All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
90. Dasar om mesum ...


__ADS_3

"Bima Argantara Mulia dan Diana Atalia Devan."


Kai menyebut dua nama calon pengantin itu lalu mengulas senyum.


"Congratulation, Bro," gumam Kai.


Ia pun beranjak dari kursi kebesarannya menghampiri kaca besar ruangannya. Memandangi gedung-gedung tinggi di kota itu dari balik kaca kantornya.


Sekelumit ingatannya kembali berputar mengingat pertemuan pertamanya dengan El. Pertemuan yang di awali dengan ancaman, rasa tidak suka, benci dan dendam. Namun ia tidak bisa membohongi hatinya jika ia sangat mencintai gadis itu.


Kai mengelus pipinya. Masih segar dalam ingatannya tamparan yang cukup keras dari gadis pembangkangnya itu serta tatapan mata menghunus tajam.


"Sayang, maafkan aku, aku terlalu arogan, angkuh dan kejam saat itu. Namun aku akui sejak awal bertemu, aku sudah jatuh hati padamu. Hanya saja egoku yang membuatku gengsi."


"Andai saja pertemuan pertama kita di awali dengan manis, aku nggak mungkin bersikap kasar apalagi harus menodaimu malam itu."


"Aku mencintaimu El. Aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersamamu dan anak-anak kita nantinya."


.


.


.


El yang kini masih di sibukkan dengan pekerjaannya, tak mengetahui jika sedari tadi ponselnya terus bergetar di dalam lokernya.


Setelah jam istirahat tiba di jam tiga sore, barulah ia dan teman-temannya menggunakan benda pipih itu.


Matanya seketika langsung membola saat menatap layar layar ponselnya karena mendapati banyaknya panggilan masuk.


"Dua puluh panggilan tidak terjawab dari Dian? Sepuluh panggilan tidak terjawab dari Kai?" gumamnya.


El beranjak dari tempat duduknya dan memilih naik ke rooftop untuk menghubungi Kai lewat VC (video Call) terlebih dulu. Hanya di deringan pertama, Kai langsung menjawab panggilan darinya.


"Sayang, apa kamu sesibuk itu? Aku bahkan merasa frustasi karena kamu nggak menjawab panggilan dariku." Kai langsung memberondongnya dengan pertanyaan.


El langsung terkekeh mendengar pertanyaan dari Kai.


"Dasar om om posesif. Nggak bisa lihat wanitanya tenang sedikit saja," ejek El.


"Sayaaaaang ..." kesal Kai.


"Jangan marah-marah Om. Ingat umur, ntar tekanan darahmu naik. Wajahmu semakin tambah jelek dan semakin terlihat tua. Apa kamu mau dibilang om om nggak tahu diri, hmm."


El kembali mengejek Kai dengan nada bercanda sekaligus menertawainya yang sedang menatapnya dongkol lewat benda pipih itu.


"Ledek saja terus, sukurnya jauh jika nggak aku aku sudah memakanmu," kata Kai.

__ADS_1


Setelah puas menertawai Kai, El lalu bertanya, "Kamu nggak ngantor?"


"Aku sudah pulang, Sayang."


"Apa kamu sudah makan," tanya El.


"Hmm ... tinggal memakanmu saja yang belum," balas Kai lalu terkekeh.


"Dasar Om mesum," sindir El lalu ikut terkekeh.


Kai langsung tertawa mendengar El menyebutnya dengan Om mesum.


"Ya sudah, kamu hati-hati ya di sana. Jaga dirimu dan jika kamu butuh sesuatu langsung hubungi aku," pesan Kai.


"Iya ... kamu juga. Ya sudah aku tutup ya." El melambaikan tangannya lalu memutuskan panggilan video.


Tak jauh dari tempatnya VC, sejak tadi Candra sedang memperhatikan El yang tampak terus tersenyum sambil memegang benda pipihnya. Ia pun menghampiri gadis itu lalu menepuk pundaknya.


Seketika El terlonjak kaget dan langsung menoleh. "Candra! Sejak kapan kamu di situ?" tanyanya gelagapan.


"Dari tadi, ngomong sama siapa sih? Kok seneng banget?" tanya Candra sedikit penasaran.


