All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
153.


__ADS_3

El menautkan alisnya menatap wanita itu dan kedua temannya yang berada di belakangnya.


Setelah memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, El menghela nafasnya lalu mengulas senyum.


"Tasya and friends. Hi sist, long time no see you?" sapa El dengan seulas senyum lalu mengulurkan tangannya.


Tasya hanya bergeming menatap El yang terlihat sangat jauh berbeda. Terlihat berkelas, elegan dan anggun.


Di tambah lagi aksesoris yang ia kenakan terlihat simpel namun siapa yang menyangka jika harga perhiasan yang di kenakannya seharga 1 unit mobil mewah.


Bukan tanpa alasan Tasya bisa menebak harga satu set perhiasan yang kini dikenakan El. Karena dia merupakan seorang pengusaha perhiasan mewah.


Tasya tersenyum sinis bahkan mengabaikan uluran tangan sang rival. Entah mengapa ia masih menyimpan dendam pada El.


"Nggak apa-apa dan nggak masalah jika kamu nggak ingin berjabat tangan denganku," ucap El dengan santai seraya berlalu meninggalkan Tasya juga teman setianya itu.


Tasya menoleh sejenak memperhatikan El yang terlihat sudah duduk manis sambil menghubungi seseorang.


Setelah itu Tasya mengajak temannya meninggalkan restoran itu.


"Ck ... ponselku," decak El sedikit kesal menatap layar ponselnya yang telah retak.


Ia pun memanggil salah satu waiter lalu memesan makanan.


"Terpaksa minta beli ponsel yang baru jika modelnya seperti ini," gumam El lalu terkekeh membayangkan wajah suaminya. Entah mengapa ia langsung merindukan suaminya itu.


"Pasti kalian ya, yang lagi kangen sama daddy," gumam El lagi seraya mengelus perutnya yang masih rata.


Tak lama berselang ia mendengar suara bocah laki-laki memanggilnya.


"Momy Eeeeel ..."


"Seperti suara Bryan." Sambil mencari arah sumber suara itu.


Senyumnya langsung mengembang ketika mendapati bocah itu dari arah pintu masuk berlari ke arahnya.


"Sayang, kamu sama siapa?" tanya El sambil berjongkok lalu memeluknya.


"Daddy," jawabnya lalu menunjuk Mike.


"Momy Sarah nggak ikut?" tanyanya lagi.


Bryan menggelengkan kepalanya sambil mainkan kalung berliannya. El merasa gemas lalu mencium pipi bocah 7 tahun itu.


"Kamu makin ganteng saja seperti daddy Mike," bisik El lalu membawanya duduk di pangkuannya.


"Dear, kok sendiri? Apa Kai nggak bareng kamu?"


"Dia sudah ke kantor," jelas El. "Kemarilah, aku punya kabar gembira buat kamu dan Lois."


Mike menarik kursi lalu duduk di dekatnya. "Katakan, kabar bahagia apa itu," sahut Mike dengan penasaran.

__ADS_1


"Mike ... aku hamil, triplets," bisiknya.


"Triplets?! Beneran? God ... congratulation, Dear." Mike balik berbisik seraya memeluknya dan Bryan.


"Daddy, stop," protes Bryan lalu mendorong dada sang daddy.


Mike terkekeh lalu mengecup kepala putranya.


Ketiganya tidak sadar menjadi pusat perhatian di restoran itu termasuk Vira dan Daniel.


Tak jauh dari meja El. Sejak tadi Bu Arini dan Pak Mulia pun tak luput memperhatikan ketiganya.


"Pah, Mama nggak menyangka jika gadis itu, menikah dengan dokter Mike. Mama pikir dia akan menikah dengan Kai."


"Sudahlah Mah. Itu kan haknya El. Jadi Papa rasa sah-sah saja," sahut pak Mulia dengan santai.


Sedangkan Vira merasa sedikit iri melihat kemesraan Mike dan El.


"Honey, romantis banget sih mereka," ucap Vira.


"Memangnya aku kurang romantis apa," protes Daniel. "Ayo kita samperin mereka."


Vira terkekeh seraya memeluk lengan sang kekasih menghampiri temannya itu.


"Dear."


"El, Mike. Sudah lama?" tanya Daniel.


