
Tok...tok...tok...
Tara yang tampak serius menatap layar laptopnya, terpaksa berhenti sejenak lalu mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.
Tidak lama kemudian Daniel muncul dari balik pintu sambil membawa beberapa file.
"Tara, jam sembilan nanti kita ada meeting dengan beberapa klien."
"Ok, kamu atur saja tempatnya," balasnya.
"Ok, as you want."
Ruangan itu kembali hening sejenak.
"Dan, jangan lupa tiap bulan transfer sejumlah uang ke rekening El. Soalnya dia pasti membutuhkan uang itu untuk biaya kuliah dan uang semesternya nanti."
"Ok."
Setelah itu, Daniel meninggalkan ruangan itu. Begitu ia menghilang, Tara menatap frame foto yang ada di atas mejanya.
Ia mengulas senyum menatap foto kebersamaannya dengan El yang sedang tersenyum sambil memeluknya.
"El, di mana pun kamu berada, semoga kamu baik-baik saja. Aku tidak akan pernah lelah menanti kabar baik dari orang-orang kepercayaanku."
.
.
.
.
Jauh dari kota A, El yang saat ini baru saja terbangun perlahan membuka matanya. Ia belum menyadari jika matahari sudah mulai memancarkan cahaya teriknya.
"Eeuugghh .... hooaamm ... sudah jam berapa ini?"
Ia pun meraih ponselnya yang tergeletak di samping kasurnya. Matanya langsung terbelalak.
"What!" pekiknya kaget karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Ia pun segera beranjak dari kasurnya lalu bergegas mematikan semua lampu yang masih menyala. Setelah itu, ia mengambil handuk lalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sesaat setelah berada di kamar mandi, ia terkekeh saat menatap ember dan gayung yang ada di kamar mandi itu. Ia jadi teringat ketika ia masih mendekam di penjara.
"El, inilah kenyataan hidupmu yang sebenarnya,'' bisiknya lalu menyalakan kran air lalu mengisi ember untuknya mandi.
Setelah selesai mandi, El hanya mengenakan baju over size dan celana pendek. Ia pun mulai membersihkan rumah kontrakan sederhana itu yang hanya berukuran 4x6 meter persegi.
Hampir tiga puluh menit ia berkutat membersihkan, menata dan merapikan kamar, ruang tamu dan dapur. Setelah selesai, barulah ia merebus air lalu membuat kopi.
Setelah meletakkan kopinya di depan laptopnya, ia kembali mengambil rokok beserta pemantiknya. Setelah membakar benda itu ia lalu menyesapnya sambil menyeruput kopinya yang masih hangat.
__ADS_1
*******
Di tempat yang berbeda, Kantor Dukcapil ...
Dian tampak sedang mengubah identitas El. Nama aslinya ia ubah menjadi Culun. Semuanya sudah berhasil ia ubah, hanya tinggal KTP karena terkendala dengan foto. Dian tidak bisa mengganti foto El yang telah ia siapkan sendiri melainkan ia harus datang ke kantornya.
"Sebaiknya aku hubungi dia saja supaya datang ke kantorku."
Dian pun menghubungi nomor ponsel El yang sudah ia berikan kepadanya semalam.
Sementara ... El yang sedang menatap layar laptopnya terpaksa berhenti sejenak karena ponselnya bergetar.
"Dian?"
"Ya, hallo Dian, apa ada masalah?"
"Iya, kamu bisa nggak datang ke kantor sekarang?"
"Bisa, tapi mungkin sedikit telat, maklum harus pesan ojol dulu ... hehehe."
"Nggak apa-apa, El. Jika kamu sudah sampai, jangan lupa hubungi aku ya."
"Ok siap, Bu."
Setelah itu, El memutuskan panggilan lalu terkekeh. Ia pun mengambil alat tempurnya untuk membuat freckless di wajahnya.
"El ... El, ribet amat sih hidupmu," gumamnya lalu terkekeh menatap wajahnya.
Beberapa menit berlalu ...
Setelah itu, ia pun memesan ojol lewat aplikasi. Sama seperti sebelumnya, ia tetap menggunakan jasa Candra sebagai ojolnya.
