
Kai terus menatap wajah El. Tangannya terangkat mengelus wajahnya hingga ke tengkuknya.
"Aku sangat merindukan tatapan matamu ini El, senyum tulus dan sentuhan lembut mu ini."
Perlahan-lahan ia mendaratkan kecupan di leher El dan sedikit menyesapnya.
"Kai ... " bisik El menahan dada liat pria tampan itu sembari menatap manik hazelnya. "Ayo kita tidur. Apa kamu nggak ingin menjadi bed partnerku malam ini? Hanya tidur dan memelukmu saja, my Bastard," bisiknya lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher pria rupawan itu kemudian mengecup bibirnya singkat.
"Oh God, aku sudah seperti wanita murahan saja. Pokoknya aku harus keluar dari apartemen ini malam ini juga setelah Kai tertidur."
Senyum Kai langsung terukir di bibirnya mendengar ucapan bernada menggoda gadis itu.
Ia langsung menggendongnya seperti anak koala lalu membawanya ke ranjang berukuran king size tersebut.
Sebenarnya El merasa takut dan getir jika ia dan Kai sampai kebablasan, walaupun sebelumnya tubuhnya pernah di jamah oleh pria itu. Apalagi tiba-tiba saja dadanya berdebar sangat kencang saat menatap dalam-dalam manik indah berwarna hazel Kai. Alis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir sensual.
"Oh God, gadis mana yang tidak tergoda dengan pria bastard ini. Wajah rupawan nyaris sempurna."
Ia masih terus menatap wajah pria yang tadinya begitu ia benci namun sedikit melunakkan hatinya. "Kenapa dadaku berdebar kencang seperti ini? Aku nggak pernah merasakan seperti ini saat bersama Tara. God, takdir apa sebenarnya yang Kau rencanakan padaku?" gumam El dalam hatinya.
Tangannya kembali terangkat seraya meraba alis, mata, hidung, pipi dan berakhir di bibir pria itu.
Kai mengulas senyum menatap lekat wajah gadis itu yang kini berada di bawah kungkungannya.
"Apa kamu masih ingat, saat kamu menggigit bibir ini? Saat kamu dengan marahnya menampar pipi ini dengan keras, menyundul hidungku hingga berdarah dan menubruk junior ku hingga aku mengerang kesakitan?" tanya Kai.
Ia kemudian berbaring di samping El lalu membawanya masuk ke pelukannya.
"Hmm ... tentu saja aku mengingatnya," jawab El.
"El, ke mana saja kamu selama hampir tujuh bulan ini? Aku bahkan terus mencarimu. Mengirimkan orang-orang kepercayaanku ke beberapa kota tapi mereka tidak bisa menemukanmu," tanya Kai lagi.
"Aku menghindar darimu dan Tara," jawab El dengan lirih.
"Please, jangan menghilang lagi, jangan pergi lagi, dan jangan tinggalkan aku lagi. Aku sangat mencintaimu, aku benar-benar ingin menjadikanmu sebagai istriku dan ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku," ucap Kai dengan jujur lalu membenamkan bibirnya yang cukup lama di kening.
Lagi ... kecupan yang cukup lama itu sukses membuat dada El berdebar kencang. Sejenak ia memejamkan matanya dan merasakan kecupan penuh ketulusan dari Kai.
"El, aku tahu aku sudah menorehkan luka di hatimu dan aku tahu kamu masih membenciku. Tapi ... Jika kamu ingin membenciku bencilah diriku sewajarnya saja, bisa jadi aku yang kamu benci ini menjadi orang yang sangat kamu cintai. Jika kamu masih mencintai Tara, maka cintailah dia sewajarnya saja, bisa jadi dia akan menjadi orang akan kamu benci," tuturnya sembari mengeratkan pelukannya.
Lagi-lagi El bergeming mendengar ucapan Kai yang menurutnya ada benarnya.
__ADS_1
"El, apa kamu sudah tidur?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya dalam pelukannya.
"Selama ini kamu tinggal di mana?"
"Aku gelandangan, berpindah-pindah tempat sambil bekerja di warung pinggir jalan," jawabnya meyakinkan Kai. Padahal ia berbohong.
Kai bungkam sekaligus merasa bersalah
"Forgive me. Berhentilah bekerja di warung itu dan tinggallah di apartemen ini. Setelah kita menikah aku ingin kamu melanjutkan kuliahmu. Bukankah kamu ini calon dokter?"
