All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
125. Aku nggak tertarik dengan pria yang sudah beristri ...


__ADS_3

Di perjalanan, sesekali Kai melirik El yang tampak termenung. Ia pun menggenggam jemarinya.


"Sayang ..." Kai menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan.


"Hmm ..."


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kai.


El menoleh sembari menggelengkan kepalanya. Menandakan jika ia tak baik-baik saja saat ini.


"Andai saja kamu nggak datang tepat waktu, kejadian setahun yang lalu pasti akan terjadi lagi padaku." El menundukkan pandangan wajahnya.


"Akal sehatku bisa saja hilang dengan mengambil jalan pintas mengakhiri hidupku," sambung El.


"Sayang ..." ucap Kai dengan lirih sekaligus merasa bersalah. "Maafkan aku, ini semua salahku."


"Nggak ada yang perlu disalahkan, Sayang. Semuanya sudah terjadi. Tetaplah bersamaku serta menjadi pelindungku," timpal El masih dengan menundukkan wajahnya.


Kai hanya mengangguk pelan. Setelah merasa El terlihat jauh lebih tenang, ia kembali melajukan kendaraannya hingga tiba di tempat tujuan.


Sebelum masuk ke dalam bar, Kai menangkup wajah El seraya berbisik, "Smiling please."


El memeluknya sejenak sekaligus berterima kasih.


Sesaat setelah keduanya berada di dalam bar, dari kejauhan tampak Mike dan Lois sedang duduk di kursi bartender.


"Lois, Mike!!" pekiknya El memanggil keduanya.


Ia langsung merangkul keduanya sesaat setelah berada di belakang sahabat serta ex dosennya itu.


"Oh my God, El!! Apa ini kamu, Dear?" pekik Lois kegirangan.


"Menurutmu? Tentu saja ini aku?" sahut El lalu terkekeh.


"El, selamat ya, Dear," bisik Mike.


"Thanks, Mike," balas El lalu tersenyum.


"Banyak hal yang membuatku penasaran tentang hubungan asmara kalian berdua," kata Mike sembari menatap El dan Kai bergantian.


"Ceritanya panjang Mike. Sudahlah nggak usah dibahas," balas El lalu terkekeh.


Tak lama berselang, Daniel yang baru saja tiba langsung menghampiri mereka.


"Kai, El," sapa Daniel dengan seulas senyum.


Mereka langsung berbalik ke arah Daniel yang kini sudah berdiri di samping Kai.


"Dan," sapa Kai seraya menepuk punggungnya.


"Kai, El," sebutnya Daniel. "Finally, kita bertemu lagi." Daniel tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.


Obrolan mereka terus berlanjut di selingi dengan cantda tawa bahagia.


"Tolong tambah wiskinya," pinta El.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu sudah nggak waras? Nanti kamu bisa mabuk," protes Kai.


"Aku janji nggak akan melewati batas," timpal El.


"Sayang, please no," protes Kai lagi namun tak dihiraukan oleh El.


Mike, Lois dan Daniel hanya menggelengkan kepala melihat keduanya berdebat.


Setelah meneguk wiskinya, El melirik Daniel.


"Dan, berikan nomor ponsel Dian padaku. Aku ingin bertemu dengannya besok," pinta El. "Tapi jangan sampai Tara tahu ya."


"Tapi El, aku nggak punya nomornya," aku Daniel.


"Lalu?"


"Jangan kecewa begitu, El. Nanti aku akan sampaikan langsung padanya," cetus Daniel.


"Thanks ya, Dan. Katakan padanya aku ingin bertemu dengannya di cafe xxx jam 10 pagi," pesan El lalu kembali meneguk minumannya.


"Baiklah," sahut Daniel.


"El, ayo kita ke dance floor," ajak Lois.


Tanpa pikir panjang El hanya menurut. Keduanya langsung bergabung di atas dance floor sambil menggoyangkan badan mengikuti irama musik.


Sedangkan di kursi bartender Kai, Mike dan Mike tampak memandangi kedua gadis itu yang terlihat begitu asik meliukkan tubuhnya.


Ketiga sama-sama tertawa sekaligus merasa lucu.


"Ya, mereka memang bersahabat sejak masih kuliah," jelas Mike.


**********


Malam semakin larut bahkan pengunjung bar semakin ramai mendatangi bar itu.


Kai, Mike dan Daniel masih mengobrol santai. Sedangkan Lois dannEl masih betah berada di dance floor.


