
Tanpa terasa waktu yang Kai nanti-nantikan akhirnya tiba juga. Sebulan telah berlalu kini keduanya tampak sedang bersiap menuju kota A.
"Sayang, maaf ... sebelum lanjut ke Jerman, apa boleh kita habiskan waktu kita dulu di kota A?" usul El. "Aku ingin ziarah makam sekaligus ingin bertemu Mike, Lois dan Dian, boleh ya?"
"As you want, sayang," bisik Kai lalu mengecup bibirnya.
"Terima kasih karena kamu, mau mengerti aku."
"Demi kamu, aku rela melakukan apa saja," ucap Kai lalu mengulas senyum.
El kembali memeluknya dengan erat sekaligus merasa terharu. Setelah beberapa detik, ia melerai dekapannya lalu menangkup wajah prianya itu.
"What?" Kai mengerutkan keningnya.
"Aku ingin Mike dan Lois menjadi saksi pernikahan kita."
"Baiklah, nggak masalah, Sayang."
"Aku hanya percaya mereka berdua saja. Sejak dulu sampai sekarang. Mike dan Lois sudah seperti saudaraku sendiri," jelas El.
"Hmm ..." Kai mengangguk sembari mengedipkan kedua matanya lalu lanjut bertanya, "Apa kamu sudah siap menjadi Nyonya Kai Intezar Abraham?"
“Sebenarnya aku belum siap sepenuhnya, Sayang. Tapi aku akan mencoba. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu."
"Hmm ... ayo, Richard sudah menunggu kita."
El hanya mengangguk lalu menautkan jemarinya dengan Kai kemudian meninggalkan unit itu menuju lift.
Ketika berada di dalam elevator itu, Kai mengulas senyum saat El memeluknya dengan manja.
"Sayang ... apa kamu masih ingat kejadian saat kamu mabuk dan berada di lift ini bersamaku waktu itu?" tanya Kai seraya mengelus wajahnya.
El hanya mengangguk lalu terkekeh. "Hmm ... awalnya aku ingin memakimu, mengumpatmu sepuas yang aku inginkan. Namun ..." El kembali terkekeh seraya menatap manik hazel kai yang selalu membuatnya tak bisa berkutik.
"Namun apa?" tanya Kai lalu menyatukan keningnya.
"Tapi aku malah terjebak dengan ketulusanmu malam itu," akunya sambil mengeratkan pelukannya.
"Really?"
"Hmm." El kemudian mengecup bibir prianya itu.
"Bagaimana bisa? Padahal kamu sangat membenciku." Kai menatapnya penasaran.
__ADS_1
El tak sempat menjawab karena pintu lift sudah terbuka. Gadis itu hanya tersenyum penuh arti. Sementara Kai, ia semakin di buat penasaran karena El tak menjawabnya.
"Sayang! Kamu belum menjawabku," kata Kai.
El kembali mengulas senyum lalu berkata, "Aku akan menjawabnya nanti."
"Tuan ... Nona El. Kopernya kok nggak dibawa?" tanya Richard sesaat setelah keduanya menghampirinya.
"Nggak perlu bawa koper, ribet," sahut Kai santai lalu masuk ke dalam mobil. Sedangkan El hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan santai pria blasteran itu.
Sesaat setelah Richard melajukan kendaraannya menuju bandara kota X, ia pun bertanya, "Tuan, apa Anda akan lama di Jerman?"
"Aku nggak bisa memastikan, Richard. Oh ya, jangan lupa ajak Candra ke lokasi proyek besok. Aku sudah mengabarinya. Nanti aku akan memantau perkembangan proyek itu dari sana. Satu lagi, jika ada masalah langsung kabari aku lewat email," pesan Kai.
"Baik, Tuan."
El hanya menyimak pembicaraan keduanya dan sesekali menatap keluar.
"Untuk yang kesekian kalinya aku menginjakkan kakiku ke kota itu lagi. Tapi aku lebih mencintai kota ini dan berharap akan berkarir dan mengabdi di kota ini saja. Aku merasa lebih nyaman di sini," gumam El dalam hati.
