
Memasuki kamar presidential suite, Kai kembali mengulas senyum.
"Ngantuk banget ya?" bisiknya.
"Hmm ...."
Kai kembali tersenyum lalu menempelkan access card ke pintu.
"Sayang, sebaiknya kamu mandi duluan ya? Aku akan menunggumu di ranjang empuk ini," bisiknya menggoda.
"Baiklah." Kai balik berbisik lalu melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
"Haah ... jika nggak begitu, aku nggak bisa rebahan," gumam El lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang bertabur helaian kelopak bunga mawar.
Tanpa melepas gaun juga sepatunya perlahan ia memejamkan mata.
Satu menit ...
Tiga menit ...
Lima menit ...
Akhirnya semuanya terasa gelap berganti dengan suara dengkuran halus teratur. Sedangkan Kai, ia sedang membayangkan sang istri kini menantinya dengan balutan lingerie.
Senyumnya terus mengembang membayangkan kegilaan istrinya menggerayangi tubuhnya dengan lihai.
Membayangkan betapa agresifnya sang istri, miliknya langsung bereaksi. "Ah, sh*it!!"
Ia segera menyelesaikan ritual mandinya lalu keluar dari kamar mandi. Niatnya ingin langsung menjamah tubuh istrinya, sayangnya harapan tak sesuai dengan ekspektasinya.
"Ohh ... sh*it!!" Ia kembali mengumpat saat mendapati El sudah tertidur. "Sayaaang ... kamu membohongiku!"
Ia kembali ke kamar mandi sekaligus menuntaskan hasratnya secara solo.
"Come on faster ..." ucap Kai sambil memainkan tangannya membayangkan wajah istrinya. "Aaakhhh ... finally. Lord, lagi-lagi benihku terbuang percuma."
Beberapa menit berlalu ...
"Dia pasti kelelahan," gumam Kai.
Ia mengulas senyum sekaligus merasa dejavu menatap sang istri yang masih lengkap dengan balutan gaun serta sepatu yang masih menempel di kakinya.
"Sayang," bisik Kai seraya mengelus pipi lalu mengecup kening dan juga bibirnya. Turun ke leher menghirup aroma parfum sang istri dalam dalam.
Perlahan Kai melepas sepatu serta gaun yang masih melekat di tubuhnya. Memperbaiki posisi tidur lalu menyelimutinya.
"Sayang ..." bisik Kai lagi yang kini ikut masuk ke dalam selimut lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.
Tak ada jawaban dari El melainkan gadis itu semakin membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Baiklah, malam ini kamu lolos lagi," bisik Kai dengan seulas senyum lalu meletakkan dagunya di puncak kepala istrinya kemudian ikut memejamkan matanya.
Keduanya larut ke alam mimpi melewati malam romantisnya tanpa making love hanya tidur dan saling berpelukan. π€π€π€
**********
Paginya, Kai merasa tubuhnya terasa berat bahkan merasakan hembuskan nafas yang menerpa dadanya.
__ADS_1
Saat mendapati istrinya berada di atas tubuh besarnya, ia tersenyum. Satu kecupan ia daratkan di puncak kepala seraya mengelus punggung telanjang istrinya dengan sayang.
Sambil menunggu, Kai mengelus jemari yang kini telah dilingkari sebuah cincin berlian di jari manis istrinya.
"Sayang, wake up," bisik Kai sambil menggoyangkan punggungnya. "Kita harus mengantar Mike dan Lois ke bandara."
"Aku masih ngantuk," ucap El lirih lalu turun dari tubuh Kai.
"Sayang .... "
"Hmm ...."
"Masih mau tidur atau ..." Kai mulai membenamkan bibirnya di leher jenjangnya lalu mulai meremas gunung kembarnya.
"Ck ... iya, iya, aku bangun!" decaknya disertai rasa kesal.
Kai langsung terkekeh menatap wajah kesal istrinya yang mulai menjauhinya menuju kamar mandi.
Sambil menunggu, Kai melangkah ke arah balkon. Membiarkan wajahnya diterpa sinar matahari pagi lalu menghirup udara dalam-dalam.
Cukup lama ia berdiri di teras balkon itu, sebelum akhirnya ia berbalik menyandarkan pinggulnya di pagar kaca pembatas. Menatap istrinya berjalan menghampirinya dengan senyum manis.
"Sudah?" tanyanya sembari merentangkan kedua tangannya.
El hanya mengangguk lalu masuk ke dalam pelukannya.
"Maaf ... semalam aku berbohong. Aku nggak bisa melayanimu. Aku benar-benar lelah."
