All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
109. Kamu sulit sekali di atur ...


__ADS_3

Sepeninggal pak Mulia, Tara tampak mematung. Ia tidak menyangka jika papanya akan semarah itu padanya.


Ia kembali mengusap pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan itu. Seketika ia teringat saat El menamparnya. Bahkan tatapan matanya menyiratkan kemarahan yang teramat sangat.


Ia kembali mengepalkan kedua tangannya. "Aku membencimu! Dasar wanita munafik!"


Akhirnya ia memilih menuju kamarnya dan mendapati Dian sudah tertidur. Tara menghampirinya lalu duduk di sisi ranjang.


Merasa pikirannya kini sedang kalut, akhirnya ia meraih kunci mobil lalu meninggalkan Dian begitu saja. Tujuannya sudah pasti ke club malam.


.


.


.


Sesaat setelah tiba di club malam, ia langsung memesan minuman seperti biasanya.


"Nic ... seperti biasa," pintanya. Sambil menunggu ia mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya.


"Tara ... ini minumanmu."


"Thanks, Nic."


Nico hanya mengangkat jempolnya. Baru saja Tara ingin meneguk minumannya. Punggungnya dielus oleh seseorang.


"Apa kamu butuh partner malam ini?"


Tara menoleh lalu tersenyum sinis. "Clara?" sebutnya. "Untuk apa? Sepertinya aku nggak tertarik."


"Lalu ... apa yang sedang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu nggak sekalian mengajak istrimu ke sini?" selidik Clara.


Tara menggedikkan bahunya lalu meneguk minumannya.


"Tara ... ."


"Hmm ... ."


"About Kai ... apa kamu juga mengenal wanita yang bersamanya?" tanya Clara.


"Maksudmu ... El?" sahut Tara cepat.


"El? Apa dia wanita yang sama? Maksudku El, nama yang pernah kamu sebut saat kita masih pacaran," jelasnya. "Bukankah kamu sangat mencintainya? Lalu kenapa kamu menikah dengan wanita lain?" sindir Clara.


"Bukan urusanmu," sinisnya.


"Sepertinya Kai sangat mencintainya. Bahkan Kai mengatakan jika dia calon istrinya. Aku belum pernah melihat Kai seserius itu."


"Jika kamu ingin membahas mereka, sebaiknya kamu pulang saja. Lagian ngapain juga kamu kepo dengan urusan mereka." Tara balik menyindirnya.


Clara terdiam menatap pria yang pernah mengisi hatinya selama lima tahun lamanya.


Keduanya kembali larut dengan pikirannya masing-masing.


.


.

__ADS_1


.


"Sayang ... ini sudah larut. Sebaiknya kita tidur," ajak Kai.


"Sebentar lagi kamu duluan saja. Nanti aku menyusul. Tugasku dikit lagi selesai," kata El.


"Baiklah." Kai mengecup puncak kepala El lalu meninggalkannya.


Beberapa menit kemudian ...


"Finally, selesai juga ..." gumam El lalu merenggangkan otot-otot tangannya. "Mungkin Kai sudah tidur kali ya."


Sesaat setelah berada di dalam kamar, ia mengulas senyum sembari menghampiri Kai. "Sayang, kamu kok belum tidur?" tanyanya lalu melepas kaos yang dipakainya.


"Aku sedang menunggumu," sahutnya.


El mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu tidur. Di bawah cahaya temaram perlahan ia merangkak naik ke atas ranjang. Bukannya baring di atas kasur melainkan di atas tubuh Kai.


"Sayang, apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin membangunkannya?" goda Kai.


El hanya bergeming sambil mengelus bahkan sesekali mengecup dada liatnya. Sehingga jemari yang terus mengelus dadanya tadi terhenti.


"Sayang ..." panggil Kai sambil mengelus punggungnya.


"Hmm ... aku masih mendengarmu," bisik El.


"Sayang ... aku memutuskan kita akan menikah di Jerman saja," cetus Kai lalu membenamkan bibirnya di puncak kepala El.


"Tapi kenapa?"


"Jika kita menikah di sana nggak ada yang bakalan tahu," jelasnya. "Aku ingin pernikahan kita sakral dan hanya di hadiri oleh keluarga mama dan papa saja. Setelah itu, kita adakan resepsi sederhana saja."


