
Sepeninggal Tara dan Daniel, El kembali ke ruang tamu lalu mendaratkan bokongnya di sofa.
Ia pun mulai mengeluarkan berkas-berkas penting peninggalan orang tuanya, ijazahnya mulai dari SD hingga SMA.
Setelah itu ia meraih tas laptopnya lalu mengeluarkan benda itu.
"Thanks Tara, Daniel. Kalian orang baik yang dikirim Tuhan untukku," lirihnya.
Ia ke salah satu sudut ruangan lalu menyambungkan kabel charger laptopnya ke terminal listrik.
"Aku akan mengaktifkan akses internetnya setelah membeli modem," gumam El.
"Aku merasa bingung dengan pria itu. Wajah tampan, berpengaruh, berwibawa, serta tajir. Lalu, mengapa dia menindasku hanya karena menolak menjadi bed partnernya," gumam El lagi.
Tiba-tiba ia teringat akan ponselnya di kamar mandi.
"Ponselku? Astaga!! Mudah-mudahan nggak basah," desisnya lalu berlari menaiki anak tangga menuju kamar.
"Haah ... Syukur lah kamu masih aman," lirihnya menggenggam benda pipihnya sesaat setelah berada di dalam kamar mandi
Ia pun mengaktifkan ponselnya lalu menatap layarnya. Ia terkekeh setelah mendapati banyaknya panggilan tak terjawab dan ratusan pesan yang masuk.
"Sorry guys ... bukannya aku tidak ingin membalas atau tidak ingin menjawab panggilan dari kalian, alasannya karena aku di penjara."
Satu jam kemudian pukul 20:30 malam ...
El meninggalkan apartementnya dan memilih ke salah ATM terdekat untuk menarik sejumlah uang yang ia butuhkan untuk membeli kartu baru dan modem.
Ia mengerutkan alisnya saat menatap struk penarikan uang.
"Apa aku nggak salah lihat? Ini angkanya tiga digit kan?" gumamnya sambil menggosok kedua matanya. "Mungkin aku salah lihat kali," gumamnya lagi lalu membuang struk itu ke dalam tong sampah.
Lokasi selanjutnya yang akan ia tuju adalah Mall favoritnya.
.
.
.
Di tempat yang berbeda ....
Suara alunan musik terus menggema di club' malam tempat Tara berada sekarang.
"Sayang ... kamu kenapa sih? Dari tadi senyum-senyum terus?" tanya Clara.
Tara hanya mengangkat bahunya lalu meneguk minumannya. Sedangkan Kai, ia merasa aneh dengan tingkah sahabatnya.
Tara kembali mengulas senyum. Saat ini yang ada di benaknya adalah El.
"Oh ya, Sayang, aku ke ruangan Hamdan dulu ya," izinnya. "Kai, nggak apa-apa kan, aku tinggal sebentar."
Clara dan Kai hanya mengangguk. Sepeninggal Tara, Kai melirik Clara.
__ADS_1
"Ra, apa kamu nggak merasa aneh dengan gelagat kekasimu itu, hmm," tanya Kai.
"Maksudmu?"
"Kelihatannya Tara terlihat bahagia? Aku curiga jika dia memiliki WIL (wanita idaman lain)." Kai seolah memprovokasi Clara.
Mendengar ucapan mengandung provokasi dari Kai, Clara langsung meneguk sisa minumannya karena merasa kesal.
"Ra, aku duluan ya," izinnya lalu meneguk sisa minumannya lalu melakukan transaksi.
"Okay," jawab Clara seraya mengangkat tangannya.
Saat akan beranjak dari tempat duduknya, seseorang memeluknya. Kai hanya tersenyum lalu melepas lengan yang melingkar di perutnya.
"Sorry Sis, tidak untuk malam ini," tolak Kai lalu berlalu begitu saja meninggalkannya.
Siska yang ditolak mentah-mentah merasa sangat kecewa. Bukan tanpa alasan, selain menjadi bed partner, diam-diam ia malah jatuh cinta pada pria tampan itu.
Sedangkan Clara yang masih menunggu Tara dan tak kunjung kembali, memilih menyusulnya ke ruangan Hamdan. Namun ia semakin merasa kesal karena Tara tidak berada di sana.
"Dan, apa kamu tahu Tara ada di mana? Katanya dia ingin ke sini tapi kok dia malah menghilang?"
"Entahlah, aku juga nggak tahu," jawab Hamdan dengan santainya.
"Ya sudah deh ... aku pulang saja," kesalnya lalu keluar dari ruangan itu.
Sesaat setelah berada di parkiran, ia menatap Kai yang sedang bersandar di mobilnya sambil merokok.
Clara menghampirinya. "Kai? Apa kamu tahu sesuatu? Atau ada yang kalian sembunyikan dariku?" selidiknya.
"Jangan bertanya padaku tapi tanyakan langsung pada kekasihmu," sahut Kai dengan senyum sinis.
"About El, Do you know her?" tanya Clara dan terlihat emosi.
