
Siang harinya ...
Di kamar rawat itu, terlihat Mike dan beberapa dokter yang menangani Kai, tampak kembali memeriksanya dan memberinya beberapa pertanyaan seputar keluhan dan kondisi kesehatannya yang ia rasakan saat ini.
Setelah merasa cukup dan menyatakan Kai dalam kondisi baik-baik saja dan sudah diperbolehkan pulang, mereka akhirnya meninggalkan kamar rawat itu.
Kini yang tinggal hanya mereka bertiga. Kai, Mike dan El.
"Kai, tugasku sudah selesai di sini. Sekarang sudah tidak ada lagi yang aku khawatirkan. Kedepannya nanti, jaga kesehatanmu dan jangan pernah menyentuh minuman keras lagi. Perbanyak konsumsi buah dan makanan yang bergizi juga berolahraga," pesan Mike seraya menepuk pundaknya.
"Thanks, Mike. Maaf aku sudah membuatmu tertahan di sini selama berminggu-minggu," lirih Kai.
"Mike apa itu artinya kamu akan meninggalkan kami di sini?" tanya El dengan raut wajah sendu.
Mike menoleh ke arahnya lalu merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan jika ia ingin memeluknya.
"Mike," lirih El saat masuk ke dalam pelukan pria blasteran itu.
"El ... no tears, Dear ..." bisiknya sembari mengelus punggungnya dengan sayang. "Kita akan bertemu lagi di kota A nanti."
"Thanks for everything, Mike. Sejak dulu kamu sudah banyak membantuku. Aku seolah sedang memeluk kakakku sekaligus ayah," lirih El lalu menyeka air matanya.
Mike mengulas senyum. "Sudah ... jangan bersedih, kasian triplets. Jika mamynya sedih mereka juga ikut sedih. Apa kamu mau jika triplets lahir, wajahnya cemberut terus. Gagal ganteng seperti dadynya jika mereka cowok begitupun sebaliknya jika mereka cewek," kelakar Mike lalu terkekeh.
El langsung memukul pelan dada sang dokter. Kesedihannya seketika lenyap berganti dengan tawa.
"Sudah ya. Aku sekalian pamit. Soalnya aku juga harus bersiap. Sore nanti aku harus kembali ke kota A," jelas Mike.
"Kami akan mengantarmu ke bandara," cetus Kai.
"Nggak usah, Kai ada Damian yang akan mengantarku nanti. Kamu istirahat saja. Apapun itu, aku sangat bersyukur kamu sudah siuman dan siap kembali beraktifitas," kata Mike.
"Baiklah Mike. Take care. Kita akan bertemu di kota A lagi nanti," balas Kai lalu memeluk sang dokter.
Setelah itu, Mike meninggalkan kamar rawat itu.
Sepeninggal Mike, El menghampiri suaminya lalu memeluk prianya dengan erat, menatap bola mata indahnya yang sudah dua minggu lamanya terpejam rapat.
Tangannya terangkat menyentuh kedua mata itu lalu menangkup wajah rupawan suaminya kemudian berbisik,
"Aku mencintaimu, menualah bersamaku dan anak-anak kita kelak. Kita akan mendidik mereka sebaik mungkin dan membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang dengan keluarga yang utuh. Jangan seperti kita." Mata El tampak berkaca-kaca.
Kai merasa terharu mendengar ungkapan istrinya. Ia mendaratkan kecupan di kening istrinya lalu turun ke bibirnya.
"So ... sudah mau mengakui jika kamu mencintai om-om, tua dan jelek ini?" ledek Kai. "Mau mengakui jika kamu mencintai pria bastard ini? Bahkan sudah membuatmu hamil dengan bayi kembar tiga sekaligus," ledek Kai lagi lalu terkekeh dan semakin merengkuh istrinya.
"Karena cinta bisa membuat seseorang lupa dengan akal sehat dan logikanya. Seperti kita berdua. Awal benci, dendam, amarah berubah menjadi cinta. Dan pada kenyataannya cintaku berlabuh di hatimu," bisik El.
