
El terus memacu motor kesayangannya hingga ia tiba di toko bunga langganannya. Monik Flowers.Toko bunga yang sudah dua tahun lamanya tidak ia kunjungi.
Begitu El menggeser pintu toko. Ia langsung menatap semua bunga-bunga segar yang ada di toko itu.
"El, apa itu kamu, Dear?" sapa Monic lalu menghampiri El.
Merasa ada yang menyapa dan bertanya, El menoleh.
"Ya, ini aku, Monik," lirih El sambil menatap Monic.
"Dari mana saja kamu selama ini, Dear? Kenapa baru muncul? Lois, Mike dan beberapa teman komunitas motor mu datang sampai datang kemari bertanya keberadaanmu," jelas Monik lalu memeluk temannya itu.
"Ceritanya panjang, Monic. Kapan-kapan aku bakal cerita. Sekarang, tolong rangkaikan aku tiga buket bunga mawar seperti biasa," pintanya lalu melepas pelukannya.
"Ok ... tunggu sebentar ya, El," kata Monik lalu bergegas merangkai bunga seperti permintaan El.
Setelah menunggu beberapa menit. Monik kembali dengan membawa tiga buah buket white rose permintaannya.
"El ... ini white rose mu," kata Monic sambil memberikan white rose pesanan El.
El meraih bunga tersebut. "Thanks, Monik. Ini duitnya, kembaliannya ambil saja."
"Oh ya, aku minta paper bag untuk bunga ini, soalnya aku nggak bawa ransel."
"Sebentar, aku ambilkan." Monik lalu mengambilkan El paper bag.
"Sekali lagi makasih ya, Monik. Kalau begitu aku pamit. Aku lanjut ke makam orang tuaku," jelas El dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ok El ... hati-hati, Dear," pesan Monik lalu melambaikan tangannya.
El hanya mengangguk lalu meninggalkan toko bunga itu. Ia kembali menggulung rambutnya lalu memakai helm dan kembali memacu motornya ke arah TPU.
.
.
.
TPU Kota A ...
Setelah memarkir motornya, El melangkahkan kakinya menuju pusara kedua orang tuanya terlebih dahulu setelah itu barulah ia lanjut ke pusara tante Karin.
"Mah, pah, aku kembali mengunjungi kalian. Dua tahun lamanya aku nggak menjenguk kalian karena terpaksa mendekam di penjara. Maafkan aku."
El menghela nafasnya sejenak
"Mah, pah, mudah-mudahan aku segera mendapat pekerjaan. Aku ingin melanjutkan kuliah. Meskipun aku harus mendaftar ulang, itu nggak masalah yang penting aku kembali kuliah dan mewujudkan cita-citaku," lirihnya dengan suara bergetar
Setelah itu, ia meletakkan satu persatu bunga yang dibawanya di atas pusara.
__ADS_1
El kembali berpindah tempat ke pusara tante Karin.
"Tante Karin, aku kembali mengunjungi mu. Andai saja tante masih hidup, aku akan langsung berlari memelukmu. Semoga tante tenang di sana dan diberikan tempat terbaik," lirihnya lagi.
Setelah dari makam, El kembali melanjutkan perjalanannya ke basecamp komunitas motor.
Setibanya di basecamp tersebut, ia langsung menyapa anggota komunitas motornya itu.
"Guys? Apa kabar kalian semua? Sudah lama kita nggak bertemu. Aku benar-benar merindukan kalian."
Sontak saja kehadiran tiba-tiba El di basecamp itu, seketika membuat teman-temannya langsung menatapnya dengan bingung.
"Dari mana saja kamu, El? Kenapa baru muncul sekarang? Kami sampai mencari-cari keberadaanmu tapi nggak ketemu," kata Leo, salah satu rider di komunitas motor itu.
"Panjang ceritanya, Leo. Aku ke sini hanya ingin menyapa kalian sekaligus melepas rindu. Mulai sekarang kita akan sering-sering ketemu kok," kata El lalu menepuk pundak Leo. "Honestly ... Aku pun sudah nggak sabar ingin menjajal salah satu motor trail di basecamp ini," kata El lagi sambil menaik turunkan alisnya.