Kai melirik El yang sedang memandang jendela mobil. Menggenggam jemarinya lalu mengulas senyum.
"Sayang, ada apa? Lamunanmu kok terlihat jauh?" tanya Kai.
"Nggak apa-apa," jawabnya singkat lalu menyandarkan kepalanya di pundak prianya.
Richard melirik keduanya lewat kaca spion tengah mobil.
.
.
.
Setibanya di bandara kota X ...
"Richard, aku dan El berangkat ya. Urusan kantor aku percayakan sepenuhnya padamu," kata Kai seraya menepuk pundak asisten kepercayaannya itu.
"Baik, Tuan. Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat untuk Tuan dan Nona El. Semoga semuanya berjalan lancar tanpa kendala," ucap Richard dengan tulus.
"Terima kasih ya, Richard," kata Kai dan El bergantian.
Setelah itu, keduanya kembali melanjutkan langkah meninggalkan Richard.
__ADS_1
Sesaat setelah berada di dalam pesawat. Kai mengulas senyum. Ia kembali teringat moment ketika ia bertemu dengan El kala itu.
"Sayang ..."
"Hmm ..."
"Aku jadi teringat saat kita bertemu di pesawat waktu itu."
El langsung tertawa. "Kamu masih mengingatnya? Ya ampun, Sayang. Andai kamu tahu saat itu, aku merasa sangat jengkel dan ingin mendaratkan bogem mentah di wajah tampan ini," aku El lalu menangkup gemas wajah pria itu lalu memeluknya.
Sudut bibir Kai kembali melengkung sempurna dengan sikap manja El. "Apa sekarang kamu masih ingin mendaratkan bogem mentahmu itu di wajahku?" bisik Kai.
El menggeleng lalu menyandarkan kepalanya di pundak Kai seraya memeluk lengannya.
"Jangankan mendaratkan bogem mentah, melihatnya tergores sedikit saja aku bahkan nggak sanggup," aku El lagi. "Sayang, maafkan aku karena mengerjaimu saat kita makan di warung emperan waktu itu."
"Nggak apa-apa, Sayang tapi jujur saja, aku sampai berhari-hari menahan perih di perutku," jelas Kai.
"Maaf ... soalnya aku benci banget padamu. Bahkan aku sempat berpikir ingin menaruh racun di makananmu," aku El.
"Lord ... kok kamu sekejam itu, Sayang," bisik Kai lalu membenamkan bibirnya di puncak kepala El. "Jika benar itu terjadi aku nggak masalah soalnya kamu pasti akan memaafkan aku."
El mendongak menatapnya. "Maaf ..."
"Nggak apa-apa, Sayang," balas Kai.
Keduanya tak menyadari jika ada sepasang mata yang sejak tadi sedang memperhatikan keduanya.
"Apa gadis itu kekasihnya Kai? Sepertinya masih sangat muda. Terlihat banget jika Kai sangat menyayangi dan mencintainya," gumam gadis itu dalam hatinya.
Tak lama berselang pesawat yang ditumpangi keduanya perlahan mulai mengudara.
El kembali menyandarkan kepalanya di sandaran kursi pesawat sambil menggenggam tangan Kai.
"Sayang ... honestly, aku nggak pernah menyangka jika aku bakal jatuh ke dalam pelukan pria bastard, nekat dan licik sepertimu," ujar El dengan senyum tipis lalu melirik Kai.
Kai terkekeh mendengar ucapan gadis itu lalu berbisik, "Jika aku nggak nekat dan nggak licik, aku nggak bakalan bisa merebutmu dari Tara."
El menggeleng dengan senyum tipis lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kai.
"Sayang, kamu benar, aku pria bastard, nekat dan licik. Tapi itu hanya berlaku padamu saja. Karena kamu adalah wanita yang spesial di hatiku," batin Kai
"You are mine," bisik Kai.
__ADS_1
Lagi-lagi gelagat keduanya tak luput dari perhatian wanita yang sedang duduk bersebelahan dengan kursi pesawat El dan Kai. Hatinya mencelos bahkan merasakan cemburu.
...----------------...