuk punggung suaminya. "Tara, bangun!!"
"Ya El, sebentar lagi sayang." Lagi-lagi Dian merasakan hatinya seperti ditusuk oleh ribuan jarum.
Tara langsung terkesiap lalu berbalik. "Apa aku salah ucap?" tanyanya.
"Ya ... kamu menyebut nama El dan memanggilnya sayang!" kesal Dian.
Tara terdiam dan langsung meninggalkan Dian. Ia memilih masuk ke kamar mandi sambil merutuki dirinya sendiri.
Sepeninggal Tara, Dian tampak termenung. "Apa El yang Tara maksud El culun atau El yang lain?"
Selang beberapa menit kemudian, setelah Tara selesai mandi dan mengganti pakaiannya, ia pun mengajak istrinya bergabung dengan keluarganya untuk sarapan.
Tak ada pembicaraan yang tercetus dari pasangan pengantin baru itu, melainkan rasa canggung.
Setelah berada di restoran hotel, keduanya disambut bahagia baik orang tua Dian maupun orang tua Tara.
Mereka pun mulai sarapan bersama sebelum akhirnya bu Arini menanyakan ke mana pasangan pengantin baru itu akan honeymoon.
"Tara, ke mana kamu akan mengajak Dian honeymoon?"
Mendapat pertanyaan dari momynya, Tara langsung tersedak makanannya.
"Uhuk ... uhuk ..." Dian langsung menyodorkan air kepada suaminya itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dian sembari mengelus punggung suaminya. Tara hanya mengangguk.
__ADS_1
Bu Arini dan pak Mulia menggelengkan kepala menatap Putra semata wayangnya itu.
"Aku terserah Dian saja mau honeymoon di mana. Aku ikut saja," ucapnya lalu menoleh ke arah Dian.
"Mah, Pah, untuk saat ini kami belum kepikiran honeymoon," kata Dian.
"Ya sudah, nggak apa-apa. Jika kalian sudah memutuskan mau honeymoon di mana, tiketnya biar momy yang bayar," pungkas bu Arini.
Baik Dian mau pun Tara Keduanya sama-sama mengangguk.
.
.
.
.
"Sayang, merunduk sedikit," pinta El karena akan memasangkan dasi.
Kai terus menatapnya dengan senyuman. Perasaan bahagia kini menyelimutinya karena El benar-benar sudah menerima dirinya. Tanpa tatapan jijik, benci dan tidak suka.
Yang ia rasakan saat ini adalah El sangat memperhatikannya, bersikap lembut dan bersikap manja.
Jauh beda saat gadis itu sangat membencinya. Bicaranya kasar, dingin, ketus bahkan tak segan memaki serta mengumpatnya.
Setelah selesai memasangkan dasi dan jas di tubuh tegap Kai, El langsung memeluknya dari belakang. Mencium punggungnya lalu tersenyum menatap pantulan dirinya dan Kai di depan kaca.
Lagi-lagi Kai sangat tersentuh sekaligus terharu dengan perlakuan lembut El. Perlahan ia berbalik menghadap El.
"Terima kasih, Sayang," bisiknya.
"Sama-sama. Kamu terlihat semakin berwibawa dan tampan dengan setelan berwarna navy ini," puji El.
"Sayang ... sebentar siang aku akan meminta Alex menjemputmu," ucap Kai sesaat setelah keduanya berada di depan pintu.
"Baiklah," jawab El singkat lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Kai.
"Aku berangkat ya," pamit Kai lalu mengecup kening dan bibir El.
"Iya ... hati-hati," balas El dengan seulas senyum.
Sepeninggal Kai, El kembali ke kamar lalu mendaratkan bokongnya di ranjang empuk itu.
"Aku akan berangkat ke Kota X besok. Aku harus mengurus kartu ATM-ku secepatnya," ucap El dengan lirih.
"Aku nggak mau menyusahkan Kai, sekali pun dia calon suamiku dan mampu mengatasi semua pengurusan, KTP, SIM, dan kartu ATM-ku. Biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri."
...----------------...
__ADS_1