All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
122. Suka suka aku dong ...


__ADS_3

Setibanya di bandara Kota A, Alex langsung menghampiri keduanya.


"Tuan, Nona El ... loh kopernya Tuan?" tanya Alex.


"Kita nggak bawa koper, bawa diri saja," jawab Kai santai lalu terkekeh menatap ekspresi bengong asistennya itu.


"Lex, kamu antar aku ke kantor dulu. Setelah itu, langsung antar El ke penthouse," perintahnya.


"Baik, Tuan."


Sesaat setelah berada di dalam mobil, El langsung menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil.


"Sayang, kepalaku pusing," keluhnya.


Kai mengulas senyum penuh arti sekaligus ingin menggodanya.


"Sayang, jangan mulai deh. Aku tahu apa yang ada di otakmu itu," sindir El lalu mendorong dadanya. "Dasar Om mesum!!"


Kai langsung tertawa merasa gemas.


"What? Tuan Kai dikatain om mesum? hahaha ... Lucu juga Nona El," batin Alex sembari melirik keduanya lewat kaca spion tengah mobil.


*******


Setibanya di depan gedung kantor, Kai kembali berpamitan.


"Sayang, aku masuk dulu ya. Jangan lupa minum obat lalu istirahat atau ...." Kai menggantung ucapannya.


"Atau Apa?" El mengerutkan kening.


"Atau mau aku yang obatin?" goda Kai.


"Sayaaang, please deh! Sempat-sempatnya mikirin hal mesum," kesal El lalu menghadiahkannya satu cubitan di perut.


"Ssssttt ..." ringis Kai lalu terkekeh. "Ya sudah, aku masuk dulu," ucapnya seraya mengelus rambut El kemudian meninggalkan keduanya.


"Lex, antar aku ke supermarket dulu ya," pinta El.


"Baik, Nona El.


.


.


.


Supermarket xxx ...


"Aku belanja dulu ya," kata El.


"Apa mau saya temani, Nona El?" tawar Alex.


"Boleh deh, asal kamu nggak malu saja?" El terkekeh.


"Nggak, saya hanya mengawasi saja ..." sahut Alex cepat.


"Ya sudah ... ayo," ajak El dengan seulas senyum.

__ADS_1


Keduanya melanjutkan langkah menuju ke arah pintu supermarket.


El meraih salah satu keranjang belanjaan untuk membeli beberapa sayuran, buah dan daging-dagingan.


Ia terus berkeliling sekaligus menikmati aktifitasnya berbelanja. Saat berada di salah satu bagian cemilan, ia tak sengaja menabrak seseorang.


Brukk ....


"Maaf, aku nggak sengaja," sesal El lalu menatap orang yang di tabraknya.


"Wah wah wah ... rupanya kamu?!" sinis wanita tersebut lalu menatap El dari ujung kaki hingga kepala.


El hanya memaklumi wanita tersebut. Wanita yang sering menghinanya sekaligus musuh bebuyutannya.


"Oh ... Viona?" ucap El lalu memutar bola matanya malas.


"Dari mana saja kamu, wanita ja*lang? Sudah lama sekali aku nggak melihatmu" tanya Viona dengan sinis seperti biasanya.


"Ternyata kamu nggak ada berubahnya ya. Masih saja kepo dengan urusanku. Aku mau ke mana kek, tinggal di mana kek bukan urusanmu. Suka suka aku dong. Lagian aku masih single sekaligus bebas. Nggak sepertimu," sindir El.


Viona bergeming lalu menatapnya lekat dengan perasaan dongkol.


Karena tidak ingin terjadi sesuatu, El segera meninggalkan Viona. Apalagi saat ia berada di puncak emosi, El seakan tidak bisa mengontrol dirinya.


"Sebaiknya aku segera tinggalkan saja wanita kepo ini. Jangan sampai emosiku aku nggak bisa mengendalikan emosiku. Nama Kai jadi taruhannya."


"Nona El," tegur Alex. El dan Viona sama-sama menoleh.


"Nona El, belanjaannya biar saya saja yang bawa," tawar Alex lalu menghampirinya.


"Ah iya." El meletakkan keranjang belanjaannya lalu berlalu begitu saja.


Mendengar nama Kai, seketika membuat wajah Viona pucat sekaligus membuat tubuhnya gemetar. Bukan tanpa alasan, ia pun tahu benar seperti apa kejamnya Kai.


