All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
172.


__ADS_3

Merasa jika seseorang sedang memakaikannya jas, El sejenak memejamkan matanya.


"Sayang ..." sebutnya dan ia mengira itu adalah suaminya, namun saat merasa aroma parfum itu berbeda dengan milik Kai, seketika ia membuka matanya lalu berbalik.


"Tara ..." lirihnya lalu kembali melepas jas yang membalut tubuhnya itu kemudian mengembalikannya pada Tara.


"Kenapa melepasnya?" tanya Tara lalu maju menghampirinya.


Lagi-lagi El memundurkan langkahnya ke belakang.


"Pulanglah Tara," perintahnya. "Kasian Dian dan baby Bara. Harusnya saat ini kamu bahagia karena sudah mempunyai keluarga yang lengkap," jelas El. "Please jangan menggangguku lagi, karena kita sama-sama sudah memiliki pasangan hidup masing-masing," lanjut El dan terlihat getir. Ia takut kalau-kalau Tara kembali berbuat nekat.


Tara menggelengkan kepalanya lalu tersenyum sinis dan terus maju menghampirinya.


"Semudah itu kamu mengucapkan kata-kata itu? Apa kamu tahu betapa tersiksanya diriku selama setahun lebih mencari keberadaanmu?!! Kamu pergi tanpa kabar dan hanya meninggalkan sepucuk surat?! Apa itu adil, hah!!!" bentaknya dan membuat El terlonjak.


Tanpa mereka sadari, Kai yang baru saja akan melanjutkan langkahnya terpaksa mengurungkan niatnya dan bersembunyi di balik tembok dan memilih untuk mengawasi keduanya.


"I can't believe it, El. Gadis yang awalnya aku kenal sangat baik, polos dan selalu menjaga dirinya nyatanya tak lebih dari seorang wanita murahan dan munafik. Apa selama kamu menetap di kota X, kamu beralih profesi sebagai pela*cur?! Apa kamu melakukan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliahmu?!Sudah berapa banyak laki-laki yang menidurimu? Katakan ... wanita ja*lang."


"Aku benar-benar menyesal pernah mengenalmu, membantumu, membelamu bahkan aku menyesal pernah mencintaimu dan menjadi bagian dari hidupmu, jika pada akhirnya kita berakhir seperti ini," kata Tara, menatap tajam pada El. "Kamu memang pantas disebut wanita ja*lang, munafik, murahan," pungkasnya dengan sinis.


Bughhhh ....


El merasa dadanya benar-benar seperti dihantam batu bertubi-tubi. Sesak dan sakit tiada tara, seperti benar-benar terasa nyata sakitnya.


Ia merasa seolah tidak kuat menopang tubuhnya, mendengar semua ungkapan isi hati pria yang pernah membelanya, menolongnya dan pernah mencintainya itu.


Dengan lantang dan berapi-api ia mengungkapkan semua isi hatinya yang sudah lama terpendam.


Kai mengetatkan rahangnya, menggeretakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya, mendengar istrinya dihina sedemikian rupa. Seketika kakinya ingin melangkah maju ingin menghajar Tara detik itu juga. Namun lagi-lagi tertahan saat mendengar El mulai membuka suara.


Seperti biasa sebelum mengeluarkan suara, El terlebih dahulu menarik nafasnya dalam-dalam demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.


Setelah merasa cukup, ia mengatur nafasnya lalu balik menatap manik mata Tara dalam-dalam. El mengangguk dengan raut wajah datar.


"Sudah selesai? Apa masih ada lagi yang ingin kamu sampaikan selain itu?" tanya El.

__ADS_1


Tara bergeming menatapnya, setelah meluapkan semua ungkapan isi hatinya ia seolah mati kutu. Apalagi ketika El balik bertanya dengan nada dingin.


"Sebelumnya aku ingin berterima kasih padamu atas semua kebaikanmu yang pernah kamu tunjukkan padaku," lirih El.


"Terima kasih Tuan Bima Argantara Mulia."


Tara tertunduk, namun tidak bagi El. Istri dari Kai Intezar Abraham itu tetap menatapnya.


"Honestly i'm shocked," kata El. "Menyesal mengenalku? Tapi bukan aku yang memulai tapi kamu. Kamu sendiri yang datang padaku saat itu, lalu memperkenalkan dirimu. Do you remember?"


"Menyesal membelaku? Tapi aku nggak pernah memintamu untuk membelaku pada siapapun, melainkan dirimu jugalah yang menginginkannya sendiri."


"Menyesal mencintaiku? Tapi aku nggak pernah berharap kamu mencintaiku sedalam itu. Bahkan aku sering mengingatkan dirimu. Aku harap kamu nggak amnesia. Itulah mengapa aku memilih menjalin hubungan tanpa status karena aku takut kita sama-sama akan terluka."