"Bryan, sama daddy ya," bujuk Mike. Namun Bryan menggelengkan kepalanya tapi semakin memeluk El.


"Nggak apa-apa, Mike. Biarkan saja. Lagian aku juga kangen berat dengan Bryan," kata El sambil mengedipkan kedua matanya lalu mengelus punggung Bryan dengan sayang.


Sontak saja perlakuan lembut El pada Bryan membuat Vira dan Daniel terenyuh.


"El, ternyata gadis-gadis bar-bar sepertimu bisa bersikap lembut juga ya pada anak-anak," kata Vira sambil terkekeh.


El berdecak. "Menurutmu?"


"Sebaiknya kalian pesan makanan dulu," cetus El. "Sayang, apa kamu ingin makan sesuatu?" tanya El pada Bryan. Namun bocah itu bergeming dan tak menjawab


"Dear, dia malah tertidur," kata Mike. "Mungkin dia kecapean soalnya sejak tadi aku mengajaknya bermain di Mall."


Mike kemudian memberi kode pada El. Tahu jika Mike ingin pulang. El meminta izin pada Vira dan Daniel untuk mengantarnya keluar.


Tanpa curiga sedikitpun, Vira dan Daniel hanya mengangguk memandangi keduanya.


Mike dan El melangkah bersisian lalu terkekeh. Hingga keduanya sampai di parkiran mobil. Setelah memastikan Bryan dalam posisi nyaman, El pun menutup pintu mobil.


"Mike, hati-hati ya. Sampaikan salamku pada Sarah," pesan El lalu memeluknya.


"Ok El. Sekali lagi selamat ya untukmu dan Kai. Aku ikut bahagia mendengar kabar ini," bisiknya. "Masuklah, Vira dan Daniel sedang menunggumu."

__ADS_1


El hanya mengangguk lalu kembali bergabung dengan Vira dan Daniel.


"Loh El, suamimu kok pulang?" tanya Vira.


"Dia harus ke rumah sakit lagi. Sekalian ingin mengantar Bryan ke momynya," bohong El lalu menyeruput minuman kesukaannya.


"El, apa Dian sudah tahu jika kamu sedang berada di kota ini," tanya Daniel.


"Aku belum mengabarinya. Masih ada waktu, soalnya aku libur kuliah selama dua minggu. So ... besok-besok masih bisa bertemu dengannya," jelas El.


Daniel hanya mengangguk lalu menyeruput kopinya.


"El, sebelum kamu kembali ke kota X, jangan lupa hubungi aku ya," pesan Vira.


El hanya mengangkat jempolnya.


Obrolan mereka terus berlanjut sebelum akhirnya ketiga-nya meninggalkan restoran itu. Setelah memastikan mobil yang di kendarai Daniel dan Vira mulai menjauh, ia pun segera menghubungi Alex supaya menjemputnya di restoran itu.


Sambil menunggu, El mengirim pesan kepada Dian. Hanya untuk mengabari jika ia sedang libur kuliah sekaligus berada di kota A saat ini.


Dian yang saat ini berada di kantor suaminya tampak tersenyum sambil membalas pesan dari temannya itu.


Sungguh ia sangat merindukan wanita itu. Sedangkan Tara yang sedang duduk di kursi kebesarannya hanya menatap heran pada Dian.


"Ada apa sih? Kok bahagia banget," tanya Tara lalu menghampiri Dian kemudian duduk di sampingnya.


"Nggak apa-apa, aku hanya membalas pesan dari El. Rupanya saat ini dia sedang libur kuliah dan sedang berada di kota ini sekarang," jelas Dian.


Tara hanya mengangguk seraya mengelus perut buncit Dian. "Apa kalian akan bertemu?" selidiknya.


"Kurang tahu juga soalnya El belum menentukan tempatnya," kata Dian.


Tara bergeming seraya mengangguk pelan.


.


.


.


Tiga puluh menit berlalu ....


Kini El sedang menuju ke ruangan suaminya. Kai yang tampak sedang menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya tampak memijat keningnya.


"Sayang ..." sapa El sesaat setelah membuka pintu. Meletakkan paper bag makanan di atas meja sofa lalu menghampiri suaminya.


"Syukurlah kamu sudah datang." Kai memintanya duduk di pangkuannya.


...----------------...


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2