
Sore harinya ...
El, sudah rapi dengan seragam kerjanya. Setelah selesai membuat freckless di wajahnya dan mengoles lip gloss di bibirnya, ia memasang papan namanya di seragamnya.
El terkekeh ketika membaca namanya, CULUN. Terdengar lucu dan aneh tapi itulah yang El inginkan. Membuat diri dan namanya seaneh mungkin biar tidak ada yang mau mendekatinya.
Namun, ia tidak menyangka jika penampilan dan namanya yang aneh itu membuat rekan-rekannya menyukainya.
Di Kota yang begitu asing baginya, setidaknya ia mendapat perlakuan yang baik dari orang-orang yang dikenalnya termasuk rekan-rekan kerjanya.
"Ok, El, semangat," ucapnya lalu merapikan rambutnya yang sudah mulai panjang.
Ia pun memakai sepatu hak khusus waiter di restoran mewah tempatnya berkerja. Setelah mengunci pintu rumah, El berjalan dengan langkah kecil menuju halte bus yang tidak jauh dari rumah kontrakannya.
Sambil menunggu, El kembali memainkan ponselnya. Tak lama berselang akhirnya bis yang ditunggunya pun datang.
Di sepanjang perjalanan, El kembali teringat motor kesayangannya. Biasanya motornya itu yang selalu menemani aktivitasnya. Tapi sekarang sudah berbeda karena setiap harinya El harus menggunakan bis sebagai kendaraan untuk menyambung langkahnya.
Tidak lama kemudian bis yang ia tumpangi berhenti di halte tujuan.
"Terima kasih ya, Bang," ucap El dengan senyum ramah dan dibalas dengan anggukan kepala oleh bang supir.
Sesampainya ia di restoran, ia langsung menyapa teman-temannya.
"Selamat sore guys, maaf aku sedikit telat," kata El sambil memperbaiki kaca matanya.
"Sore juga, Lun." Teman-temannya membalas ucapan El bergantian.
"Oh ya, apa bu manager ada di ruangannya?" tanyanya.
"Ada, Lun. Kenapa? Apa kamu ingin bertemu?" tanya temannya.
El hanya mengangguk. Setelah itu, ia pun menghampiri ruang kerja Bu Manager. El mengetuk pintu sebelum masuk ke ruang kerja managernya itu.
"Selamat sore, Bu. Apa aku boleh masuk?" tanya El di balik pintu.
"Ah, Lun, masuk lah. Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Bu Manager sambil mempersilahkannya duduk.
"Iya, Bu. Bu, boleh nggak seminggu kedepan, aku ambil shift malam? Soalnya Minggu depan aku sudah harus masuk kuliah dan akan menjalani ospek."
"Nggak apa-apa, Lun, bisa kok. Kamu yang semangat ya kuliahnya. Ibu dan teman-teman di sini tetap selalu mendukungmu."
"Terima kasih ya, Bu." El merasa senang.
"Oh ya, Lun. Kamu ambil jurusan apa?" tanya atasannya itu sedikit penasaran.
__ADS_1
"Kedokteran, Bu."
"Beneran, Lun? Apa aku nggak salah dengar? Berarti nanti kamu harus pintar-pintar bagi waktu," ucap bu Manager.
"Iya, Bu." Ia terkekeh. "Terima kasih ya. Kalau begitu, aku pamit sekalian mau bergabung dengan teman-teman yang lain," kata El lalu beranjak dari kursi.
"Iya, Lun, semangat ya." Bu Manager mengangkat kedua tangannya menyemangatinya.
El kembali beraktivitas seperti biasa sebagai waiter, satu demi satu tamu restoran ia layani dengan ramah.
Karena kepribadiannya yang ramah dan sabar melayani tamu restoran, tak jarang ia mendapat tips dari mereka. Dapat tips saja, ia sudah merasa sangat senang karena lumayan untuk pembeli rokok dan ongkos bis.
Setelah kembali dari meja satunya, temannya memanggilnya.
"Lun, kemari sebentar," panggil temannya.
"Ada apa, Ali?" tanya El sambil membawa nampan.
"Lun, temani aku mengantar menu pesanan ini ke ruang VIP, soalnya kalau aku sendiri nggak bisa ini, harus berdua," kata Ali.
"Hmm ... baiklah jangan khawatir, aku pasti bantu kok," ucap El.
