
"Tuan, bagaimana dengan mobil Anda di depan halte? Apa perlu aku menghubungi petugas derek?" tanya Alex.
"Hmm ..." Kai menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil lalu memejamkan matanya.
Kenapa dadaku langsung berdebar saat ia menyentuhku? Suara lembutnya dan tatapan matanya ketika menatap ku ... Dia persis seperti El.
Alex melirik sekilas ke arah sang big boss. "Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanya Alex. Namun Kai tidak menyahut. Ia larut dengan pikirannya sendiri.
"Ada apa dengan Tuan Kai? Dan gadis tadi, siapa dia?" batin Alex bertanya-tanya.
Sesaat setelah tiba di depan gedung apartemen, Alex menegurnya. "Tuan, kita sudah sampai."
Kai membuka matanya, tanpa sekata patah pun, ia langsung membuka pintu mobil lalu meninggalkan Alex yang masih tampak keheranan.
"Si boss, kenapa ya?" gumam Alex. Sedetik kemudian ia kembali menancap gas meninggalkan gedung mewah itu.
Kai yang kini sudah berada di penthouse-nya, langsung melepas jas dan melepas kancing kemejanya. Ia langsung ke pantry, mengambil air hangat lalu meneguknya sedikit demi sedikit hingga tuntas.
Setelah menghabiskan air hangatnya, ia mengelus perutnya yang terasa membaik dan panasnya mulai berkurang. Ia pun mengikuti apa yang disarankan oleh El padanya tadi.
"Aaakhh ... ternyata dia benar, ini meredakan sensasi panas di dalam perut dan ulu hatiku." Kai kembali memejamkan matanya.
Sedangkan di tempat yang berbeda, El masih betah duduk di halte bus dan memperhatikan mobil mewah Kai. "Sepertinya ini bukan mobil yang pernah aku tabrak."
Ia tersenyum miris sekaligus kembali teringat kejadian dua tahun yang lalu serta malam kelam di mana Kai menjamah tubuhnya tanpa ampun. Air matanya langsung lolos tanpa bisa dicegah.
Ia melepas kacamatanya sembari bergumam, "Oh God, rasanya aku ingin membunuhnya saja. Kenapa Kau mempertemukanku lagi dengan pria brastard itu."
Tidak lama kemudian taksi yang dipesannya tiba. El segera masuk ke dalam taksi itu. "Bang, ke hotel xxxx, ya," pintanya dan mendapat anggukan dari Bang supir.
Di sepanjang perjalanan, El kembali membayangkan wajah Kai yang terus merintih dan mengerang kesakitan, bahkan sampai berkeringat dingin. "Itu belum sebanding dengan luka yang telah kamu torehkan di hatiku."
Setibanya di depan hotel, ia mempercepat langkah kakinya menuju lift.
Sesaat setelah berada di kamar, ia langsung melepas jaket Levisnya dan membuangnya ke sembarang arah lalu menghempas tubuhnya di atas ranjang.
.
.
.
.
Keesokan harinya ...
Tara beserta kedua orang tuanya sedang dalam perjalanan udara menuju kota A.
Tara hanya termenung sembari terus memandang keluar jendela pesawat. Sesekali ia memejamkan matanya.
"El, sebenarnya ada di mana dirimu? Apa kamu rela jika aku menikahi wanita lain? Bahkan aku sama sekali tidak mencintainya," gumamnya.
__ADS_1
.
.
.
Setelah satu jam lebih tiga puluh menit mengudara, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat.
Tanpa pikir panjang, Tara langsung beranjak dari tempat duduknya lalu segera menghubungi Daniel. Ia sama sekali tidak mengindahkan Bu Arini yang memanggilnya.
"Mah, biarkan saja. Mungkin Tara ada urusan penting," tegur Pak Mulia.
Bu Arini menghela nafasnya dengan kasar. "Papa selalu saja membelanya," gerutu Bu Arini dengan kesal.
"Bukan membela, Mah. Bukankah dia sudah menuruti semua keinginan Mama? Apa Mama nggak menyadari jika El lah yang sudah membuat Tara berubah."
"Coba Mama ingat-ingat lagi, dulu Tara nggak pernah mau pulang ke rumah, dia hanya asik dengan dunianya sendiri, bahkan selalu memberontak dan selalu menolak perjodohan darimu."
"Tapi setelah mengenal El, dia benar-benar banyak berubah. Harusnya Mama berterima kasih pada El.''
Bu Arini hanya bergeming lalu menundukkan kepalanya. Dalam diam, ia membenarkan ucapan sang suami.
.
.
.
Hotel xxxx ...
Sedangkan El, yang merasa terusik karena ketukkan pintu tanpa henti merasa sangat kesal.
"Damn! Siapa sih!" umpatnya lalu bangkit dari tempat tidurnya sembari mencepol rambutnya asal.