"Mike, Dan ..." sebut Kai lalu menatap keduanya.


"Ya," sahut Mike dan Daniel bergantian.


"Kalian tahu benar sekarang kondisi kesehatanku nggak seperti dulu lagi. Sudah lama aku berhenti minum dan merokok."


"Lalu?" timpal Mike dengan alis bertaut.


"Tolong rahasiakan penyakitku. Jangan biarkan El tahu," kata Kai dengan lirih.


"Tapi Kai, El itu calon dokter. Cepat atau lambat dia pasti akan tahu," sahut Daniel.


"Kai, ada baiknya jika kamu jujur saja pada El," saran Mike.


"Mike, Dan, aku nggak tega. Harus aku akui beberapa kali El memang mulai curiga. Dia pernah bertanya tapi aku selalu mengalihkan pembicaraan," jelas Kai.


Mike dan Daniel menepuk bahunya. "Baiklah Kai. Tapi jangan lupa, rutin minum obatmu sesuai petunjuk," pesan Mike.

__ADS_1


"Aku yakin kamu pasti akan sembuh Kai." Daniel menyemangatinya.


Tak lama berselang, Lois dan El ikut bergabung.


"Sudah? Sudah puas dancenya?" tanya Kai lalu terkekeh.


"Hmm, bukan puas tapi capek," jawab El kemudian menuang minumannya lalu meneguknya.


"Sayang, enough," protes Kai.


"Kai, biarkan saja. Nanti jika dia gelisah langsung rendam di air dingin saja," cetus Daniel lalu terkekeh.


"El, Kak, aku dan Mike duluan ya," izin Lois.


El hanya mengangguk pelan lalu memeluk keduanya bergantian.


Sepeninggal Mike dan Lois, El menatap Daniel lalu mengulas senyum. "Dan, terima kasih ya. Jangan lupa sampaikan pesanku pada Dian."


"Ok," sahut Daniel.


"Dan, kami juga pamit ya," kata Kai dan dijawab dengan anggukan oleh Daniel.


Setelah melakukan transaksi, El dan Kai akhirnya meninggalkan bar itu.


Sesaat setelah berada di pintu keluar club', keduanya berpapasan dengan Tara yang baru saja akan masuk ke bar itu.


Ia mendekati El lalu tersenyum sinis. "Jadi benar, sekarang kamu beralih profesi menjadi wanita murahan sekaligus menjual tubuhmu pada Kai, hmm?"


"Apa ini alasanmu meninggalkanku karena sudah merasakan betapa lihainya permainannya?" bisik Tara lalu mengarahkan dagunya ke arah Kai.


"Tidurlah denganku jika kamu ingin merasakan yang lebih dari itu. Bahkan aku akan memuaskanmu sekaligus membayarmu berapapun yang kamu minta."


Plakkkk ....


Sebuah tamparan keras langsung mendarat sempurna di wajah Tara.


El menatapnya dengan tatapan menghunus tajam sembari tersenyum sinis.


"Terima kasih, tapi aku nggak tertarik dengan pria yang sudah beristri. Lagian Kai sangat memuaskan diriku dengan permainan panasnya. Bahkan membuatku berkali kali mencapai kli*maks," pungkas El dengan perasaan geram sekaligus terpaksa berbohong.


"Dengarkan aku baik-baik, Tuan Bima Argantara Mulia yang terhormat. Pria baik serta nggak memiliki dosa," sindirnya dengan tatapan tajam.


"Sebutan apa yang pantas untukmu, pria yang sudah beristri tapi masih ingin meniduri wanita lain bahkan ingin membayarnya? Kai benar, sepertinya kamu juga ingin menjadi pria brengsek, bajingan serta bejat," pungkas El.


Sindiran serta kata-kata menohok yang terlontar dari bibir El, seketika membuat Tara mematung, bungkam tak mampu membalas ucapan gadis itu.


Ia menatap nanar punggung El yang sudah menjauh meninggalkannya. Mengusap pipi yang masih terasa panas.


Sedangkan El yang kini sudah berada di dalam mobil, terlihat memejamkan matanya sambil memijit pangkal hidungnya.


"Sayang, sebaiknya kita segera pulang. Rasanya aku ingin segera menceburkan diriku ke dalam kolam. Kepalaku juga sakit badanku mulai panas," keluhnya.


"Baiklah," sahut Kai.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2