All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
85. Syarat konyol ...


__ADS_3

Setelah selesai acara makan siang, Tara kembali berpamitan dengan alasan masih harus bertemu dengan klien.


Baik pak Mulia dan bu Arini keduanya sama sekali tidak ada yang curiga dengan gelagat putranya itu. Pun begitu dengan Dian dan kedua orang tuanya.


Setelah meninggalkan restoran, ia langsung menghubungi Daniel. Hanya di deringan pertama, Daniel langsung menjawab panggilan darinya.


"Ya, ada apa, Tara?"


"Siapkan pesawat pribadi sekarang juga. Sebentar lagi aku akan berangkat ke Kota X."


Tanpa basa basi Tara langsung memberi perintah dengan nada dingin.


"Ta--tapi?!"


"Nggak ada tapi tapi, Dan! Sekarang," bentak Tara.


"O--ok, Tara." Daniel langsung gugup mendengar bentakan dari boss-nya itu.


Setelah itu, Tara langsung memutuskan panggilan telefon.


"Damn!!" Aku yakin kamu pasti ada di Kota itu!" geram Tara sambil mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengetat.


.


.


.


.


Kembali ke Kota X ...


Setibanya di restoran, El langsung menemui bu Amanda di ruang kerjanya. Ia pun langsung mengutarakan niatnya.


"Maaf, Bu, boleh nggak aku izin pulang? Soalnya aku merasa kurang enak badan," bohong El sedikit merasa bersalah.


"Nggak apa-apa, Lun. Kamu pulang saja," kata bu Amanda. "Oh ya, ini ambilah untuk pakai berobat."


"Terima kasih, Bu," ucap El sekaligus menolak uang pemberian dari bu Amanda.


"Ya sudah, pulang lah lalu istirahat," seru bu Amanda menatap iba pada El.


Gadis itu hanya mengangguk lalu meninggalkan ruangan bu Amanda.


Beberapa menit kemudian ...


Setelah mengganti roknya, El kembali berpamitan pada teman-temannya. Ia pun melanjutkan langkahnya sambil menunduk menghitung langkah kakinya.


Bruukk ...


Lagi-lagi kepalanya menubruk seseorang. El mendongak dan seketika itu juga jidatnya langsung disentil oleh Candra.


"Kamu tuh ya, kebiasaan banget jalannya sambil menunduk," kata Candra lalu terkekeh.


"Cih! Kamu saja kali yang sengaja," sindir El.


"Sudah tahu salah masih ngeyel," balas Candra.


"Cih, minggir sana! Aku mau lewat," ketus El lalu sedikit mendorong bahu Candra.


Candra kembali terkekeh lalu geleng-geleng kepala. "Lun, Lun .... bisa nggak sehari saja kamu tuh nggak judes sama aku?"


Sementara El yang sudah berada di parkiran, segera mengenakan helmnya lalu menyalakan motornya. Setelah itu, ia langsung memacu motornya ke arah rumah kontrakannya.


********

__ADS_1


"Mbak Lun, baru pulang ya?" tanya tetangganya.


El yang baru saja meletakkan helmnya di atas motor mengangguk lalu tersenyum. "Iya, Mbak."


"Bisa nggak aku pinjam motornya sebentar?"


"Boleh kok Mbak. Pakai saja, anggap seperti motor sendiri," sambung El lalu terkekeh.


"Makasih ya, Mbak Lun," ucap tetangganya itu lalu menghampiri El yang masih berdiri di samping motornya.


"Sama-sama, Mbak. Aku yang harus banyak berterima kasih pada Mbak. Selama bertetangga, Mbak sudah banyak membantuku," kata El.


Setelah itu, ia pun masuk ke dalam rumah lalu langsung ke kamar. Melepas semua pakaiannya lalu ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Beberapa menit berlalu ...


Ia pun sudah sudah tampak rapi lalu duduk di depan meja belajarnya. Baru saja ia membuka laptopnya, pintu rumahnya di ketuk.