"So ... apa kamu setuju?" El hanya mengangguk.


"Tapi beri aku waktu," bujuknya.


Kai tampak berpikir. "Bagaimana caranya agar El mau menikah denganku secepatnya? Sepertinya aku harus menggunakan cara licik lagi." Kai membatin. Seringai penuh arti terbit di bibirnya.


"Hmm ... baiklah," bisiknya. "Sayang ... ."


"Please ... biarkan aku tidur di atas tubuhmu," ucapnya pelan lalu sedikit mendongak kemudian mengecup bibir Kai.


Kamar itu kembali hening ....


Satu menit ....


Tiga menit ...


Lima menit ...


Akhirnya dengkuran halus dari gadis itu mulai terdengar yang menandakan jika ia sudah tertidur.


Dengan gerakan pelan, Kai membalikkan tubuh El ke kasur lalu menatap wajah teduhnya sejenak. "Have a nice dream, Sayang" bisiknya.


Setelah itu, ia segera beranjak dari tempat tidur lalu ke teras balkon kemudian menghubungi Richard.


Richard yang saat ini sedang berada di club malam segera menjauh sejenak dari hingar bingar club.

__ADS_1


"Ya halo, Tuan."


"Richard, apa kamu sedang di club?"


"Iya, Tuan," jawabnya sambil cengengesan. "Ada apa Tuan?"


"Richard, aku ingin besok kamu ke kontrakan El. Kemasi semua pakaian beserta berkas-berkas pentingnya. Setelah itu bawa ke apartemen."


"Baik, Tuan."


"Oh ya, jangan lupa kamu temui pemilik rumah kontrakan dan berikan sejumlah uang untuknya. Nanti aku akan transfer uangnya ke rekeningmu. Jangan lupa berterima kasih," pesan Kai. "Masalah perabotan El, kasih tetangganya saja."


"Baik, Tuan. Apa masih ada lagi?"


"Tidak ... hanya itu saja."


Setelah itu, Kai memutuskan panggilan. Menengadahkan wajahnya menatap langit sambil memegang perutnya. "Sayang ... maaf, sepertinya aku harus ke Kota A besok. Aku harus konsultasi dengan dokter Mike."


Merasa sudah cukup, ia pun kembali ke kamar. Mengecup kening lalu membawa El masuk ke dalam pelukannya.


"Maaf, jika membuatmu marah karena hal sepele itu. Aku sudah siap jika kamu bakalan marah padaku besok saat tahu semua pakaianmu sudah berada di sini. Jika nggak pakai cara licik, kamu sulit sekali di atur," gumam Kai lalu terkekeh.


Ia sudah bisa membayangkan wajah kekesalan calon istrinya itu ketika marah.


"Aku mencintaimu Sayang. Jujur saja aku takut kehilanganmu. Tetaplah bersamaku walau kondisiku dalam keadaan apa pun nantinya," ucap lirih Kai.


.


.


.


Pagi harinya ....


Saat El membuka mata, yang pertama ia lihat adalah wajah Kai.


Ia seakan enggan beranjak dari pembaringannya. Menatap lekat wajah Kai seraya mengelus rahang tegasnya.


Jemarinya terus bermain di wajah pria itu. Mengelus alis, mata, hidung dan terakhir ke bibir.


"Sudah puas?" Kai membuka matanya lalu menahan jemari El di bibirnya lalu mengecupnya.


El hanya bergeming menatap manik hazel Kai. Mata indah dengan daya tarik yang kuat. Ia lalu tersenyum.


"Aku ke kamar mandi dulu. Setelah itu aku akan membuat sarapan lalu menyiapkan baju kantormu. Kebetulan hari ini aku kuliah pagi, so kita bareng saja."


Kai hanya mengangguk sambil mengedipkan kedua matanya.


Tiga puluh menit kemudian, keduanya kini tampak sudah rapi.


"Sayang, habiskan sarapannya, ya," pinta El dengan seulas senyum.


"Ok ... oh ya, Sayang. Kamu pulang jam berapa nanti? Biar aku jemput."


"Mungkin siang. Soalnya aku akan mengambil mata kuliah tambahan," jelas El. "Setelah selesai aku yang akan menghubungimu nanti."


"Baiklah."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2