"Mau tahu saja, ngobrol sama teman lama," bohong El.


"Oh." Hanya itu jawaban dari Candra.


Begitu tersambung, Dian langsung menggerutu kesal. El hanya terkekeh menatap ekspresi wajah kesal temannya itu.


"Ada apa, Dian? Jangan cemberut begitu," ledek El sambil terkekeh.


"Bagaimana nggak cemberut dan kesal, kamu mengabaikan panggilan dariku," kesal Dian.


"Maaf, tadi itu aku lagi sibuk kerja. Ini jam istirahat jadi aku langsung hubungimu balik," jelas El sambil cengengesan. "See ... aku sama Candra di rooftop sekarang. Kamu percaya kan?"


Candra melambaikan tangan ke arah Dian lewat layar ponsel El sambil tersenyum.


"Iya, aku percaya," balas Dian. "Oh ya, Lun. Sekarang aku lagi fitting baju pengantin, tolong pilihkan aku salah satunya," pinta Dian.


El dan Candra saling berpandangan sekaligus tak percaya.


"Yang benar, Dian," tanya El.


"Iya, beneran El. Saat ini aku sama lagi bersama Tara," jelas Dian.


"Bagus dong. Mana gaunnya? Biar aku pilihkan yang cocok untukmu," tawar El dengan seulas senyum.


"Sebentar ...." Dian pun memperlihatkan beberapa gaun pengantin lewat layar ponselnya. El kemudian mengamati tiga potong gaun itu dengan seksama hingga ia memilih gaun yang berada di manekin no 3.

__ADS_1



"Dian, gaun yang ini cocok banget di tubuhmu, apalagi kamu nggak suka gaun yang terlalu terbuka," pungkas El. "Untuk Tara, aku sarankan warnanya abu-abu, cocok dengan warna putih biar nggak terlalu monoton gitu," sambung El.



"Thanks ya, Lun," ucap Dian sambil tersenyum.


"Ok ... ."


Sementara Tara, yang sejak tadi hanya menjadi pendengar merasa penasaran dan ikut nimbrung menampakkan wajahnya di balik layar ponsel itu. Ia hanya tersenyum sinis saat menatap El dan Candra.


"Tara, congrats ya, Bro," ucap Candra sambil tersenyum menatapnya. Ia terlihat hanya mengangguk namun matanya fokus mengarah ke arah El, si gadis berkacamata tebal dan berambut keriting.


"Selamat untuk kalian berdua ya, Dian, Tara pokoknya doa terbaik dariku untuk kalian berdua," ucap El dengan senyum tulusnya.


Tara tidak menjawab melainkan terus menatap lekat wajah El.


"Tara, ayo kita fitting gaun dan jasnya dulu." Suara Dian terdengar dari balik layar.


"Ya sudah, kalian lanjut saja fitting bajunya, aku tutup ya," cetus El lalu segera memutuskan panggilan VC-nya.


Setelah itu, El menarik nafasnya dalam-dalam. Ia pun berpamitan pada Candra untuk melanjutkan pekerjaannya.


Candra hanya menatap punggung El yang terlihat sudah menjauh meninggalkan dirinya.


****


Sementara di Gloria Boutique ....


Tara dan Dian yang terlihat sudah mengenakan gaun dan jas pilihan dari El tampak antusias. Tapi tidak bagi Tara, ia terlihat biasa-biasa saja.


Saat menatap Dian mengenakan gaun pengantin itu, ia hanya tersenyum tipis sekaligus terpesona karena Dian terlihat begitu cantik.


Ia menghampiri Dian lalu berdiri di belakangnya dengan setelan jas warna abu-abu itu. Ia terus menatap dirinya dan calon istrinya itu di depan kaca besar.


"Waaah, Perfect!" ucap karyawan madam Glori.


"Apa Nona yang memilih gaun dan setelan jas ini? Terlihat sempurna dan cantik," puji karyawan butik.


"Bukan, tapi temanku. Selera fashionnya memang nggak diragukan lagi," sahut Dian memuji El.


Karyawan madam Glori itu hanya manggut-manggut. Tara kembali menautkan alisnya dan tampak berpikir.


Ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah Dian dengan balutan gaun pengantin yang memang terlihat elegan dan mewah.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2