Ia menghampiri pintu lalu membukanya. "Bim?" Dengan santainya ia langsung ke kamar mandi. Sedetik kemudian ia kembali lagi lalu duduk di ranjang.
"Ada apa, Bim?" tanya El sembari mengusap wajahnya dengan handuk.
Bimbo hanya bergeming menatapnya. Karena kesal gadis itu melemparnya dengan bantal.
"Ada apa, Bim?" tanyanya.
Bimbo lalu terkekeh sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia pun menghampirinya yang sedang melepas sepatunya.
"El, motormu sudah selesai dimodifikasi termasuk permintaanmu untuk mutasi kendaraan ke Kota X. Semuanya sudah beres, platnya juga sudah diganti," jelas Bimbo.
El tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Semua urusannya berjalan lancar berkat temannya itu.
"Thanks ya, Bim."
"Sama-sama El, aku sarankan motormu kamu ikutkan ke kapal kargo saja ke Kota X. Terlalu beresiko jika kamu memacunya sendiri," pesan Bimbo. "Nggak perlu khawatir, nanti aku yang akan mengurus segalanya termasuk ongkosnya."
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih, Bim. Jika kamu ada waktu jalan-jalanlah ke kota X dengan komunitas motor kita. Oh ya, aku akan mampir ke bengkelmu nanti malam."
Bimbo hanya mengangguk lalu meninggalkan gadis itu. .
Dua puluh menit kemudian ...
Setelah membersihkan dirinya ia mulai bersiap meninggalkan kamarnya.
Sesaat setelah berada di parkiran ia tersenyum saat memandangi motornya yang sudah dimodifikasi.
"Baby, let's go ... kita ziarah makam Mama papa dan tante Karin," ucapnya lalu menyalakan tunggangannya itu kemudian mulai memacunya ke tempat tujuan.
.
.
.
.
Tara dan Daniel yang kini sudah tiba di parkiran apartement El, dibuat terkejut ketika tak mendapati motor gadis itu tak berada di tempat melainkan motor lain.
Dengan secepat kilat Tara mengecek ponselnya untuk mengetahui keberadaan motor gadis itu. Lagi-lagi ia dibuat shock karena alat pelacaknya sudah tidak berfungsi.
"Damn!!!" umpatnya. Ia langsung mengambil langkah seribu menuju ruangan monitor pemantau CCTV.
Ia meminta petugas untuk mengecek rekaman CCTV di area parkiran motor. Setelah di cek beberapa kali ia kembali merasa kecewa. Ia pun mengancam petugas yang ada di ruangan itu. Namun petugas tetap keukeh mengingat pesan dari gadis itu.
Tara kembali menghampiri Daniel lalu mengajaknya ke unit El. Perasaannya semakin tak karuan.
Sesaat setelah berada di ruangan itu, ia langsung berlari kecil menapaki anak tangga.
Tara langsung ke ruang CCTV yang ada di sebelah kamar. Ia mengecek rekaman CCTV di semua ruangan apartement itu, namun lagi-lagi ia shock karena El sama sekali tidak meninggalkan jejak.
Ia langsung membanting alat pemantau itu lalu melempar monitor yang ada di depannya.
"Aaarrrghhh ... fu*cking!!!! Damn!!!" Ia merasa frustasi lalu kembali menghambur semua benda yang ada di hadapannya.
Daniel langsung menghampirinya dan begitu terkejut menatap seisi ruangan itu yang sudah terlihat berantakan.
Tara melewati Daniel begitu saja yang lalu masuk ke kamar El dan langsung ke walk in closet. Lagi-lagi ia semakin dibuat frustasi, setelah mendapati tempat pakaian itu sudah kosong dan hanya menyisakan barang-barang pemberiannya.
"Aaarrrgghhhh .... Ini semua gara-gara Momy!!" geramnya dengan rahang mengetat.
Ia seakan menyalahkan Bu Arini karena sudah memaksanya ikut ke Kota X.
Ia menghambur semua baju, perhiasan, lemari hias dan kembali meninju kaca besar yang ada di hadapannya.
Daniel hanya membiarkan Tara yang sedang tantrum. Darah segar mulai mengucur dari tangannya. Bahkan sakitnya pun sudah tidak ia rasakan. Ia tertunduk lesu lalu memanggil Daniel.
"Dan, antar aku ke kantor pria brengsek itu sekarang. Aku ingin memberinya pelajaran. Semua permasalahan ini berawal darinya. Pokoknya aku nggak mau tahu, sebarkan orang kita untuk segera mencari El. Aku yakin, dia masih ada di Kota ini," perintahnya dengan nada dingin.
__ADS_1
Ia pun beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan Daniel yang terlihat shock, menatap wajahnya.
...----------------...