
El kembali mendorong kopernya masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu, ia meletakkan tas ransel di atas kopernya.
Ia tampak mengamati kamar yang masih kosong dan tampak berpikir.
"Sebaiknya aku bertanya saja deh sama tetangga di mana ada toko perabotan sekitar sini," gumamnya.
Karena tidak tahu harus berbuat ap, El kembali menghampiri pintu lalu membukanya.
Cih... ngapain juga ni bang ojol masih nongol di sini? Bukannya langsung pergi, malah asik chattingan. Tapi ... apa benar dia bang ojol beneran? Tampangnya aja nggak meyakinkan. Mana kek bule lagi.
"Woi ... kamu ngapain masih di situ? Bukannya pergi, malah asik chattingan. Heran deh," tegurnya lalu memutar bola matanya malas.
"Emang kenapa, hmm? Nggak boleh?" Bang ojol bertanya lalu terkekeh.
El hanya diam lalu ikut duduk di sebelahnya.
"Nggak apa-apa sih," jawabnya dengan santai.
Bang Ojol kembali memperhatikannya dari bawah sampai ke atas.
"Oh ya, perkenalkan namaku Abichandra. Kamu bisa memanggilku Candra," katanya lalu mengulurkan tangan.
El hanya menatap tangan pria itu dan hanya diam.
Karena El tidak menyambut uluran tangannya, Candra kembali menarik tangannya lalu mengulas senyum.
"Kamu anak baru ya di sini?" Candra bertanya.
El hanya mengangguk sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya.
Candra yang masih merasa penasaran dengan sosok gadis itu kembali bertanya,
"Nama kamu emang beneran Culun, ya? Apa itu memang namamu sejak dari lahir?"
Lagi-lagi El hanya mengangguk. Padahal dia berbohong.
"Sesuai dengan diriku kan. Tapi nama kita cocok kok, kamu Candra dan aku Culun," jawab El dan langsung tertawa.
Ternyata dia bisa tertawa juga ya?
"Oh ya, bisa tolong antar aku nggak ke toko perabotan. Aku ingin membeli alat-alat perlengkapan rumah. Jujur saja, aku baru seminggu berada di Kota ini," akunya masih sambil menggoyangkan kakinya.
"Boleh kok. Jangan sungkan-sungkan."
"Kalau begitu, tunggu sebentar ya. Aku ambil ranselku dulu," pinta El lalu beranjak dan masuk ke dalam rumah.
Entah mengapa ada perasaan iba di hati Candra saat menatap gadis itu. Entah karena El yang terlihat culun dengan kaca mata tebalnya atau memang karena iba sungguhan. Entahlah.
Tak lama kemudian, gadis itu pun keluar lalu mengajaknya. Setelah memastikan El memakai helm, barulah Candra memacu motor maticnya ke toko perabotan terdekat.
Setelah sampai di toko perabotan, El pun turun dari motor dan masuk ke dalam toko itu.
__ADS_1
"Bang, aku tinggal sebentar, ya," pinta El lalu memberikan helm yang sudah di lepasnya kepada Candra.
Candra hanya mengangguk lalu mengulas senyum. Ia pun turun dari motornya lalu ikut menyusul gadis itu masuk ke dalam toko.
Sebelum memilih barang yang ingin di belinya, El terlebih dahulu melihat-lihat. Setelah mendapat barang yang cocok untuknya baru lah ia mengambilnya.
Ia hanya membeli sebuah kasur lipat santai, bantal kepala, lalu peralatan dapur seadanya. Tidak lupa ia membeli sebuah meja lipat belajar untuk memudahkannya nanti mengerjakan tugas kuliah.
Candra merasa sedikit keheranan karena El membeli meja lipat belajar itu.
Setelah merasa semuanya sudah lengkap dengan apa yang di butuhkannya, El meletakkan semua barang belanjaannya di kasir toko.
"Ko, bisa nggak barangnya nanti di antar ke rumah aku?" El bertanya dengan ramah.
"Boleh kok, berikan saja alamat rumahnya," jawab Koko.
"Ko, aku nggak bawa duit cash. Bisa nggak aku transaksi pakai kartu ATM?" tanya El.
"Iya, boleh."
"Makasih, ya Koko," ucap El lalu menuliskan alamatnya dan memberikan kepada Koko pemilik toko, sekalian memberikan kartu ATM nya.
"Iya, sama-sama."