"I'ts okay, Sayang," balas Kai lalu mengecup bibir, leher serta pundak telanjang istrinya.
Saat pasokan nafasnya mulai menipis, barulah keduanya melepas pagutan bibirnya lalu menyatukan kening dengan nafas yang sama-sama memburu.
"Sayang ..." bisik Kai.
"What?" balas El lalu mengecap leher Kai penuh gairah.
Saat hasratnya mulai terpancing. Pintu kamar terdengar di ketuk.
El langsung tersenyum. "Aku sudah menduganya," batin El .
"Damn!!" umpat Kai dengan kesal. "Ayo Sayang, kita lanjut sepulang dari bandara saja," cetus Kai dengan suara serak berat menahan hasratnya.
"Tapi aku menginginkanmu sekarang," rengek El menggoda.
"Aku juga ingin tapi kamu minta di waktu yang nggak tepat," kesal Kai.
El langsung tertawa puas seraya memeluknya dengan gemas.
Pintu terus di ketuk.
Dengan terpaksa Kai menghampiri pintu itu lalu membukanya.
"Tuan, saya mengantarkan makanan untuk Anda," kata karyawan hotel.
Kai hanya mengangguk lalu meraih troli makanan itu.
"Terima kasih," ucap Kai.
__ADS_1
Karyawan hanya mengangguk kemudian meninggalkan sang empunya hotel.
"Sayang, aku siap-siap dulu ya, sekalian akan menyiapkan pakaianmu," cetus El.
"Hmm, my naughty girl," sahut Kai dengan gemas.
El terkekeh lalu memberinya kecupan singkat di bibir. Setelah itu Kai langsung bergegas masuk ke kamar mandi.
Dua puluh menit berlalu ...
"Sayang, sarapan dulu yuk," ajak El dan dijawab dengan anggukan oleh Kai. "Setelah selesai sarapan kita tunggu Mike dan Lois di loby hotel saja ya."
"Iya, Sayang."
Keduanya pun mulai menyantap sarapannya hingga tandas.
Sesaat setelah selesai sarapan, Kai mengajak El meninggalkan kamar itu. Menuju lift yang akan mengantar keduanya ke loby hotel.
Baru saja keduanya akan melangkah keluar dari lift, Kai dan El kembali berpapasan dengan Valerie.
Namun Kai terlihat cuek. Merangkul pinggang ramping istrinya dengan posesif tanpa memperdulikan tatapan penuh selidik dari ex kekasihnya itu.
Valerie terpaku menatap El yang tampak begitu anggun ditambah lagi perhiasan mewah yang menunjang penampilannya.
"Sedang apa mereka di sini? Apa Kai mengajaknya liburan?" Sederet pertanyaan kini mulai ,muncul di benak Valerie.
Sementara Kai dan El, tadinya ingin menunggu Mike dan Lois tapi malah mereka yang sudah menunggu sedari tadi.
"Lama banget sih kalian?" kesal Lois.
"Kamu kek nggak tahu saja aku dan Kai lagi ngapain," goda El lalu terkekeh.
"Mike, maaf sudah membuat kalian menunggu," sesal Kai lalu melirik istrinya.
El menaikkan alisnya dan bahunya lalu tertawa.
Awas saja nanti. Nggak akan aku kasih ampun.
Kai menyeringai penuh arti menatap istrinya.
Setelah itu, Kai mengajak Mike dan Lois masuk ke dalam mobil. "Mike, Lois, jika suatu saat kalian akan berlibur ke sini, jangan sungkan hubungi aku," tawar Kai.
"Thanks Kai," ucap Mike dan Lois.
Kai terus melajukan mobilnya menuju bandara. Di sepanjang perjalanan mereka banyak berbincang-bincang kecil. Hingga tak terasa akhirnya mereka tiba juga di bandara itu.
Sesaat sebelum melepas Lois dan Mike, El memeluk keduanya bergantian.
"Mike Lois, terima kasih. Kalian bukan cuma sekedar teman tapi sudah seperti saudaraku sendiri," ucap El dengan suara tercekat. "Aku menyayangi kalian berdua."
"Sudah, jangan menangis. Kita pasti akan bertemu lagi di kota A," kata Mike.
El hanya mengangguk lalu menyeka air matanya. Dengan terpaksa ia melepas kepergian Mike dan Lois lalu memeluk Kai dengan perasaan sedih.
"Sayang ..." bisik Kai seraya mengelus punggung istrinya. "Kita akan bertemu mereka lagi setelah kembali ke kota A."
...----------------...
__ADS_1