"Mudah-mudahan, Candra nggak ada customer," gumamnya.
Merasa sudah tak ada lagi yang ia lupa, ia pun menunggu Candra. Kurang lebih dua puluh menit menunggu akhirnya Candra pun tiba.
"Maaf telat, tadi habis antar customer," sapanya.
"Nggak apa-apa, Candra. Tolong antar aku ke kantor Dukcapil ya," pinta El.
"Ok, siap," balasnya.
El pun memakai helm lalu naik ke atas motor Candra. Setelah itu ia menepuk bahu pria itu supaya lanjut memacu motornya ke tempat tujuan.
Karena jalanan cukup senggang di kota itu, mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di kantor Dukcapil.
"Thanks ya, Candra. Oh iya, ongkosnya sudah aku bayar lewat aplikasi ya," kata El dengan seulas senyum.
"Lun, aku sekalian tungguin kamu saja deh," usul Candra.
"Boleh deh. Tapi apa nggak apa-apa? Bagaimana jika kamu ada customer?" tanya El.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Lun. Kamu juga customer kok," jawabnya sambil cengengesan.
El hanya geleng-geleng kepala lalu mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menghubungi Dian.
Tidak lama kemudian, Dian pun menghampirinya.
Dian langsung membawa El ke ruangan khusus pembuatan KTP yang sudah ia minta untuk di kosongkan sementara.
Hampir tiga puluh menit El dan Dian berada di ruangan itu. Setelah melalui semua proses untuk membuat KTP, Dian tinggal mencetaknya.
Sesaat setelah KTP-nya berhasil dicetak, El kembali berterima kasih padanya. Ia terkekeh saat menatap foto KTP-nya yang baru.
Setelah itu Dian mengajaknya ke ruang kerjanya lalu memberikan semua berkasnya yang sudah di ubahnya.
"Terima kasih ya, Dian," ucap El lalu memeluknya.
"Sama-sama El. Jika kamu butuh bantuan lagi jangan sungkan-sungkan hubungi aku," pesannya.
El hanya mengangguk. Setelah itu ia pun berpamitan kemudian meninggalkannya.
Ia terus melangkah lalu menghampiri Candra yang terlihat sedang serius berbicara dengan seseorang lewat benda pipih yang menempel di telinganya.
Alisnya saling bertaut saat menatap benda pipih itu.
"Mana ada bang ojol punya ponsel semahal itu. Hanya orang-orang tajir melintir saja yang bisa membelinya. Who are you? Oh God, aku seperti melihat sosok Tara di dalam dirinya," gumamnya dalam hati.
"Wooi ... serius amat ngobrolnya, bagi-bagi informasi dong." El terkekeh.
Candra langsung gelagapan mendengar suara gadis itu. Ia pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan.
"Udah?"
"Hmm."
"Ya sudah, mau di antar ke mana lagi kamu?" tanya Candra.
"Ke restoran cepat saji saja. Sekalian aku mau traktir kamu." El mengulas senyum.
"Boleh deh Lun."
Lima menit kemudian mereka pun sampai di restoran cepat saji. Setelah memarkir motor, Candra mengajaknya masuk.
Mereka pun memesan makanan sambil menunggu. Setelah mengambil nampan yang berisi makanan pesanan mereka, El dan Candra pun mencari tempat yang kosong.
"Candra, terima kasih ya," ucap El lalu duduk di kursi kemudian meletakkan nampannya di atas meja.
"Sama-sama, Lun," balas Candra.
Karena sudah merasa lapar, tanpa basa basi, El menyantap pizza kesukaannya. Sedangkan Candra, ia hanya menatap bengong gadis itu.
"Candra, di makan dong makanannya. Jangan menatapku seperti itu. Emangnya kamu bakal kenyang jika terus menatapku makan?" tegur El lalu terkekeh. "Aku lapar banget dari pagi belum makan tahu."
__ADS_1
Candra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah itu, ia pun ikut menyantap makanannya dan sesekali memperhatikan El.
...----------------...