Setelah melakukan transaksi pembayaran, El berpamitan lalu menghampiri Candra yang sedang bersandar di lemari.
"Udah?" tanya Candra.
El hanya mengangguk lalu mengajaknya pulang. Namun saat akan melangkah, ia kaget
Dengan susah payah ia menelan salivanya dan terlihat gugup.
Oh God ... kenapa Tara memasukkan aku ke daftar orang hilang? Bagaimana jika aku ketahuan? God, help me please.
"Waah ... cantik banget nih cewek, tapi ngomong-ngomong kenapa dia sampai hilang? Udah seminggu pula, pasti keluarganya khawatir banget," kata Candra sambil menatap layar televisi itu.
El mengusap tengkuknya. "Culun, kamu kenapa? Kamu kok terlihat gugup begitu?"
"Hmm ... nggak apa-apa kok. Bang, kita pergi saja dari sini, kita cari minum dulu," cetusnya lalu menarik lengan Candra.
"Cih, apa sih!" protes Candra karena masih penasaran.
El hanya diam lalu meraih helm di atas motor Candra lalu segera memasang ke kepalanya.
Mau tidak mau Candra terpaksa menuruti kemauan gadis itu dan ikut memakai helmnya. Setelah El menaiki motornya barulah ia mulai memacu motornya.
"Bang, kamu tahu nggak tempat yang bagus di kota ini? Maksudku tempat untuk menenangkan pikiran," tanya El.
"Kenapa?"
"Ajak aku ke sana, aku ingin menenangkan pikiranku sejenak," lirihnya.
__ADS_1
El Don't crying please.
El terus larut dengan pikirannya sendiri dan tampak melamun di sepanjang jalan. Hingga ia tidak menyadari jika mereka telah sampai di tempat Candra membawanya.
"Culun, kita sudah sampai," tegur Candra lalu menepuk pahanya.
"Hmm." El menatap ke depan lalu tersenyum.
Ia pun turun dari motor lalu melepas helmnya.
"Thanks, aku sangat menyukai tempat seperti ini," desisnya lalu berjalan dan menghampiri salah satu gazebo.
Candra mengerutkan alisnya. "Maksudmu, kamu menyukai laut?"
"Hmm."
Setelah itu, El melepas ranselnya lalu mengambil rokok dan koreknya. El mengambil sebatang rokok, membakar lalu menyesapnya dalam-dalam kemudian menawarkan ke Candra.
Candra hanya menatapnya dan sedikit terkejut lalu bertanya-tanya di dalam hatinya.
Culun, dan penampilannya memang culun tapi ... sepertinya dia gadis misterius. Aku semakin penasaran dengan gadis ini. Di balik kaca mata tebalnya dan wajahnya yang di penuhi dengan bintik-bintik coklat, sepertinya itu fake.
Candra bergumam dalam hati dan masih menatap El yang sedang menyesap rokoknya dengan santai.
"Culun, apa kamu perokok aktif?" tanya Candra.
"Yes, ini sudah menjadi kebiasaanku sejak dulu dan sulit untukku tinggalkan," lirihnya sambil terus memandang laut.
Hening sejenak ...
Sedangkan El, ia terus menyesap rokoknya hingga tuntas.
Setelah membuang puntung rokoknya, ia masih menatap laut dan mengajak Candra berbicara.
"Bang, thanks ya. Walaupun aku terlihat jelek dan culun, kamu masih mau menemani aku. Padahal kamu itu tampan lho, Bang. Jika perhatikan sepertinya kamu ini blasteran," tebak El.
Candra hanya mengulas senyum lalu mengusap tengkuknya.
"Aku nggak yakin jika kamu itu bang ojol. Bisa saja kan, profesi sebagai bang ojol hanya untuk hiburan atau pengalihan indentitas," tebak El lagi lalu menoleh ke arah Candra.
Candra hanya diam dan menatapnya lekat.
"Diammu berarti aku benar kan?"
Lagi-lagi Candra bungkam seribu bahasa namun sekaligus membenarkan tebakan gadis culun itu.
Tempat itu kembali hening, yang terdengar hanya suara deburan ombak dan suara beberapa orang yang sedang berada di sekitar pantai itu.
Di balik kaca mata tebalnya, El memejamkan matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam.
Tara, maafkan aku.
__ADS_1
Mengingat sosok pria baik itu, air matanya kembali menetes di ujung matanya.
...----------------...