Lagi-lagi sudut bibir Kai melengkung sempurna membentuk sebuah senyuman. Tidak ada yang bisa ia ungkapkan saat ini melainkan perasaan haru dan bahagia.
__ADS_1
Keduanya masih larut dalam perasan bahagia saling merengkuh dan merasakan hati keduanya menghangat.
Namun seketika membuyar saat pintu di ketuk lalu dibuka. Pikirnya itu adalah mama Glori namun tebakan El dan Kai salah.
"Tara ... Dian ..." lirih Kai lalu melonggarkan pelukannya dari istrinya.
Sedangkan El, ia mengulas senyum menatap baby Bara di dalam stroller bayi.
"Dian ... Tara ... ayo kemarilah. Ngapain kalian masih berdiri di situ," kata El.
Dian menghampiri El dan mendorong stroller ke arahnya. Namun tidak bagi Tara. Ia masih bergeming ditempat sambil menatap Kai.
"Tara ... kenapa kamu masih berdiri di situ. Kemarilah. Apa kamu nggak ingin mengatakan sesuatu padaku," ujar Kai.
"Kai," lirihnya lalu menghampiri ex sahabatnya sekaligus boss-nya itu. Begitu ia mendekat, ia langsung memeluk Kai dengan erat.
"Forgive me," lirihnya tanpa ingin melepas pelukannya. "Forgive me, Kai." Tara mengulang kalimatnya. "Maafkan semua kesalahanku padamu dan El. Semua ucapan yang terlontar tanpa bisa aku cegah. Aku khilaf, bahkan pernah berharap kamu ...." ia menggantung kalimatnya seolah tak sanggup mengucapkan kalimat terakhir.
"Tara," desis Kai sembari menepuk punggung ex asistennya itu. "Aku pantas, karena semua pokok permasalahan ini berawal dariku," sambungnya. "Kamu nggak salah, Tara. Namun jika boleh jujur, aku sangat kecewa saat kamu menuduh El yang tidak-tidak. El tidak seperti yang kamu tuduhkan. El tetaplah El, wanita yang teguh dengan pendiriannya," aku Kai lalu melepas pelukannya.
"Kai ..." lirihnya lagi lalu melirik El sejenak. "Honestly ... aku takut banget jika kamu nggak bangun," aku Tara. "El pasti akan membenciku seumur hidupnya," lanjut Tara lalu menyeka air matanya. "Maukah kamu memaafkan aku, Kai?"
"Aku sudah memaafkanmu, bahkan sedikitpun aku tidak pernah menyimpan dendam padamu. Kamu tetaplah sahabatku, sejak awal dan selamanya akan tetap menjadi sahabat terbaikku," tutur Kai seraya menepuk pundaknya.
"Kai, aku ingin kita seperti dulu lagi. Aku ingin memulai hubungan persahabatan kita dari nol lagi seperti dulu bahkan aku ingin anak-anak kita nantinya menjadi sabahat," ucapnya dengan tulus.
Kai hanya mengulas senyum lalu mengangguk tanda setuju. Ia memberi kode pada El supaya mendekat.
El menggelengkan kepalanya lalu melirik ke arah Dian dan temannya itu hanya mengangguk. Sedangkan Tara ia menatap El dengan seksama berharap wanita itu mau memaafkannya.
"Tara," lirih El. Ia menatapnya lekat, walau bagaimanapun pria itu pernah mengisi hati dan hidupnya.
"More close," pinta Tara lalu merentangkan kedua tangannya. Tak langsung memeluknya melainkan ia terlebih dulu melirik Dian dan suaminya seolah ingin meminta izin.
Melihat Kai dan Dian mengangguk setuju, El mendekat lalu masuk ke dalam pelukan Tara lalu menangis.