"Ck!! Siapa sih?! Mengganggu saja," gerutunya.


Dengan malas ia berdiri kemudian menghampiri pintu lalu membukanya. Matanya langsung membulat ketika tahu siapa yang datang.


Ia langsung mendorong pintu itu secepat kilat namun tertahan.


"Oh God, dari mana dia tahu aku tinggal di sini?"


Setelah beberapa menit beradu tenaga menahan pintu, ia terpaksa mengalah karena kalah tenaga.


"El! Please .... biarkan aku masuk!" pinta Kai masih menahan pintu itu.


El menghela nafas lalu membiarkan Kai masuk ke dalam kontrakkannya. Untuk sesaat Kai memindai seluruh sudut ruangan dalam rumah itu tanpa satupun ia lewatkan.


"El," ucapnya lirih dengan suara bergetar.


Ia menghampiri gadis itu yang sedang menundukkan wajahnya. "Jadi selama ini kamu tinggal di rumah sempit ini?"


"El," ucap Kai lagi.


Ia langsung berlutut memegang kedua kaki gadis itu sambil menangis. "Please, maafkan aku, El."


"Hei ...!! Mr. Bule bastard, berdirilah. Jangan seperti ini. Apa kamu lupa? Aku ini gadis tangguh dan sudah terbiasa hidup susah," ucap El lalu terkekeh sekaligus menyejukkan suasana.


Walaupun hatinya masih merasakan luka, namun ia tetap berusaha tegar. Karena Kai enggan berdiri, akhirnya ia perlahan berjongkok


"Kai, sekalipun aku membunuhmu, keadaanku nggak akan berubah. Tetap sama sudah ternoda olehmu," ucap El dengan lirih lalu memeluknya.


"Tuhan saja memaafkan hambanya. Apalagi aku yang hanya seorang manusia biasa sekaligus pendosa," bisik El sembari mengelus punggung tegap Kai.


"Bastard, apa kamu nggak malu menangis seperti ini? Nggak malu sama umur apa? Nanti wajahmu semakin jelek dan terlihat semakin tua," kelakar El sekaligus mencairkan suasana.


"Kamu ngomong apa barusan?" tanya Kai lalu melonggarkan pelukannya.


"Nanti kamu semakin jelek dan terlihat semakin tua," jawab El mengulangi kalimatnya lalu terkekeh.


"Apa karena itu alasannya kamu menolak ku?" selidik Kai.


"Cih! Sudah tua malah baperan," sindir El lalu perlahan berdiri.


Kai langsung tertawa mendengar sindiran yang terucap dari gadis cantik itu. Ia ikut berdiri lalu memeluknya.


"Apa aku beneran sudah terlihat tua di matamu?" tanya Kai lagi. "Biar pun aku sudah tua tapi masih banyak gadis di luaran sana yang menyukaiku," sambungnya dengan dengan narsis.


"Lalu?" El sedikit meronta dalam dekapan pria blasteran itu.


"Pria yang kamu anggap tua ini, masih perkasa loh di atas ranjang," bisik Kai menggoda.

__ADS_1


"Bastard, lepasin nggak?!" protes El.


Kai kembali terkekeh lalu melepasnya yang sejak tadi meronta dalam dekapannya. El kemudian mengajaknya masuk ke kamarnya yang sempit.


"Maaf, kamarku jauh dari kata mewah. Bahkan mungkin bagimu kamar ini nggak pantas disebut kamar."


"Oh ya, kamarku nggak ada AC-nya hanya ada kipas angin kecil ini. Jika kamu kepanasan buka saja bajumu," pungkas El lalu terkekeh menatap Kai yang terlihat sudah berkeringat. "Apa kamu ingin aku bikinkan sesuatu?" tanya El.


"Nggak usah, aku hanya butuh kamu El." Kai menatap punggung gadis itu yang sedang membelakanginya. Terlihat serius mengutak-atik laptopnya.


"El."