Sesaat setelah melakukan transaksi, El langsung menuju mobil sembari menunggu Alex.


"God, sedih banget. Aku masih saja di anggap wanita ja*lang. Padahal aku nggak pernah menjual tubuh burikku ini. Hanya Kai satu-satunya pria yang pernah menjamah tubuhku dengan buasnya," gumam El dengan perasaan sedih.


"Nona El? Apa Anda baik-baik saja?" tegur Alex .


"Ya ... Alex tolong rahasiakan kejadian tadi pada Kai ya. Kamu tahu sendiri kan dia seperti apa?" pesan El.


"Tapi Nona ..."


"Nggak apa-apa," potong El. "Itu tetanggaku dulu. Sejak dulu dia memang tidak menyukaiku," jelas El. "Nggak usah dipikirkan, sekarang antar aku pulang."


Alex hanya mengangguk. Di sepanjang perjalanan pulang El hanya memainkan ponselnya dan sesekali melirik keluar.


*****


Setibanya di penthouse ...


"Lex, thanks ya .." ucap El.


"Iya, Nona El," balas Alex lalu membawa barang belanjaan ke pantry. Setelah itu Alex berpamitan kemudian meninggalkan El di ruangan mewah itu.


Sepeninggal Alex, El memasukkan semua barang belanjaannya ke dalam kulkas. Begitu selesai barulah ia ke salah satu sofa santai lalu merebahkan dirinya untuk beristirahat.

__ADS_1


.


.


.


.


Siang harinya ...


Kai tampak sedang bertemu dengan dokter Mike dan Lois di salah satu restoran mewah.


Setelah tahu jika Kai dan El akan menikah, keduanya tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.


"Mr. Kai, kamu sedang nggak bercanda kan?" tanya Mike.


"Tentu saja nggak. Aku serius." Kai menjawab dengan sungguh-sungguh. "Tapi, kami akan menikah di Jerman."


"Mengapa jauh banget di Jerman? Kenapa nggak disini saja?" tanya Mike lagi.


"El, ingin pernikahan kami dirahasiakan hingga ia tamat kuliah," terang Kai. "Dia juga ingin kalian berdua menjadi saksi pernikahan kami. Masalah ongkos, nggak usah khawatir soalnya aku akan menyewa jet pribadi untuk kenyamanan kita bersama," pungkas Kai dengan seulas senyum.


Lois hanya bisa melongo mendengar penjelasan Kai lalu menatap Mike seolah tidak percaya.


"Tuan ..."


"Jangan panggil Tuan, panggil Kai saja seperti El. Itu juga berlaku padamu Mike," sela Kai memotong kalimat Lois.


"Ya Tuhan, tolong bawa aku kepada El. Banyak hal yang ingin aku bahas dengannya," kata Lois kegirangan. "Sebelumnya selamat ya untuk kalian berdua," ucap Lois dengan tulus.


"Yang tahu berita bahagia ini, hanya kalian berdua saja. Tolong rahasiakan dari siapa pun," pinta Kai.


"Jangan khawatir Mr. ... eeee ... Kai maksudku. Rahasia ini pasti aman," ujar Mike.


"Terima kasih ya. Oh ya ini nomor ponsel El." Kai memperlihatkan kontak di layar ponselnya.


Ketiganya tak menyadari jika mereka sejak tadi sedang di perhatikan oleh Tara dan Daniel.


"Dan, aku penasaran apa yang sedang mereka bicarakan? Setahuku dokter Mike dan dokter Lois itu teman dekat El," tanya Tara sedikit penasaran.


"Ngapain juga kamu kepo. Biarin sajalah, lagian itu urusan mereka bertiga," jawab Daniel dengan ketus.


"Sebenarnya aku juga penasaran apa yang sedang mereka bahas. Tapi sepertinya Kai tampak bahagia. Aku akan menghubunginya nanti," batin Daniel.


Tak lama berselang, Mike dan Lois terlihat meninggalkan Kai sendiri.


"Tara ..."


"Hmm ..."


"Bagaimana jika kita samperin Kai?" usul Daniel.


Tara hanya bergeming menatap ex sahabatnya itu dari kejauhan yang tampak tersenyum sambil berbicara lewat benda pipihnya.


"Pasti dia sedang berbicara dengan El," batin Tara menebak.


Tak lama kemudian, setelah selesai berbicara lewat benda pipihnya, akhirnya Kai ikut meninggalkan restoran mewah itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2