
El menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran kursi pesawat lalu memejamkan matanya. Saking gugupnya jari telunjuknya tak berhenti mengetuk-ngetuk sisi kursinya.
Kai mengira jika El gelisah karena baru pertama kali naik pesawat, padahal bukan itu yang membuat gadis itu gelisah melainkan karena ia harus duduk berdekatan dengan pria yang dibencinya.
"Apakah kamu takut? Apakah ini pertama kalinya kamu naik pesawat?" tanya Kai sembari menggenggam jemari El sekaligus menghentikan telunjuknya yang terus mengetuk sisi kursi.
El tetap bergeming namun dalam hatinya mengumpat. "Singkirkan tangan kotormu itu dari jariku!"
El menarik nafasnya dalam-dalam. Ingin rasanya ia melayangkan bogem mentah ke wajah tampan pria blasteran itu.
Kai hanya menatapnya yang masih memejamkan mata sambil menggenggam jemarinya. Karena El tidak menjawab akhirnya Kai melepas genggaman tangannya.
Tak lama kemudian, pramugari memberikan instruksi kepada semua penumpang pesawat untuk segera memasang sabuk pengaman,
karena pesawat akan segera take off.
Setelah merasa pesawat sudah mengudara, El hanya diam dan terus memejamkan matanya. Ingin rasanya ia segera sampai di tempat tujuannya dan cepat-cepat meninggalkan Kai.
Tanpa terasa, ia malah ketiduran dan kepalanya malah jatuh ke pundak Kai. Kai hanya membiarkannya namun ia sedikit penasaran dengan El yang sejak tadi tidak melepas maskernya.
Ia sempat berpikir jika gadis yang sedang tertidur itu adalah El karena saat menyebut nama El, ia langsung menoleh. Ditambah lagi dengan wangi parfumnya yang menyeruak masuk ke indra penciumannya.
*******
Sudah satu jam pesawat mengudara dan tersisa tiga puluh menit lagi mereka akan sampai di Kota A.
El yang sudah terbangun, merasa sedikit jengkel.
"Ish ... kenapa aku sampai nggak sadar jika kepalaku jatuh dipundak si bastard ini. Menyebalkan!!!"
El melepas maskernya lalu meraih air mineral kemudian meneguknya.
"Kamu karyawan di restoran bu Cecilia, kan?" tanya Kai.
El memutar bola matanya malas. "Hmm ..."
"Udah lama kerja di restoran itu?"
"Lumayan lah, buat sambung hidup," ketus El.
Kai tersenyum tipis mendengar jawaban ketus dari gadis itu yang seolah-olah tidak menyukainya.
"Apa kamu tahu? Dari nada bicara dan aroma parfum mu, kamu mengingatkan aku pada seorang gadis?"
__ADS_1
"Aku nggak nanya tuh," ketus El lagi dan tetap mengarahkan pandangannya ke depan.
Lagi-lagi Kai tersenyum tipis dengan kerutan tipis di keningnya. "Kenapa aku merasa, gadis ini mirip El? Dari cara bicaranya yang ketus, rasa ketidaksukaannya padaku dan aroma parfumnya, semuanya hampir sama," gumamnya dalam hati.
"Boleh aku tahu, siapa namamu?" tanya Kai penasaran.
"Culun, itu namaku, Tuan," jawab El ketus.
Kai langsung tertawa mendengar nama yang baginya terdengar aneh.
"Culun? Apa kamu sedang bercanda." Kai masih tertawa.
El hanya memutar bola matanya malas. "Mau percaya atau tidak itulah namaku," ucap El santai. "Sesuai dengan namaku yang terlihat culun dan jelek. Why? Apa kamu menyukai gadis culun, jelek, berkacamata tebal dan berambut keriting sepertiku, hmm?" El bertanya lalu menatap manik hazel Kai dengan berani.
El yang terus mendapatkan pertanyaan tetap menjawab dengan nada ketus. Ia semakin merasa jengkel dengan pria yang duduk disampingnya itu.
Kai tersenyum tipis membalas tatapan El. Ia juga merasa gemas mendengar ucapannya barusan.
Aku semakin penasaran dengan gadis ini, aku seolah-olah sedang berbicara dengan El.
