All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
178.


__ADS_3

Tiga belas jam telah berlalu ...


Mama Glori, pak Jason dan bunda Kiara, terlihat masih setia menunggu kedua putra mereka yang masih berjuang antara hidup dan mati.


Tak lupa juga mereka bergantian mengawasi El yang saat ini masih tertidur akibat pengaruh obat bius yang disuntikkan oleh bunda Kiara.


Lagi-lagi di depan pintu ruangan operasi, mama Glori tampak gelisah dan mulai merasa tidak tenang. Ia kembali terisak dalam pelukan kakaknya.


"Kak, aku takut jika Kai dan Damian ..."


"Glo, jangan berpikiran yang tidak-tidak, kita berdoa saja supaya dokter Mike dan tim bedah berhasil melakukan pencangkokan hati. Semoga Kai dan Damian sama-sama bertahan," potong pak Jason dengan cepat.


Sementara di dalam kamar bedah, tim dokter berserta para perawat dan asisten dokter akhirnya bisa bernafas lega, mereka saling bergenggaman tangan menangis terharu setelah sukses membedah dan berhasil melakukan pencangkokan hati pada Kai dan Damian.


Operasi dapat dilaksanakan dengan sukses berkat kerjasama yang baik antara kedua tim dokter yang sebelumnya sudah melewati persiapan yang panjang.


Setelah beberapa menit mengharu biru, mereka kembali mempersiapkan kedua pasien untuk ditempatkan ke ruangan khusus.


Sebagai kepala tim bedah yang bertanggung jawab penuh pada pasien dan tim bedah gabungan, Mike memeluk satu persatu dokter yang ikut andil dalam operasi besar tersebut.


"Akhirnya kita sukses melakukannya bersama," ucap Mike pada tim bedah.


Mike tak kuasa menahan air matanya, saat ia sendiri yang harus membelah Kai. Ia menatap kedua tangannya.


"Thanks, kita berhasil melakukannya. Kai, Damian kalian pria hebat. Aku akan menunggu kalian sadar. Cepatlah sembuh, El, triplets, mamamu, bunda dan paman menunggu kalian berdua," desis Mike lalu menyeka air matanya.


Sementara mama Glori, pak Jason dan bunda Kiara yang masih menunggu di luar langsung menghampiri sang dokter yang mulai keluar satu persatu.


"Dok, bagaimana dengan hasil operasinya," tanya pak Jason.


"Semuanya berjalan lancar dan sukses Tuan. Bersabarlah, sebentar lagi kedua pasien akan di pindahkan ke ruangan khusus," jelas dokter.


"Apa kami bisa menjenguk anak kami, Dok?" tanya mama Glori sambil menyeka air matanya.


"Maaf Nyonya, Tuan, untuk saat ini belum bisa. Tapi kalian bisa melihat pasien dari luar saja," jelas dokter lagi dengan seulas senyum.


"Terima kasih, Dok," ucap mama Glori dan pak Jason dan merasa sangat terharu.


(Dialog tadi ceritanya dalam bahasa Jerman. Berhubung author nggak bisa bahasa Jerman jadi langsung di translate pake bahasa Indonesia πŸ˜†βœŒοΈ)


Sedangkan bunda Kiara hanya bisa menjadi pendengar karena ia tidak bisa berbahasa Jerman.✌️🀭


Tak lama kemudian, terlihat bed pasien Kai dan Damian di di dorong oleh beberapa perawat menuju ruangan khusus.


Ketiga-nya hanya mampu menatap nanar kedua putra mereka. Ingin rasanya mereka memeluk Kai dan Damian bergantian namun keinginan itu hanya mampu mereka bayangkan dalam benaknya saja.


Tak lama berselang, Mike keluar dari kamar bedah lalu menghampiri pak Jason, mama Glori, dan bunda Kiara. Mike langsung merangkul ketiganya sambil menangis terharu.


"Paman, Tante kita berhasil. Saat ini kita hanya perlu menunggu keduanya siuman dari pengaruh obat bius. Tadinya aku berpikir operasi ini, akan memakan waktu hingga 16 jam. Tapi sukurlah operasinya lebih cepat dari perkiraan," jelas Mike dengan suara tercekat.

__ADS_1


"Terima kasih, Nak," ucap pak Jason sembari menepuk pundaknya.


"Sama-sama Paman," balasnya. Sedetik kemudian ia baru menyadari jika El tidak bersama mereka.


"Tante, di mana El?" tanyanya.


"El masih tidur. Maaf, tante harus menyuntiknya dengan obat bius. Jika tidak begitu dia tidak akan meninggalkan tempat ini," jelas bunda Kiara.


Mike terkekeh. "Ide Tante bagus juga. Aku rasa itu sudah tepat," kata Mike sependapat dengan bunda Kiara.


"Ya sudah kembalilah bergabung dengan tim mu, Nak. Kami akan memesan makanan untuk kalian. Mengingat sejak tadi kalian sudah bekerja keras nonstop," kata mama Glori.


