All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
89. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu ...


__ADS_3

Setelah kurang lebih satu jam menempuh perjalanan, akhirnya kendaraan yang dikendarai oleh Richard berhenti tepat di depan kontrakan El.


"Thanks ya, Richard," ucapnya sesaat setelah turun dari mobil.


"Sama-sama, Nona El. Jangan sungkan sungkan menghubungi saya jika Nona El butuh bantuan," pesan Richard.


"Ok." El tersenyum seraya mengangkat kedua jempolnya.


Setelah memastikan Richard sudah menjauh, ia pun melangkah kecil. Senyumnya langsung mengembang ketika motornya sudah terparkir di depan rumah kontrakannya.


Tidak lama kemudian tetangganya menyapanya.


"Mbak Lun, dari mana saja? Padahal semalam aku ingin mengembalikan kunci motor."


"Aku menginap di rumah teman, Mbak," sahut El.


"Oh ya, ini kunci motormu. Makasih ya," ucap tetangganya sembari memberikan kunci motor El.


"Iya, sama-sama Mbak," balas El seraya meraih kunci motornya itu. "Aku masuk dulu ya."


"Ok."


Sesaat setelah masuk ke kamarnya, El langsung merebahkan tubuhnya di kasur tipisnya lalu memejamkan matanya.


"Take care on your flight my bastard," ucap El.


.


.


.


.


Sementara itu, Kai yang sudah duduk di kursi pesawat, tampak terusenyum. Sikap El yang kadang bisa berubah tiba-tiba membuatnya merindukan gadis itu.


"Thanks, Mona. Kamu sangat membantuku. Nggak sia-sia aku memanggilmu jauh-jauh dari kantor cabang."


"Sayang, mama pasti senang mendengar kabar bahagia ini. Papa, maafkan aku karena sempat membuatnya menderita," gumamnya lalu memejamkan matanya.


*******


Beberapa jam berlalu ...


Akhirnya Kai tiba dengan selamat di bandara kota A.


Sejak tadi Alex sudah menunggunya. Dari kejauhan Kai terlihat mempercepat langkahnya menghampirinya.


"Tuan, sepertinya Anda terlihat berbeda dan kelihatannya bahagia banget?" celetuk Alex sambil tersenyum.


"Ya dan tebakanmu itu benar," jawab Kai membalas senyum sang asisten. "Oh ya, Alex, antar aku ke rumah sakit dulu. Setelah itu, baru kita langsung ke kantor."


"Baik, Tuan," balas Alex sembari menunduk takjim.


Tak jauh dari tempat keduanya berdiri, Tara yang baru saja tiba langsung menarik jas Kai dari belakang.


Kai langsung berbalik sekaligus merasa kesal. Saat tahu siapa yang menarik jasnya, ia hanya menatap heran.

__ADS_1


"Tara! Ada apa?!" Kai ntersenyum sinis. "Apa sekarang kamu menjadi penguntitku, hmm."


Mendengar ucapan Kai, Tara tersenyum sinis. "Jadi benar gadis berkacamata tebal dan jelek itu adalah gadis penghangat ranjangmu sekaligus pemuasmu?"


"Apa kamu sudah melupakan El? Si wanita murahan dan munafik itu?" sindirnya dengan tatapan mengejek. "Aku jadi curiga saat kamu membawanya dalam keadaan mabuk, kamu pasti sudah menja ..."


"Cukup dan tutup mulutmu itu!!" bentak Kai sekaligus memotong cepat kalimat Tara.


Kedua tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih menahan emosi.


"Aku seperti sudah nggak mengenal dirimu. Sikapmu benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat," kata Kai.


Ia menarik nafasnya dalam-dalam demi meredam amarahnya.


"Kenapa kamu malah berbalik menyerang El dengan kata-kata yang nggak pantas? Bukankah kamu sangat melindungi dan membelanya? Bahkan nggak segan segan mengancamku."


Tara mematung mendengar ucapan Kai. Bahkan ingin menjawab pun ia tak bisa.


"Apa urusanmu jika gadis berkacamata tebal dan jelek itu adalah penghangat ranjang sekaligus pemuasku?"


"Aku rasa itu sah sah saja. About El, sudah setahun lebih kita sama-sama nggak mengetahui keberadaannya. So ... nggak ada salahnya jika aku menjalin hubungan dengan gadis lain," pungkas Kai lalu berlalu meninggalkanya.


Tara menatap kesal pada Kai yang kini sudah menjauh. Tangannya ikut terkepal lalu menggeretakkan giginya.