"Maafkan aku, Dear," bisiknya. "Pada akhirnya aku harus mengakui jika Kai adalah pemenangnya. Maafkan semua ucapanku dengan semua tuduhan yang tak aku lontarkan padamu. Semuanya karena aku terlanjur kecewa padamu," papar Tara dengan penuh penyesalan.
"Aku menyesalinya. Aku terlalu terobsesi padamu hingga aku lupa jika aku sudah memiliki istri dan anak. Bahkan aku selalu mengabaikan Dian hanya karena dirimu. Tapi sekarang, besok dan seterusnya itu nggak akan terjadi lagi. Aku akan mencintainya dan menyayanginya seperti ucapanmu waktu itu."
Mendengar penuturan Tara kepada El, baik Dian maupun Kai keduanya ikut terharu.
"Apa kamu benar-benar mencintai pria bastard itu?" tanya Tara dengan maksud bercanda.
Seketika tangis El terhenti lalu memukul dadanya merasa kesal.
"Menurutmu? Apa kamu nggak lihat buktinya ini?" kesal El sembari memegangi perutnya dan kembali memukul dada Tara.
Kai hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya dan ex asisstennya itu.
__ADS_1
Tara kembali memeluknya lalu terkekeh.
"Selamat ya, maaf aku terlambat memberi ucapan selamat atas kehamilanmu," ucap Tara dan kembali melonggarkan pelukannya.
Setelah itu, mereka menghampiri sofa lalu duduk bersama. Kehangatan kembali tercipta di antara mereka. Kembali menyambung hubungan persahabatan yang sempat terputus.
Setelah saling memaafkan baik Kai dan El, keduanya sudah bisa bernafas lega. Di balik penyakit Kai dan komanya dirinya ada hikmah yang mereka dapatkan.
.
.
.
Malam harinya ...
Setelah melewati drama saling memaafkan dengan Tara dan sempat berbincang-bincang, sore harinya Kai dan El juga berkemas untuk pulang ke mansion.
Setelah melakukan transaksi administrasi biaya perawatan selama dua minggu di rumah sakit itu.
Sebelum benar-benar pulang, Kai dan El mengajak Mike pulang ke mansion sebelum pria blasteran itu benar-benar akan berangkat.
Lagi-lagi El dirundung sedih dengan keberangkatan ex dosennya itu.
Di sinilah El dan Kai sekarang. Setelah selesai makan malam, keduanya terlihat sedang duduk bersantai di ruang keluarga bersama mama Glori dan Damian.
Tak ada kata yang bisa mama Glori bisa ungkapkan melainkan merasakan perasaan bahagia karena sang putra benar-benar sudah kembali ke rumah dan tampak jauh lebih sehat.
"Sayang ... Mah ... Damian," sebut El sekaligus membuka suara.
"Ada apa, Nak? Apa kalian juga akan segera kembali ke kota A?" sahut mama.
El menggelengkan kepalanya lalu menyandarkan kepalanya di dada suaminya sambil mengelus lembut perut Kai tepat di bekas sayatan operasinya.
"Ada apa?" bisik Kai lalu mengecup keningnya.
"Aku sudah memutuskan akan tinggal di sini hingga aku melahirkan," kata El.
Seketika mata mama berbinar bahagia tak terkecuali Kai dan Damian.
"Beneran, Sayang?" tanya mama dengan sembringah. Seketika wajah sedihnya berbinar bahagia dan dijawab dengan anggukan kepala sang menantu.
"Syukurlah, mama setuju jadi kita bisa menghabiskan waktu bersama di sini."
"Lalu kuliahmu?" tanya Kai.
"Seminggu yang lalu aku sudah mengajukan kuliah jarak jauh dari dosenku dengan waktu tak terbatas," jelas El. "Lagian tidak masalah soalnya pemilik yayasan kampusku adalah keluarga Vira," pungkas El.
"Wah ... El, aku seperti nggak sabaran ingin menyambut ponakanku," sahut Damian sambil tersenyum menatapnya dan Kai.
__ADS_1
...****************...