Ia pun langsung menghubungi Chef hotel untuk menyiapkan makanan dan meminta untuk langsung membawanya ke Rumah Sakit Helios.


.


.


.


Pukul 03.00 subuh dini hari waktu kota J ...


Tara belum bisa memejamkan matanya dan tampak sedang berada di rooftop rumahnya.


Pikirannya terus melayang memikirkan Kai.


Sedangkan Vira dan Daniel, belum bisa di hubungi karena keduanya masih berbulan madu ke di luar negeri.


"Lord ... aku harus bagaimana sekarang?" lirihnya lalu menyesap rokoknya dalam-dalam. Pikirannya benar-benar buntu.


Di tengah keheningan dan angin yang semakin berhembus kencang menerpa tubuhnya, ia seolah tidak memperdulikan dinginnya hawa subuh itu.


Yang ada di benaknya adalah, ingin menemui Kai dan El di Jerman dan ingin meminta maaf pada keduanya. Jauh dalam sudut hati ia juga tidak ingin Kai sampai kenapa-kenapa.


"Kai ... El ... maukah kalian memaafkan aku jika aku datang dan langsung meminta maaf pada kalian?" lirihnya dengan suara bergetar.


"Aku ingin kita menjalin persahabatan seperti dulu lagi. Maafkan semua ucapan dan kata-kata ku yang pernah terucap."


"El benar, Tara, mari berdamai dengan diri dan hati kita masing-masing. Jangan pernah ada dendam lagi. Setidaknya kita pernah bersama. Kamu dan Kai pernah bersahabat bahkan sampai detik ini pun Kai masih menganggapmu sebagai sahabatnya," ucap Tara mengulangi ucapan El waktu itu.


"Bahkan saat aku memusuhimu, membencimu dan berusaha menjatuhkan perusahaanmu, kamu masih menganggapku sahabatmu. Aku yakin semua itu karena El. El yang sudah merubah sikapmu."


.


.


.


Kembali ke Jerman ....

__ADS_1


Dua jam berlalu ....


"Sssssttttt ..." ringis El sembari memijat kepalanya yang terasa berat. "Kok silau banget, jam berapa ini?" desisnya sambil mengedipkan-ngedipkan kedua matanya lalu mengelus perutnya.


Clek ...


Pintu dibuka dan El langsung mengarahkan pandangannya ke depan.


"Mah ... Bunda ... Papa," sebutnya.


"Sayang ... kamu sudah bangun?" tanya mama yang sedang menghampirinya.


"Jam berapa ini?" tanyanya.


"Jam 23.15, Nak," jawab mama.


"What?!" pekiknya dan seketika teringat suaminya. "Kai, Damian. Bagaimana dengan mereka berdua, Mah, Bun, Pah?" tanyanya dengan khawatir.


"Sayang ... tenanglah, Nak. Kai dan Damian sekarang sudah berada di ruangan khusus. Kita hanya bisa melihat mereka dari balik kaca," jelas mama seraya mengelus wajahnya.


"Apa itu artinya, mereka sudah selesai dioperasi?" tanya El lagi dengan mata berkaca-kaca lalu memeluk sang mertua.


Mama hanya mengangguk sambil mengelus punggungnya.


"Mah, aku ingin melihat mereka berdua," lirihnya.


"Baiklah, tapi bersihkan dulu dirimu, Nak. Sejak pagi kamu belum mengganti pakaian. Setelah itu makan dulu, baru kita akan melihat Kai dan Damian."


El hanya menurut. Sambil menunggu, mama Glori menata makanan di atas meja.


Beberapa menit kemudian El sudah terlihat fresh dan rapi. Ia pun menghampiri mama, bunda dan papa Jason.


"Sayang, ayo makan dulu. Sejak pagi kamu belum makan. Kasian cucu mama." Mama Glori kembali mengusap perutnya merasa bersalah. Lagi-lagi El hanya mengangguk lalu menyantap makanan yang telah tersaji di atas meja.


Setelah menghabiskan makanannya, ia dan mama Glori menuju ruangan khusus untuk melihat Kai dan Damian.


Sesaat setelah berada di kaca pembatas, El hanya bisa menyentuh kaca dari luar dan menatap nanar wajah suaminya yang terlihat pucat lalu beralih ke arah Damian.


"Sayang ... cepatlah sadar," lirihnya bersamaan dengan kristal bening yang jatuh dari pelupuk matanya. Ingin rasanya ia masuk ke ruangan itu lalu memeluk suaminya seerat mungkin.


"El ... Tante," tegur Mike.


"Mike," lirihnya lalu memeluk sang dokter. "Terima kasih, Mike," ucapnya sambil terisak dalam dekapannya.


"Jangan menangis, El. Bersabarlah ... Kai dan Damian akan siuman secepatnya. Mereka masih dalam pengaruh obat bius. Aku dan tim akan terus memantau suami dan iparmu," bisik Mike lalu mengurai dekapannya.


Ketiganya sama-sama menatap Kai dan Damian dari balik kaca. Berdoa dan berharap keduanya akan segera siuman.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2