"Jika aku mengatakan aku mengenalnya? Apa yang akan kamu lakukan?" Kai balik bertanya. "Dia bukan siapa-siapa melainkan seorang wanita kriminal. Clara, dia bukanlah rivalmu," kata Kai dan kembali tersenyum sinis.
Clara hanya bergeming, namun terlihat geram mendengar ucapan Kai.
"Sudahlah dan lupakan. Lagian nggak ada gunanya membahas wanita nggak jelas seperti El," kata Kai lagi kemudian masuk ke dalam mobilnya sekaligus meninggalkan Clara yang masih tampak terpaku di tempat.
.
.
.
Sementara di tempat yang berbeda, tepatnya di salah satu counter, El tampak membeli modem dan kartu baru. Ia langsung memasang kartu baru itu di ponselnya dan membuang kartu lamanya.
"Akhirnya, kamu bisa aktif lagi," kata El lalu tersenyum.
Setelah merasa puas berada di pusat perbelanjaan itu, baru lah ia kembali ke parkiran dan kembali memacu motornya hingga tiba di parkiran apartementnya.
Sesaat setelah berada di ruang tamu apartement, ia mengambil laptopnya lalu membawa serta ke kamarnya.
__ADS_1
"Haaah .... akhirnya sampai lagi aku di tempat yang nyaman ini," lirihnya.
Beberapa menit kemudian ia memasang modemnya ke laptop lalu mulai mengaktifkan internet.
Ia hanya bisa menghela nafasnya karena hanya bisa menatap email yang dikirim dua tahun lalu masuk ke kotak masuk emailnya.
"Jika bukan karena pria itu, saat ini aku pasti sudah memiliki tempat praktek," lirih El.
Setelah itu, ia tampak mengutak atik laptopnya dan kembali menatap foto kebersamaannya dengan mama papanya, teman komunitas motornya, teman kuliahnya dan kebersamaannya dengan coach di salah satu pusat latihan bela diri yang cukup terkenal di kota A.
"Aku kangen kalian, guys," lirihnya.
Puas menatap foto di laptopnya, El tidak menyadari jika jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Merasa belum mengantuk, ia meraih rokoknya dan melangkah ke arah balkon kamar.
El kembali mengamati keindahan kota A itu sambil menyesap rokoknya. Tanpa menghiraukan angin yang terus menerpa tubuhnya.
Cukup lama ia berada di balkon kamarnya sambil melamun jauh. Bahkan sudah menghabiskan beberapa batang rokok, namun ia masih saja betah berada di tempat itu.
"El, apa kamu sering berpakaian seperti ini jika sendirian di rumah?" bisik Tara sekaligus membuyarkan lamunannya.
Tara kembali mengelus punggung El tepat di gambar tatto black rosenya dengan ukiran nama lengkap gadis itu.
Ellin Davina dengan tulisan sambung. Untuk yang kedua kalinya Tara baru bisa melihat dengan jelas tatto yang terukir indah di punggung El.
El langsung berbalik lalu menatap Tara yang hanya bertelanjang dada.
Pantasan saja aku merasa hangat, dianya hanya bertelanjang dada. Awas saja jika dia berani macam-macam padaku.
El menyipitkan matanya menatap penuh selidik padanya.
"Sejak kapan kamu ada di sini? Kok, aku nggak mendengar kamu masuk?" cecar el. "Kenapa kamu nggak pulang ke rumahmu saja?"
Tara menggelengkan kepalanya lalu memeluk El dengan erat lalu mengecup puncak kepalanya.
"Taraaa, lepas. Tubuhmu bau minuman. Kamu pasti habis minum?" tebak El. "Please jangan seperti ini," bisik El karena merasa risih.
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja. Jangan takut El, aku tidak akan macam-macam padamu. Aku janji," bisik Tara.
El hanya bergeming dalam pelukannya. Sedetik kemudian Tara melonggarkan pelukannya lalu mengelus pipi dan bibirnya.
Perlahan tapi pasti, Tara semakin mendekatkan wajahnya dan terus menatap bibir El dan ingin menciumnya. Namun El langsung menahan bibirnya dengan jarinya.
"Dasar player," kata El lalu terkekeh. "Aku kan sudah bilang, jangan lakukan nanti kamu bakal kecanduan," peringatnya.
"Bukankah yang membuat aku candu itu kamu? Bahkan tadi pagi, kamu sudah mencium bibir ini." Tara menyingkirkan jari El yang menempel di bibirnya.
El langsung mendorong dada liat Tara. "Tara!!" kesalnya.
Tara langsung tertawa menatap wajah kesal El lalu kembali memeluknya.
"El, aku kan sudah bilang, kamu itu sangat mahal dan berharga bagiku. Aku nggak akan tega melakukanya. Kecuali kamu menjadi milikku," bisiknya.
"Sudah, ayo masuk. Ini sudah terlalu larut, lagian udaranya sudah mulai dingin," bisik Tara lagi lalu melepaskan pelukannya.
__ADS_1
...----------------...