Jika saja saat ini mereka sedang tidak berada di bandara, ia pasti sudah mendaratkan bogem mentah ke wajah Kai.


Sesaat setelah berada di dalam mobil, Kai menghela nafasnya dengan kasar.


"Aku memang brengsek tapi aku nggak pernah mengucapkan kata murahan dan munafik pada El, melainkan hanya menganggapnya gadis bar bar dan pembangkang."


"Sayang, maafkan aku. Karena aku, kamu harus menerima kata-kata yang nggak pantas. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. Mulai saat ini nanti bahkan hingga di penghujung nafasku," ucap Kai dengan lirih.


"Ya, Alex?"


"Apa Anda, baik-baik saja?" tanya Alex.


"Ya, aku baik-baik saja hanya sedikit kesal," jawab Kai.


"Syukurlah, Tuan."


.


.


.


Rumah sakit Kota A ...


"Alex, kamu tunggu di sini saja," kata Kai sesaat setelah tiba di rumah sakit kota A.


"Baik, Tuan."


Kai melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit itu lalu menuju ke ruangan dokter Mike. Setelah mengetuk pintu, ia pun langsung masuk lalu menyapa dokter Mike.


"Dokter Mike." Kai mengerutkan kening. "Maaf jika aku mengganggu kalian berdua," kata Kai sembari menatap dokter Mike dan Lois bergantian.


"Nggak apa-apa, Mr. Kai," sahut Mike.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku sekalian pamit saja," kata Lois yang tampak akan beranjak dari tempat duduknya.


"Dokter Lois, nggak apa-apa. Kita bisa mengobrol bareng," cegah Kai dengan seulas senyum.


Lois langsung terpana menatap senyum pria blasteran itu hingga ia menjadi salah tingkah.


"Gilaaa, kok ada ya pria setampan ini? Bikin hatiku meleleh saja."


Mike hanya geleng-geleng kepala menatap Lois yang terus memandang Kai tanpa berkedip. Ia pun menepuk pundak gadis itu.


"Dokter Mike, Dokter Lois aku punya kabar baik untuk kalian berdua," ucap Kai membuka suara.


Mike dan Lois saling berpandangan lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Kai.


"Kabar baik apa?" tanya keduanya bergantian.


"Aku sudah tahu keberadaan El," terangnya lalu tersenyum.


Mike dan Lois langsung sembringah sekaligus penasaran. Setelah itu, Kai pun menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi.


Baik Mike dan Lois keduanya seolah tidak percaya mendengar ungkapan dari Kai.


"Katakan di mana kampusnya dan alamat rumahnya di Kota X. Aku ingin segera bertemu dengannya," desak Lois.


"Dokter Lois, sebaiknya jangan dulu. Aku takut orang-orang suruhan Tara masih mencarinya. Aku akan mengajak kalian, jika aku merasa keadaan sudah agak aman," jelas Kai.


Ia mengerti dengan perasaan Lois saat ini. Bukan tanpa alasan. Karena Lois merupakan sahabat El.


"Mr. Kai, aku dan Lois akan tetap menunggu. nggak menutup kemungkinan, El bakal kembali magang di rumah sakit ini. Kami benar-benar merindukan sosok gadis itu," pungkas Mike.


Obrolan mereka terus berlanjut, sebelum akhirnya Kai kembali berpamitan untuk kembali ke kantornya.


Sesaat setelah berada di dalam mobil, Alex kembali melajukan kendaraannya itu menuju kantor.


.


.


.


Siang harinya ...


Begitu selesai menandatangani semua berkas penting. Kai kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.


"Jam segini El pasti sedang bekerja," gumamnya sembari menghembus nafasnya kasar. "Jika saja bukan karena inginnya, aku nggak mau lagi melihatnya bekerja. Aku hanya ingin dia kuliah dengan santai saja."


Tak lama berselang pintu ruangannya diketuk lalu dibuka.


"Tuan," sapa Alex.


"Ada apa Alex?"


"Tuan, Anda mendapat kartu undangan dari Tuan Devan," kata Alex lalu meletakkan kartu undangan itu di atas meja.


"Apa masih ada lagi?" tanya Kai.


"Nggak, hanya itu Tuan. Saya sekalian pamit," izin Alex lalu meninggalkan sang CEO.

__ADS_1


Sepeninggal Alex, Kai meraih kartu undangan itu lalu membukanya. Ia tersenyum ketika membaca nama kedua mempelai.


...----------------...


__ADS_2