Kai memutar tubuh gadis itu berhadapan dengannya. Menggenggam erat jemarinya dengan wajah yang saling bertatapan.


"Ada apa?" tanya El dengan seulas senyum.


"El, kamu mau kan menerimaku menjadi suamimu?" tanya Kai.


Sebelum menjawab El menghela nafasnya. "Ya mau bagaimana lagi. Mau nggak mau aku terpaksa menerimamu. Aku nggak punya pilihan lain. Meski aku menolak kamu pasti nggak akan menyerah."


Kai terkekeh mendengar penuturan El barusan. Namun merasa gemas karena gadis itu merasa terpaksa menerimanya.


Meski gadis itu merasa terpaksa menerimanya, Kai seolah tak mempermasalahkannya. Karena niatnya memang tulus ingin menikahinya.


"Kalau begitu, aku bisa kan memanggilmu Sayang," izin Kai lalu dijawab dengan anggukan oleh El.


Hening sejenak ...


"El, mulai malam ini tinggallah di apartemenku. Aku nggak tega melihatmu tinggal di tempat seperti ini. Dalam waktu dekat aku ingin kita menikah, kamu mau kan?" tutur Kai.


"Beri aku waktu soalnya aku belum siap, Kai. Tapi jika kita menikah aku punya beberapa syarat."


Seketika kening Kai berkerut tipis. "Syarat? Apa syaratnya?"


"Satu, aku ingin kita menikah siri dan pernikahan kita tetap kita rahasiakan. Dua, biarkan aku tetap bekerja sambil kuliah. Dan yang terakhir, biarkan aku tetap tinggal di rumah kontrakan ini," tegas El.


"Kai, kamu nggak perlu khawatir karena sesekali aku akan menginap di apartemenmu," sambung El.


"Syarat macam apa itu?" kata Kai sekaligus protes. Merasa syarat yang barusan diajukan El terasa konyol baginya.


"Sudah, terima saja syaratnya," balas El dengan santainya.


Kai menghela nafasnya dengan kasar, merasa sama saja dirinya tidak berguna. Mau tidak mau ia terpaksa mengiyakan syarat konyol itu.


"Baiklah, aku terima syarat darimu." Seringai tipis penuh arti terbit di bibir pria itu. "Tapi aku ingin segera memiliki anak darimu dan kamu nggak boleh menolak," bisik Kai lalu ingin melu*mat bibir gadis itu. Namun dengan cepat El menahannya.


"Ngebet banget ya, Om? Dasar om om mesum," kelakar El lalu tergelak. Kai ikut tergelak mendengar ucapannya.


"Sayang, sebentar sore, kita ke Glori Resort ya? Aku ingin menikmati sunset berdua denganmu," cetus Kai.


"Baiklah tapi nggak apa-apa kan jika aku tetap berkacamata tebal dan membuat freckless di wajahku? Kamu nggak malu kan jika aku seperti itu?" kata El lalu tertawa merasa lucu.


"Bagiku, El dan Culun sama saja. Mau seperti apa pun dirimu aku tetap menerima apa adanya," balas Kai dengan tulus.


Setelah itu, ia melepas kemejanya lalu berbaring di kasur tipis El. Memandangi punggung mulus bertatto gadis itu. Sedangkan El kembali sibuk mengutak atik laptopnya.


Beberapa menit berlalu ...


El perlahan menoleh ke belakang. "Ternyata dia bisa tertidur juga di kamar seperti ini," gumam El lalu terkekeh. Ia pun mengarahkan kipas anginnya ke arah Kai.


Ia mendekatinya lalu menatap lekat wajah pria blasteran itu. Tangannya terangkat lalu menyentuh alis tebalnya, mata lalu turun ke hidung mancungnya.


"Apa kamu sedang mengagumi wajah tampan pria bastardmu ini, hmm?" tanya Kai masih dengan mata terpejam.


"Nggak ada salahnya kan jika aku hanya mengagumi," bisik El. Namun tak ada jawaban dari pria itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2