Setelah itu mereka berdua pun mengantar menu makanan itu ke ruang VIP yang di maksud oleh Ali.
El mengetuk pintu lalu menyapa.
Seseorang yang sedang menatapnya langsung tersenyum lalu menjawab sapaannya.
"Nggak apa-apa, Lun. Santai saja," kata Candra.
El hanya tersenyum sambil menyajikan menu makanan di atas meja sekaligus menata dengan rapi. Sebenarnya ia sedikit kaget karena yang menjawabnya adalah Candra. Ia lalu bergumam dalam hatinya.
"Cih, kenapa sih, harus bertemu dengan si bang ojol bohongan ini di sini? Ih, males banget aku. Pasti di bakal ke sini terus nantinya."
"Jadi ... kamu kerja di sini ya, Lun?" tanya Candra.
"Menurut mu? Nggak lihat seragam ini? Sudah tahu malah nanya lagi," jawabnya dengan ketus lalu memutar bola matanya malas.
Candra hanya terkekeh menatap wajah kesal gadis itu.
"Maaf ya, Bapak-bapak. Silakan dinikmati makan malamnya, kami permisi," pamitnya lalu mengajak Ali keluar dari ruangan itu.
Setelah berada di luar ruangan VIP itu, ia cepat-cepat melangkah.
"Lun, tungguin dong!" Ali sedikit mempercepat langkahnya.
__ADS_1
"Apa sih, Al!" kesal El sambil terus berjalan ke arah tempat istirahat mereka.
"Wah, Lun, apa kamu tahu siapa pria tadi?" tanya Ali.
"Tahu lah, Al. Dia itu bang ojol bohongan, seorang Rektor di Universitas Negeri X," jawab El sambil membetulkan kaca mata tebalnya.
"Bukan cuma itu saja, El, dia juga putra dari pemilik restoran ini," ungkap Ali.
"What!! Beneran, Al?!" pekik El lalu membekap mulutnya dengan kedua tangannya karena temannya yang lain langsung menoleh ke arah mereka berdua.
Ali langsung terkekeh melihat ekspresi kaget gadis itu. Sementara El, ia mengusap tengkuknya sambil cengengesan.
"Ih, males banget aku. Padahal aku sudah mati-matian menghindar dari si bang ojol bohongan itu," gumamnya.
"Yuk, kita bersihkan dulu meja-meja yang sudah kosong, sebentar lagi kita pulang." Ali menepuk lengannya.
Ia hanya mengangguk. Setelah itu ia dan teman-temannya yang lain pun, kembali memungut piring dan gelas yang masih tergeletak di meja lalu membawanya ke tempat pencucian piring.
Setelah kurang lebih satu jam berkeliling membereskan meja dan kursi restoran, El dan teman-temannya pun beristirahat sebentar.
Setelah itu, El kembali ke lokernya untuk mengambil tasnya kemudian berpamitan.
Ia pun berjalan dengan langkah kecil sambil menunduk kemudian menghitung-hitung langkahnya.
Bruukkk.....
El merasa kepalanya menubruk seseorang. Ia pun mendongak. Ketika tahu siapa yang ada di depannya, ia langsung memutar bola matanya malas.
"Kalau jalan tuh, lihat ke depan jangan menunduk," ledek Candra sambil menyentil keningnya.
El tak menjawab melainkan melanjutkan langkahnya sambil mengusap keningnya karena malas meladeni Candra.
"Lun, tungguin dong!" panggil Candra.
Lagi-lagi gadis itu tidak menyahut maupun menoleh melainkan terus melangkahkan kakinya hingga ia sampai di halte bis. Ia pun duduk di bangku halte sambil menunggu bis.
"Cih, Culun kenapa sih? Sepertinya dia menghindariku. Tapi kenapa?" tanya Candra pada dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian, bis yang ditunggu gadis itu pun tiba. Ia cepat-cepat naik ke bis itu karena tidak ingin disusul oleh Candra.
Di sepanjang perjalanan, El hanya diam dan menatap lampu-lampu jalan di balik kaca bis.
"El, tetap lah semangat, nggak mengapa lelah bekerja sambil kuliah yang penting cita-cita mu tercapai," gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Ia mengulas senyum sambil terus memandangi lampu-lampu di sepanjang perjalanan pulangnya.
__ADS_1
...----------------...