"Menyesal membantuku? Apa pernah aku meminta bantuan padamu sejak awal kita berkenalan, menjadi teman hingga saat aku mendekam di penjara bahkan ketika kita menjalin hubungan tanpa status dan hampir menikah. Apa pernah aku memohon dan meminta bantuanmu? Katakan jika pernah."


El memberondongnya dengan pertanyaan dan terus menatapnya.


"Katakan semua jumlahnya dan total biaya yang sudah kamu keluarkan selama kita bersama, bahkan sekecil apapun harganya. Aku rasa suamiku cukup kaya untuk melunasi semua hutangku padamu," tegas El.


"El aku tidak bermak ...." ucapannya langsung tercekat karena lagi-lagi El menyela dengan cepat.


"Tentang tuduhan, hinaan dan menganggap ku sebagai wanita ja*lang, munafik, murahan ..."


Ucapan El terjeda sejenak lalu memegang perutnya yang tiba-tiba saja sakit dan terasa kram.


"Sssttt ... akhh ..." ringisnya.


"El!" Tara ingin mendekat namun ia mengangkat tangannya karena enggan dan mundur satu langkah ke belakang.


"Jangan menyentuhku, karena aku wanita kotor, menjijikkan. Aku takut kamu akan sial seumur hidup," sindirnya.


"El ... aku ..."


"Ya aku memang, ja*lang, munafik dan murahan. Tapi aku hanya menjadi ******, munafik dan murahan hanya pada suamiku saja. Satu-satunya pria yang berhasil meniduriku dan menodaiku.


KAI INTEZAR ABRAHAM," pungkas El dan sengaja menyebut dan menekan nama itu.

__ADS_1


Mendengar El menyebut nama Kai, seketika mata Tara membulat sempurna.


"Jadi kali ....."


"Ya kami menikah di Jerman saat itu, dan semua foto-foto yang diunggah oleh Kai benar adanya. Tadinya aku masih ingin menutupinya dan akan mengumumkan setelah aku lulus kuliah. Tapi hari ini aku sudah tidak bisa menahan diri karena kamu terus-terusan menuduh, menghina dan merendahkan ku," pungkas El dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Kai yang sejak tadi menyimak pembicaraan istrinya dan Tara langsung tersenyum puas mendengar semua percakapan istrinya dan ex sahabatnya itu.


"Good job my wife. Akhirnya kamu menunjukkan siapa kamu yang sebenarnya. I'm proud of you mamy triplets," desisnya merasa sangat puas.


"Akhhhh .... sssssttttt ..." lagi-lagi ia meringis panjang. "Kenapa kambuh lagi," desisnya lalu segera meninggalkan tempat itu menuju private room.


Tempat itu hening sejenak sebelum akhirnya El kembali membuka suara.


"Please ... jangan mengganggu atau mengusik kehidupanku lagi. Kai sudah menyesali semua perbuatannya dan sudah bertanggung jawab penuh kepadaku. Hiduplah dengan bahagia dengan Dian dan baby Bara. Jangan sia-siakan wanita sepertinya."


Tara hanya terdiam dan terpaku di tempat, lidahnya keluh dan kehabisan kata-kata setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


"Tara ... mari berdamai dengan diri dan hati kita masing-masing. Jangan pernah ada dendam lagi. Setidaknya kita pernah bersama. Kamu dan Kai pernah bersahabat bahkan sampai detik ini pun Kai masih menganggapmu sebagai sahabatnya.


El mengakhiri kalimatnya itu lalu berbalik dan mulai meninggalkannya di tempat itu. Setelah menuruni tangga tangis El langsung pecah.


Ia mempercepat langkahnya menuju private room tempat suaminya kini berada. Sesaat setelah berada di dalam kamar ia mencari keberadaan suaminya.


Hingga langkahnya terhenti ketika mendapati suaminya sedang berad di balkon teras kamar. Tanpa pikir panjang ia menghampirinya dan langsung memeluknya dari belakang.


"Sayang ..." desis Kai lalu memegang kedua tangan yang melingkar di perutnya. "Are you crying?" desisnya karena merasa tubuhnya ikut bergetar.


Kai melepas kedua tangan istrinya itu lalu berbalik menghadapnya kemudian mendekapnya erat. Membiarkannya menangis sepuasnya.


"Katakan semua jumlahnya dan total biaya yang sudah kamu keluarkan selama kita bersama, bahkan sekecil apapun harganya. Aku rasa suamiku cukup kaya untuk melunasi semua hutangku padamu," ucap Kai mengulangi kalimat istrinya barusan.


Mendengar kalimat yang barusan ia ucapakan tadi diulang oleh suaminya, seketika El mendongak menatapnya.


.


.

__ADS_1


.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2