Obrolan panjang mereka terus berlanjut selama berjam-jam lama. Tak ada hal yang membuat gadis itu merasa bahagia melainkan bisa merayakan kebebasannya sekaligus bisa menjalani aktivitasnya secara normal lagi.
Setelah puas melepaskan segala kerinduannya di basecamp itu, El kembali berpamitan dan melanjutkan arah tujuannya selanjutnya iaitu ke sebuah danau buatan.
Setibanya ia di tempat tujuannya itu, El langsung menghirup udara dalam-dalam.
Sambil duduk menatap air danau, gadis itu tampak sedang menyesap rokoknya. Senyumnya sesekali menghiasi wajahnya menikmati suasana tenang di pinggir danau.
.
.
.
Tara tampak terus tersenyum menatap layar ponselnya. Bagaimana tidak, setiap lokasi tempat yang El singgahi, bisa ia ketahui lewat alat pelacak yang telah ia pasang di bawah stand kaki motor gadis itu.
Jadi kamu juga punya teman di komunitas motor itu? Sungguh kamu benar-benar wanita yang unik.
Asik menatap layar ponselnya, tiba-tiba saja Kai masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu.
Ia langsung gelagapan saat Kai menegurnya.
"Tara, ada apa? Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Kai dan langsung duduk di depan meja kerja sahabatnya itu.
Tara kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Tidak ada Kai," jawabnya. "Aku hanya menatap foto hot Clara," bohongnya. π
Kai langsung terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu.
"By the way, ada apa kamu ke sini? Tadi kan, aku sudah memberi jadwal kegiatanmu hari ini kepada Bela," jelasnya.
"Ya, aku tahu itu," jawab Kai. "Aku hanya ingin mengobrol denganmu sebentar."
__ADS_1
Tara memutar bola matanya malas lalu mengangkat bahunya.
"Kapan kamu akan menikahi Clara? Bukankah kalian sudah lama menjalin hubungan?" tanya Kai tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu, Tara mengulas senyum dengan alis yang saling bertautan.
"Lalu kamu?" Tara balik bertanya. "Kamu ini lucu Kai. Kamu bertanya kapan aku menikah sedangkan kamu sendiri kapan?" sambungnya.
Kai hanya mengangkat bahunya lalu bersandar di kursi tempat duduknya.
"Sepertinya aku belum siap. Aku masih ingin bermain-main sehingga aku merasa puas dan menemukan wanita yang cocok untukku," pungkasnya sambil menghisap rokok yang baru saja dibakarnya.
"Benarkah?"
"Hmm ..." Kai memejamkan matanya.
Seketika wajah cantik dan senyum El menghiasi langsung menghiasi benak pikirannya. Ia langsung membuka matanya.
Kenapa wajah gadis bar-bar itu yang malah muncul?
"Kai, ada apa? Kok kamu seperti terkejut begitu?
Kai hanya menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari tempat duduknya. Tanpa sepatah katapun ia langsung meninggalkan ruangan itu tanpa pamit.
Tara hanya menatap bingung sang boss yang meninggalkanya begitu saja.
"Dia kenapa? Aneh banget. Masuk ke sini tanpa mengetuk pintu, keluar pun tanpa permisi," desis Tara. "Sudah seperti jelangkung saja dia," sambungnya lalu terkekeh.
Setelah itu, Tara kembali merogoh ponselnya dan kembali mengecek posisi El.
Ternyata dia masih di danau itu. Sebaiknya aku izin saja sama Kai. Apalagi kerjaanku sudah beres.
Tara keluar dari ruang kerjanya lalu masuk ke ruangan Kai. Pria blasteran itu tampak termenung menatap keluar jendela ruangannya.
"Kai?" sapanya
Kai menoleh. "Ada apa, Tara?"
"Aku izin ingin pulang. Soalnya aku merasa sangat lelah."
Kai menatapnya lalu tersenyum jahil. "Apa semalam Clara lebih agresif darimu ... hmm? Sampai kamu nggak bisa tidur dan kelelahan?" tanya Kai.
Tara mengangkat bahunya lalu terkekeh.
"Menurutmu?" balasnya.
"Ya sudah pulang sana," perintah Kai.
Begitu Kai mengizinkannya pulang, ia langsung meninggalkan ruangan itu. Tujuan utamanya adalah menemui El yang masih betah berada di danau tersebut.
__ADS_1
...----------------...