Kai menjeda kalimatnya sejenak, mengecup puncak kepala gadis itu seraya mengeratkan pelukannya.
"Karena keegoisan dan keangkuhanku tanpa sadar aku sudah menghancurkan semua mimpi, impian dan cita-citamu. Aku mengaku bersalah."
El bergeming dalam pelukannya. Ia bisa merasakan penyesalan pria blasteran itu. Hatinya mulai melunak.
"El, berjanjilah padaku, jika kamu sudah menjadi dokter maka rawatlah aku sebagai pasienmu."
Seketika El mengerutkan keningnya lalu sedikit mendongak menatapnya.
Pertanyaan spontan itu membuat Kai sedikit gelagapan.
"Nggak. Eeghh ... sudahlah nggak perlu dibahas lagi. Ayo kita tidur. Aku mohon tinggallah di sini, besok aku akan memperkenalkanmu dengan mama. Dia pasti senang bertemu denganmu."
Ia sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar gadis itu tidak bertanya lagi.
"God ... aku merasa terjebak dengan perasaanku sendiri," batin El.
"Yuk, kita tidur. Besok kamu harus ngantor kan," bisiknya sambil mengelus dada telanjang Kai.
"Hmm ... Please don't leave me again," pinta Kai.
El tidak menjawab melainkan terus mengelus dada turun ke perutnya. Walaupun ia merasa sudah sangat mengantuk namun terpaksa ditahannya.
Sepuluh menit kemudian, terdengar suara dengkuran halus. Perlahan El melepas pelukannya dan mulai menjauhkan dirinya.
Ia meraih kaos yang di bukanya tadi lalu kembali memakainya. Ia menyelimuti Kai lalu menutup pintu kaca pembatas antara kamar dan balkon.
Ia kembali menghampiri Kai lalu menatap wajahnya yang terlihat sedikit pucat.
__ADS_1
"Have a nice dream," bisiknya seraya membelai wajah lalu mengecup pipinya.
Sebelum benar-benar meninggalkan Kai, ia kembali menulis sepucuk surat untuknya dan meletakkannya di atas meja nakas.
"Sorry Kai dan thanks untuk malam ini," bisiknya dan kembali membelai wajahnya. Setelah itu, ia pun meninggalkan Kai.
Setelah memakai sepatunya, ia meraih tasnya di atas meja sofa lalu memeriksanya. Dirasa tidak ada yang kurang, El berlalu begitu saja menghampiri pintu lalu membukanya. Sesaat setelah berada di luar, ia langsung menghubungi Dian.
"Mudah-mudahan, Dian belum tidur," cicitnya.
Tiga kali ia memanggil, Dian tidak menjawab, hingga di panggilan keempat barulah Dian menjawab panggilan darinya.
"Ya, ada apa El?
"Dian, bisa jemput aku sekarang di apartemen xxxx jln xxxx."
Sepasang mata Dian langsung membulat sempurna. Terkejut karena bEl sedang berada di gedung apartemen mewah itu.
"Kamu ngapain di gedung apartemen mewah itu, El?!"
"Udah, nggak usah banyak tanya, pokoknya jemput aku sekarang juga. Aku tunggu," desak El seolah tak ingin dibantah.
"Ba--baik lah."
Setelah itu, El memutuskan panggilan telfonnya. Ia terkekeh sambil memegang baju kaos oversize yang kini membalut tubuhnya.
Namun ia tidak ingin ambil pusing. Karena yang ada di dalam benak pikirannya saat ini adalah meninggalkan tempat itu secepatnya lalu kembali menjadi Culun.
"Enough, just tonight. Aku nggak mau lagi menjadi El, kecuali Tara dan Dian sudah resmi menikah," ucapnya lirih.
Ia menatap jam di layar ponselnya. "Sudah jam dua belas lewat tiga puluh menit. Come on Dian, cepatlah."
Setelah hampir dua puluh menit menunggu, akhirnya Dian tiba juga di lokasi lalu memencet klakson mobilnya.
El langsung melangkah cepat menghampiri mobil Dian lalu cepat-cepat membuka pintu mobil.
"Ayo jalan. Aku tahu pasti banyak yang ingin kamu tanyakan. Tapi jangan sekarang, besok saja," tegasnya sesaat setelah duduk lalu memasang seat belt.
Dian hanya mengangguk lalu kembali melajukan mobilnya.
...----------------...
__ADS_1