Kai mengangkat tangannya ingin menyentuh pipi El. Namun dengan secepat kilat El menahan tangan besar Kai.
"Don't touch me bastard!!" geramnya lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian buru-buru ke toilet.
Kai tersenyum miris. Ia langsung menyandarkan kepalanya di sandaran kursi lalu memejamkan matanya. "Gadis itu ... sifatnya benar-benar mengingatkan aku padamu El. Tapi di mana kamu sekarang?'' gumam Kai.
Sementara El yang sedang berada di dalam toilet pesawat, tampak begitu kesalnya.
"Damn!! Oh God, aku benci pria brengsek itu!!'' umpatnya dengan tangan terkepal. "Ingin sekali aku mendaratkan bogem mentah ke wajahnya itu."
El kembali menarik nafasnya dalam-dalam untuk kembali menetralkan perasaannya. "El, jangan gegabah, calm down."
Ia mengingatkan dirinya sendiri. Setelah merasa cukup tenang, baru lah ia keluar dari toilet dan kembali ke kursinya.
******
Tiga puluh menit kemudian ....
Akhirnya pesawat landing dengan selamat. Setelah menunggu beberapa menit, El buru-buru beranjak dari tempat duduknya.
"Tungguin dong," pinta Kai.
El memutar bola matanya malas dan tidak mengindahkan ucapannya. Gadis itu terus berjalan tanpa menoleh.
__ADS_1
Setelah keluar dari pesawat, El langsung mengambil langkah seribu hingga ia sampai di ruang tunggu lalu kembali mempercepat langkahnya.
Ia langsung naik ke salah satu mobil sewaan yang ada di Bandara. "Bang, tolong antar aku ke Hotel xxxxx ya."
"Baik, Mbak," kata Bang supir.
"Huuuufff ... akhirnya aku bisa bernafas lega." Gumamnya lalu melepas kacamatanya sembari memijit pangkal hidungnya.
Ia menatap keluar jendela mobil. Setelah enam bulan akhirnya ia kembali menginjakkan kakinya ke Kota A. Walaupun luka hatinya belum sepenuhnya sembuh, ia terpaksa kembali karena merasa sedikit kesulitan dalam beraktivitas. Langkahnya terbatas karena tak memiliki kendaraan.
Tanpa sadar, air matanya kembali membasahi pipinya. Jika harus memilih, ia tidak ingin kembali ke kota itu. Namun ia juga sadar ada makam orang tuanya yang harus ia ziarahi dan harus ia doakan.
Kai yang masih berada di bandara, harus merasa kecewa karena gagal menemukan El. Ia merasa sangat penasaran dengan gadis berkacamata tebal dan berambut keriting itu.
Ia kembali tersenyum ketika mengingat ucapan El beberapa menit yang lalu sebelum pesawat landing.
"Why? Apa kamu menyukai gadis culun, jelek, berkacamata tebal dan berambut keriting sepertiku hmm ..."
"Don't touch me bastard!!!"
"Aroma tubuhnya, tatapannya, cara bicaranya yang bernada ketus dan sikap tidak sukanya pada diriku semuanya persis seperti El. Apakah gadis itu adalah El? Sepertinya aku harus cari tahu?"
"Tuan!" Seseorang memanggilnya dan ia pun langsung menoleh.
"Alex." Kai menghampirinya.
"Tuan? Apa Anda mau langsung ke kantor?'' tanya Alex.
"Tidak, Alex. Langsung ke penthouse saja, aku butuh istirahat. Masalah kantor, aku percayakan padamu saja."
"Baik, Tuan."
Setelah berada di dalam mobil, Kai sedikit meringis karena merasa perutnya sedikit nyeri.
"Sssttt ....." Sepertinya aku harus check up lagi," ucapnya lirih. "Alex, kita ke rumah sakit dulu. Aku ingin bertemu dokter Mike.
"Baik, Tuan."
Alex terpaksa mengubah haluan kendaraannya ke arah rumah sakit Kota A. Sementara Kai, ia tampak berpikir bagaimana caranya ia segera menemukan El. Ia berharap segera menemukan gadis itu secepatnya lalu meminta maaf.
El, jika umurku tidak panjang, aku hanya ingin kamu memaafkan aku, supaya aku bisa pergi dengan tenang.
...----------------...
__ADS_1